
Dewa hendak berlari menemui anaknya namun serangan yang bertubi-tubi membuatnya harus membalas tembakan musuh. Beberapa anak buah tuan Abdul yang bersembunyi pun segera memberikan tembakan perlindungan bagi Dewa, Seneo dan Oliver.
Tifani yang berada dalam rumah sangat kaget saat mendengar suara letusan senjata api di luar rumah. Ia pun segera menuju ke kamar untuk membangunkan suaminya dan mencari senjatanya.
Setelah hampir 1 jam, akhirnya Tifani dan anak buahnya segera dilumpuhkan. Seneo dan Oliver segera memborgol tangan pasangan suami istri itu.
"Silahkan kamu membunuh aku, Dewa. Anakmu juga sudah mati kan?" Tifani tersenyum mengejek.
Dewa menatap putranya yang terkapar. Emosinya langsung memuncak. Tangan Dewa sebenarnya terluka karena terkena serempetan peluru. Ia mengarahakam senjata yang dipegangnya pada Tifani.
"Apa hak mu membunuh anakku? Apa hak mu mengganggu keluarga ku?" tanya Dewandra.
"Karena aku dendam padamu."
"Atas kematian ibumu? Treisya itu sakit jiwa, Tifani. Ia sanggup melakukan apapun bahkan melukai orang yang tak berdosa karena obsesinya kepadaku."
"Tapi kamu tak punya hak untuk m membunuhnya."
"Mamamu yang lebih dahulu menembak ku. Ia lebih baik membiarkan aku mati dari pada melihat aku bahagia dengan wanita yang aku cintai."
"Setelah kau puas dengan tubuh mamaku, kau akhirnya terpesona dengan yang lebih muda? Kau egois Dewa." Tifani tak bisa menahan air matanya. "Mamaku memang jahat. Namun tak bisakah dia mendapatkan kesempatan kedua?"
Seneo yang sejak tadi diam, segera mendekati Tifani dan menunjukan bukti CCTV di ruangan panti asuhan. Bagaimana proses kematian Treisya terjadi dan apa yang sudah Treisya katakan pada Dewa.
"Baby, kamu selama ini dendam pada orang yang salah." ujar Albert suami Tifani.
Perempuan itu terdiam. Ia kemudian menangis sangat keras. Tatapannya kini tertuju pada tubuh Petra yang terbaring di atas tanah.
Ia pikir Dewa yang telah membunuh mamanya tanpa perasaan. Ternyata Dewa membela diri karena ia juga dalam keadaan sekarat.
"Maafkan aku yang membuat anakmu meninggal. Maaf!" Tifani tersungkur di atas tanah dengan tangan yang terborgol. Suami Tifani pun menatap Dewa.
"Dewa, maafkan istriku. Selama ini ia menyangka kalau kematian ibunya adalah karena kau memang ingin menyingkirkannya. Aku memang seorang mafia. Namun aku tak pernah membunuh orang tanpa tahu latar belakangnya. Aku mohon, maafkan kami. Aku janji, setelah ini, kita tak akan saling menganggu. Aku dan istriku akan menjalani kehidupan kami di Inggris dengan tenang."
Dewa, Seneo dan Oliver saling berpandangan. Mereka pun mengangguk bersama. Sebagai mantan mafia, tentu saja Dewa tahu kalau ternyata Albert tak tulus mengatakan semua itu.
__ADS_1
Seneo pun segera membuka borgol di tangan Tifani dan suaminya sedangkan anak buah tuan Abdul sudah menyingkirkan semua senjata api milik kelompok Tifani.
Dewa kini bersimpuh di hadapan anaknya. Ia berpikir kalau dada Petra yang terluka. Namun saat ia akan menyentuh tubuh putranya, Petra tiba-tiba saja berdiri.
"Ah.....capek aku bobo di tanah telus."
"Petra? Kamu nggak terluka sayang?" Dewa langsung memeriksa seluruh bagian tubuh putranya.
"Petla baik-baik saja, daddy. Pelulunya kena di topi Petla."
"Terus, kenapa Petra pura-pura mati?"
"Itu ajalan opa Jelo. Katanya kita halus pula-pula mati untuk mengelabuhi musuh."
Dewa langsung memeluk putranya. Ia bahkan berpikir untuk segera menemui papa mertuanya itu dan berterima kasih atas semua yang sudah diajarkannya pada Petra.
Tifani nampak senang melihat Petra masih hidup. Hampir saja ia membunuh anak yang tak bersalah.
1 jam kemudian.....
Tifani memeluk Dewa. Tangisnya kembali pecah.
Dewa mengusap punggung Tifani kemudian melepaskan pelukannya. "Kita ini saudara sepupu, Tif. Seharusnya kita saling mendukung bukan saling menjatuhkan."
Tifani mengangguk.
Oliver mendekati mereka. "Semua kekacauan di sini sudah dibereskan sehingga kita gak perlu berurusan dengan polisi. Tuan Abdul banyak membantu kita."
Dewa pun pamit pulang. Ia tahu Stevany pasti sudah tak sabar ingin bertemu dengan Petra.
Saat mereka kembali ke rumah sahabat Oliver, nampak Stevany sudah berdiri di depan pintu masuk. Saat melihat putranya keluar dari mobil, Stevany langsung berlari dan memeluknya.
"Oh Putra mommy yang tampan. Terima kasih karena engkau sudah kembali dalam keadaan selamat."
"I Miss you, mommy." Petra mengecup pipi mamanya. Namun, saat melihat kalau di sana ada opa Jero dan Oma Giani, Petra langsung turun dari pelukan mamanya dan berlari ke arah Jero.
__ADS_1
"Opa Jelo..., opa Jelo...., Petla bisa membuka simpul tali yang mengikat tangan Petla. Petla juga kabul lewat fentilasi dan pula-pula mati. Petla masih ingat apa yang opa ajalkan."
Jero dengan bangga memeluk cucunya itu. "Opa sangat bangga padamu." Ia dan Giani langsung datang saat mendengar Petra diculik.
"Terima kasih, sayang. Engkau sudah mengajari Petra banyak hal." Ujar Giani dengan perasaan haru.
"Makanya Oma jangan malah-malah kalau Petla dan opa latihan." Petra langsung menyela ucapan Omanya dan membuat semua yang ada di situ tertawa bersama.
***********
Petra sudah tertidur di atas sofa. Kepalanya ada di pangkuan sang opa. Mereka semua ada di ruang tamu. Malam yang menegangkan itu telah lewat.
"Dad, terima kasih sudah mengajarkan banyak hal pada Petra saat aku sedang koma. Petra bisa meloloskan diri pada hal dia baru 4 tahun. Terima kasih sudah menjadi sosok opa sekaligus ayah bagi Petra." Kata Dewa dengan penuh ketulusan. Stevany pun nampak haru.
"Dia juga bisa menerima semua yang daddy ajarkan karena dia memiliki darahmu, Dewa. Petra memang lebih dewasa dari anak seusianya. Dia pintar dan cepat tanggap. Daddy jadi ingat dulu dengan Stevany. Usia 6 tahun tapi dia bisa memegang pistol sungguhan dan menembakkan ke arah anjing gila yang mengejar Joselin." Jero menggeleng saat mengingat hal itu. "Kita beruntung masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati kehidupan bersama yang panjang. Setidaknya, daddy sudah meninggalkan banyak pengajaran bagi anak cucu daddy. Sehingga jika suatu saat daddy dan mommy kalian sudah tak bersama dengan kalian lagi, kami tahu kalian bisa menjaga diri dengan baik."
Stevany berdiri dan langsung memeluk papanya. "Kok ngomong gitu sih, dad? Daddy seolah-olah ingin pamit sama kami. Daddy dan mommy akan umur panjang. Melihat semua cucu-cucu daddy tumbuh dewasa. Aku yakin itu."
"Amin....!" ujar Jero dan Giani hampir bersamaan.
Akhirnya mereka semua memilih tidur di ruang tamu. Seneo dan Dewa mengeluarkan beberapa kasur dari kamar. Mereka pun tertawa bersama mengingat masa kecil mereka yang sering tidur bareng di ruang tamu.
*************
Stevany bangun sekitar jam setengah sembilan pagi. Ia terkejut melihat mamanya sudah ada di dapur.
"Mom, kok bangun cepat sih? Semalam kan kita tidur sudah jam setengah tiga subuh."
"Mommy bangun jam 7 pagi. Sudah kebiasaan kan?"
Stevany melihat di atas meja makan sudah ada beberapa jenis makanan. Ia tersenyum senang. Tangannya mengambil telur dadar untuk di makanya. Namun saat telur itu masuk ke mulut Stevany, ia tiba-tiba saja merasa mual. Perempuan itu berlari ke kamar mandi.
Saat dia kembali, Giani menatapnya sambil tersenyum. "Stev, kamu hamil?"
"Hamil?" Bukan Stevany yang menyahut melainkan Dewa. Lelaki itu sudah bangun karena Petra minta dibuatkan susu.
__ADS_1
**********
Tiga episode terakhir tentang kebucinan dan bagaimana protektifnya Dewa pada Stevany