Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Memintal Rindu


__ADS_3

"Stev, kamu kok bengong? Ada nggak obatnya?"


Suara Ling yang keras menyadarkan Stevany dari lamunannya. Ia kemudian memberikan obat yang Ling butuhkan.


"Ini kak obatnya."


Ling menerima obat yang Stevany berikan. Ia mengambil air yang memang tersedia di kamar itu.


Setelah Ling tertidur, Stevany justru tak bisa memejamkan matanya. Bagaimana jika aku hamil? Ya Tuhan, aku bukannya tak mau anak ini. Tapi ini bukan waktu yang tepat.


Ponsel Stevany berbunyi. Nomor yang tak dikenal. Namun Stevany menerimanya juga.


"Hallo, Stev, ini aku Seneo. Jangan banyak bicara karena tuan hendak bicara denganmu. Kamu cukup menjawab ya atau tidak."


"Ya."


Tak lama kemudian terdengar suara Dewandra. "Stev, kamu sudah tidur?"


"Belum."


"Sekarang, kamu pergi ke kamarku. Di dalam walk in closet, ada sebuah brangkas berwarna hitam. Kodenya adalah 789871. Kamu bisa mengingatnya?"


"Ya."


"Di dalam brangkas ada uang dan senjata, juga ada sebuah alat, mirip sebuah handphone. Semuanya kamu ambil ya? Besok, cari cara agar kamu boleh keluar."


"CCTV nya?"


"Jangan takut, Seneo sudah meretas CCTV nya dari sini."


"Baik."


"Hati-hati, ya? Jangan sampai diketahui oleh siapapun. Aunty Treisya ada di kamarnya?"


"Iya." Bersama dengan Leo.


"Hati-hati saja. Kalau sudah selesai keluar dari kamar, segera hubungi aku."


"Baik."


Stevany menarik napas panjang saat Dewandra mengahiri percakapan diantara mereka. Perlahan ia pun naik ke lantai dua dan menuju ke kamar Dewandra. Stevany melihat kalau pintu ke arah lantai 3 terbuka. Di lantai 3 adalah ruang terbuka dan ada kolam air panas. Stevany bermaksud akan menutupnya namun semakin ia mendekati di ujung tangga, ia mendengar suara Treisya yang nampak sedang melakukan sesuatu di sana. Begitu Stevany mengintip dari pintu yang terbuka, gadis itu terbelalak melihat Treisya yang sedang duduk di bangku kolam sementara seorang lelaki ada diantara kedua kakinya yang terbuka dan seorang lagi sedang menikmati dadanya.


Stevany rasanya ingin muntah. Ia segera berbalik tanpa menutup pintunya. Sayang sekali ia lupa membawa ponselnya sehingga tak dapat mengambil bukti Perselingkuhan Treisya dengan para berondong nya.


Secara perlahan juga Stevany membuka pintu kamar Dewa dan segera masuk ke walk in closet. Ia mendapatkan apa yang Dewandra inginkan. Ia segera kembali ke kamarnya dan menyiapkan diri untuk hari esok.


**********


"Nyonya, bolehkah siang ini aku permisi keluar? Aku ingin ketemu dengan kerabatku yang juga kerja di sini, sekalian akan mencetak buku tabungan keuangan rumah tangga. Semua pekerjaanku sudah aku bereskan." ujar Stevany saat ia menemui Treisya di ruang kerjanya.


"Baiklah. Kamu boleh pergi dan kembali malam nanti. Jangan pulang terlambat kalau tak ingin Sasi marah padamu." kata Treisya.


"Baik, Nyonya." Stevany senang karena Treisya mengijinkannya pergi. Ia pun segera berbalik dan hendak pergi namun Treisya memanggilnya kembali.


"Stevany, apakah kamu merindukan Seneo?" tanya Treisya. Wajahnya terlihat sedih dan matanya nampak sembab.

__ADS_1


"Merindukan Seneo?" Stevany terdiam sejenak. "Sangat merindukannya, nyonya."


"Aku juga sangat merindukan Dewandra. Hatiku hancur setiap kali mengingat tak bisa menguburkan jasadnya."


Hancur tapi setiap malam selalu bersama dengan berondong nya. Stevany mencibir dalam hati.


"Kesedihan harus membuat kita tetap move on, nyonya. Bagaimana pun hidup terus berjalan tanpa bisa kita cegah." kata Stevany.


"Ya. Kau benar. Stevany, apakah kau akan kembali ke Thailand?"


"Nyonya tak membutuhkan aku lagi?"


"Aku pikir setelah Seneo tak ada maka kamu tak akan kerja lagi di sini."


"Keluargaku masih membutuhkan uang, nyonya."


Treisya hanya mengangguk. Ia mempersilahkan Stevany pergi. Perempuan itu menatap fotonya bersama Dewandra yang ada di meja kerjanya. Tanpa sadar air matanya mengalir. Treisya memang sangat mencintai Dewandra. Ia begitu terobsesi untuk menguasai pria tampan itu. Dewandra berhasil jatuh ke pelukannya. Treisya sangat bahagia. Ketampanan Dewandra sangat dinikmatinya walaupun Treisya tak juga bisa menjauh dari lelaki muda lainnya karena terkadang Dewandra begitu sibuk. Bagi Treisya tak bisa satu malam pun tanpa bercinta.


************


Stevany mendatangani sebuah kawasan apartemen pinggir kota sebagaimana alamat yang diberikan Dewandra kepadanya. Ia menggunakan tas punggung untuk menyembunyikan uang, senjata dan benda kecil yang Dewandra butuhkan.


Ia menaiki lantai 5 dan mengetuk unit bernomor 502. Seneo sendiri yang membukakan pintu.


"Kamu yakin tak ada orang yang mengikuti mu?" tanya Seneo.


"Sangat yakin, tuan."


Stevany pun diajak masuk. Ia melihat apartemen yang memiliki 2 kamar dan ruang tamu serta ruangan makan yang lumayan luas.


"Sedang mandi."


Stevany tersenyum. Seneo tahu kalau gadis itu merindukan Dewandra. "Aku tinggalkan kalian berdua di sini. Ingat ya, manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk membuat Dewandra semakin terpesona padamu." bisik Seneo sebelum meninggalkan apartemen.


Tak lama kemudian, Dewandra keluar dari kamar. Ia hanya menggunakan singlet Ketat yang membungkus tubuh atletisnya dan celana pendek selutut. Ia terkejut melihat Stevany sudah ada. "Mana Seneo?"


"Keluar sebentar, tuan."


"Mana barang yang ku minta?"


Stevany mengeluarkan semuanya dari dalam tasnya. "Apakah tak ada yang mencurigai kamu?" tanya Dewandra sambil memeriksa pistol yang Stevany bawa.


"Tidak tuan. Semalam Nyonya Treisya......, nyonya Treisya sudah tertidur." Stevany tak mau menjadi gadis pengadu.


Dewandra hanya mengangguk. Ia duduk di hadapan Stevany lalu memeriksa alat yang Stevany bawa. "Semuanya masih berfungsi dengan baik."


"Aku juga membuatkan makanan kesukaan tuan. Kebetulan tadi dapur kosong karena uncle Ham sedang belanja ke pasar."


Dewandra menatap kotak makanan yang diletakan Stevany di atas meja. "Apakah tuan ingin segera makan?" tanya Stevany.


"Aku...."


"Sebentar aku siapkan." Stevany memotong ucapan Dewandra dan segera ke dapur untuk menuangkan makanan yang dibawahnya ke atas piring. Ia kemudian membawah nya kepada Dewa. "Tuan mau aku suapi?" tanya Stevany sambil menatap Dewa penuh harap.


"Aku bisa....."

__ADS_1


"Ah.....!" Stevany meminta Dewandra membuka mulutnya sementara sumpit yang sudah menjepit makanan itu telah ada di dekat mulut Dewandra. Cowok itu pun membuka mulutnya. Stevany menyuapinya lagi sampai akhirnya semua makanan yang ada di piring itu habis.


"Ah, sebentar...." Stevany mengambil tissue yang ada di atas meja dan membersihkan sudut bibir Dewandra. Sebenarnya tak ada sisa makanan yang ada di sana Stevany hanya ingin menjadi begitu dekat dengan Dewandra.


"Jangan menggodaku, Stevany." ucap Dewandra dengan suara yang terdengar parau.


Stevany yang sedang menunduk di hadapan Dewa menatap mata cowok itu. "Aku tak menggoda mu, tuan. Aku merindukanmu."


Tangan Dewa menahan tangan Stevany yang masih ada di bibirnya. Pandangan mata mereka masih bertemu. Stevany dengan jujur mengutarakan kerinduannya pada suaminya itu. Ia menunduk dan mengecup singkat bibir Dewandra. "Aku menginginkanmu, tuan." Lalu Stevany dengan nekat duduk mengangkang di atas tubuh Dewandra. Tangannya melingkar di leher cowok itu dan ia kembali mencium bibir Dewa. Dewa menyambut ciuman itu dengan sama panasnya.


Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Dewa langsung mengangkat tubuh Stevany menuju ke kamar yang ada.


Stevany memejamkan matanya merasakan tangan Dewa yang mengangkat kaos yang dipakainya dan mengeluarkan dari tubuhnya. Ia bahkan dengan lincah juga mengeluarkan singlet yang dipakai oleh Dewa.


Keduanya tanpa ragu saling melepaskan semua kain yang menutup diri mereka. Stevany menjelma menjadi gadis dewasa yang sangat mendambakan sentuhan Dewa. Ia juga berusaha memberikan kepuasaan kepada Dewandra dengan semua kemampuan yang sudah ia pelajari. Stevany bertekad menghapus semua jejak percintaan Treisya pada pikiran Dewandra.


*********


5 jam yang terasa sangat kurang untuk menuntaskan rasa rindu dan semua hasrat yang mereka miliki.


Walaupun tubuhnya terasa amat lelah karena percintaan mereka yang entah telah berapa ronde dinikmati, Stevany memutuskan untuk segera pulang. Ia mandi untuk menghilangkan jejak percintaan mereka dan yang membuat Stevany senang, Dewandra juga ikut mandi bersamanya. Walaupun tanpa suara, tapi cara Dewandra menyabuni tubuhnya membuat Stevany berada di atas awan. Walaupun tubuh mereka lelah, ternyata keduanya masih menginginkan satu ronde di lakukan di sela-sela mandi mereka.


Dan saat keduanya keluar kamar bersama, Seneo sedang menatap mereka sambil menggelengkan kepalanya.


"Tuan, lain kali kita sewa apartemen yang memiliki kamar dengan ruangan kedap suara. Aku sampai merinding tadi mendengarkan suara kalian." kata Seneo menumpahkan rasa kesalnya. Ia pikir tadi meninggalkan mereka selama 3 jam sudah cukup. Saat ia kembali, suara-suara itu masih terdengar. Dan terpaksa ia harus menggunakan headset.


Dewandra justru terkekeh mendengarkan keluhan Seneo. "Mana kunci mobilnya. Aku harus mengantarkan Stevany."


"Jangan, tuan. Aku bisa pulang naik taxi." Stevany menolak.


"Aku akan mengantarkan kamu sampai mendapatkan taxi." Dewandra segera mengambil kunci mobil dan melangkah lebih dulu. Stevany pun mengikutinya.


sebelum Stevany turun dan berpindah ke taxi yang sudah menunggunya, Dewandra kembali mencium gadis itu dengan sangat panas. "Kalau tak mengingat keselamatan mu, aku tak akan membiarkan kamu pulang malam ini. Aku belum puas dengan dirimu." kata Dewa dalam bahasa Indonesia. Ia pikir Stevany yang mengaku berasal dari Thailand pasti tak mengerti.


"Tuan bicara apa?" tanya Stevany pura-pura bingung.


Dewandra tak menjawab pertanyaan Stevany. "Turunlah. Nanti kamu terlambat pulang."


Stevany mengangguk. Ia pun turun lalu segera masuk ke dalam taxi.


Sepanjang perjalanan Stevany tersenyum. Ia bahagia dengan pertemuan manis mereka hari ini. Tak ada lagi tatapan tajam dan suara Dewa yang keras padanya. Hari ini Dewa begitu lembut sekalipun tak banyak bicara.


************


"Stev, kamu punya kekasih Baru?" tanya Treisya saat Stevany melayaninya makan pagi ini. Leo juga ikut makan. Sepertinya cowok ini memang tak akan pernah pergi lagi.


"Maksudnya nyonya?" tanya Stevany bingung. Apalagi mata Sasi yang menatapnya dengan tajam.


"Ada bekas merah di lehermu." ujar Treisya membuat Stevany terkejut. Semalam saat pulang ia langsung tidur karena kelelahan di gempur Dewa habis-habisan. Tadi pagi pun ia bangun sangat terlambat sehingga tak sempat melihat cermin saat harus mengikat rambutnya dengan asal karena Sasi sudah berteriak di depan kamarnya.


"Apakah kamu sudah melupakan Seneo?" tanya Treisya tajam sambil menatap Stevany tanpa berkedip.


Stevany gugup. Ia bingung harus menjawab apa.


*************

__ADS_1


Duh, Dewa sih buat tanda merah nggak kira-kira. Stevany harus jawab apa?


__ADS_2