
Stevany sudah tertidur. Setiap malam, ia memang tidur di kamar yang sama dengan Jack namun di ranjang yang berbeda. Sedangkan Petra sejak kecil sudah Stevany biasakan tidur di kamarnya. Stevany tak ingin anaknya menjadi trauma dengan semua alat-alat penunjang kehidupan. Namun terkadang opa Jero dan Oma Giani menemani cucunya tidur.
Pintu terbuka. Malam ini, tak tahu kenapa Petra bangun dan ia teringat dengan mamanya.
"Mom.....!" panggil Petra sambil membuka pintu kamar.
Di lihatnya sang mama sudah terlelap di tempat tidurnya. Anak itu tersenyum dan melangkah mendekati tempat Stevany berbaring. Namun sebelumnya, ia harus melewati tempat tidur papanya.
"Hai Daddy....!" sapa Petra. Entah kenapa, dia memutuskan mendekati tempat tidur Dewandra. Tangannya menyentuh tangan papanya.
"Kenapa Daddy belum bangun juga? Nggak bosan ya bobo telus?" Anak itu menarik kursi lalu didekatkannya di tempat tidur. Ia kemudian naik ke atas kursi itu dan berpindah ke tempat tidur papanya.
"Daddy, bangun dong...!" Petra memegang pipi papanya. "Kasihan mommy selalu sendili. Aku juga selalu diejek di sekolah kalena daddy nggak pelna hadil." Petra menundukkan kepalanya. "Daddy, buka matanya dikit aja!" anak itu mencoba membuka mata Dewa namun ia kesulitan. Ia mencabut selang oksigen yang bagian atasnya berbentuk masker sehingga lepas dari hidung Dewa.
Bunyi-bunyian mulai terdengar di dalam ruangan itu.
"Daddy...., ayo bangun!" Petra menggoyangkan tangan Dewa sehingga alat pendeteksi detak jantung terlepas dari hari Dewandra.
Tubuh Dewandra tiba-tiba saja kejang-kejang.
Stevany tersentak bangun saat mendengar suara alat-alat yang ribut. Ia terkejut melihat putranya ada di atas tempat tidur Dewandra.
"Petra, apa yang kamu lakukan?" Stevany melompat turun dari tempat tidur.
"Suster......, suster.....!" teriak Stevany gugup sambil menekan tombol merah yang menghubungkan ke kamar perawat yang ada di sebuah kamar perawatan Dewa ini. Ia kemudian mengangkat tubuh putranya dari atas tempat tidur dan menurunkannya. Ia kemudian berlari ke luar kamar. "Tolong.....! Tolong....!" teriak Stevany gugup.
Perawat yang ada di kamar sebelah segera keluar dan masuk kedalam. Ia segera memasang kembali masker oksigen ke wajah Dewa dan meletakan kembali alat pendeteksi jantung itu di jari Dewa.
"Bagaimana?" tanya Stevany sambil menangis. Tubuh Dewandra masih kejang.
Giani dan Jero pun segera masuk ke kamar itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Giani.
"Petra mencabut masker oksigennya Dewa, ma. " kata Stevany dengan rasa khawatir dibaluti rasa takut kehilangan suaminya itu.
Sang perawat langsung memeriksa tanda-tanda vital di tubuh Dewa.
"Nyonya, sebaiknya kita memanggil dokter saja. Kondisi tuan sepertinya semakin menurun." Perawat itu pun menelepon dokter.
"Tuhan, jangan sampai suamiku mati. Aku nggak mau Dewa mati." Stevany semakin frustasi.
Petra tiba-tiba berteriak histeris sambil menangis. Anak itu terduduk di samping tempat tidur Dewa dengan wajah yang pucat.
Jero langsung mendekat dan meraih Petra ke dalam pelukannya. "Cucu opa yang tampan, jangan menangis ya, nak?"
"Petla bunuh daddy ya?" Tanya Petra sambil terus menangis.
__ADS_1
"Nggak sayang.....!" bujuk Jero.
"Tapi mommy menangis."
Jero segera membawa cucunya itu keluar kamar sedangkan Giani mendekati Stevany yang sedang memegang tubuh Dewa yang masih tetap kejang-kejang.
"Ma, bagaimana ini? Aku takut terjadi sesuatu dengan Dewa."
"Tenang, nak. Kamu seperti ini membuat Petra ketakutan."
"Tapi Dewa, ma."
Perawat nampaknya menerima instruksi dari dokter lewat telepon. Ia kemudian mengambil alat suntik dan menyuntikan sesuatu melalui selang infus.
"Mana dokternya?" tanya Stevany.
"Sebentar lagi tiba, nyonya."
15 menit kemudian dokter datang. Tubuh Dewa sudah kembali diam.
"Bagaimana, dok?"
"Nyonya reaksi tadi adalah tanda-tanda sebenarnya menuju pada kematian. Tuan Dewandra tak menunjukan kemajuan apapun selama 4 tahun ini. Sebaiknya nyonya segera berdiskusi dengan keluarga. Kasihan jika alatnya terus dipasang, kita hanya akan membuat tuan Dewandra tersiksa."
"Maksud dokter aku harus menyerah?"
************
Semua keluarga Dawson bersama dengan Seneo dan Ling berkumpul di ruang tamu.
"Semua terserah padamu, Stev. Paman Dewa dari Korea juga kan sudah menandatangani persetujuan untuk mencabut semua alat penunjang kehidupan di tubuh Dewa. 4 tahun bukan waktu yang sebentar, lho. Sementara beberapa bagian dari tubuh Dewa sudah tak berfungsi lagi. Ini bukan tentang biayanya. Kami semua siap menopangmu kalau hanya masalah biaya. Tapi jika memang dengan membuka semua alat itu dapat membuat Dewa terlepas dari semua penderitaan nya, kami pun ikhlas, Stev." Gabrian berbicara mewakili semua yang ada di sana.
"Aku juga sebagai sahabat tuan Dewa, ikhlas. Kasihan selama 4 tahun ini tuan Dewa harus menahan penderitaan karena alat-alat itu." Seneo yang sejak tadi diam pun akhirnya bicara.
Air mata Stevany mengalir. Sangat berat rasanya harus mengambil keputusan ini. Tapi benar juga apa yang semua katakan. Jangan sampai keegoisannya membuat Dewa semakin menderita.
"Baiklah. Aku setuju." Kata Stevany berusaha mengikhlaskan hatinya untuk melepaskan semua alat itu.
************
Seminggu kemudian.......
Air mata Stevany mengalir dengan deras. Ia mencium dahi Dewa berulangkali. "Dewa, maafkan aku harus menyerah seperti ini. Para medis tak memberi harapan apa-apa. Aku juga tak mau menahannya jika ternyata ini membuatmu menderita. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku bersumpah tak akan ada cinta lain dalam hidupku selain kamu. Aku berjanji akan menjaga Petra dengan seluruh jiwa dan ragaku. Aku pastikan dia akan menjadi anak yang baik di kemudian hari. Dia akan mengenang mu sebagai papa yang luar biasa." Stevany menghapus air matanya. Ia kemudian memegangi tangan Dewa. Di kecupnya tangan itu yang terasa dingin. "Dewa.....! Kekasihku, belahan jiwaku. Aku ikhlas melepaskan kepergian mu. Selamat jalan, sayang....!"
Pintu kamar terbuka. Sang perawat masuk. "Nyonya, ditunggu tim dokter di luar. Mereka ingin memastikan semuanya siap dan dalam persetujuan nyonya. Pendeta juga ada di luar."
"Terima kasih, suster. Oh ya, tolong cari anakku, ya? Aku tak mau dia ada di sini saat dokter mencabut semua alat di tubuh Dewa."
__ADS_1
"Baik nyonya." Perawat ia segera keluar untuk mencari Petra sedangkan Stevany segera keluar dari kamar itu untuk menemui tim dokter.
Tanpa mereka ketahui, Petra sebenarnya sedang bersembunyi di balik lemari yang ada di kamar itu. Anak itu perlahan keluar dari sana dan kembali naik ke atas kursi. Ia menatap papanya.
"Daddy, bangun dong. Kalau Daddy nggak mau bangun, meleka akan membuat daddy mati. Opa Jelo sudah menyiapkan kubulan untuk daddy di sebelah opa Denny dan Oma Sinta. Bangun dong Daddy....! Petla nggak mau daddy di kubul." anak kecil itu menangis sambil menggoyangkan tangan papanya. Kemarin ia memang secara sembunyi-sembunyi mendengar percakapan antara Jero dan Giani yang sudah meminta pihak makam untuk menyiapkan satu lobang kubur di dekat orang tuanya.
Tubuh Dewandra tetap diam gak bergerak.
"Kalau daddy bangun, Petla janji nggak akan pukul teman Petla di sekolah. Petla janji nggak akan membuat mommy dimalahi ibu gulu lagi." Petra membaringkan tubuhnya di samping Dewa. "Masa Petla nggak akan punya daddy selamanya? Daddy nggak sayang Petla ya?" Tangis anak itu semakin dalam. Ia yang masih kecil ternyata bisa memahami kalau sebentar lagi papanya akan pergi untuk selamanya. Petra kemudian bangun dan menatap wajah Dewandra. "Daddy nggak mau bangun? Kalau begitu, Petla akan benci Daddy selamanya. We....e...!" Anak itu menjulurkan lidahnya lalu segera turun dari ranjang itu. Ia kemudian keluar kamar dengan wajah cemberut.
***********
"Dokter, apakah jika semua alat itu dicabut, suami aku akan segera meninggal?" tanya Stevany.
"Ya. Karena kadar oksigen di tubuhnya memang sudah sangat tipis. Jantungnya bahkan sudah berdetak sangat lambat. Apakah kita sudah bisa mulai?" Tanya dokter Satria.
Stevany mengangguk. Mereka pun segera melangkah menuju ke kamar Dewandra.
"Nyonya, Petra nggak ada di mana-mana." Lapor sang perawat.
"Kemana dia?" tanya Stevany pada Giani.
"Mama nggak tahu, sayang. Apakah mungkin bersama bibi?"
"Bibi juga nggak tahu." Ujar sang perawat.
"Kemana anak itu ya?" Stevany jadi resah. Namun ia masuk juga ke dalam ruangan Dewandra. Sudah ada 2 dokter dan seorang perawat di sana.
Giani dan Jero berdiri di sisi Kanan dan kiri Stevany. Mereka tahu ini saat yang berat bagi putri mereka.
Pendeta memukaikan doanya. Setelah itu dokter mulai mendekat dan siap melepaskan satu persatu alat yang menempel di tubuh Dewa.
Seneo memilih keluar. Ia tak sanggup berada di kamar itu.
"Doktel, jangan bunuh daddy Ku." Petra tiba-tiba masuk dan membuat semua kaget.
"Sayang, Petra. Ayo keluar, nak." Giani membujuk cucunya namu Petra menggeleng. "Daddy, wake up. Daddy, jangan bobo telus...." Petra berteriak dan memberontak saat Jero akhirnya menggendong dia dan membawanya keluar kamar.
"Daddy ....! wake up....!" masih terdengar teriakan Petra yang membuat tangis Stevany kembali pecah.
"Nyonya, bagaimana?" tanya dokter Satria.
Stevany mengangguk. "Teruskan saja, dok."
Dokter pun melepaskan alat yang menempel di dada Dewa. Tangis Stevany semakin tak terbendung. Namun ia Iklhas melakukan kepergian Dewa.
***********
__ADS_1
Good bye Dewa AJa ya......