
Sudah 2 hari Stevany tak ikut sarapan. Itu cukup membuat Jero mengerti bahwa anaknya itu sedang ngambek. Ia pun segera ke kamar putrinya namun ternyata Stevany sudah berangkat ke hotel.
"Kok dia nggak pamit ya?" tanya Jero pada Giani. Wanita yang masih terlihat cantik itu menatap suaminya.
"Dia sedang bad mood. Di Landa rindu dan cinta yang mendalam kepada kekasihnya. Sebenarnya aku ingin membiarkan dia pergi, Bee. Mungkin kali ini kisah mereka akan berakhir bahagia. Kan Dewa sudah nggak bersama Treisya lagi. Lagi pula aku.....aku melihat ada tanda-tanda yang aneh dengan anak kita."
"Maksudnya ?"
"Dia kan sudah merasakan apa itu hubungan intim. Buah dadanya agak membesar. Dia jadi malas makan akhir-akhir ini. Aku kok merasa kalau Stevany hamil."
"Hamil?"
"Kamu kan yang bilang kalau beberapa kali si Dewa kelihatan menginap dengan Stevany. Mereka dua orang dewasa, apa bisa tahan saat berdekatan seperti itu. Apalagi jika Stevany ikut gen nya kamu."
"Gen aku?"
"Iya. Gen yang nggak tahan jika nggak nganu!"
"Nganu apaan? Bicaranya yang jelas dong."
"Ih Bee..., segitu aja nggak ngerti sih? Malu ah, kita kan sudah tua!"
Jero melotot. "Tua? Siapa bilang kita sudah tua? Aku nggak merasa tua." kata Jero sambil menepuk perutnya yang masih keras dengan kotak-kotak yang indah. "Aku masih hot kan membuatmu berteriak di atas ran....."
Giani langsung membekap mulut suaminya dengan tangannya. Malu jika ada orang yang mendengarnya. "Bee..., urusan ranjang kita, cukup kita aja yang tahu."
"Makanya, jangan bilang tua dong sayang."
Giani mencubit pinggang suaminya. "Sekarang, bagaimana dengan Stevany? Bagaimana kalau ternyata benar dia hamil? Itu sama kayak aku dulu, Bee. Karena aku hamil, ada keinginan dalam diriku untuk bertemu denganmu."
"Bagaimana jika Dewa menyakiti Stevany lagi?"
"Aku yakin Stevany tak akan bodoh untuk membiarkan dirinya di sakiti lagi. Karena itu, mari kita membiarkan dia pergi."
Jero menggeleng. "Kalau memang benar Stevany hamil, aku akan mengurus cucuku dengan sangat baik. Dewa itu seorang mafia Keselamatan Stevany bisa terancam kapan saja."
"Sayang......" Giani melingkarkan tangannya di perut Jero. "Kamu sendiri, saat jatuh cinta padaku, rasanya hampir tak terkontrol kan?"
"Iya. Aku bahkan hampir gila saat kau pergi."
"Begitu juga dengan Stevany, sayang. Sudah aku bilang, dia punya kecenderungan seperti kamu."
Jero memeluk istrinya. Hatinya bingung antara ingin melepaskan atau menahan anaknya.
**************
Ling menatap Seneo dengan napas yang terengah-engah. Tubuhnya masih berkeringat. Berdempetan dengan tubuh Seneo yang juga sama berkeringat nya. Seneo tadi mengajaknya untuk bicara setelah jam kerjanya selesai di salah satu kamar hotel ini. Namun ternyata Seneo justru memaksakan hasrat dirinya untuk bercinta dengan Ling.
Awalnya Ling menolak. Bahkan ia sempat menampar Seneo. Namun akhirnya balutan gairah mengalahkan Ling. Sentuhan Seneo terlalu indah untuk dilepaskannya.
__ADS_1
"Ikut aku, Ling. Kalau kamu tak mau ikut aku, aku akan menculik mu." ujar Seneo.
"Memangnya aku anak kecil sampai kamu mau menculik ku?" Ling bangun dan bermaksud akan pergi namun Seneo menahan tangannya.
"Ling, kita sudah sedekat ini, sudah bercinta, apakah kamu nggak takut kalau kamu akan hamil? Bagaimana pun, aku tak akan bisa meninggalkanmu disaat benihku sudah ada di sini." Kata Seneo sambil mengusap perut Ling.
"Seneo.....!" Ling menepis tangan Seneo.
"Aku serius dengan ucapan ku, Ling. Aku tak akan pernah mengijinkan kamu kemana-mana. Jika kamu tak ikut denganku, terpaksa aku sebarkan video kita."
Ling terkejut. "Video? Video yang mana?"
"Ya video kita saat bercinta tadi. Aku merekamnya." Seneo berdiri lalu mengambil ponsel yang diletakan nya di atas meja rias.
"Seneo.....!" Ling semakin kaget sekaligus panik.
"Ikut atau kusebarkan?" ancam Seneo.
"Duh, kamu ini ya... benar-benar. Baiklah aku ikut."
"Segera pamit pada keluarga Dawson. Kita berangkat malam ini."
"Secepat itu?"
"Ya."
Ling pun nampak pasrah saja. Ia pun segera Turin dari ranjang. "aku pergi dulu." katanya sambil mengenakan pakaiannya.
"Katanya disuruh pamit pada keluarga Dawson. Aku kan nggak mungkin pergi begitu saja?"
Seneo turun juga dari atas ranjang. Dengan tubuh mereka yang masih sama-sama polos, ia memeluk Ling dari belakang. "Jangan coba-coba melarikan diri dariku, Ling. Karena aku sudah menandai kamu sebagai milikku." bisik Seneo penuh ancaman membuat Ling memutar matanya malas. Ia mendorong tubuh Seneo dan segera mengenakan pakaiannya kembali. Lalu gadis itu melangkah pergi.
*************
Pintu ruangan kerja Stevany terbuka. Ia menatap ke arah pintu, ingin melihat siapa yang berani masuk tanpa mengetuk pintu. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya melihat siapa yang datang.
"Masih marah sama Daddy?" tanya Jero lalu melangkah masuk dan langsung duduk di depan meja kerja putrinya.
"Daddy mau apa? Aku banyak pekerjaan." kata Stevany tanpa memandang ke arah papanya. Pura-pura sibuk dengan laptopnya.
"Dulu, sesibuk apapun Daddy, jika kamu menelepon dan minta untuk datang, Daddy pasti akan langsung meninggalkan pekerjaan Daddy. Bahkan Daddy pernah kehilangan proyek yang sangat besar hanya karena kamu menelepon sambil menangis karena jatuh dari tangga. Lukamu sangat kecil namun kamu nggak mau dibujuk oleh siapapun kecuali oleh Daddy." Jero tersenyum mengenang masa itu. "Daddy merasa sangat dibutuhkan olehmu. Walaupun uncle Beryl marah-marah kehilangan proyek besar, namun Daddy tetap bahagia saat bisa memeluk dan menenangkan mu. Merasa bahwa kamu sangat membutuhkan Daddy. Karena itulah, jika kamu terluka, Daddy akan lebih terluka. Jika kamu menangis, tanpa kamu sadari diam-diam juga Daddy menangis. Karena kamu, Joselin Ian dan Iel adalah napas Daddy. Saat kamu memutuskan mengejar cintamu, Daddy yang pertama mengijinkan kamu pergi. Walaupun setiap hari Daddy dan mommy selalu penuh ketakutan. Takut jika kamu ternyata tak bisa kembali diantara kami. Ternyata benar, kamu terluka dan hampir saja kehilangan nyawamu. Jadi, salahkah Daddy jika kali ini tak mengijinkan kamu pergi?"
Air mata Stevany tumpah saat melihat air mata papanya keluar juga. Selama ini Stevany tak pernah melihat sang papa menangis. Jero selalu kelihatan tegar di depan anak-anak nya.
"Daddy.....!" Stevany berdiri dan keluar dari balik meja kerjanya. Ia memeluk papanya yang masih duduk di sana. "Maafkan aku..., maafkan aku, dad. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri, perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan kalian. Aku menyayangimu, dad. Aku minta maaf kalau sikapku selama 2 hari ini sudah menyakitimu."
Jero berdiri kemudian membawa putri bungsunya itu ke dalam pelukannya. "Anakku sayang. Rasanya baru kemarin aku mengajarimu berjalan, menulis dan membaca. Ternyata kamu sudah sebesar ini."
Untuk beberapa saat, ayah dan anak itu saling berpelukan. Menangis, mengungkapkan rasa sayang diantara mereka. Sampai akhirnya Jero menggandeng putrinya untuk duduk di sofa. Stevany masih memeluk papanya.
__ADS_1
"Daddy, aku nggak akan minta pergi ke Amerika lagi. Aku akan di sini. Meneruskan pekerjaanku. Aku percaya, jodohku pasti akan datang suatu saat nanti. Lelaki yang bisa menerima aku apa adanya."
Jero mengusap kepala anaknya. "Sayang, apa benar kamu akan melepaskan Dewa selamanya?.Bukankah kamu sangat mencintainya."
Stevany diam. Jujur, ia masih sangat mencintai Dewa. "Aku akan belajar melupakannya, dad. Bukankah Daddy bilang kalau waktu yang berlalu dapat mengubah banyak hal?"
"Ya. Daddy pernah bilang begitu. Namun, cinta sejati terkadang sangat sulit di lupakan, lho."
"Maksud Daddy?"
"Daddy dan mommy sudah lama nggak pergi ke Amerika. Bagaimana kalau kita bertiga jalan-jalan ke sana sambil mencari keberuntungan, siapa tahu kamu bisa ketemu cowok tampan yang kamu inginkan di sana."
Stevany melepaskan pelukannya dan menatap papanya. "Daddy ....!"
"Kita akan liburan ke Amerika."
Stevany langsung memeluk papanya kembali. Ia begitu senang karena ia yakin liburan hanya alasan saja. Secara tidak langsung papanya mengijinkan dia pergi ke Amerika untuk mencari Dewandra. Bedanya, kali ini, mereka akan menjaga dia secara langsung.
"Minggu depan kita pergi ya? Oh ya, tadi Ling sudah pamit untuk pergi dengan Seneo. Memangnya mereka pacaran?"
"Ling pergi? Kenapa nggak pamit padaku?"
"Ling nggak kuat pamit padamu. Malam ini pesawatnya pergi. Daddy nggak tahu mereka akan kemana. Tapi sepertinya Ling pergi dengan hati yang berbunga-bunga."
Stevany sedih karena Ling tak pamit padanya
Namun ia lega karena yakin Seneo orang yang baik dan tak akan pernah menyakiti Ling.
"Dad, kita pergi makan bakso yuk!"
"Bakso?"
"Iya. Tempat makan favorit aku waktu SMA dulu. Daddy adalah Daddy terbaik dalam kehidupan saya."
Jeronimo memeluk putrinya. Hatinya bahagia karena bisa mengahiri ketegangan diantara mereka.
*************
"Dewa adalah milikku. Tak ku ijinkan dia akan pergi dari hidupku. Apalagi sekarang ini."
"Jadi, apa yang Nyonya inginkan?"
"Urus keberangkatan ku ke Amerika. Aku akan mendapatkannya kembali. Dan aku akan hamil anaknya, Dewa. Secepatnya."
"Soal gadis itu?"
"Bunuh dia saat kalian tahu kalau dia juga ada di Amerika."
"Baik, Nyonya!"
__ADS_1
************
Bagaimana kisah ini berlanjut ?