Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Sakit


__ADS_3

Sasi menyajikan sarapan di pagi ini.


"Mana Stevany?"


"Dia masih tidur, tuan. Kata Ling, dia sakit." Jawab Sasi.


Dewa hanya diam. Namun hatinya bertanya. Apakah obat yang dia minum semalam nggak berfungsi? Bukankah obat itu diberikan oleh dokter?


"Tuan, semalam Stevany pulangnya sudah subuh. Nyonya Treisya nggak suka jika ada pelayan yang pulang terlambat apalagi bukan hari off nya." Sasi melapor. Berharap agar Dewa akan marah.


"Bangunkan Stevany jika sudah jam 11. Suruh dia ke ruangan ku." ujar Dewandra lalu menyudahi sarapannya. Entah mengapa pagi ini dia jadi kehilangan selera untuk sarapan.


"Baik, tuan." Sasi tersenyum. Mampus kau, Stevany.


Sasi segera memanggil pelayan yang lain untuk membereskan meja makan. Sebenarnya, Dewa hanya minum segelas jus jeruk. Ia sama sekali tak menyentuh makanan yang disiapkan untuknya.


"Tuan Dewa kenapa ya? Pasti karena Nyonya Treisya nggak ada kan? Tuan Dewa selalu nggak bersemangat jika nyonya nggak ada." Ujar Sasi. Ling hanya mengangkat bahunya. Ia pun langsung menbereskan meja makan. Makanan ini pasti akan sangat dinikmati oleh semua pelayan karena sang tuan sama sekali tak menyentuhnya.


"Ling, bangunkan Stevany."


Ling menatap Sasi. "Bukankah tadi tuan mengatakan nanti jam 11? Ini kan baru jam 8. Biarkan saja Stevany istirahat karena semalam dia demam."


"Demam? Memangnya apa yang ia lakukan di luar sana bersama tuan Seneo sampai dia demam? Pasti kebanyakan buka baju."


"Kok nona Sasi yang sewot sih? Dia mau buka baju, nggak buka baju, itu bukan urusan kita. Mereka sama-sama masih muda, penuh gairah. Wajarlah jika ninaninu."


"Apa itu ninaninu?"


Ling tertawa. "Belum pernah ya?"


"Ling....!" Sasi terlihat marah.


Ling langsung berlari ke arah dapur sambil meminta seorang koki membawa makanan kembali ke meja belakang. Ia mau menyiapkan sarapan untuk temannya.


Ling membuka pintu kamar. Di lihatnya Stevany sudah bangun namun tubuhnya masih bersandar di kepala ranjang.


"Stevany, ayo sarapan. Ham mengirimkan susu hangat dan roti keju kesukaanmu."


Stevany tersenyum. "Terima kasih, kak Ling. Namun aku nggak lapar."


"Harus makan supaya menjadi kuat. Tuan Dewandra meminta kamu menghadap di ruangannya jam 11 nanti."


"Untuk apa?"


"Sasi mengadu kalau kamu pulang subuh."


"Kenapa sih dia nampaknya nggak suka padaku?"


"Aku kan sudah bilang kalau dia suka dengan tuan Seneo."


Stevany hanya bisa menarik napas panjang. Andai mereka tahu kalau Seneo tak punya hubungan apapun dengan dirinya, pastinya mereka semua akan tercengang.


"Selesai makan, istirahat lagi ya? Nanti aku aku bangunkan kamu kembali jika sudah jam 11."


Stevany mengangguk. Ia pun makan sarapan yang dibawa Ling walaupun ia sendiri tak merasa lapar.


*************


Seneo duduk di hadapan Dewandra sambil menyerahkan laporan pengiriman senjata. "Semuanya berjalan lancar. Hanya saja, nyonya Treisya belum kembali lagi ke sini karena ia akan melaksanakan operasi di Jepang."


"Operasi? Kok aunty nggak bilang apa-apa sih? Apakah aunty sakit?"


Seneo hanya mengangkat kedua bahunya. "I don't know. Oh ya, bagaimana dengan tawaran dari klub itu?"


"Aku akan menerimanya walaupun aunty kelihatannya kurang suka saat aku harus bermain basket lagi. Aku rindu berada di lapangan. Apalagi aku dengar akan ada pertandingan antar club' se-Asia."

__ADS_1


Seneo mengangkat jempolnya. "Baguslah. Aku suka melihatmu ada di lapangan, tuan. Oh, ya, kenapa aku tak melihat Stevany ya? Apakah dia sedang keluar?"


"Dia ada di kamarnya. Kata Ling sedang sakit."


"Sakit? Apakah tuan terlalu kasar padanya semalam? Pasti dia sangat kesakitan karena ini pengalaman pertamanya."


"Bagaimana kamu tahu kalau dia masih perawan?"


"Semalam dia menangis sepanjang perjalanan pulang. Aku tahu dia pasti kesakitan."


"Tapi kan katamu, obat itu manjur."


"Tapi kalau tuan melakukannya dengan kasar pastilah dia sangat sakit."


"Aku pelan-pelan semalam."


Seneo tersenyum. "Rasanya berbeda kan? Pacarku yang pertama juga masih perawan saat aku menyentuhnya."


"Biasa saja." kata Dewandra dengan suara yang hampir tak kedengaran. Ia membohongi dirinya sendiri yang merasakan nikmat yang luar biasa saat berhasil menerobos selaput kesucian Stevany.


"Masa sih?" Seneo menggelengkan kepalanya. "Jadi, semalam yang pertama dan yang terakhir?"


"Ya. Aku tau mau mengkhianati aunty Treisya."


"Kalau begitu, aku boleh mendekati Stevany kan?"


"Kamu?" Dewa mengepal tangannya.


"Kan tuan nggak berminat lagi padanya. Nggak apalah kalau dia sudah bekas dari tuan. Stevany cantik dan manis. Aku akan setia menyayanginya. Gadis seperti dia sayang kalau dibiarkan terluka."


"Jangan!" Ujar Dewandra.


"Tapi kan?"


"Kalau aku bilang jangan ya, jangan!" sentaj Dewandra lalu segera berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang kerjanya. Saat ia akan menaiki tangga menuju ke kamarnya, ia melihat kalau Stevany baru saja keluar dari ruang makan. Nampak Jeon mendekatinya. Entah apa yang mereka bicarakan. Nampaknya Jeon menyentuh dahi Stevany kemudian mengusap pundak gadis itu seolah memberikan dia semangat.


Tangan Dewa langsung meraih ponselnya dan menelpon Seneo, meminta asistennya itu untuk mengantarkan Stevany ke kamarnya.


10 menit kemudian......


tok......tok......tok......


Pintu kamar dibuka dari dalam. Nampak Dewa yang hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Nampaknya ia baru mandi.


Stevany memalingkan wajahnya. Dada bidang Dewandra yang bertato mengingatkan Stevany akan pergumulan panas mereka tadi malam.


"Masuk dan tutup kembali pintunya."


Stevany sempat menoleh ke arah Seneo yang berdiri di belakangnya. Seneo hanya mengangguk sambil tersenyum. Stevany pun masuk dan menutup pintunya.


Dewandra masuk ke walk in closet dan keluar lagi setelah menggunakan celana jeans dan kaos berwarna hitam.


"Kenapa masih berdiri di situ? Duduk!"


Stevany duduk di sofa panjang yang ada di kamar itu, Dewandra kemudian menyusul dan duduk di sampingnya.


"Apakah kamu sakit?" tanya Dewa dengan sikap yang dingin, seperti biasa.


"Hanya demam biasa. Tapi sudah sembuh."


Dewandra menatap ke bawa, ke arah tangan Stevany yang ada di pangkuannya.


"Di mana cincinmu?"


"Eh, aku membukanya, tuan. Aku seorang pembantu, bagaimana bisa memakai cincin semahal itu?"

__ADS_1


"Kamu harus memakainya. Jika ada yang tanya, bilang saja kalau Seneo melamar mu sehingga tak ada laki-laki lain yang menggoda mu. Mengerti?"


"Tapi, bukankah kata tuan semalam bahwa pernikahan kita sudah batal? Bahwa tuan tak akan menyentuh aku lagi?"


"Bibi Treisya nggak ada. Aku masih butuh kamu untuk melampiaskan semua hasrat dalam diriku." Dewa mengeluarkan tangannya dan menyentuh pipi Stevany. Sejak tadi dia sudah ingin mencium Stevany namun dia gengsi untuk mengakuinya. Namun, saat mereka berdekatan seperti ini, apalagi saat melihat Stevany yang mengigit bibir bawahnya, Dewa seakan tak bisa menahan dirinya lagi. Ia langsung meletakan tangannya di tengkuk Stevany dan menarik wajah gadis itu untuk mendekat padanya dan kembali menikmati bibir Stevany yang polos tanpa lipstik itu.


Stevany tak bisa menolaknya. Sentuhan Dewandra memabukkan untuknya. Apalagi perasaan cintanya begitu dalam untuk pria itu.


"Tuan, nanti Sasi mencari saya." kata Stevany saat ciuman itu terlepas.


"Aku yang akan membereskan dia."


Tangan Stevany bergetar saat Dewan menyatukan jari mereka.


"Aku akan lebih lembut dari semalam. Jangan takut." bisik Dewa sebelum mengangkat tubuh Stevany dan membawanya ke ranjangnya.


***************


Seneo tahu ada yang terjadi di kamar yang kedap suara itu. Makanya ia memilih masuk ke kamar tamu yang ada di sebelah kamar Dewa untuk menyembunyikan dirinya. Supaya orang-orang tahu kalau Stevany sedang bersamanya.


Di dalam kamarnya, Dewa sedang menikmati tubuh istrinya dengan gairah yang tak tertahankan lagi. Dewandra tahu kalau Stevany masih sakit karena itu ia melakukannya dengan sangat lembut.


Begitu nikmatnya penyatuan itu sampai Dewandra tak memperdulikan ponselnya yang sudah berulang kali berbunyi.


Di kamar sebelah, Seneo menerima panggilan dari Treisya.


"Mana Dewa? Kenapa dia nggak mengangkat telepon dariku?"


"Tuan sedang rapat, Nyonya. Saya terlambat ke kantor hari ini."


"Selesai rapat suruh dia menelepon aku ya?"


"Baik, Nyonya."


Di ruang bawa, Sasi nampak mencari Stevany. "Di mana gadis itu? Bukankah dia sedang menemui tuan Dewa? Tapi di ruangan tuan Dewa nggak ada orang."


Ling yang sedang menggantikan Stevany mengatur meja makan tersenyum. "Sedang bersama tuan Seneo kayaknya."


"Pacaran melulu anak itu. Kalau Nyonya besar datang, aku akan mengadukan semua perilakunya. Aku akan potong gajinya bukan ini."


"Aku pikir itu nggak masalah buat Stevany. Kan tuan Seneo banyak uang. Jadi bisa memberikan Stevany uang."


"Diam Ling! Aku bisa memecat Stevany."


"Coba saja. Pasti Stevany akan lebih senang karena ia akan tidur dengan tuan Seneo di apartemen tuan Seneo. Mereka pasti akan selalu memadu kasih."


"Ling......!"


"Nona cemburu ya?"


"Enak saja. Siapa yang cemburu?"


Ling ingin tertawa namun ia memilih menghindar dan pergi ke dapur.


Jam makan siang sudah terlewati. Sekarang sudah pukul 2 lewat 15 menit. Dewandra masih memeluk tubuh Stevany yang nampaknya masih terlelap setelah mereka melakukan dua ronde sejak jam 11 tadi.


Dewandra bangun dan meraih ponselnya. Membaca pesan Seneo yang mengatakan kalau Treisya mencarinya.


"Seneo, kamu jangan dulu keluar kamar. Stevany masih tidur karena itu biarkan mereka menyangka kalau dia bersama mu. Aku akan makan siang dulu." Dewa meninggalkan kamarnya dan menuju ke ruang makan. Nampak Sasi sudah menunggunya.


"Tuan, Stevany menghilang." lapor Sasi.


"Dia sedang bersama Seneo. Seneo merawatnya karena dia sakit. Jangan ganggu dia." kata Dewa dengan suara yang setengah memerintah. Sasi nampak kesal namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


*************

__ADS_1


Bagaimana nasib Stevany selanjutnya?


Dukung emak selalu ya guys


__ADS_2