Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Kejutan dari Treisya


__ADS_3

Selama beberapa malam ini, Dewandra terpaksa tidur dengan Treisya. Hanya tidur saja tanpa ada keinginan untuk menyentuh Treisya. Jika Dewandra tak memenuhi keinginan Treisya mama wanita itu akan histeris dan mulai menyakiti dirinya sendiri.


Sedangkan Seneo masih terus berusaha mencari keberadaan Stevany. Tak ada jejak sedikitpun yang tertinggal. Bahkan ia sudah mengecek di bidang imigrasi, tak ada nama Stevany yang tercatat meninggalkan Korea.


"Bagaimana ini, tuan? Anak buah kita semuanya sudah mencari bahkan jauh dari titik kota Seoul. Namun tak ada jejak sedikitpun yang menunjukan keberadaan Stevany."


Dewa yang baru saja selesai latihan hanya bisa menarik napas panjang. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat. Hanya dengan bermain basket dia bisa menghilangkan segala kegundahan hatinya. Cowok itu duduk di atas bangku penonton sambil menyeka keringatnya.


"Aku


"Apakah mungkin Stevany yang melarikan diri? Stevany yang tak ingin tinggal bersama kita karena ia takut dengan aunty Treisya? Kalau memang benar, maka aku akan mencari dia ke ujung bumi sekalipun. Aku menginginkan anakku."


"Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun bagaimana jika ada campur tangan Treisya?"


"Maksudnya?"


"Aku merasa kalau Stevany diculik oleh nyonya Treisya. Itu nampak dari para bodyguard yang bekerja tak maksimal menurut aku."


Dewandra hanya bisa menggeleng. Sungguh, pikirannya buntu beberapa hari ini karena tak keberadaan Stevany yang belum di ketahui.


Tak lama kemudian, ponsel Dewandra berbunyi. Ternyata Treisya yang meneleponnya.


"Hallo aunty, ada apa?" tanya Dewa.


"Dewa, kamu dan Seneo datang ke rumah ya sebelum jam 4 sore. Pakai jas supaya rapi soalnya ada acara khusus di sini nanti. Jangan sampai terlambat. Jas nya sudah aunty kirim ke hotel."


"Baik, aunty!"


Seneo menatap Dewa. "Ada apa?"


"Aunty minta kita hadir di sana. Ada acara di mansion katanya."


"Mungkin kerja sama untuk pembuatan gudang senjata itu?"


Dewa mengangkat bahunya. "Entahlah. Aku sungguh pusing. Ketakutan terbesarku adalah Stevany yang tak akan pernah ditemukan."


"Tuan, anda mungkin sudah mencintainya."


"Nggak. Aku kasihan padanya karena dia mengandung anakku."

__ADS_1


Seneo hanya tersenyum. Kamu saja yang belum menyadarinya, tuan. Kegelisahan mu, bukan karena Stevany yang mengandung anakmu tapi karena dia hatimu yang mencintainya. Semoga kau cepat menyadarinya, tuan.


***********


Pukul 4 lewat 15 menit, Dewandra dan Seneo tiba di mansion. Dari luar, mansion itu sudah diatur sangat indah dengan bunga-bunga.


"Ada acara apa sih ini? Kita disuruh pakai jas seperti ini lagi." Dewa menjadi heran melihat semuanya. Saat ia memasuki ruangan tamu pun, kondisi ruang tamu sudah berubah menjadi sangat indah. sofa-sofa yang ada sudah di singkirkan, diganti dengan meja-meja bulat kecil tempat para tamu berdiri. Di tengah-tengah bahkan ada mimbar.


Triesya yang sudah berdiri di ujung tangga paling atas segera turun begitu melihat Seneo dan Dewa yang datang. Semua pelayan juga nampak menggunakan baju pesta termasuk Ham dan Ling. Wajah Ham dan Ling terlihat sangat tegang. Seperti ada yang ingin mereka katakan pada Dewandra. Namun tatapan tajam Treisya membut Ham dan Ling memilih diam.


"Aunty, ada apa ini?" tanya Dewa bingung.


"Ingin buat satu perayaan besar, sayang. Kamu pasti suka dan aku berterima kasih pada aunty. Surprise! " Treisya menggunakan gaun berwarna hitam berbentuk seperti duyung dengan belahan dada dan punggung yang sangat panjang sehingga menampakan lekuk tubuhnya.


"Aunty tahu kalau aku tak suka dengan kejutan kan?"


"Aunty yakin kalau saat ini kamu pasti suka, sayang.....!" Treisya mengecup pipi Dewandra dan segera meminta para pelayan dan beberapa pegawainya untuk segera berkumpul di ruang tamu. Piano bahkan disiapkan di sana. Pemain piano mulai memainkan musik dan masuklah seorang pastur dengan jubah putih nya.


Seneo dan Dewandra langsung berpandangan. Sejak kapan aunty Treisya percaya pada agama?


Musik beralih ke lagi ave Maria. kamar tamu terbuka dan keluar seseorang menggunakan gaun pengantin berwarna putih.


"Surprise.......!" teriak Treisya dengan wajah yang nampak sangat gembira.


Wajah Stevany nampak sembab. Sepertinya ia terlalu banyak menangis. Ia menatap Dewandra dengan wajah penuh permohonan. Seakan ada yang ingin ia ceritakan namun tercekat di tenggorokan nya.


Sang pastur sudah berdiri di depan mimbar. Treisya segera menarik tangan Seneo agar segera berdiri di samping Stevany.


"Aunty sengaja menculik Stevany. Begitu kan kebiasaan orang Asia? Seorang pengantin harus dipingit dulu sebelum pernikahan mereka." Ia kemudian mendorong tubuh Stevany dan Seneo agar segera berdiri di depan mimbar.


"Silahkan dimulai upacara pernikahannya, pastur." Kata Treisya dengan suara lantangnya.


"Aunty....!" seru Dewandra. "Mengapa aunty menculik Stevany? Tidaklah aunty tahu kalau itu tindakan yang tidak benar? Aunty terlalu mencampuri urusan Seneo. Ingat aunty, Seneo punya hak menentukan kehidupannya sendiri." Dewa terlihat marah.


"Dewa sayang, kenapa kamu yang marah? Seneo kelihatannya suka dengan kejutan yang aunty berikan. Stevany butuh kepastian. Nggak mungkin anaknya lahir di luar nikah?" Treisya menatap sang pastur. "Mulai saja, pak!"


Sang pastur mengangguk. "Hari ini kita.....!"


"Hentikan!" teriak Dewandra. Ia menarik tangan Seneo. "Seneo, kamu menginginkan pernikahan ini?"

__ADS_1


Seneo menggeleng.


"Aunty, Seneo nggak mau!"


Treisya menatap tajam ke arah Seneo. "Kamu berani menolak keputusanku, Seneo?"


"Nyonya, ini adalah hidupku. Aku memang bekerja untuk tuan Dewa tapi aku belum siap menikah." kata Seneo.


Treisya mengambil pistolnya yang ada di dekat nakas. Sepertinya pistol itu sudah disiapkan. "Pastur, segera mulai!" Treisya mengarahkan pistolnya ke hadapan Stevany.


"Hari ini kita berkumpul untuk menyaksikan anugerah Tuhan dalam kehidupan Seneo dan Stevany yang akan segera mengikat diri mereka dalam pernikahan yang Kudus. Karena itu, kami persilahkan kedua mempelai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini."


"Aunty .....!" teriak Dewandra dengan emosi yang tak tertahankan. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan istrinya menikah lagi dengan sahabat sekaligus asistennya itu?


"Lanjutkan pastur!"


"Seneo, apakah engkau menerima Stevany sebagai istrimu yang sah, apakah engkau mau..."


"Cukup!" Dewandra menarik tangan Stevany dan menempatkan gadis itu di belakang tubuh kekarnya.


Mata Treisya langsung menyala karena cemburu yang mulai menguasai dirinya.


"Dewa, apa maksudnya?" tanya Treisya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Stevany tak boleh menikah dengan Seneo." kata Dewandra tegas. Seneo kini ikut berdiri di samping Dewa. Menutupi tubuh gadis itu dari pandangan Treisya. Mereka mengerti arti tatapan mata tajam Treisya. Tak ada pengampunan.


"Kenapa Seneo tak boleh menikah dengan Stevany? Kenapa ?" teriak Treisya nampak semakin tak terkendali emosinya.


Dewandra mendekat. Ia memegang kedua tangan Treisya dan menyingkirkan pistol itu dari sana. "Aunty...., kamu tahu kalau aku mencintaimu kan? Namun aku secara tak sengaja telah memperkosa Stevany saat aku mabuk. Dan Stevany hamil anakku."


"Kurangajar kamu Stevany! Kamu berani merayu Dewa? Bukankah kamu pacarnya Seneo? Apakah selama ini kalian menipu aku dengan pura- pura pacaran? Akan ku bunuh kalian semua ....! Ah.....lepaskan Dewa.....! Lepaskan aku. Aku sudah menduganya kalau kalian memang ada hubunga." Treisya memberontak dalam pelukan Dewandra.


"Seneo, bawa Stevany!" perintah Dewandra.


Seneo akan mengajak Stevany pergi namun semua anak buah Treisya yang ada di sana segera mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan pistol itu pada Seneo dan Stevany.


***********


Bagaimana nasib mereka ???

__ADS_1


__ADS_2