
Sesi percintaan yang panas di pagi ini. Keduanya sudah mandi keringat karena 3 jam ini dipakai untuk saling memuaskan raga.
"Kamu gila, Dewa! Tulang-tulang ku rasanya patah semua." kata Stevany dengan napas yang masih terengah-engah. "Lagi pula, pernikahan kita sudah dibatalkan. Kita melakukan dosa dengan berhubungan seperti ini." Stevany menutupi tubuh polosnya dengan bantal.
"Aku tahu. Tapi aku percaya, Tuhan tahu, di hati kita berdua tak ingin pernikahan ini berakhir."
"Aku ingin pernikahan ini berakhir."
Dewa memiringkan tubuhnya sehingga ia dan Stevany kini saling berhadapan. "Aku baru tahu kalau kamu itu pembohong besar." Dewa menyeka keringat di hidung Stevany.
"Kenapa kamu bilang begitu? Hanya karena kita bercinta? Anggap saja aku bersamamu sekarang ini karena aku tertarik pada tubuhmu. Nanti setelah aku menikah, bukankah aku akan mendapatkannya dari suamiku?"
"Stevany!" Dewa meletakan hari telunjuknya di bibir Stevany. Matanya tajam menatap mata Stevany. "Jangan pernah memberikan tubuhmu apalagi hatimu pada orang lain." Dewa mendekati dan membelai wajah Stevany. "Aku sangat yakin, perasaanmu padaku, sama dengan perasaanmu padaku. Jangan buat aku gila dengan semua sandiwara ini. Apa sih yang membuat kamu tak mau mengakui perasaanmu?"
Stevany menepiskan tangan Dewandra. "Aku harus pergi, Wa. Kalau kamu terus menahan ku di sini, orang tuaku pasti akan curiga karena aku juga nggak ada di hotel. Kamu belum tahu siapa Daddy Jero." Gadis itu bangun sambil menahan bantal di dadanya.
"Aku justru ingin mereka menemukan kita dalam keadaan seperti ini. Agar mereka tahu bagaimana kuatnya cinta diantara kita."
"Kamu gila ya? Mamaku bisa pingsan. Dia sangat memegang teguh prinsip bahwa orang yang belum menikah nggak boleh tidur bersama. Semua kakak-kakak ku menjaga itu."
"Memangnya siapa yang bukan pasangan di sini? Paman Beryl mu dengan sengaja berbohong pada pastur sehingga pembatalan pernikahan dikabulkan. Memangnya kamu terpaksa saat menikah denganku? Kamu yang menginginkan itu kan? Memangnya aku pernah melakukan kekerasan padamu? Apakah aku pernah memaksamu saat kita berhubungan badan? Nggak kan? Jadi, walaupun surat pembatalan itu sudah ada, bagiku, kita tetap suami dan istri."
Stevany tertegun mendengar perkataan Dewandra. Ia sama sekali tak menduga kalau Dewa akan mampu berbicara seperti itu. "Kamu......!"
"Apa? Aku sudah bosan dengan semua drama yang kau mainkan, Stev. Kalau memang kamu ingin pergi, ya silahkan pergi. Itu ponselmu, tas mu dan baju ganti untukmu. Pergilah...! Pergi.....!" Entah bagaimana Dewandra tak bisa mengontrol lagi emosinya. Stevany pun langsung berganti pakaian, mengambil ponselnya dan tasnya. Ia pergi meninggal kan Dewandra dengan perasaan yang bingung.
Saat ia sampai di luar rumah, pagar rumah sudah terbuka. Stevany pun keluar dari pagar, menuruni jalan yang menurun sampai akhirnya ia melihat mobil Jeon yang di dalamnya ada Felicia.
"Stevany, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Jeon begitu ia keluar dari mobil.
"Iya. Aku baik-baik saja. Kenapa kalian ada di sini?"
__ADS_1
"Kami mengikuti signal GPS ponselmu. Kami takut ada sesuatu yang terjadi denganmu. Mana Andra?" tanya Felicia.
"Andra?"
"Si satpam yang mirip pemain basket Petra Jung. Di mana dia? Kamu bersamanya kan?" tanya Felicia.
"Nggak. Aku hanya pergi sebentar dengan teman-teman SMA ku. Dan karena mereka masih mabuk semua, aku keluar duluan. Eh, ketemu dengan kalian." Stevany mengarang cerita. Felicia terlihat percaya namun tidak dengan Jeon. Ia merasa ada sesuatu yang Stevany sembunyikan.
"Ya sudah, sekarang kita pulang. Mamamu pasti khawatir. Lusa kan Joselin menikah." Jeon membukakan pintu mobil dan mempersilahkan kedua gadis cantik itu masuk ke dalam mobil.
************
Sejak kemarin, Stevany tak melihat Dewandra berdiri di depan pintu masuk. Bahkan sampai Stevany pulang malam pun, Dewandra tak kelihatan. Dan hari ini, keluarga Dawson semuanya sudah ada di hotel. Pernikahan Joselin akan dilaksanakan di sini. Ballroom hotel ini bisa menampung 5000 orang. Namun, Joselin dan Everdix tak banyak mengundang orang. Hanya kerabat, sahabat dan keluarga saja. Diperkirakan tamu yang datang sekitar 600 orang saja. Joselin memang tak menyukai sesuatu yang besar dan terlalu ramai.
Pihak Wo sudah mendekor ruangan sampai di taman belakang. Sebab untuk acara puncaknya akan dilaksanakan acara kembang api dan musik DJ. Untuk acara ini, para tamu hotel pun dipersilahkan untuk bergabung.
"Stev, acara pemberkatannya jam berapa?" tanya Felicia.
"Oh ya, aku sampai lupa." Felicia membuka tas nya dan menyerahkan sebuah amplop. "Satpam ganteng itu sudah mengundurkan diri."
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Andra? Ternyata dia itu benar-benar Dewandra Petra Jung. Kata managernya, ia bekerja di sini karena sedang melaksanakan penelitian sosial. Sekarang penelitiannya berakhir dan dia akan kembali ke Korea."
"Dia akan kembali ke Korea?" jantung Stevany rasanya berhenti berdetak.
"Iya. Tamu yang menyewa apartemen kita adalah managernya. Seneo namanya. Dia yang mengantarkan surat pengunduran diri Andra. Dia bahkan tak mau menerima upahnya."
Stevany terdiam. Ia bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Seharusnya ia senang kan jika Dewandra akan pergi? Kenapa sekarang ia justru merasakan hatinya sakit?
"Stev, kok kamu bengong sih?"
__ADS_1
Stevany buru-buru tersenyum. "Tolong cek makanannya di restoran ya? Hubungi Ling saja. Namun bilang sama Ling, mama Giani ingin agar Ling juga hadir di acara pemberkatan nya. Gaunnya ada di apartemen ku."
"Ok." Felicia langsung meninggalkan ruangan Stevany. Gadis itu memegang dadanya yang terasa sakit. Ia segera menghubungi Seneo. Ternyata Seneo ada di restoran. Stevany pun bergegas ke sana.
"Tuan Dewandra masih ada di tempat kostnya. Dia ada acara malam ini. Lusa ia akan terbang ke Amerika. Ia akan kembali meniti karir basketnya di sana. Kalau di Korea, ia tak mau dekat lagi dengan Treisya." kata Seneo.
"Kamu juga akan ikut?"
"Setelah aku berhasil meyakinkan Ling untuk segera menikah denganku."
Stevany meremas kedua tangannya. "Apakah....apakah ada kemungkinan Dewa untuk tinggal?"
Seneo menggeleng. "Dia sudah nggak mau berjuang untuk kamu lagi, Stev. Karena kamu kan akan menikah dengan Jeon. Lagi pula pernikahan kalian sudah dibatalkan. Kamu sendiri kan yang bilang agar dia melepaskan mu. Jadi, Dewa memilih melepaskan mu asalkan kamu bahagia."
Stevany merasakan dadanya semakin sakit. Dewandra menyerah untuk berjuang mendapatkan cintanya. Bukankah kemarin dia masih mengatakan tak akan melepaskan Stevany?
Setelah berpisah dengan Seneo di restoran, Stevany segera masuk ke dalam mobilnya. Ia masih punya 4 jam sebelum jam pemberkatan nikah kakaknya. Pada hal yang lain sudah pada didandani. Namun Stevany memilih untuk menemui Dewandra. Entah kenapa hati kecilnya mendorong dia untuk datang ke sana.
Jantungnya berdetak sangat cepat saat mobilnya berhenti di depan tempat kost Dewa. Untungnya, jika siang begini, tempat kost ini sepi karena hampir semua penghuninya pergi bekerja.
Stevany melangkah perlahan menuju ke kamar Dewandra yang memang ada di sudut ruangan. Dari jauh ia melihat kalau kamar kos Dewandra terbuka. Stevany yakin kalau Dewandra ada di dalamnya.
Saat ia sudah berdiri di depan pintu, mata Stevany terbelalak. Jantungnya bagaikan diremas keluar dari tempatnya. Stevany tak menyangka akan menemukan pemandangan yang menyakitkan seperti ini.
"Pembohong!" Kata Stevany sebelum ia berlari meninggalkan tempat kost itu.
*************
Nah.....lho......
Gimana rasanya Stevany?
__ADS_1