Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Keluarga Bahagia Kita


__ADS_3

Stevany melipat pakaian bayi yang sudah dibelinya seminggu yang lalu dan ia cuci sendiri.


Entah mengapa kehamilan kedua ini, ia ingin menyediakan semuanya sendiri. Bahkan Stevany yang menyetrika semua pakaian bayi ini.


"Sayang......" Dewa mendekat dan mengecup puncak kepala sang istri. "Belum selesai juga?"


"Tinggal sedikit lagi, sayang." ujar Stevany. Sebagian baju sudah ia masukan ke dalam koper dan sebagian ia masukan ke lemari.


Kamar bayinya bersebelahan dengan kamar mereka dengan adanya pintu penghubung. Kamar itu sudah selesai semenjak seminggu yang lalu dengan dominan warna putih-biru, seperti warna kesayangan Petra.


"Apa kamu nggak capek?" tanya Dewa sambil menatap istrinya dengan penuh kasih.


"Nggak. Ibu hamil juga kan harus banyak bergerak."


"Aku takut kamu sakit, sayang."


Stevany menutup lemari. Tugasnya sudah selesai. Ia kemudian mengajak suaminya duduk di sofa.


"Mana mungkin aku sakit jika memiliki suami, anak dan orang tua yang begitu perhatian?"


Dewa mengusap perut istrinya. Ia kemudian menunduk dan menciumnya dengan sangat lembut. "Satu bulan lagi dan daddy akan melihat kamu lagi, nak. Apakah kamu baby boy atau baby girl, yang pasti daddy akan sangat mencintaimu."


Stevany merasakan hatinya sangat bahagia. Ia memeluk suaminya lalu mengecup leher Dewandra.


"Sayang ......!" Dewa memejamkan matanya, saat merasakan sensasi geli yang membuat bulu kuduk nya berdiri.


"Kenapa?" tanya Stevany dengan suara menggoda sambil terus menciumi leher sang suami.


"Jangan godain aku, Yang." Dewa terlihat mulai gelisah.


"Aku nggak menggoda kamu, Dewandra Petra Jung. Aku hanya ingin menciummu."


Dewa menahan wajah Stevany dengan kedua tangannya. Wajah mereka kini saling berhadapan. "Kamu tahu kalau aku nggak bisa tahan dengan sentuhan kamu sedikit saja. Dan aku nggak mau menyakiti kamu karena hasrat ku yang tak terbendung lagi."


"Jadi, kamu mau menunggu sampai aku melahirkan nanti?" tanya Stevany. Ia dan Dewa sudah dua minggu ini tak pernah bermesraan lagi semenjak Stevany sering mengeluh jika pinggangnya sakit.


"Kalau memang harus demikian, kenapa tidak?"


"Aku melahirkan masih sekitar 2 bulan lagi. Selesai melahirkan, kamu harus menunggu kurang lebih dua bulan lagi. Jadi totalnya 4 bulan."


Dewa menelan salivanya. 4 bulan pasti rasanya sangat menyiksa. Namun apapun itu, ia akan berusaha menahannya.


"Aku akan menahannya."


"Yakin?"


"Walaupun kurang yakin, ya harus di yakin-yakin kan saja."


Stevany berdiri dari duduknya. "Kata dokter, hubungan intim sebelum melahirkan itu sebenarnya nggak masalah asalkan dilakukan dengan posisi yang tepat. Tapi kalau kamu memang nggak mau ya sudah, aku mandi dulu ya?" Stevany membuka kaosnya, lalu kemudian celana hamil yang digunakannya.


"Sayang, tadi kan kamu sudah mandi." Dewandra jadi heran sekaligus juga menelan salivanya karena mekihat tubuh istrinya yang terlihat sangat menggoda walaupun dengan perut yang buncit.


"Nggak masalah mandi lagi." Ujar Stevany lalu membuka pengait penutup gunung kembarnya.


Dewa menjadi semakin panas dingin. Bagaimana tidak, bagian favoritnya itu terlihat lebih besar dari biasanya.


"Sayang ....!" Wajah Dewa terlihat memelas. Ia berdiri dan bermaksud akan keluar kamar saja. Namun saat Stevany akhirnya membuka penutup terakhir di tubuhnya, Dewa menjadi hilang kendali.


"Jadi kata dokter nggak apa-apa kan?" Dewa membuka kaos dan celana rumahnya.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?" tanya Stevany sambil menahan senyum.


"Aku akan mengikuti saran dokter saja."


Stevany langsung tertawa melihat suaminya yang kini ikutan polos. Keduanya pun bergegas menuju ke ranjang besar milik mereka.


************


Wajah Dewa terlihat tegang. Namun ia berusaha tenang. Ia sudah berjanji akan mendampingi Stevany sampai di ruangan operasi.


Perawat sudah selesai memakaikan baju berwarna hijau pada Dewa. Ia juga sudah memakai penutup kepala dan kaos tangan. Ia kemudian melangkah masuk ke ruang operasi di mana Stevany sudah sudah dibaringkan.


"Hi baby!" sapa Dewa lalu mendekati istrinya. Ia mencium dahi Stevany.


"Hallo sayang.....!" Stevany mengulurkan tangannya. Dewa memangnya kemudian mencium punggung tangan istrinya.


"Kamu nggak takut kan?"


"Nggak, sayang. Ini kan anak kedua kita. Dulu aku melahirkan tanpa ada kamu namun aku kuat. Apalagi sekarang sudah ada kamu. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja."


Dewa menarik napas panjang. Ia sebenarnya yang gugup namun terus memberanikan dirinya.


Proses operasi pun di mulai. Dokter memulai pekerjaannya sementara Dewa diijinkan untuk merekam nya untuk keperluan pribadi dan bukan untuk dipublikasikan.


Saat melihat wajah anaknya, air mata Dewa langsung mengalir. Dadanya terasa sesak dengan luapan kebahagiaan yang begitu mendalam. Tangannya yang memegang ponselnya pun sedikit bergetar.


"Waw, selamat datang baby boy." kata sang dokter begitu tubuh sang bayi sudah dikeluarkan semuanya.


Stevany pun menangis bahagia. Langsung terbayang wajah Petra. Setiap kali mereka berdoa, Petra selalu menginginkan adik laki-laki.


"Selamat datang DEAKSA JEE JUNG." kata Dewandra setelah anak itu dipeluknya untuk pertama kali.


***********


Petra yang kini berusia 9 tahun nampak semakin tampan. Tubuhnya tinggi, dan walaupun usianya baru 9 tahun tapi sudah bisa bermain basket.


Sebenarnya Stevany ingin memanggil putra keduanya dengan nama baby Aksa. Namun Petra lebih suka memanggil adiknya dengan sebutan baby Jee.


Mata Jee memang agak cipit. Mungkin ikut opanya Dewa yang memang asli orang Korea tapi juga mirip mamanya Giani yang merupakan orang Thailand.


Dewandra kini menggeluti bisnis di bidang alat-alat olahraga, sekaligus juga menjadi pelatih di club' basket miliknya sendiri. Club' yang cukup tenar karena sudah memenangi beberapa turnamen. sekaligus juga Dewa membantu Stevany menangani hotelnya yang kini sudah membuka satu cabang lagi.


Selain anak-anak panti asuhan, Stevany juga mengundang beberapa anak sahabatnya dan ia juga mengundang anak dokter Satria yang kini menjadi dokter keluarga Jung.


Aurora datang bersama mamanya, Gayatri. Gadis yang kini berusia 7 tahun itu nampak cantik dengan rambut panjangnya yang hitam legam seperti gadis di iklan shampoo.


"Apa kabar, mba?" Stevany menyapa Gayatri saat perempuan itu memasuki ruangan aula panti asuhan.


"Alhamdulillah, baik. Maaf ya mas Satria nggak bisa hadir. Soalnya masih ada pasien yang akan di operasi."


"Nggak apa-apa." Stevany menatap Aurora. "Hallo cantik."


"Hallo aunty!"


Stevany mengusap kepala Aurora. "Ayo gabung dengan anak-anak. Sebentar lagi acaranya dimulai."


Aurora melangkah dengan penuh percaya diri menuju ke tempat duduk khusus anak-anak.


Saat Aurora melewati Petra, keduanya saling berpandangan. Sekilas dan Aurora dengan cueknya segera mencari tempat duduk yang kosong.

__ADS_1


Sedangkan Petra terus menatap gadis berambut hitam lurus itu. Ia mencoba mengingat sesuatu. Dimana pernah melihat gadis kecil yang cantik itu?


Aurora yang supel langsung mendapatkan teman. Sedangkan Petra yang masih terus melihatnya akhirnya ia ingat sesuatu.


"Anaknya dokter Satria." guman Petra sambil tersenyum. Kebetulan Aurora melihat ke arah Petra. Entah mengapa Aurora tersenyum. Membuat lesung pipinya begitu kentara. Mata bulat yang hitam dengan bulu mata yang lentik dan alis yang terpahat rapi. Petra merasa gadis itu membuat hatinya berdebar.


Dih......Petra kayaknya sudah jatuh cinta pada hal usianya masih kecil. Akankah ada kisah manis dibalik perbedaan diantara mereka?


***********


Dewa meletakan putranya di atas ranjang. Jee terlalu lelah dengan perasaan ulang tahunnya sehingga dalam perjalanan pulang dari panti asuhan, Jee langsung tertidur.


Stevany secara perlahan membuka sepatu dan kaos kaki putra bungsunya itu.


"Nggak diganti dulu bajunya?" tanya Dewa.


"Nanti dia bangun. Tadi sebelum pulang aku sudah mengganti kemejanya dengan kaos. Jadi biarkan saja." Jawab Stevany lalu segera menyalahkan AC di kamar Jee dan menyalahkan lampu tidur sebelum Dewa mematikan lampu utama. Setelah bergantian mencium dahi Jee, keduanya keluar kamar dan menuju ke kamar Petra. Ternyata di kamar Petra ada opa Jero yang nampaknya sedang membantu Petra mengerjakan PR nya sedangkan Oma Giani juga sudah ada di sana dengan segelas susu di tangannya.


Dewa dan Stevany memilih keluar dari kamar tanpa menganggu mereka. Tadi, memang Petra sudah pulang lebih dulu dengan opa dan Omanya karena Petra ada PR yang lumayan banyak.


"Daddy dan mommy selalu memberikan perhatian lebih kepada anak-anak kita." ujar Dewa sambil menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar mereka.


"Ya. Mungkin karena Petra dan Jee yang tinggal di sini. Petra bahkan tak tidur semalam saat daddy sakit beberapa minggu yang lalu." Stevany tahu bagaimana sayangnya Petra pada opa Jero nya.


"Ya. Kadang aku cemburu melihat kedekatan mereka. Namun aku juga tahu kalau Petra menyayangiku dengan cara yang berbeda."


Stevany mencium tangan suaminya. "Kamu adalah super heronya, dan opa Jero adalah malaikat pelindungnya. Kalian sangat berarti di hati Petra. Aku yakin Petra menyayangi kalian dengan nilai yang sama."


Keduanya tiba di kamar. Stevany langsung membuka sepatu hak tingginya lalu mulai membuka pakaiannya. Dewa tiba-tiba memeluknya.


"Ada apa?"


Dewa membalikan tubuh Stevany sehingga keduanya kini saling berhadapan. "Terima kasih untuk semua kebahagiaan ini."


"Aku juga bahagia denganmu, sayang. Terima kasih sudah mau hadir dalam hidupku."


"Kamu juga adalah malaikatku. Penerang jalanku. Aku yakin, kalau Tuhan tak mengirim kamu, aku pasti tak akan pernah menemukan jalan yang terang." Dewa membelai wajah istrinya. "Sayang, tambah baby lagi, yuk!"


Stevany mengerutkan dahinya. "Sayang...., nambah anak?"


"Iya. Siapa tahu dapat anak cewek."


Stevany tertawa. "Dua aja ya?"


"Tiga!"


"Sayang....." Stevany menggeleng saat Dewa membuka kemejanya. Ia tahu arti tatapan suaminya itu.


"Kita kerja sama lagi di atas ranjang untuk memberikan adik bagi Petra dan Jee."


Stevany pasrah dalam dekapan suaminya. Ia sungguh bahagia, kenekatannya mengejar cinta seorang mafia telah menghentarnya pada kebahagiaan yang tak terkatakan setelah mereka menikmati badai kehidupan.


Dewa pun bersyukur karena Stevany mengejarnya, tak menyerah pada dirinya dan tetap setia padanya.


Happy Family Jung.....


************


Tamat nggak ya?

__ADS_1


Salam manis dari emak....


menulis di bagian akhir novel ini


__ADS_2