Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Perubahan Hidup


__ADS_3

ku awali babak ini dengan lagu dari Alan Walker with Ema "NOT YOU"


In my life, in my mind


Di dalam hidupku dan benakku


Where I make up stories all the time


Di mana selalu jadi tempatku untuk bersandiwara


And I pretend that I am not someone


Dan berpura-pura menjadi sosok yang berbeda


Left to face the world alone


Sendirian hadapi kerasnya dunia


Lately I'm not the same


Kini, aku tidaklah lagi sama


I've found a stranger calling out my name


Aku telah temukan orang asing yang panggil namaku


Have a feeling you would be so proud


Firasatku kau akan sangat bangga


And he's gon' need me now


Sebab kini dia yang membutuhkanku


But he's not you


Tapi dia bukanlah dirimu


He's not you


Dia bukan dirimu


He will never be you


Dia tak akan bisa menggantikanmu


Photobook with my mistakes


Mengenang semua kesalahan yang kubuat


Promises that we never got to make


Bersama segenap janji yang tak pernah terwujud


All the things I wanna talk about


Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan


Hard to say it to myself


Namun sulit bagiku untuk menyampaikannya


Wintertime, once again


Musim dingin kembali menyapa


In the snow I can see just where I've been


Guyuran salju mengingatkanku akan perialananku


How far I've made it in the world so cold


Sejauh mana perjuanganku di tengah situasi yang sulit


Where I have everything

__ADS_1


Di kala aku punya segalanya


****************


Mata Stevany menatap kotak berisi cincin yang diberikan Jeon padanya semalam.


Stevany mengingat kembali selama setahun ini bagaimana Jeon sudah menemaninya dan membuatnya kuat menghadapi segala sesuatu. Jeon bahkan bisa membuatnya tertawa.


Tangan Stevany membuka kotak itu. Ia kembali menyentuh cincin itu. Hatinya bimbang. Haruskah ia menerima Jeon sementara ia tak bisa menolak pesona Dewandra dalam hidupnya?


"Sayang ......!"


Stevany menoleh. Papanya berdiri di depan pintu kamarnya yang ternyata tak ditutup.


"Dad..."


Jeronimo melangkah masuk. Ia kemudian duduk di samping putrinya. "Nggak ke hotel?"


"Sudah mandi sih namun rasanya nggak enak badan aja." Stevany beralasan. Sebenarnya ia tak mau bertemu Dewa.


"Istirahat saja. Itulah enaknya jadi bos."


Stevany terkekeh. Ia melingkarkan tangannya di lengan sang papa lalu bersandar manja di bahu Koko pria paru baya itu. "Dad, pernah bimbang nggak saat memutuskan untuk melamar mom?"


Jero menarik napas panjang. Tentu saja Stevany nggak pernah tahu bagaimana dulu ia dan Giani jadian. Unik, penuh intrik tapi membawa rasa cinta yang sangat dalam bagi keduanya. (yang belum tahu kisah manis papa mama Stevany baca novel ini : MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU)


"Awalnya Daddy bimbang namun sikap, sifat dan pembawaan mommy lah yang membuat Daddy sungguh jatuh cinta padanya. Mommy adalah seorang malaikat bagi Daddy karena mampu mengangkat Daddy dari lubang kebinasaan. Makanya, setelah kami menikah, setelah mommy hamil kedua kakak kembarmu, Daddy janji dalam hati, tidak akan pernah ada wanita lain selain mommy."


"Ah, dad...., andai saja aku punya keyakinan seperti yang Daddy punya. Aku pasti langsung menerima lamaran Jeon karena dia orang baik. Namun bagaimana dengan hatiku yang ternyata belum bisa move on dari cinta masa laluku?"


"Kamu masih memikirkan si mafia?"


Stevany mengangguk.


Jeronimo mengusap punggung putrinya. "Daddy juga dulu punya wanita di masa lalu sebelum menikah dengan mommy mu. Awalnya sangat sulit melepaskan karena Daddy sangat mencintainya. Memang rasanya agak sulit melepaskan. Namun akhirnya Daddy berani mengambil keputusan untuk terus bersama mommy mu. Dengan semua cinta dan perhatian yang daddy dapatkan dari mommy mu, Daddy akhirnya bisa melepaskan cinta di masa lalu itu."


"Saat Daddy melupakan cinta di masa lalu, apakah sakit rasanya?"


"Nggak juga. Karena Giani selalu menjadi sosok sempurna yang membuat Daddy sadar, cinta masa lalu itu memang tak baik buat Daddy."


Stevany diam. Hatinya bimbang. Jeronimo menatap cincin yang ada di pangkuan putrinya itu. "Sayang, Daddy tahu kalau Jeon adalah lelaki yang baik dan sangat mencintaimu. Semalam, dia sudah minta ijin sama Daddy dan mommy untuk melamarmu. Semuanya kamu serahkan pada keputusan mu. Yang akan menjalani pernikahan itu adalah dirimu sendiri. Lagi pula usiamu baru akan memasuki 24 tahun."


"Lupakan mafia itu, nak. Berhubungan dengan mafia hanya akan mendatangkan celaka bagi dirimu sendiri. Daddy pernah ada di dunia mafia, makanya tahu bahaya yang ada di sana." Jeronimo mencium puncak kepala putrinya. "Hari ini, paman Beryl akan ketemu dengan pastor yang menikahkan kalian. Semoga pembatalan pernikahannya cepat selesai dan kamu sepenuhnya akan terbebas dari mafia itu."


Saat papanya meninggalkan kamar, Stevany hanya bisa menarik napas panjang. Ia tahu Jeon lelaki yang baik. Namun haruskah Jeon yang menggantikan Dewandra?


*************


Hari ini hotel sedang ramai. Akan ada pertemuan seluruh pengusaha muda se Indonesia dan acaranya dilaksanakan selama 3 hari di tempat ini. Seluruh kamar habis terpakai.


Stevany ikut memeriksa semua persiapan yang ada karena ia ingin para tamu terkesan saat datang ke hotel ini.


Felicia juga ikut mendampingi Stevany dalam memeriksa semua persiapan yang ada.


Saat Stevany akan kembali ke ruangannya, ia terpana melihat Dewandra yang sedang mengangkat koper-koper para tamu yang ada. Dewandra nampak tenang walaupun ada beberapa tamu yang sedikit judes. Ia terlihat senang saat melihat para tamu memberikan tip untuknya.


Hati Stevany tersentuh melihat pemandangan itu. Bukankah Dewa memiliki kekayaan yang cukup membuat ia bersenang-senang tanpa harus bekerja berat? Bukankah Dewandra terbiasa dilayani oleh banyak pelayan? Kenapa ia harus bersusah-susah seperti ini?


Di mana Seneo?


Stevany ingat kalau Seneo pernah memberikan nomor teleponnya. Ia segera menghubungi cowok itu.


"Aku ada di Seoul, Stev. Tuan Dewandra meminta aku mengurus kontraknya dengan klub basket. Ia juga meminta aku untuk membawakan makanan ke beberapa panti asuhan dan anak-anak jalanan. Makanya aku belum bisa kembali ke Jakarta."


Itulah yang Seneo katakan dan membuat Stevany jadi semakin nelangsa.


Saat ia akan pulang, dilihatnya Dewandra juga dalam persiapan pulang. Entah mengapa Stevany ingin tahu di mana Dewandra pulang. Cowok itu naik angkot. Ternyata tempat tinggalnya tak jauh dari hotel. Stevany terkejut melihat tempat kos Dewandra adalah sebuah tempat kost yang sederhana bertingkat dua. Dewandra yang sebenarnya tak suka dengan kebisingan, kenapa harus tinggal di tempat seperti ini?


Stevany turun. Jiwa keponya ingin tahu di mana kamar, Dewandra. Ia melihat Dewandra menyapa beberapa penghuni kos yang ada di luar. Langkahnya terhenti di sebuah kamar yang ada di sudut lantai satu. Cowok itu merogoh kunci dari dalam kantong celananya dan membuka pintu lalu masuk lagi dan menutup pintu itu.


"Pak, tempat kost ini ada kamar VIP nggak?" tanya Stevany pada seorang bapak yang ternyata penjaga kost.


"Nggak, neng. Semua kamarnya sama. Neng mau lihat? Kebetulan kamar nomor satunya kosong."


"Boleh."

__ADS_1


Stevany memegang dadanya yang sesak saat melihat kalau ukuran kamar ini memang sangat kecil. Hanya ada sebuah tempat tidur ukuran untuk satu orang, sebuah lemari pakaian dan meja kecil.


"Nggak ada yang kamar mandi di dalam ya?" tanya Stevany.


"Ada neng, yang dilantai dua. Tapi sudah penuh."


"Sebulannya berapa ya pak di sini?"


"Lima ratus ribu neng. Tapi kalau neng bawa TV atau kulkas, atau peralatan lain yang memerlukan listrik, akan di kenai 50 ribu setiap itemnya."


"Makasi ya, pak." Stevany langsung pergi sebelum Dewandra melihatnya. Gadis itu rasanya ingin menangis melihat kehidupan yang harus Dewa jalani di sini.


Sepanjang perjalanan pulang, Stevany terus berpikir. Kenapa Dewa tak menyewa sebuah apartemen? kenapa Dewa harus tinggal di tempat yang dalam pandangan Stevany tak begitu bersih? Bukankah Dewa orangnya sangat perfeksionis soal kebersihan? Stevany sungguh dibuat pusing oleh Dewa.


************


"Ada apa, Cia?" tanya Stevany saat melihat Felicia yang nampak sibuk.


"Ini hari terakhir pelaksanaan kegiatan. Tapi ada dua petugas keamanan yang tidak hadir."


"Hubungi saja yang off dan katakan kalau kita akan membayar gaji lembutnya 2x lipat."


"Sudah. Tapi yang lain juga nggak bisa. Andra juga sudah dua hari nggak masuk. Katanya ia sakit."


"Sakit?"


"Iya. Tadi aku telepon, ia terdengar menggigil. Kasihan juga ya? Andai dia belum menikah, pasti aku sudah pergi menemuinya."


Stevany jadi gelisah. Sepanjang hari ia bekerja tak bisa konsentrasi karena mengetahui kalau Dewandra sakit.


Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi kentempat kost Dewandra. Stevany sengaja naik taxi online agar tak ada yang tahu kalau ia kemana.


Setelah memberikan makanan dan beberapa jenis buah, Stevany sampai di tempat kost Dewandra. Tempat kost ini terlihat sepi di siang hari. Mungkin sebagian penghuninya sedang bekerja.


Perlahan, walaupun ragu, Stevany akhirnya mengetuk pintu kamar Dewandra. Agak lama ia mengetuknya sampai akhirnya ia mendengar suara batuk dan langkah yang di seret perlahan.


Dewandra membuka pintu. Wajahnya sedikit pucat, ia mengenakan mantel yang tebal.


"Stevany?" ia terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


Stevany langsung masuk begitu saja. Ia melihat kamar yang ditempati Dewandra ini cukup bersih dan rapi. Tak ada khas kamar cowok yang banyak gantungan baju di dalamnya serta piring dan gelas kotor yang berserakan. Sekalipun kamar ini sangat sederhana namun Dewandra masih menjaga kebersihannya.


"Bagaimana kamu tahu kalau aku di sini?" tanya Dewandra.


Stevany melepaskan makanan yang dibawahnya di atas meja. "Kamu sudah makan?" tanya Stevany tanpa menjawab pertanyaan Dewa.


"Aku tadi pagi makan roti dan minum segelas susu."


Stevany langsung menuangkan makanan yang dibawahnya ke atas piring. Ia lalu membawanya kepada Dewandra yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Ini. Makanlah."


"Aku nggak ada selera untuk makan, Stev. Tenggorokanku rasanya sangat pahit."


"Tapi kamu harus makan!" Stevany meletakan makanan itu dipangkuan Dewandra.


"Nanti ajalah. Aku masih ingin tidur." Dewandra memegang piring itu dan hendak meletakkannya di atas meja namun Stevany segera merampasnya.


"Makanlah! Ah.....!" Gadis itu menyuapi Dewandra membuat cowok itu tersenyum bahagia.


"Stev...., terima kasih." Dewandra mengucapkannya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sungguh terharu menerima perhatian Stevany. Ia menelan makanan itu walaupun tenggorokannya merasa tak enak. Dewandra tahu kalau ia sudah mendapatkan obat yang terbaik. Kehadiran Stevany.


Setelah Dewandra selesai makan, ponsel Stevany berbunyi.


"Hallo Je? Ada apa?"


Dewandra yang baru saja akan memejamkan matanya membukanya kembali saat mendengar nama Jeon.


"Oh, aku ada di rumah temanku. Kamu mau mengajak aku menonton konser? Ok. Jam berapa? Siap..., aku tunggu jemputannya. See you....!" Stevany memasukan kembali ponselnya di dalam tas. Saat ia menoleh ke arah Dewandra, ia terkejut melihat Dewandra yang kembali mengigil.


"Dewa, kamu kenapa?"


"Dingin....Stev....aku merasa sangat kedinginan." kata Dewandra sambil enarik selimut yang ada.


************

__ADS_1


Nah....loh.....sakit beneran kah Dewandra?


Dukung emak terus ya guys


__ADS_2