Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Dewa Yang Bucin


__ADS_3

Kembali ke Jakarta dengan semua persoalan yang sudah selesai rasanya sangat menyenangkan. Hanya Stevany saja yang setelah dari bandara harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami muntah terus sehingga tubuhnya sangat lemah.


Dewa sangat setia menunggui istrinya bahkan ia sendiri tak mau meninggalkan rumah sakit.


Petra sebenarnya sedih tak bisa melihat mamanya. Namun apa daya, anak dibawa 12 tahun tak diijinkan masuk ke rumah sakit. Sehingga dia hanya bisa Videocall sama mamanya.


Setelah 4 hari dirawat, Stevany pun diijinkan pulang. Ia sangat senang karena sudah rindu dengan putranya.


"Mommy, aku punya kejutan." Kata Petra saat ia masuk ke kamar Stevany.


"Apa kejutannya?" tanya Stevany sambil tersenyum manis ke arah putranya.


"Ular lari lurus."


Stevany mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"


"Ular lari lurus." Petra mengulangi kata-katanya.


"Mommy nggak ngerti sayang."


"Ih mommy..." Petra nampak sedikit kesal namun ia mengulang kalimatnya. "Ular lari lurus. Namaku Petra. Opa ku Jero."


Mata Stevany langsung membulat sempurna. "Kamu sudah bisa menyebut huruf 'R' astaga...." Stevany kaget. Ia langsung turun dari ranjang dan memeluk putranya. "Anak mommy hebat. Sejak kapan bisa menyebut huruf R?"


"Sebenarnya sejak di pesawat mommy. Cuma waktu itu mommy kan sedang sakit, jadi opa bilang jangan dulu diganggu. Opa juga bilang, supaya lebih lancar penyebutan R nya, maka Petra harus belajar makan makanan yang pedas."


"Memangnya Petra sudah bisa?" tanya Stevany antusias.


"Sudah. Oma buat bekal ke sekolah pake sambal terasi. Enak banget. Oh ya, Petra juga sudah bisa mandiri sendiri dan berpakaian sendiri. Kata Oma, Petra harus mandiri karena sebentar lagi jadi kakak."


Stevany kembali mendekap putranya. Ia bangga karena didikan orang tuanya, sang anak bertambah dewasa saat ini.


Dewa yang baru keluar dari kamar mandi menatap dua orang kesayangannya itu. "Bagaimana, sudah kasih tahu mommy perkembangan Petra?"


.


"Iya."


Dewa mengusap kepala putranya. "Sekarang ganti baju dulu ya?"


Petra mengangguk. Ia pun segera meninggalkan kamar.


"Sayang, kamu butuh sesuatu?" tanya Dewa lalu melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Nggak. Aku justru ingin ke hotel. Bosan di rumah terus."


"Kamu kan baru saja keluar dari rumah sakit."


"Iya. Tapi aku sudah meninggalkan hotel selama kurang lebih 1 bulan."


"Kamu kan punya asisten yang handal."


"Felicia memang handal. Namun dia sudah kebanyakan mengurus keluarganya. Ia bahkan bilang kalau aku sudah sehat mau resign. Katanya ia mau konsentrasi mengurus bayinya kelak. Nggak lama lagi dia akan melahirkan." Stevany memegang pipi suaminya. "Sayang, kamu bisa nggak bantu aku di hotel? Kamu kan punya pengalaman tentang management hotel."


"Aku akan siap bantu kamu, sayang. Hanya saja aku juga akan membangun usahaku bersama Seneo."


"Kalau kamu sibuk dengan usahamu, bagaimana dengan aku dan Petra?"


Dewa mengajak istrinya duduk di tepi ranjang. "Kamu, Petra dan adik Petra nanti adalah prioritas utamaku. Aku nggak akan pernah menduakan kalian dengan apapun juga. Namun sebagai lelaki, tugasku adalah menafkahi kalian. Aku tahu, penghasilan dari hotel itu banyak. Namun aku nggak mau bersandar pada kekayaan milik keluarga Dawson. Please ngerti perasaan aku, Stev." Dewa menggenggam kedua tangan istrinya lalu meletakan di dadanya.


"Tapi aku nggak mau jauh dari kamu selama hamil."


"Aku nggak akan jauh. Aku akan menebus 4 tahun yang hilang itu dengan menjadi suami siaga."


Stevany memeluk suaminya. Hamil membuat perasaannya lebih sensitif dan sedikit manja pada suaminya. Mungkin juga karena di kehamilan pertama begitu banyak beban yang harus dipikulnya, kehamilan kedua ini membuat Stevany ingin lebih disayang dan diperhatikan.

__ADS_1


************


Hari ini, Stevany kembali masuk kerja. Opa Jero yang akan menjemput Petra sedangkan Dewa dan Seneo sedang meninjau lokasi yang akan menjadi tempat usaha mereka.


Dewa berencana untuk membuka toko peralatan olahraga dengan bekerja sama dengan Almond company (Ingat Jack Almond suami nya Riani kan?).


Dewa juga berencana membuka club' khusus basket dan dia sendiri yang akan menjadi pelatihnya.


"Hallo sayang....., bagaimana keadaan baby nya?" tanya Ling saat melihat Stevany yang muncul di lobby hotel pagi ini.


"Baik, kak."


"Masih sering mual?"


"Kalau cium sesuatu yang wangi saja. Makanya kemarin Dewa sudah mengganti parfum ruanganku dengan yang bau kopi."


"Ada makanan yang tak disukai?"


"Sesuatu yang ada susunya."


"Wah, aku harus buat apa ya tanpa susu. Padahal waktu mengandung Petra, kamu bisa makan apa saja, ya?" Ling mengerutkan dahinya.


"Buat saja mie ayam. Aku rindu dengan mie ayam buatan kakak."


Ling tersenyum senang karena ada sesuatu yang Stevany inginkan. "Baiklah. 15 menit lagi, mie ayam sudah meluncur di ruanganmu." Ling segera menuju ke restoran, sedangkan Stevany menyapa bagian resepsionis dulu.


"Bu, kepala keamanannya sudah di ganti olehnibu Felicia. Soalnya kepala keamanan yang lalu kedapatan mencuri barang milik hotel." lapor Anna sang kepala karyawan di hotel ini.


"Astaga..., pada hal bapak itu kelihatan baik dan jujur."


"Dia selingkuh dengan salah satu penjual jamu yang ada di depan itu. Makanya perlu uang banyak untuk dibagikan pada istri dan selingkuhan nya. Seminggu yang lalu, istrinya mengamuk di depan sana, Bu."


Stevany hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Terus, kepala keamanan yang baru mana?"


"Selamat pagi, bu. Saya Putra, kepala keamanan yang baru."


"Senang kenalan dengan kamu, Putra. Usianya berapa?"


"28 tahun, bu. Masih jomblo." Anna yang menjawab dan nampak antusias.


Stevan mengulum senyum. Putra adalah sosok yang good looking. Wajarlah disukai oleh wanita. Termasuk si Anna yang baru saja menjadi janda disaat baru 7 bulan menikah karena suaminya ketahuan sudah memiliki istri dan anak di kota lain.


"Selamat bekerja, Putra." Stevany menjabat tangan Putra dan segera menuju ke ruangannya yang ada di lantai 2. Ia tahu, Felicia seleranya tak pernah berubah. Selain berotak dan berotot, sepupunya itu suka dengan yang tampan dan menawan. Katanya, menambah semangat tamu yang hendak menginap di hotel mereka.


************


Selesai makan siang, Stevany kedatangan tamu yang adalah sahabat SMA nya dulu. Mereka bermaksud hendak menggunakan hotel Stevany untuk reuni Akbar SMA mereka. Namanya Ronald. Lelaki itu sebenarnya cinta monyetnya Stevany waktu kelas satu SMA. Dan sewaktu Dewa koma, Ronald pernah mendekati Stevany lagi. Karena lelaki mapan berusia 29 tahun itu belum juga menikah.


Stevany menyambut Ronald di restoran dekat lobby. "Peserta reuninya semua mau menginap di sini?"


"Hanya angkatan kita saja. Yang sudah pasti menginap ada sekitar 30 orang sih." Ronald menunjukan daftar para tamu.


Begitu seriusnya mereka berbicara sampai tak menyadari bahwa Dewa sudah datang ke hotel dan sedang memperhatikan mereka. Lelaki itu berjalan perlahan dan mendekati meja yang mereka tempati.


"Hi baby....!"Sapa Dewa.


Stevany langsung berdiri saat melihat suaminya. "Sayang, kamu sudah datang?" tanya Stevany.


"Ya. I Miss you so much." Dewa langsung menarik Stevany sehingga keduanya kini saling berhadapan tanpa jarak dan tanpa diduga, langsung mencium Stevany dengan gaya yang sensual.


Stevany terkejut karena Dewa menciumnya seperti itu. Dia malu pada Ronald dan juga semua orang yang ada di restoran ini.


"Sayang....?" Stevany dengan cepat menyudahi ciuman mereka dan melotot ke arah suaminya.


"Silahkan di lanjutkan. Aku tunggu di sini ya?" Dewa langsung menarik kursi yang ada di samping Stevany. Ronald kelihatan sedikit kikuk melihat tatapan kurang bersahabat Dewa padanya.

__ADS_1


"Nanti aku kasih kabar kepastian tamu yang akan menginap seminggu sebelum hari H nya. Oh ya, kapasitas ballroom nya sampai berapa orang?" kata Ronald yang kelihatan ingin segera mengahiri percakapannya dengan Stevany.


"Seribu bisa."


"Baiklah. Aku pulang dulu ya? Nanti aku kabari melalui WhatsApp grup kita. Selamat siang. Permisi yang Dewa." Ronald langsung pergi setelah menjabat tangan Dewa dan Stevany.


"Sayang, kok gitu sih?" tanya Stevany.


"Sekedar mengingatkan dia kalau kamu itu sudah menikah dan semua harapan yang ada dalam hatinya harus segera dikuburkan."


Stevany terkekeh. "Kamu tahu kalau dia mantan pacar aku waktu SMA?"


"Ya. Dan aku juga tahu kalau dia masih mengejar mu waktu aku sedang koma." Dewa nampak cemberut. Stevany yakin kalau Seneo yang menceritakannya karena melihat beberapa kali Ronald ke sini untuk makan siang dengan Stevany di restoran hotelnya.


"Sayang, dia memang mantan pacar aku dulu. Namun aku nggak cinta kepadanya. Aku hanya taruhan dengan teman-teman sekelas ku siapa yang akhirnya aku Ronald suka. Mencium ku saja dia nggak pernah."


"Pegangan tangan?"


"Pernah sih."


"Mencium tangan kamu?"


"Mungkin pernah. Aku juga sudah lupa." Stevany terkejut melihat bagaimana cemburunya si mantan mafia ini.


"Ih, itu kan hanya kisah masa laluku." Stevany melingkarkan tangannya di lengan Dewa. "Ke apartemen atas, yuk. Tiba-tiba pingin." bisik Stevany. Mata Dewa langsung berbinar. Semenjak pulang dari Turki, mereka memang belum pernah bercinta lagi karena kondisi Stevany yang sakit.


"Memangnya sudah boleh. Si Dede dalam perut gimana?"


"Aman kalau daddy-nya main lembut." Stevany mengedipkan sebelah matanya.


"Dua ronde boleh nggak?" Dewa sudah membayangkan si Palo nggak akan puas jika hanya satu.


"Kita lihat saja nanti ya?"


Keduanya keluar dari restoran sambil tersenyum bahagia. Namun senyum Dewa hilang saat melihat seorang pria tampan yang berdiri di depan pintu masuk hotel.


"Itu siapa, sayang?"


"Kepala keamanan sekaligus sopir ku."


"Lho bukannya kepala keamanan yang lalu sudah bapak-bapak?"


Sudah dipecat oleh Felicia karena kedapatan mencuri."


"Tapi yang ini masih terlalu muda dan kelihatannya kurang cocok jadi kepala keamananya. Wajahnya lebih mirip seorang fotomodel."


Stevany mengentikan langkahnya lalu menatap suaminya. "Kamu juga dulu pernah jadi petugas keamanan hotel."


"Tapi kan dulu misiku adalah mendekatimu."


Stevany kembali melangkah. "Di mataku nggak ada pria yang lebih tampan darimu."


"Apa sayang? Aku nggak dengar." Dewa mengejar langkah istrinya dengan wajah berseri-seri.


"Stevany masuk ke dalam lift yang terbuka. Ia menahan pintu lift namun tak mengijinkan Dewa masuk. "Kamu lewat tangga. Jika kamu lebih dulu tiba dari aku, kamu bisa minta berapa ronde pun."


Mendengar itu Dewa dengan cepat segera berlari menuju ke tangga darurat. Ia sudah siap menikmati siang yang panas bersama istrinya.


**********


Bab nya aku panjangin


Tebus kemarin nggak up


semoga suka

__ADS_1


__ADS_2