Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Hangatnya Pelukanmu


__ADS_3

Untuk sesaat pandangan Stevany fokus pada lengan Dewa. Sampai akhirnya ia tersadar saat Dewandra sedikit menggigil.


"Kamu kedinginan?" tanya Stevany melihat Dewandra yang mengigit. Cowok itu mengangguk sambil memeluk dirinya sendiri.


"Kamu nggak punya baju ganti?"


Dewandra menggeleng.


Hati kecil Stevany tak tega melihat bibir Dewandra yang sedikit membiru dan tubuhnya yang mengigit. Ia tahu kelemahan Dewandra dengan udara yang terlalu dingin.


Stevany menempelkan kartu akses masuk lift khusus. "Ayo ikut!" ajak Stevany sambil menarik tangan Dewandra. Lift ini akan langsung ke apartemen yang ada di lantai paling atas.


Begitu keduanya masuk, Stevany langsung mengambil handuk dan memberikannya pada Dewandra. Ia juga memanaskan air.


"Dewa, sebaiknya kamu mandi air hangat dan aku akan mengeringkan pakaianmu. Aku punya mesin cuci yang bisa sekaligus mengeringkan pakaian tanpa perlu dijemur.


Dewandra mengangguk. Ia segera ke kamar mandi yang ditunjukan oleh Stevany.


"Stev...., apakah bajunya sudah selesai?" tanya Dewandra. Cowok itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya.


Mata Stevany menatap tubuh atletis Dewa. Terbayang kembali bagaimana tubuh itu pernah memeluknya, menenggelamkannya dalam kehangatan gairah yang membuat ia selalu lupa diri.


"Eh, tunggu sebentar....!" Stevany segera membalikan badannya dan menuju ke ruangan laundry. Ia mengeluarkan pakaian Dewa yang sudah kering lalu memberikan pada lelaki itu.


"Ini bajunya."


Dewandra menerimanya dan kembali ke kamar mandi. Ia kemudian keluar tanpa menggunakan atasan karena atasannya ada di ruangan khusus petugas keamanan.


"Ini ada kaos Daddy di sini. Siapa tahu cocok untuk kamu karena badan kalian kan sama."

__ADS_1


Dewandra memakai kaos itu di depan Stevany. Ia tersenyum karena kaos itu memang pas di badannya.


"Ini teh hangatnya. Minumlah supaya badanmu jadi hangat." ujar Stevany lalu menunjukan segelas teh hangat yang sudah diletakan Stevany di atas meja yang ada di ruang tamu.


"Terima kasih, sayang." kata Dewandra lalu duduk di sofa.


Stevany berdecak kesal karena Dewandra kembali memanggilnya dengan sebutan sayang.


Saat akan menikmati teh nya, Dewandra bersin sampai beberapa kali. Stevany tahu kalau Dewandra pasti sudah masuk angin. Ia kemudian mengambil balsem khusus flu yang ada di kotak obat.


"Sini, aku gosokan punggungmu. Kamu kayaknya masuk angin." Stevany duduk di samping Dewandra dan meminta cowok itu membelakanginya. Perlahan, Stevany menaikan kaos Dewandra. Ia tahu kalau di punggung cowok itu dulu ada tato naga. Sekarang tato itu pun sudah dihapus.


"Ada apa, sayang? Kenapa punggungku belum digosok?"


"Eh...ya....!" Stevany pun menggosok punggung Dewandra. Tangannya sampai gemetar ketika kulit tangannya menyentuh kulit punggung Dewandra. Stevany ingat saat pertama Dewandra menyentuhnya, bagaimana punggung Dewa ini penuh dengan cakaran kuku Stevany karena sakit yang ia rasakan saat kehilangan kesuciannya. Saat mengingat hal itu, tubuh Stevany rasanya merinding. Sesuatu yang seharusnya tak ia pikirkan, kini melintas lagi. Stevany bahkan menepuk kepalanya sendiri.


"Stev, ada apa?" tanya Dewandra lalu membalikan badannya.


"Stev, biarkan kita berdekatan seperti ini beberapa menit saja. Aku sungguh merindukanmu." Kata Dewandra dengan suara yang lirih.


"Kamu mau apa sih? Aku tuh ajak kamu ke sini karena aku nggak mau kamu sakit karena kedinginan." Stevany berusaha menarik tangannya namun Dewandra dengan cepat memeluknya.


"Sebentar saja. Please ....!" Mohon Dewandra.


Stevany memejamkan matanya saat merasakan hangatnya dekapan Dewandra. Ia dapat merasakan kalau Dewandra memeluknya dengan sangat lembut. Cowok itu bahkan mengusap punggung Stevany secara perlahan sambil memejamkan matanya.


"Aku tahu kalau aku sudah menyakitimu sangat dalam di masa lalu. Sekarang aku pun merasakan sakit yang sama ketika kamu mengacuhkan aku dan tak peduli padaku. Aku tak tahu bagaimana caranya mendapatkan lagi hatimu yang terlanjur luka karena aku. Aku hanya ingin kamu tahu, Stev. Aku sungguh mencintaimu." kata Dewandra dan semakin mengeratkan pelukannya.


Stevany memejamkan matanya. Tanpa sadar tangannya juga terangkat dan membalas pelukan Dewandra. Untuk sesaat, dua insan yang masih terikat pernikahan itu larut dalam pelukan. Seakan tubuh mereka tak mau saling terlepas karena saling merindukan.

__ADS_1


Perlahan, pelukan itu terurai. Namun Dewandra belum mau menjauhkan diri dari Stevany. Ia menempelkan dahinya di dahi Stevany. Menikmati momen kedekatan ini sambil menghirup aroma mawar yang dikeluarkan oleh tubuh Stevany. Tangan Dewa yang satu masih ada di punggung Stevany namun tangannya yang lain kini memegang tengkuk Stevany. Napas keduanya saling bersahutan. Ada gejolak yang kini mulai membuat aliran darah mereka menjadi panas.


Perlahan mata Stevany dan Dewandra terbuka. Dari pandangan mata itu, Dewandra yakin untuk kembali mencium bibir Stevany yang tentu saja selalu menggodanya. Entah siapa yang memulai, keduanya kini sudah saling berciuman. Dan entah bagaimana caranya, Stevany kini sudah duduk di pangkuan Dewandra.


Benar apa yang dikatakan orang, batas antara cinta dan benci sangatlah tipis. Begitu juga dengan cinta dan napsu.


"Ah...Dewa.....!" Stevany menarik rambut coklat cowok itu saat ciuman Dewa kini sudah turun ke lehernya. Gadis itu bahkan dengan sengaja mendongakkan kepalanya seolah memberikan akses bagi Dewandra untuk melancarkan aksinya.


Stevany lupa dengan keinginannya untuk menjauhi Dewa. Ia juga lupa kalau dia memberi kesempatan pada Dewa menyentuh tubuhnya maka Dewa sudah tahu hal apa yang harus dilakukannya untuk membuat Stevany tak berkutik di bawahnya.


************


Gabriel tersenyum melihat Jeon yang duduk termenung di ruangannya sambil memegang sebuah cincin. Jeon nampak memutar-mutar cincin itu seolah memastikan apakah cincin itu bagus atau tidak.


"Aku yakin adikku akan menyukainya." kata Gabriel sambil melangkah masuk dan membuat Jeon kaget setengah mati sampai menjatuhkan cincin itu.


"Tuan....!" Sapa Jeon setelah memungut kembali cincin. Cowok tampan itu berdiri.


"Duduk saja. Aku ingin ke sini untuk mengatakan bahwa proyek yang kau rancang itu sudah diterima dan Minggu depan sudah ada dana yang cair."


"Wah, aku sungguh senang mendengarnya tuan."


"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Kita kan akan menjadi saudara. Panggil saja Iel."


Jeon kembali duduk. "Aku tak bisa merebut hati Stevany. Sepertinya dia masih memikirkan mantannya itu."


"Dan Stevany adalah anak yang sangat taat pada orang tua. Dia tak akan menyakiti mama dan Daddy sebab ia sudah berjanji tak akan pernah kembali pada si mafia itu." Gabriel menatap Jeon. "Jika kamu memang benar mencintai Stevany segeralah lamar dia. Jangan pernah menyakiti dia lagi. Aku tahu kamu orang baik, Jeon. Makanya aku berani memintamu untuk menjaga adikku itu. Daddy sama mama juga menyukaimu. Jadi tunggu apa lagi?"


Jeon tersenyum. Ia seakan mendapatkan kekuatan dengan perkataan Gabriel.

__ADS_1


**********†*******


Apakah Stevany dan Dewandra akan berpisah lagi? Akankah Stevany akan menerima cowok lain? Dukung emak terus ya guys


__ADS_2