Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Aku bukan Yang Kau Inginkan


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu model baju yang ini?" tanya desainer baju pengantin.


"Aku nggak suka." jawab Stevany tanpa memandang ke arah gambar yang ditunjukan oleh nyonya Dolly.


"Kalau yang ini?"


"Aku juga nggak suka."


"Sayang, lihat dulu baik-baik baru mengatakan tak suka." Jeon yang sejak tadi memperhatikan Stevany langsung menegur kekasihnya.


Stevany mencoba berkonsentrasi melihat gambar itu. Namun semua model yang ditunjukan tetap tak membuatnya suka.


"Bagaimana kalau kita balik besok saja?" Jeon memutuskan untuk pergi.


Stevan pun langsung berdiri. Nyonya Dolly hanya bisa pasrah karena memang kelihatan calon mempelai perempuannya sedang bad mood.


"Kamu kenapa sih?" tanya Jeon saat keduanya sudah berada dalam mobil.


"Aku kenapa?" Stevany balik bertanya.


"Kamu kelihatannya kurang bersemangat dalam mempersiapkan pernikahan kita."


"Aku bersemangat kok. Mungkin saja karena aku lelah."


Jeon menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia menatap Stevany sambil menekan emosinya yang mulai naik. "Jangan bohong, Stev. Aku tahu kalau hatimu sebenarnya merindukan Dewa."


"Kamu kok ngomongnya kayak gitu sih?"


Jeon menatap Stevany dengan sangat intens. "Jangan bohongi hatimu sendiri, Stev. Semenjak Dewa tak bekerja lagi di hotel, semua orang bilang kalau kamu berubah. Jadi sering marah-marah dan badmood selalu. Kamu bahkan tak menyadari hanya selama jangka waktu 2 Minggu, berat badanmu turun dengan drastis. Kamu merindukan Dewa, Stev. Kamu masih menginginkan dia."


"Nggak!"


"Stev, aku mencintai kamu. Aku bisa saja menikahi kamu karena seluruh keluargamu menginginkan aku. Namun aku tak mau berbahagia sendiri di atas penderitaan mu. Pernikahan kita bukan sebuah pelarian agar kamu bisa membuktikan bahwa kamu bisa melupakan Dewandra."


"Memangnya kamu ingin aku bersama terus dengan mafia itu? Aku juga ingin hidup damai, aman dan tentram. Salahkah jika aku ingin bersama dengan lelaki baik seperti dirimu? Aku yakin bahwa aku bisa mencintaimu, Jeon. Hanya berikan aku waktu sedikit saja."


Jeon meraih tangan Stevany dan menggenggamnya erat. "Stev, menurut pamanku, Dewandra sudah memutuskan hubungannya dengan Treisya dan itu yang membuat Treisya stres sampai menyusulnya ke sini. Treisya bahkan sempat mengancam akan bunuh diri namun Dewandra katanya sudah tak peduli. Semua saham di hotelnya sudah dia jual kepada pamannya. Termasuk juga dengan rumah dan beberapa kendaraan mewahnya. Jadi Dewandra pergi ke Amerika, memulainya dari nol."


Stevany terdiam mendengar apa yang dikatakan Jeon.


"Dia sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa bersamamu."


"Aku.....!"


Jeon menyentuh wajah Stevany. "Jangan merasa berhutang apa-apa padaku sehingga kamu harus membayarnya dengan memberikan hidupmu untukku. Aku sekarang mengerti bahwa kita tak pernah ditakdirkan untuk bersama." Jeon kemudian meraih tangan Stevany kembali dan mengeluarkan cincin yang pernah diberikannya pada Stevany. "Aku memutuskan hubungan pertunangan kita."


"Jeon.....!" Stevany menatap Jeon tak percaya.


"Aku masih tetap akan bekerja dengan keluargamu, Stev. Aku suka tinggal di Jakarta dan aku pikir, aku akan menetap di sini dengan waktu yang cukup lama."


Stevany memeluk Jeon sambil menangis harus. "Terima kasih, Jeon."


"Sama-sama, Stev."


*************


Tawa Felicia terdengar paling kuat saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang ngopi bersama di cafe ini.


"Eh....eh.....ada cowok ganteng. Kayaknya sendirian aja....!" ujar Lina.


"Mana?" tanya Felicia sambil celingukan. Cafe sore ini tak begitu ramai.


"Tuh, yang duduk di pojokan kan? Ih...wajah ala artis-artis Korea." sambung Susi.

__ADS_1


"Mana sih?" Felicia jadi penasaran. Matanya dengan cepat menemukan sosok tampan yang menggunakan kemeja biru. "Aih..., jangan diganggu. Itu tunangan sepupu aku. Dia memang dari Korea. Sebentar ya aku temui dulu." Felicia bergegas menemui Jeon.


"Hallo Jeon....!"


Jeon menoleh. "Fel. Ada di sini juga?"


"Ini cafe tempat nongkrong aku dengan teman-temanku. Kopinya enak. Kamu ngapain di sini? Mana Stevany?"


"Di hotel. Mungkin."


"Kok mungkin sih? Tunangan gimana nih nggak tahu keberadaan kekasihnya."


Jeon tersenyum kecut. "Kami sudah putus."


"Maksudnya?"


"Putus ya....putus. Hubungan kami sudah berakhir."


"Penyebabnya apa?"


"Aku sadar kalau Stevany tak bisa move on dari masa lalunya."


"Oh ya, aku dengar ternyata pemain basket itu adalah mantannya Stevany ya? Mafia juga kan? Nggak sangka ya Stev suka sama cowok itu. Walaupun sebenarnya aku mengakui ketampanannya sih."


"Mereka sebenarnya saling mencintai. Dewandra juga sudah meninggalkan dunia mafia demi Stevany. Hanya saja karena apa yang terjadi di masa lalu sangat menyakitkan bagi Stevany sampai ia berusaha untuk meninggalkan Dewa walaupun masih mencintainya."


"Dan kamu mengalah agar mereka bisa bersama?"


Jeon mengangguk. "Percuma juga kan dipaksakan kalau pada akhirnya Stevany tak bahagia saat menikah denganku."


"Iya juga sih. Tapi keluarga Dawson terlanjur suka padamu. Dan mereka kayaknya sulit untuk menerima Dewandra."


"Aku akan tetap di sini, kok. Menjadi sahabat Stevany dan keluarga Dawson. Lagi pula aku sangat suka bekerja di keluarga itu. Walaupun sebenarnya rindu juga sih pegang senjata, main tembak-menembak."


Felicia tersenyum. "Kasihan...., berarti kamu sekarang sedang patah hati ya? Kalau gitu ikut aku yuk!"


"Ikut aja deh. Kamu bawa mobil kan? Soalnya aku nggak bawa mobil."


"Aku bawa."


"Sebentar ya aku pamit dengan teman-teman ku." Felicia pamit pada teman-temannya sekalian mengambil dompetnya. Ia kemudian pergi bersama Jeon meninggalkan tempat itu.


2 jam kemudian.........


Jeon terkejut saat melihat hasil tembakannya sama dengan hasil tembakan Felicia. Keduanya kini ada di tempat latihan menembak yang biasa ditandangani oleh Felicia.


"Bagaimana? Badmood nya sedikit hilang kan?"


Jeon mengangguk. "Iya. Terima kasih ya sudah mengajak aku ke sini. Aku tak menyangka kalau kamu sangat mahir dalam menembak."


"Uncle Jero, mengajarkan kami semua selaku anak gadis untuk tahu ketrampilan bela diri. Salah satunya juga adalah belajar menembak. Kakakku Alexa orangnya sangat lembut. Pernah menjadi pramugari teladan. Namun dibalik rambut yang di konde dan kain kebaya yang ia kenakan, selalu terselip pisau di pahanya."


"Waw keren juga ya? Jadi pingin kenalan dengan kakakmu."


"Dia sekarang masih ada di tempat suaminya di Madrid. Bulan depan mereka balik lagi. Nanti aku kenalkan. Sekarang kita pergi makan yuk! Lapar nih!" Felicia dengan entengnya menggandeng tangan Jeon. Cowok itu sempat tertegun sejenak namun akhirnya ia tersenyum juga. Felicia ternyata mampu menghibur hatinya.


**************


"Ma, aku ingin ke Amerika. Bolehkah?" tanya Stevany saat ia menemui mamanya di dapur.


Giani yang sedang membuat kue menatap putrinya. "Kenapa? Ingin tambah sekolah lagi?"


Stevany menggeleng.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan ya?"


Gadis itu menggeleng lagi.


"Lalu?"


"Aku ingin menemui Dewandra."


Giani mematikan mixer yang dipegangnya. Ia mendekati putrinya dan menatapnya dengan intens. "Terus, Jeon?"


"Dia memutuskan aku."


"Ha?"


"Jeon sadar kalau aku masih mencintai Dewandra, ma."


"Sayang, apa kami yakin dengan keinginanmu itu? Bagaimana jika Dewandra hanya ingin mempermainkan mu lagi?"


"Dewandra katanya sudah memutuskan semua hubungannya dengan Treisya. Ia bahkan sudah menjual semua asetnya yang ada di Korea. Makanya ia kembali lagi ke Amerika untuk kembali bermain basket."


"Siapa yang bilang?"


"Jeon."


"Apakah kamu yakin kalau Dewa memang sudah berubah?"


"Aku yakin, ma. Dewa pergi karena dia ingin melihat aku bahagia dengan Jeon. Boleh ya, ma? Supaya besok aku akan mengurus visa ku. Aku punya green card yang membuat aku bisa ke Amerika kapan saja. Please....!"


"Tapi nak, bagaimana jika kamu menghadapi bahaya lagi di sana?" tanya Giani khawatir.


"Mama kan tahu aku bisa bela diri."


,"Treisya itu Mafia nak. Bagaimana jika dia mengejar kamu lagi?"


"Ma.....!" Stevany merengek.


"Daddy nggak ijinkan." Kata Jero yang tiba-tiba saja sudah berada di dapur.


Stevany membalikan badannya. "Tapi dad, aku mencintainya. Aku sudah mencoba melupakan dia namun tak bisa."


"Hal yang paling utama yang harus kamu lakukan adalah mencari kebahagiaanmu di luar mafia itu."


"Tapi Dewandra bukan lagi mafia, dad."


"Sekali ini saja, Stev. Dengarkan Daddy!"


Giani menatap suaminya sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak mau suaminya berkata keras kepada anak-anak nya.


Stevany meninggalkan dapur sambil menghentakkan kakinya.


"Sayang .....!" Giani mendekati Jero.


Jeronimo menggeleng. "Aku nggak mau putriku terluka lagi, sayang. Karena itu aku ingin Stevany memegang komitmen yang sudah dia ucapkan. Kita sudah pernah memberikannya kesempatan. Tidak akan ada lagi kesempatan kedua."


Giani hanya bisa memegang dadanya. Bagaimana pun juga ia tak mau Stevany kembali terluka.


*************


Maaf ya guys....


Emak sakit, nggak bisa banyak bekerja.


Makanya nggak bisa up beberapa hari ini.

__ADS_1


semoga bisa dimaklumi.


Emak tetap akan menamatkan cerita ini kok


__ADS_2