Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Menghilang


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Treisya saat ia mencoba mencium Dewa namun cowok itu tak membalas ciumannya.


"Maaf aunty!" Dewa perlahan mendorong tubuh Treisya yang ada di atasnya.


"Sayang, ada apa? Ini bahkan tak berdiri." Treisya memegang palonya Dewa.


Dewa menepiskan tangan Treisya yang ada di inti tubuhnya. "Aku belum bisa melupakan perbuatan aunty bersama mata-mata itu." Dewandra beralasan karena memang bukan karena itu. Entah mengapa semenjak ia menyentuh Stevany, ia tak ingin menularkan sesuatu yang bisa saja terbawa saat ia menyentuh Treisya. Apalagi sekarang Stevany sedang hamil.


"Kamu Setega itu sama aunty? Aunty nggak pernah lagi menyentuh lelaki lain, sayang." Treisya kembali menyentuh Dewandra namun cowok itu menjauh.


"Sebaiknya aku tidur di kamar sebelah saja. Selamat malam aunty!" Dewandra langsung meninggalkan kamar itu.


"Ah....brengsek kau Dewa!" Treisya memporak-porandakan seisi kamarnya dengan emosi yang tak terbendung lagi. Dewa adalah miliknya. Ia tak boleh menjadi milik perempuan manapun.


Treisya senang karena Dewa ikutan pulang. Namun keinginannya untuk bercinta terpaksa harus dipendamnya.


Tak lama kemudian, Treisya menelpon Leo dan meminta cowok itu datang secara sembunyi-sembunyi lewat pintu belakang. Treisya meminta Sasi untuk menjemput Leo dan mengantarnya ke kamar tamu yang ada di bawa.


*************


Sementara itu, Dewa di kamarnya terlihat gelisah. Ia ingin pergi ke kamar Seneo namun takut dipergoki oleh Treisya.


"Bagaimana Stevany?" Akhirnya Dewa menelepon Seneo.


"Sudah tidur, tuan. Tadi dia sempat muntah-muntah lagi. Sepertinya dia butuh tuan. Soalnya aku perhatikan kalau ada tuan di sampingnya, Stevany jarang muntah."


"Aku ingin ke sana tapi takut kalau aunty curiga."


"Tadi saya ke dapur untuk membuat kopi, saya melihat nyonya ada di lantai bawa. Sepertinya ada tamu sehingga kamar tamu nampak disiapkan oleh Sasi."


Mendengar itu, Dewa langsung ke kamar Seneo. Tak lupa ia mengunci kamarnya sendiri agar Treisya tahu kalau Dewa tak ingin diganggu.


Hati Dewa merasa kasihan melihat Stevany yang tertidur dengan wajah sedikit pucat. Ia duduk di tepi ranjang sambil membelai wajah gadis itu. "Kapan ia akan berhenti muntah-muntah?"


"Kata dokter, jika kandungannya sudah memasuki Minggu ke-15 atau 16, maka rasa mual dan muntah biasanya akan berkurang."


Dewa menatap Seneo. "Kamu kok banyak tahu mengenai ibu hamil? Katanya pacarmu nggak pernah ada yang hamil."


Seneo tersenyum. "Itulah gunanya internet, tuan."


Dewa pun mengangguk.


"Tuan, terus bagaimana rencana pernikahan aku dan Stevany yang dirancang oleh nyonya Treisya?"


"Aku akan mencari cara untuk melarikan Stevany ke kota lain."


"Nanti Nyonya curiga, tuan."


"Katakan saja kalau kalian ingin menikah di Thailand. Nanti aku akan berusaha membujuknya."

__ADS_1


"Aku merasa kalau Nyonya sudah mencurigai hubungan kalian. Sebaiknya tuan berhati-hati."


Dewa menarik napas panjang. "Aku tak mau menyakiti aunty. Tapi aku juga menginginkan anak ini. Entahlah, ada perasaan aneh saat tahu ada bagian dari diriku yang tumbuh di perut Stevany. Aku bahkan tak sabar menanti kelahirannya. Rasanya sangat bersemangat untuk mendengar suara mungilnya memanggil aku dengan sebutan Daddy."


"Tuan, apakah mungkin tuan sudah mencintai Stevany?"


Dewa menggeleng. "Sudah kukatakan, hanya aunty yang aku cintai."


Stevany yang memang sudah bangun sejak Dewa menyentuh pipinya hanya bisa menahan sakit di hatinya. Selama beberapa hari ini ia merasakan perhatian Dewa padanya. Ia merasa yakin bisa mendapatkan Dewa. Namun ternyata ia belum bisa mencapai hati pria bertato itu.


************


"Seneo, boleh nggak kita keluar sebentar? Aku ingin makan sesuatu di kota. Tempat mie yang pernah kita kunjungi."


Seneo mengangguk. Sore ini Stevany baru saja mandi dan ia terlihat segar.


Sejak pagi, Dewa sudah pergi dengan Treisya berhubungan dengan pengiriman senjata yang ada.


Seneo tahu kalau Stevany kesal karena Dewa tak ada. Makanya ia pun memenuhi keinginan wanita hamil itu.


Keduanya pergi dengan mobil Seneo menuju ke kota.


Stevany menikmati mie favoritnya itu. Selesai makan mie, Stevany meminta ijin untuk ke toilet. Namun setelah itu ia tak pernah kembali. Seneo menjadi panik setelah 30 menit Stevany tak kembali. Ia bertanya pada semua pelayan rumah sakit itu namun Stevany tak terlihat. Rumah makan kecil itu tak memiliki CCTV.


Terpaksa Seneo menelepon Dewa.


"Tuan, Stevany menghilang."


Seneo pun menceritakan bahwa Stevany ingin makan mie. Makanya ia menemani Stevany keluar.


"Kamu sudah periksa di sekitar lokasi?" tanya Dewa. Entah mengapa ia menjadi risau.


"Sudah, tuan. Masalah di sini nggak ada CCTV. Kata pelayan, mereka melihat Stevany keluar ikut pintu belakang. Ada seorang lelaki yang bersamanya."


"Apa? Siapa lelaki itu?"


"Nggak tahu tuan. Kan nggak ada CCTV."


"Brengsek. Aku ke sana sekarang. Kirim lokasimu."


Treisya mendekati Dewa. "Ada apa, sayang? Kenapa kau terlihat cemas?"


"Stevany menghilang."


"Kok bisa?"


"Mereka katanya keluar untuk makan mie ayam. Stevany pamit ke toilet dan nggak kembali." Dewa menarik napas panjang. "Bagaimana barangnya?"


"Aman. Sudah pergi."

__ADS_1


"Aunty pulang dengan mobil lain ya? Aku mau membantu Seneo untuk mencari keberadaan Stevany."


"Mungkin saja gadis itu tak mau lagi bersama Seneo. Biarkan saja."


"Kasihan Seneo."


"Anak buah kita banyak. Suruh mereka ikut mencari Stevany. Kita pulang saja."


Dewa menggeleng. "Maaf aunty. Aku harus pergi. Seneo membutuhkan aku."


"Dewa.......Dewandra!" Treisya berteriak kesal melihat Dewandra yang sudah pergi. Ingin rasanya ia menyusul Dewa namun masih ada pekerjaan penting yang harus ia lakukan.


***********


Dewa berjalan mondar mandir di kamarnya. Ini sudah pagi dan tak ada satupun yang tahu tentang keberadaan Stevany. Ia bagaimana hilang di telan bumi.


Satu malam Dewa tak bisa memejamkan matanya. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Stevany apalagi anak yang dikandungnya.


Pintu kamar Dewa terbuka. Treisya masuk dengan baju seksinya.


"Dewa sayang, ayo kita sarapan!"


"Aku nggak bisa aunty. Aku nggak lapar."


Treisya terlihat kesal. "Kamu kenapa? Stevany yang hilang namun kamu yang nampak seperti kekasihnya dan bukan Seneo."


"Seneo sedang mencari Stevany, aunty. Kalau semalam aunty nggak menelepon aku dan meminta pulang karena aunty sakit, aku pasti akan menemani Seneo mencari Stevany."


"Oh, jadi sekarang kamu menyalahkan aunty? Kalau begitu biar saja Stevany mati dibunuh orang. Dia rupanya sudah berarti dalam hidupmu ya?" Treisya berteriak marah sambil mengangkat tangannya dan menunjuk wajah Dewa dengan wajah merah.


"Bukan begitu, aunty. Aku hanya kasihan pada Seneo. Dia sangat mencintai Stevany."


Treisya memicingkan matanya. "Kamu sekarang aneh, Dewa. Dulu kamu hanya memperhatikan aunty. Nggak pernah kepo dengan urusan orang lain. Kok sekarang tiba-tiba sangat peduli dengan kehidupan Seneo dan kekasihnya?"


"Aunty, jangan lupa kalau Seneo sudah berkali-kali menyelamatkan aku. Stevany juga sudah dua kali menyelamatkan aku. Mereka berdua sangat berjasa dalam hidupku."


"Dan kamu melupakan jasa aunty yang sudah membuatmu bangkit dari segala keterpurukan mu di masa lalu? Kalau aunty tak menolongmu, kamu sudah menjadi sampah bahkan mati sia-sia. Jadi kamu anggap pengorbanan aunty selama ini tak berguna sama sekali?" Treisya tak bisa menahan air matanya. Ia menangis sedih.


"Aunty, bukan seperti itu." Dewa mendekati Treisya dan memeluk wanita itu. Treisya tersenyum senang melihat bagaimana Dewa memeluknya dengan lembut. Sudah lama ia tak bersandar pada dada bidang yang bertato itu.


Treisya mengusap lengan Dewa. "Kau ingat tato ini? Kau sendiri yang berinisiatif menuliskan nama aunty di lenganmu. Katamu aunty adalah segalanya. Aunty rindu saat-saat indah itu, sayang. Kita bercinta tanpa mengenal waktu. Kau sangat memuja aunty dan selalu melakukan apa yang aunty mau. Sekarang aunty merasa kau sangat berbeda. Nampaknya semenjak Stevany hadir di sini, kau juga ikut memperhatikan dia. Jangan lupa kalau Stevany adalah kekasih Seneo. Hanya aunty kekasihmu."


Dewandra hanya bisa menarik napas panjang. Ia memejamkan matanya dan mengingat bagaimana Treisya yang selalu setia ada untuknya. Bagaimana Treisya telah membuat ia bisa ada seperti sekarang ini. Dewandra memang tak akan pernah mau menyakiti Treisya. Namun sisi hatinya yang lain, ia ingin Stevany selamat..


***************


Ada di mana Stevany??


Adakah sesuatu yang buruk menimpanya?

__ADS_1


Berikan komentar kalian yang guys


__ADS_2