Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Mafia dilawan


__ADS_3

Kaki Stevany langsung menginjak pedal gas. Namun anehnya, mobil tak bisa berjalan pada hal sudah dimasukan ke gigi satu.


"Lho, kok gini sih? Ada yang aneh dengan mobil ini?" Stevany mencoba gigi dua, tiga sampai 5. Tetap saja mobilnya tak jalan. Karena kesal, Stevany meletakkan giginya di bagian mundur, kali ini mobilnya mundur.


"Lho, kenapa mundur bisa dan maju tak bisa? Masa jalan mundur?" Stevany bicara sendiri. Ia mencoba memasukkan ke gigi satu lagi. Mobil tetap tak mau mau jalan. Merasa kesal, Stevany memutuskan turun dari mobil. Ia melihat ke arah gerbang. Ternyata gerbangnya di kunci dengan kunci digital.


"Sial...! Masa aku harus panjat pagar sih? Namun tak apalah." Stevany mulai memanjat pagar. Tentu saja itu bukan hal yang sulit baginya karena ia terbiasa naik pohon. Namun, baru dua tanjakan dinaikinya, tiba-tiba berbunyi alarm yang sangat kuat dan membuat pegangan Stevany terlepas. Ia jatuh.


"Ah....!" Stevany berteriak panik karena sudah membayangkan kalau dirinya akan jatuh di tanah yang berbatu. Namun justru ia berhenti jatuh karena ada sepasang tangan yang sudah menopangnya. Gadis itu mendongak dan menemukan sepasang mata khas orang Korea sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Ternyata kamu bar-bar juga ya?"


"Ah....lepaskan aku!" Stevany memberontak ingin turun dari pelukan Dewandra. Dengan cepat Dewandra menjatuhkan Stevany sehingga gadis itu jatuh ke tanah. Walaupun tak dibagian yang berbatu, tapi cukup membuat punggung dan pantatnya sakit.


"Dewandra! Sakit tahu!" Stevany meringis sambil memegang pantatnya.


"Kan kamu yang minta turun!" Dewa mengangkat kedua tangannya.


"Ih...kamu ini benar-benar."


"Kenapa? Kesal karena tak berhasil melarikan diri? Kamu tahu aku ini mafia, Stev. Nggak mungkinlah aku mengurung kamu tanpa ada persiapan apapun. Kamu pikir aku bodoh?" Dewandra tertawa. Namun tawanya langsung hilang setelah melihat mobilnya. "Dan kamu merusak mobil baruku? Mobil itu dirancang hanya bisa jalan kalau ada sidik jariku. Dan kamu sudah merusak kuncinya? Kamu tahu berapa biayanya?"


"Memangnya berapa harganya? Nanti aku ganti. Kamu pikir aku nggak punya uang? Beli mobil yang sama seperti itu pun aku sanggup." Stevany berkacak pinggang. Berusaha terlihat berkuasa walaupun sebenarnya ia merasa kalah telak. Tak bisa lari dari hadapan Dewa.


"Sayang, ayo masuk! Ini masih pagi dan cuacanya juga masih dingin."


Stevany baru sadar kalau Dewa keluar tanpa memakai apapun. "Dewandra.....! Kamu sungguh jorok! Kenapa nggak pakai baju?"


"Setelah alarmnya berbunyi, maka aliran listrik akan segera mengalir di semua besi pagar itu. Kamu mau mati? Mana sempat aku pakai baju saat sadar kalau kamu sudah di luar villa?"


Stevany kagum dengan Dewa yang ternyata masih sangat waspada. Pada hal tadi Dewa terlihat sangat lelap.


"Terima kasih." Stevany jadi senang atas semua perhatian Dewa padanya. Namun ia kembali memasang wajah tak sukanya. "Siapa suruh pagarnya kamu pasang jebakan kayak gitu. Kesal....!" Stevany langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Apalagi hujan rintik-rintik membuat rambutnya menjadi basah.


"Jangan lawan aku, Stev. Kamu tahu darah mafia masih sangat kental di tubuhku." kata Dewandra sambil menatap Stevany dengan tajam.


Mendapatkan tatapan seperti itu, Stevany langsung memalingkan wajahnya. "Pakailah bajumu, Dewa. Ingat dengan kelemahan mu di cuaca dingin." kata Stevany.


Dewandra memeluk tubuhnya sendiri. Ketakutannya saat mendengar bunyi alarm membuatnya langsung berlari keluar. Bersyukur karena ia keluar pada waktu yang tepat.


Setelah masuk ke dalam rumah, Dewa memilih untuk mandi air hangat. Setelah berganti pakaian, ia melihat Stevany yang duduk di ruang tamu sambil memeluk kedua lututnya.

__ADS_1


"Ada apa, Stev?" tanya Dewandra lembut sambil mengusap kepala Stevany.


"Jangan sentuh aku!" Stevany menjauhkan kepalanya dari tangan Dewandra.


"Aku sudah menyentuh kamu berulang kali. Aku tahu bagaimana respon tubuhmu terhadap tanganku ini " kata Dewa sambil tersenyum menggoda.


"Sok tahu!" Stevany mencibir.


"Ingin bukti?" tanya Dewandra yang kini sudah berdiri di belakang sofa tempat duduk Stevany dan tangannya sudah mengusap punggung Perempuan itu.


"Dewa, apa-apaan kamu?" Stevany berusaha menghindar dengan menepiskan tangan Dewa namun cowok itu memegang kedua pundak Stevany dengan sangat kuat.


"Kamu kan masih tawanan aku. Jadi suka-suka aku dong mau ngapain sama kamu." ujar Dewa lalu mencium puncak Stevany yang terbuka.


"Dewa! Kok di cium sih?" Stevany panik karena seluruh permukaan kulitnya terasa panas.


"Kamu kok cerewet sekali sih? Tinggal menikmati aja." Dewa kembali mencium bahu Stevany membuat perempuan itu akhirnya melompat dari kursi.


"Dewa.....!"


Dewandra tersenyum. Ia memasukan kedua tangannya di saku celana pendeknya. "Ada apa?"


"Kamu kok berubah jadi usil kayak gini sih? Aku tuh suka kamu yang cool, yang susah ditebak, yang kelihatan tak peduli."


"Eh...maksudnya....!" Stevany jadi bingung sendiri. Ia tak tahu harus bicara apa.


"Aku dulu bersikap seperti itu karena aku belum mencintaimu. Namun sekarang, setelah aku sadar akan cintaku padamu, aku nggak mau bersikap tanpa perasaan seperti itu. Aku suka saat tertawa bersamamu. Aku suka saat melihat kamu yang cemberut. Walaupun tentu saja yang paling aku sukai saat kamu menerikaan namaku ketika bercinta."


"Dewa.....!"'


Dewandra tertawa. Ia mendekati Stevany dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu.


"Kamu mau apa, Dewa?"


"Memelukmu. Memangnya kamu tak merasakannya?" Dewa menempelkan dahinya ke dahi Stevany. Ia kemudian mengecup dahi Stevany dengan sangat lembut. "Stev, ingin rasanya aku membawa kamu pergi dari sini. Ke suatu tempat dimana tidak ada lagi yang bisa menemukan kita berdua." bisik Dewandra sambil memejamkan matanya.


"Sudah ku katakan kalau kamu sekarang suka banyak bicara." Stevany pun memejamkan matanya. Walaupun ia sama sekali tak membalas pelukan Dewandra namun entah kenapa kedekatan ini membuatnya merasa nyaman.


"Aku banyak bicara karena kalau diam, kamu tak akan mengerti dengan isi hatiku."


"Lepaskan aku!"

__ADS_1


"Tidak! Kamu adalah milikku. Aku tak akan pernah rela melihatmu bersama Jeon sementara kamu mencintai aku."


"Bagaimana kamu tahu kalau aku mencintaimu?" tanya Stevany sambil mengangkat kepalanya, menatap wajah tampan Dewandra yang matanya masih terpejam.


"Seperti ini." kata Dewandra dengan nada sensual lalu kedua tangannya yang ada di pinggang Stevany langsung naik ke atas memegang kedua sisi wajah Stevany lalu menciumnya dengan sangat keras.


Stevany terkejut namun tubuhnya dengan cepat merespon ciuman itu. Ia membalasnya dengan sangat cepat. Keduanya bertukar Saliva dalam ciuman yang sangat romantis itu.


Dewandra dengan cepat menurunkan tali gaun Stevany dari pundaknya. Gaun itu jatuh ke kaki gadis itu. Lalu tangan Dewandra melepaskan juga mengait gunung kembar Stevany dan saat gadis itu nyaris tanpa busana. Seolah tak ingin akal sehat Stevany kembali, Dewandra langsung menggendong tubuh Stevany seperti koala dan melangka menuju ke kamar.


"Dewa, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Stevany saat ia merasakan kalau tubuh polosnya sudah terbaring di atas ranjang.


"Memperkosa kamu. Lagi.....!"


***************


Felicia berpapasan dengan Jeon di depan pintu lift. "Jeon, mau cari Stevany ya? Kayaknya dia belum datang."


"Tapi Stevany nggak tidur di rumah tadi malam. Ia melewatkan makan malam keluarganya untuk satu urusan yang penting."


"Nggak ada rapat khusus kemarin. Aku sengaja mengosongkan jadwalnya karena semalam anniversary uncle Jero dan aunty Giani. Aku nggak pergi karena ada acara reuni sekolahku."


"Tapi Stevany mengirim pesan pada mamanya dan mengatakan kalau ia ada rapat penting. Mungkin dia di apartemen."


Felicia menggeleng. "Aku baru dari apartemen membawa bajunya yang dari laundry. Apartemennya kosong."


"Terus Stevany di mana? Ini sudah jam 11 siang." Jeon melirik jam tangannya.


"Aku telepon dia dulu ya...?" Felicia menghubungi Stevany namun ponsel sepupunya itu tak aktif.


"Kok nggak aktif ya?"


"Aku lihat mobilnya ada di parkiran. Lalu dia kemana?" Jeon terlihat gelisah.


"Kita cek CCTV aja." Felicia segera melangkah ke ruang kemananan. Ia meminta petugas memutar CCTV sejak jam pulang kantor kemarin.


"Maaf nona, entah kenapa sejak kemarin CCTV yang ada di basment mengalami gangguan. Baru tadi pagi diperbaiki lagi. Yang ada hanya rekaman dari jam 11 siang. Selebihnya CCTV tak merekam apa-apa lagi." Kata petugas kemanan itu


Jeon merasa ada yang tidak beres. "Apakah Andra masuk hari ini?"


"Andra off hari ini."

__ADS_1


Jeon merasakan dadanya sakit. Apakah Stevany bersamanya?


__ADS_2