Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Menikah


__ADS_3

"Waw enak....!" Ham memberikan pujian saat memasukan kue hasil buatan Stevany ke dalam mulutnya.


"Benarkah uncle?" Stevany nampak senang. Ia memang bisa memasak. Namun membuat kue bukanlah keahliannya. Joana kakaknya yang pintar membuat kue.


"Iya."


Beberapa pelayan yang lain pun ikut menikmati kue buatan Stevany dan mereka pun memuji kue buatan Stevany.


"Ada apa nih?" Jeon tiba-tiba masuk ke dapur.


"Kami sedang menikmati kue buatan Stevany." kata Ham.


"Kue buatan Stevany? Apakah aku boleh mencobanya?" tanya Jeon.


"Tentu saja. Nih!" Stevany menyodorkan piring yang berisi kue nastar buatannya.


"Enak. Enak banget. Aku beri nilai sepuluh." puji Jeon sambil mengangkat kedua tangannya dan menunjukan sepuluh jarinya.


"Calon istri yang ideal kan?" ujar Ling sambil mencolek pinggang Stevany.


"Sangat ideal....!" ujar Jeon sambil mengedipkan sebelah matanya.


Suitan-suitan langsung memenuhi dapur. Semua menggoda Stevany dan Jeon.


"Nikah saja....nikah....."


"Awas, tuan Seneo cemburu."


Stevany hanya tersenyum mendengar celotehan teman-temannya.


Tanpa mereka sadari, ada Dewandra yang berdiri di dekat pintu dapur dan mendengar semua percakapan mereka di dapur itu. Ia juga melihat bagaimana Jeon dengan terus terang menunjukan ketertarikannya pada Stevany.


"Hemmmm!" Dewandra masuk sambil berdehem. Semua langsung diam dan tertunduk melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


"Tuan membutuhkan sesuatu?" tanya Ham. Ia merasa heran melihat Dewandra bisa ada di dapur khusus para pelayan.


"Ya. Saya panggil kalian tapi tak ada yang mendengar. Rupanya kalian semua di sini." Dewandra berkata pelan namun sangat tegas. Menunjukkan pribadinya yang memang terkenal dingin.


"Maafkan kami, tuan. Kami pikir tuan dan nyonya Treisya masih ada di luar rumah." Ham kembali berbicara mewakili semua pelayan yang nampaknya ketakutan.


"Stevany, bawa laporan keuangan ke kantor saya. Aunty Treisya sudah berangkat ke Jepang tadi siang. Jadi semuanya ada dalam pantauan saya. Ayo kembali bekerja!" Lalu Dewandra meninggalkan dapur itu.


Stevany pun menatap teman-temannya. "Aku permisi dulu ya?" pamitnya lalu segera menuju ke ruang arsip untuk mengambil buku catatannya. Ia menyeberangi ruang tengah untuk menuju ke ruangan kantor Dewandra yang ada di dekat tangga.


Sebelum membuka pintu, Stevany mengetuknya dulu. Setelah mendapatkan jawaban dari dalam, gadis itu pun masuk dan menutup pintunya kembali. Ia terkejut melihat di sana ada Seneo juga.


"Tuan, ini catatan pengeluaran rumah tangga. Dan ini buku tabungan yang mencatat saldo minggu yang lalu." Stevany menyerahkan buku catatan pengeluaran dan buku tabungan yang ada di atas meja.


Dewandra tak menyentuh buku itu. Ia hanya menatap Stevany dengan tajam. "Kamu ikut Seneo dan lakukan apa yang dia perintahkan. Aku tak ingin ada bantahan."


"Baiklah." Stevany mengangguk.


"Stev, ganti bajumu dan ikut aku pergi." kata Seneo.


"Kemana, tuan?"


"Bukankah aku bilang tak ada bantahan?" suara Dewa meninggi membuat Stevany jadi takut.


"Maaf."

__ADS_1


"Aku tunggu di luar ya, Stev." ujar Seneo dan langsung keluar dari ruangan itu diikuti oleh Stevany.


Tak sampai 10 menit, Stevany sudah menemui Seneo di beranda depan. Seneo langsung membukakan pintu mobilnya dan Stevany pun masuk.


Cuaca siang ini cukup cerah dan bandara sudah dibuka kembali walaupun salju belum juga mencair sehingga udara pun masih dingin.


Sasi yang kebetulan melewati ruang depan, terkejut melihat Stevany yang sudah pergi dengan Seneo.


"Makin melonjak saja anak itu semenjak dekat dengan tuan Seneo. Ini kan bukan hari off nya, kenapa juga dia keluar tanpa pamit padaku?" gimana Sasi Kesal.


"Ada apa Sasi?" tanya Dewandra yang ternyata sudah berdiri di belakang Sasi.


"Tuan, anu itu...si Stevany. Dia sudah keluar pada hal ini bukan hari off nya."


"Aku yang mengijinkan mereka pergi. Memangnya kamu keberatan?"


"Eh, tidak tuan." Sasi langsung menunduk.


"Aku mau pergi main basket. Awasi rumah ini." Dewandra pun keluar. Ia memang sengaja membiarkan Stevany pergi dengan Seneo untuk menghindari kecurigaan orang rumah. Dewa tahu kalau Sasi adalah kaki tangan Treisya yang sangat setia.


Dalam perjalanan, Stevany nampak gelisah. "Tuan, apakah kita akan ke apartemen tuan?"


"Tidak."


"Lalu kita akan kemana?"


"Kamu tenang saja. Oh ya, ini kartu identitasmu."


"Mengapa bisa ada sama, tuan?" Stevany terkejut melihat pasport dan kartu identitasnya ada pada Seneo.


"Tuan Dewandra yang meminta aku mengambilnya."


"Untuk apa?"


Mobil Seneo memasuki sebuah butik khusus pakaian pengantin.


"Tuan, untuk apa kita di sini?" Stevany semakin heran.


"Bukankah tuan mengatakan kalau tidak ada bantahan? Dan kamu sudah menyetujuinya, Stevany."


"Tapi....."


Seneo menarik tangan Stevany untuk masuk ke dalam butik.


"Dandani dia dan pakaikan gaun yang sudah tuan pilih."


Dua pelayan perempuan itu langsung menarik tangan Stevany menuju ke salah satu ruangan.


Stevany bingung ketika seorang lelaki yang berpenampilan seperti perempuan langsung meminta Stevany duduk dan mulai mendandaninya. Berbagai pertanyaan Stevany utarakan namun tak ada satupun di jawab oleh mereka.


Setelah Stevany selesai di dandani dan rambut panjangnya di sanggul modern, sebuah mahkota diketakan di atas kepala Stevany. Gadis itu mulai mengerti apa yang akan terjadi padanya.Matanya mulai berkaca-kaca saat gaun putih itu dipakaikan padanya dan sebuah rangkaian bunga anyelir berwarna putih dan merah diberikan kepadanya.


Sebuah sepatu putih dengan hiasan permata dan satu set perhiasan sudah dipakaikan ditubuhnya. Ia pun keluar dari ruangan itu, menemui Seneo yang sedang menunggunya.


"Tuan....!" Air mata Stevany langsung jatuh. "Apakah aku akan menikah dengan tuan Dewandra?"


"Ya."


Jantung Stevany rasanya berhenti berdetak. Ia bahkan merasa sesak napas.

__ADS_1


"Tapi....."


Seneo menarik napas panjang. Ia mengagumi kecantikan Stevany. "Kamu mengatakan pada tuan Dewa bahwa hanya dengan menikah, ia bisa tidur denganmu. Dan dia mau melakukan ini semua karena dia terlalu terobsesi untuk tidur denganmu."


"Bagaimana kami bisa menikah jika aku tak setuju?"


"Kamu harus setuju, Stev. Kalau tidak, kamu akan dikirim ke peti matimu sekarang juga."


Stevany menarik napas panjang. Ia berusaha membuat dirinya menjadi tenang.


"Ayo pergi. Tuan sudah menunggumu."


Seneo membantu memegang gaun pengantin Stevany saat keduanya keluar dari butik itu.


"Kita akan kemana?" tanya Stevany saat ia merasa bahwa mobil sudah jauh meninggalkan kota.


"Ke tempat pernikahan."


Stevany gelisah sepanjang perjalanan.Terbayang wajah papa dan mamanya. Ia ingin menikah dengan diantar oleh papanya ke altar. Dia ingin menikah dan cadarnya ditutup oleh mama Giani. Stevany ingin menikah disaksikan oleh semua keluarga besarnya.


Mobil yang dikendarai Seneo memasuki sebuah kawasan pegunungan. Dan mobil berhenti tepat di atas sebuah bukit. Ada sebuah gereja kecil di sana.


Wajah Stevany yang sudah tertutup cadar masih jelas melihat betapa indahnya gereja kecil ini. Sebagain halamannya ditutupi salju.


Pintu gereja sudah terbuka dan bagian dalam gereja sudah dihiasi denga bunga-bunga anyelir. Bunga kesukaan Stevany. Bunga yang ia tanam juga di halaman belakang mansion tempatnya bekerja saat mereka masih di LA.


Di depan altar, Stevany melihat seorang pastur sudah berdiri di sana mengenakan toga putihnya. Dan Dewandra sudah berdiri di sana menggunakan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Rambut cowok itu nampak sangat rapi dan diberi minyak rambut.


Kaki Stevany bergetar saat melangkah memasuki gedung gereja itu sendirian. Tak ada orang lain di sana selain Seneo, Dewandra sang pastur dan seorang perempuan tua yang usianya sekitar 60 tahun.


Mata Dewandra tak berkedip saat melihat Stevany yang melangkah mendekat ke arahnya. Walaupun masih dengan tatapan dingin, namun tak bisa menyembunyikan kekaguman Dewandra saat melihat kecantikan sang pengantin perempuan.


Pemberkatan dan peneguhan nikah pun dimulai. Seneo dan wanita tua itu yang ternyata adalah penjaga gereja kecil ini menjadi saksi pernikahan itu.


"Yes, i do." jawab Dewandra ketika pastur menanyakan tentang kesediaannya menjadi suami bagi Stevany.


Saat tiba giliran Stevany untuk menjawab, gadis itu nampak ragu. Namun tatapan tajam Dewa membuat gadis itu akhirnya menjawab juga. "Yes i do."


Dewa menyematkan sebuah cincin berlian ke jari manis Stevany namun ia sendiri tak memakai cincin.


Setelah itu ia membuka cadarnya Stevany dan mencium bibir gadis itu secara singkat Saja.


Beberapa nasehat diberikan pastur bagi mereka sebelum akhirnya mereka menerima pemberkatan sebagai suami dan istri yang sudah sah di mata Tuhan.


Tanpa Stevany dan Dewa sadari, Seneo mengabadikan semua momen itu dengan kamera tersembunyi. Seneo tak ada maksud apapun. Hanya saja ia ingin menyimpan kenangan manis itu sendiri karena sebagai sahabat Dewandra, ia senang kalau sahabatnya itu tertarik dengan wanita lain.


Saat mereka keluar dari dalam gereja, Dewandra langsung menarik tangan Stevany untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Aku sudah mengikuti kemauanmu, Stevany. Kini aku akan mendapatkan apa yang aku mau darimu." ujar Dewandra.


"Tuan, kita akan kemana?"


"Ke tempat dimana kamu tak bisa melarikan diri dariku."


30 menit kemudian, mereka tiba di sebuah villa yang masih ada di kawasan pegunungan.


Stevany merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Akankah ia kehilangan keperawanannya hari ini?


************

__ADS_1


Hallo guys ....


bagaimana menurut kalian dengan episode ini? Dukung emak selalu ya?


__ADS_2