
Stevany mencari Ling ke bagian dapur. Kata teman-temannya, Ling sedang memeriksa makanan yang disajikan untuk acara pesta pernikahan siang ini. Stevany pun menuju ke ruangan ballroom yang ada di lantai 2.
Ia melihat kalau Ling sedang berbicara dengan seseorang dan Ling nampaknya menangis. Diam-diam Stevany mendekat dan mencoba menguping pembicaraan mereka.
"Kamu harus jujur dengan perasaan mu sendiri, Ling. Bilang ke dia kalau kamu juga menyukainya."
"Bagaimana mungkin aku mengatakan perasaan ku padanya? Dia mencintai orang lain." Ling menghapus air matanya.
Seorang perempuan yang bersama Ling itu langsung memeluk Ling dengan penuh kasih. Stevany pun bergegas menjauh. Siapa yang Ling cintai?
Hati Stevany tak tenang. Ia begitu sibuk dengan urusan hatinya dan melupakan sahabatnya itu. Siapa lelaki yang berhasil merebut hati Ling? Siapa? Pertanyaan itu begitu menyiksa Stevany. Tanpa ia sadari, kini ia sudah berdiri berhadapan dengan Dewandra.
"Dewa?"
Dewandra menatap Stevany tanpa berkedip. Nampak jelas ada guratan kekecewaan atas apa yang dilihatnya tadi pagi.
"Kamu sengaja ingin menyakiti aku, kan? Kamu sengaja menggandeng Jeon datang ke hotel karena ingin membuat aku mundur kan? Aku nggak akan pernah mundur, Stev. Karena aku tahu hati mu adalah milikku." Dewandra meraih tangan Stevany namun gadis itu menepiskannya.
"Lepaskan, Dewa. Kita nggak punya hubungan apa-apa lagi. Aku pikir kalau kamu sudah mendapatkan surat pemberitahuan pembatalan pernikahan."
"Aku tak terima. Kamu akan tetap menjadi istriku."
Stevany mengangkat tangan kirinya, menunjukan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. "Aku sudah menerima lamaran Jeon. Sekarang aku dan Jeon sudah bertunangan."
"Stevany! Kamu adalah milikku!" Dewandra dengan cepat mendorong tubuh Stevany sehingga tak bisa bergerak karena berbenturan dengan dinding. Keduanya ada di lorong menuju ke ballroom yang baru saja Stevany tinggalkan.
"Jangan macam-macam Dewa. Kamu tak punya kuasa atas diriku lagi. Lepaskan!" Stevany berusaha mendorong tubuh Dewandra namun Dewa sama sekali tak mau menjauh. Tatapan matanya tajam menembus sampai ke hati Stevany. Gadis itu sedikit gemetar namun berusaha ditahannya.
"Jangan mendustai kata hatimu, Stev. Bukankah kita masih tidur bersama beberapa hari yang lalu? Bahkan saat dalam mimpi pun, kau bermimpi tidur denganku." Dewandra mengurung tubuh Stevany diantara kedua tangannya.
"Kita nggak mungkin bersama, Dewandra. Aku tak menginginkan kamu lagi."
__ADS_1
"Jangan bohong!"
"Aku tidak bohong! Kalau aku masih menginginkanmu, maka aku tak mungkin menerima lamaran Jeon. lupakan aku! Sudah saatnya kita mencari kehidupan kita masing-masing."
"Tidak....!" Dewandra sudah terbakar cemburu. Dengan cepat ia menarik tengkuk Stevany dan mencium gadis itu dengan ciuman yang mematikan. Ciuman yang membuat Stevany untuk sesaat terlena. Membuatnya lupa namun kesadarannya dengan cepat datang. Ia mengigit bibir Dewandra tapi Dewandra sama sekali tak melepaskan ciuman itu. Ia membiarkan bibirnya dilukai oleh Stevany.
Tatapan mereka bertemu. Stevany jadi tak tahan. Ia membiarkan bibirnya menjadi sasaran kecemburuan Dewandra. Sampai akhirnya lelaki itu yang melepaskannya sendiri ciumannya Karena keduanya hampir kehabisan oksigen.
Stevany tak dapat menahan air matanya saat melihat bibir Dewandra yang berdarah. Bahkan darahnya mengucur cukup banyak karena Stevany memang mengigit nya dengan sangat kuat.
"Kamu bodoh, Dewa! Bodoh!" Stevany menampar wajah Dewa karena ia kesal dengan lelaki itu yang nampak bodoh membiarkan dirinya disakiti oleh Stevany.
"Aku memang bodoh, Stev. Bodoh karena selama ini dibutakan dengan keangkuhan ku dan tak menyadari perasaanku padamu. Aku memang bodoh karena tak bisa menjaga anak kita, buah cinta kita dan akhirnya ia pergi. Aku memang bodoh karena tak bisa melakukan apapun sampai pembatalan pernikahan kita dikabulkan. Karena itu, ijinkan aku untuk memperbaiki kebodohan ku ini agar kamu tahu kalau aku bisa jadi pintar kembali saat bersamamu."
Air mata Stevany kembali jatuh membasahi pipi mulusnya. Tangannya terulur dan membersihkan darah yang ada di bibir Dewandra. Tak sedikitpun cowok itu mengerang kesakitan walau pun luka itu terasa perih.
"Stev.....!" Air mata Dewandra pun jatuh juga membasahi pipinya.
"Aku akan terus berusaha mengejar cintamu, Stevany!" teriak Dewandra. Langkah Stevany terhenti selama beberapa detik. Namun selanjutnya ia kembali berlari.
Tanpa mereka sadari, Jeon yang sebenarnya datang ke hotel untuk mengajak Stevany makan siang, melihat semua adegan itu dari awal sampai akhir. Jeon segera membalikan badannya. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Felicia.
"Aow......!" Felicia memegang kepalanya yang terasa sakit.
"Maaf.....maaf.....!" Jeon merasa sangat bersalah. Ia langsung memegang kepala Stevany dan mengusapnya. "Ada lagi yang sakit? Apakah aku melukaimu?"
Felicia terpesona pada perhatian Jeon. "Aku sudah baik-baik saja, kak Jeon. " Felicia tersenyum. Kalau tak mengingat kalau pria ini menyukai sepupunya, ingin rasanya Felicia mencium hidung mancung cowok itu.
"Benarkah?" Tangan Jeon yang masih ada di kepala Felicia membuat cowok itu kembali mengusap kepala Felicia.
"Benar kah?"
__ADS_1
Felicia mengangguk. Lama-lama berada di dekat Jeon bisa membuat ia kehilangan konsentrasi karena pesona oppa Korea yang satu ini.
"Aku pergi dulu ya, kak..." Felicia mengedipkan sebelah matanya dan langsung pergi meninggalkan Jeon. Lelaki itu pun tersenyum melihat tingkah Felicia. Ia kemudian memutuskan untuk menemui Dewandra. Ia mencarinya di pos keamanan namun kata teman-temannya, Dewa sedang ada di ruangan kesehatan.
Jeon bergegas ke sana. Di lihatnya Jeon sementara berbaring dengan bibir yang sedikit membengkak.
"Jangan ganggu, Stevany lagi!" kata Jeon saat menyadari kalau lelaki itu hanya berbaring saja.
"Mau kamu apa?" tanya Dewandra sambil perlahan ia bangun dan duduk di atas tempat tidur.
Jeon tahu ruangan kesehatan ini sedang kosong makanya ia berani berbicara dengan Dewandra.
"Stevany sudah menerima lamaran aku."
Dewandra tersenyum mengejek. "Untuk apa kamu memaksakan diri bersama dengan seseorang yang sebenarnya tidak mencintai kamu?"
"Untuk saat ini dia memang tak mencintai aku namun dengan semua cinta dan kasih sayang yang aku berikan, aku yakin Stevany pasti akan bisa mencintaiku."
"Apakah kamu tahu beberapa hari yang lalu dia tidur denganku sampai tak pergi konser denganmu? Tiga hari sebelumnya pun kami tidur bersama. Kami sudah terikat Jeon. Hati dan raga kami terikat."
"Jangan bicara buruk tentang Stevany!" Jeon menarik kerak baju Dewandra.
"Saat itu Stevany Masih istriku. Wajarlah kalau kami tidur bersama."
"Stevany dan kamu sudah resmi berpisah. Simpan saja semua mimpimu itu untuk tidur dengannya, brengsek!" Jeon menepuk pindah Dewandra dengan sangat keras lalu meninggalkan kamar itu. .
Dewandra mengepalkan tangannya. Semoga benihku tumbuh di rahimmu, Stev. Hanya itu yang bisa menyelamatkan hubungan kita.
************
Apakah Stevany bisa hamil?
__ADS_1
Dukung emak terus ya guys