Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Menyembuhkan Luka


__ADS_3

Ham meletakan semangkuk sup di hadapan Dewandra. Sup ikan yang biasa dibuatkan Stevany saat mereka ada di apartemen Seneo.


"Uncle Ham, ada berita tentang Ling?" tanya Dewa pelan. Ia takut Sasi mendengar perbincangan mereka.


"Tak ada, tuan. Semuanya bagaikan hilang di telan bumi."


Dewa menatap sup ikan yang ada di hadapannya. "Aku juga tak tahu bagaimana kabar Seneo. Pisau itu ada racunnya. Apakah Seneo selamat atau tidak. Tapi kalaupun selamat, mengapa dia tak menghubungi aku?"


"Entahlah, tuan." Ham langsung mundur saat mendengar suara bunyi hak tinggi Treisya. Wanita itu mendekati meja makan dan tersenyum melihat Dewandra.


"Sayang......" Treisya mendekat dan mencium puncak kepala Dewandra.


"Aunty!" Dewa hanya tersenyum kecil. Sedikit dipaksa.


"Aunty sudah konsultasi dengan dokter yang menangani kakimu. Karena peluru nya masuk tak terlalu dalam sehingga tak mengenai tulangmu. Kamu sudah bisa main basket lagi. Aunty sudah pilihkan seorang asisten baru untukmu."


"Aku nggak mau main basket lagi, aunty!" Dewandra mulai memasukan sup ke dalam mulutnya.


"Aunty tahu kalau basket adalah jiwamu, sayang. Aunty akan dukung kamu terus. Bahkan aunty akan selalu hadir dalam setiap pertandingan yang kau ikuti. Kali ini aunty akan mendukung sepenuhnya karirmu di basket. Soal hotel, jangan takut. Ada pamanmu."


Dewandra tak bicara. Ia tetap menikmati sup ikannya. Tiba-tiba saja Dewandra ingat Stevany. Senyum manisnya, tawanya, bahkan wajahnya yang memerah setiap kali Dewandra menggodanya untuk bercinta.


"Dewa sayang, ada apa?"


Dewandra melepaskan sendok yang ada di tangannya. "Aku tak berselera lagi untuk makan." Lalu ia berdiri dan melangkah meninggalkan ruang makan. Treisya menatap kepergian Dewa. Sudah seminggu lebih sejak peristiwa saling tembak di mansion ini. Dewa terlihat murung dan tak banyak bicara. Ia bahkan tak mau tidur di kamar Treisya. Aku akan mendapatkan hatimu lagi, sayang.


**************


Giani menatap putrinya yang sedang duduk di halaman belakang. Stevany memang paling suka menikmati pemandangan danau.


Perlahan wanita cantik itu mendekati putrinya. "Sayang ......!"


Stevany yang sedang duduk di atas tikar menoleh ke arah kedatangan mamanya. "Mama..."


"Boleh mama ikut bergabung di sini?"


Stevany mengangguk.


Giani pun duduk di samping anaknya. "Kamu nggak tidur siang?"


"Nggak mengantuk, ma. Daddy mana?"


"Ada rapat pemegang saham. Makanya Daddy harus hadir. Sebenarnya kamu juga sudah harus hadir karena salah satu pemegang saham."


"Mungkin bulan berikut, ma."


Giani merah kedua tangan putrinya dan menggenggamnya erat. "Nak, bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Sudah lebih baik, ma."


"Anak itu memang titipan Tuhan bagi kita. Kalaupun anak itu pergi sebelum waktunya, itu memang sudah diatur oleh Tuhan. Kamu jangan bersedih ya?"


"Mungkin sebaiknya aku kehilangan dia, ma. Aku tak mau anak dari seorang mafia yang tak punya hati. Dewa tak mencintaiku, ma. Aku hanya dijadikan pelampiasan dari hasrat gilanya padaku."


"Kau akhirnya menyerahkan dirimu pada Dewa?" tanya Giani pelan. Ia tak ingin anaknya tersinggung.

__ADS_1


"Kami menikah, ma."


"Menikah?"


Stevany mengangguk. "Maafkan Stevany yang tak bilang pada mama. Kami menikah di sebuah gereja kecil. Aku tak ingin Dewa menyentuhku tanpa ada ikatan yang jelas. Aku pikir dengan menikah, mungkin aku bisa membuatnya menjadi milikku seutuhnya. Ternyata tidak. Aku kalah. Aku menyerah."


Giani langsung memeluk putrinya. Ada perasaan lega saat tahu kalau Stevany tak berzinah saat melakukan hubungan dengan Dewa. Tangannya mengusap punggung sang putri. "Waktu akan membuatmu melupakan semuanya, sayang."


"Terima kasih mama selalu ada untukku."


"Karena kamu adalah jiwa mama."


Stevany merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang luar biasa. Ia yakin bisa melupakan Dewandra. Dan ia memang harus melupakannya.


***********


3 bulan kemudian......


Tepuk tangan terdengar saat Stevany menerima jabatan barunya. Sekarang ia menjabat sebagai general manager di salah satu hotel bintang 7 milik Jero Dawson. Gabrian, Gabriel dan Joselin setuju adik mereka itu memegang kendali pimpinan tertinggi di salah satu hotel mereka.


Ling menjadi salah satu staf koki dan Jeon menjadi kepala keamanannya.


"Selamat ya, nak. Daddy yakin kamu pasti bisa. Kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan hukum, tanyakan pada Joselin. Kamu tahu kalau dia adalah pengacara di perusahaan kita."


"Baik, Daddy."


Gabrian dan Gabriel mendekati adiknya. "Selamat bekerja." kata mereka bareng.


"Jangan lelah menjawab semua pertanyaan ku ya?"


Gabrian mengangguk. Ia menarik hidung adik bungsunya itu dengan gemas. Ia bahagia karena sekarang Stevany terlihat jarang melamun.


Tenggelam dengan kesibukan pekerjaannya membuat Stevany perlahan menyembuhkan luka hatinya. Ia memang masih sering memimpikan wajah tampan pria bertato itu. Rasanya sangat sulit menghilang jejak Dewandra pada tubuhnya walaupun benih itu tak tumbuh lagi di rahimnya. Hati Stevany sering tergores ketika melihat wanita hamil. Namun ia berusaha selalu berpikiran positif. Setidaknya sekarang, ia masih bisa bersama dengan keluarganya.


"Melamun saja." Jeon mendekati Stevany yang sedang duduk di taman dekat kolam berenang. Cowok itu nampaknya baru saja selesai berkeliling. Jeon mendapatkan kamar khusus di hotel ini. Sedangkan Ling selalu pulang bersama Stevany ke mansion. Giani dan Jero menyukai Ling yang telah ikut menyelamatkan Stevany.


"Eh Jeon. Dari keliling ?"


"Iya. Banyak tamu akhir pekan ini. Apalagi ada ifen besar peragaan busana yang akan dilaksanakan lusa. Segala sesuatu harus diperketat penjagaannya."


"Aku yakin kamu bisa menanganinya. Oh ya, sudah ada kabar dari Leo?"


Jeon menggeleng. "Aku tak tahu dia ada di mana sekarang. Keluarga yang ada di Amerika pun kehilangan kontak dengan dia. Mudah-mudahan saja, Treisya tak menemukannya. Leo pasti sudah dihancurkan nya."


"Amin."


"Stev, kamu ada waktu minggu depan."


"Memangnya ada apa?"


Jeon tersenyum. "BTS datang ke Jakarta."


"Yang benar?"


"Iya."

__ADS_1


"Wah, kita harus berburu tiket konser dong."


Jeon menunjukan salah satu aplikasi yang ada di ponselnya. "Aku sudah mendapatkannya. Untuk kita bertiga."


"Duh Jeon....kamu tuh tahu aja yang aku mau." tanpa sadar Stevany memeluk Jeon saking senangnya. Jeon nampak berbunga. Sudah lama ia menaruh hati pada Stevany namun semakin tak berani menunjukan nya karena sekarang ia tahu kalau Stevany adalah anak sultan.


"Aku hanya ingin membuat kamu senang, Stev."


"Terima kasih ya?"


Dari jauh, Ling menatap mereka. Ada sesuatu yang menggores hatinya. Jujur saja Ling sudah lama naksir Jeon. Namun ia tahu, Jeon menyukai Stevany. Dan Ling tak mungkin bersaing dengan anak sultan.


************


Suara riuh penonton terdengar semakin panas saat Dewandra memasukan bola ke ring bertepatan dengan dengan bunyi peluit yang terdengar sebagai tanda berakhirnya waktu pertandingan.


"Dewandra......Dewandra......Dewandra.....!"


Dewandra melemparkan senyum ke arah para penonton. Ia kini dikenal sebagai pemain basket yang ramah dan tak lagi cool seperti dulu. Ia bahkan sering terlihat berjalan keliling, membagikan roti dan minuman pada orang-orang pinggiran. Persis seperti yang Stevany lakukan.


Dewa juga menjadi penyumbang tetap di beberapa panti asuhan. Dan sesekali, ia akan hadir di gereja kecil, gereja tempat ia dan Stevany melangsungkan pernikahan.


Segala usaha sudah dilakukan Treisya untuk merayu Dewa. Namun cowok itu selalu berkelit dan berhasil lolos dari rayuan maut Treisya.


Kini, Dewa tenggelam dalam kegiatan basketnya. Ia bahkan tour keliling beberapa kita dan sering membiarkan Treisya sendiri karena Treisya tak bisa terus mengikutinya. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus Treisya lakukan berhubungan dengan kerja sama dengan mafia Jepang.


Dewandra tak pernah lagi menolak berfoto dengan para fans nya. Ia tak segan memeluk para fans cewek. Sangat berbeda dengan Dewa yang dulu. Dan itu yang .embuat Treisya uring-uringan karena semakin banyak wanita yang memuja Dewa.


"Tuan, ini baju gantinya." Neo, asisten terbarunya membawakan tas yang berisi pakaian Sewa.


"Neo, tolong belikan aku susu tanpa lemak di mini market terdekat ya? Aku tunggu."


"Baik, tuan."


Dewandra pun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lelah. Perta dingan hari ini cukup menyita tenaganya.


Ia sengaja mandi setelah pemain yang lain selesai mandi.


"Tuan.....!"


Dewandra yang baru masuk ke dalam kamar mandi terkejut mendengar suara itu. 6 bulan sudah berlalu namun tak mungkin ia melupakan suara Seneo.


"Seneo?"


Keduanya langsung berpelukan untuk melepaskan kerinduan.


"Aku pikir kamu sudah mati."


"Aku harus menyembunyikan diri dari Nyonya jika ingin selamat."


"Di mana Stevany? Apakah dia sudah melahirkan anakku?"


Seneo menggeleng. "Maaf tuan. Stevany mengalami keguguran karena air yang dia minum saat itu."


"Apa?" Dewandra mengepalkan tangannya. Emosinya tiba-tiba saja naik.

__ADS_1


**************


Apa yang akan Dewandra lakukan?


__ADS_2