Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Tinggal Bersama Seneo


__ADS_3

"Tuan.....!" Stevany perlahan bangun saat melihat Dewa.


"Apakah.....apakah....pekerjaannya sudah selesai?" tanya Dewandra dengan napas yang memburu sambil menahan sesak di dadanya.


Dokter itu menggeleng. "Belum. Karena aku baru selesai menangani pasien yang lain. Ini baru akan dimulai."


"Hentikan." Kata Dewandra sambil menarik napas lega. "Cepat ganti pakaianmu, Stev. Aku tunggu di luar."


Stevany menatap Dewandra dengan tatapan bingung. Namun di sisi lain ia senang karena ia tak harus menghilangkan anak ini. Ia pun turun dengan cepat dari atas tempat tidur dan segera berganti pakaian.


Begitu Stevany keluar kamar, nampak Dewandra sudah menunggunya sedangkan Seneo entah pergi kemana.


"Ayo!" Dewandra secara tak terduga langsung menggenggam tangan Stevany dan mengajaknya pergi dari klinik itu. Ia membuka pintu mobilnya dan meminta Stevany masuk lalu ia sendiri duduk di belakang kemudi dan mulai menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Stevany dan Dewandra saling diam. Tak ada yang bicara sampai akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang ada di pinggiran kota. Dewandra turun lebih dulu dan berjalan ke arah bangku taman sambil duduk di sana. Ia terlihat menarik napas panjang selama beberapa hari.


Perlahan Stevany ikut turun dan duduk di samping Dewandra. "Tuan, maafkan aku kalau aku membuatmu sakit kepala. Kehamilan ini tak ku sengaja. Waktu aku pulang dari kebun apel itu, karena terlambat sampai di rumah, aku langsung bekerja dan melupakan pil itu. Aku baru mengingatnya 4 hari kemudian."


Dewandra masih diam. Pandangannya jauh ke depan.


"Aku siap pergi meninggalkan Korea, jika kehamilanku ini membuat tuan susah. Namun aku mohon, jangan suruh aku mengugurkan kandungan ini lagi. Aku tidak bisa membunuh sesuatu yang adalah bagian dari diriku. Aku tahu kalau hal ini sangat tidak disukai oleh Tuhan."


Dewa menatap Stevany. "Kamu masih percaya kalau Tuhan ada?"


"Ya. Dan aku yakin kehamilan ku ini atas ijin Tuhan karena aku dan tuan adalah pasangan yang sah."


"Bagaimana caranya agar kita tahu Tuhan itu ada. Kita kan tidak pernah melihatNya?"


"Tuhan hadir dimana saja. Melalui alam ciptaanNya, melalui orang-orang yang ada di sekitar bahkan dalam hati kita. Saat kita memanggil namaNya, Tuhan ada dalam hati kita."


Dewandra menunduk. "Masihkah Tuhan menerima orang yang tanganNya berlumuran darah? Entah sudah berapa banyak yang aku bunuh, yang aku lukai. Terkadang aku harus bermimpi buruk dengan badanku yang berlumuran darah."


Stevany memberanikan diri memegang tangan Dewandra. "Belum ada kata terlambat untuk bertobat, tuan."


Dewandra menatap Stevany. "Saat mendengar detak jantung janinnya, hatiku sangat terusik. Aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini. Ada kehidupan lain yang aku tahu itu adalah bagian dari diriku."


Tangan Stevany yang satu memegang pipi Dewandra sementara tangannya yang satu masih memegang tangan cowok itu. "Ada yang bilang, menjadi seorang ayah akan mengubah seorang laki-laki menjadi sempurna."


Air mata Dewandra jatuh tanpa bisa ditahannya. "Siapa kamu, Stev? Mengapa aku merasa melihat ibuku saat aku menatap matamu?"


"Aku hanya wanita yang jatuh cinta padamu, tuan. Aku bukan siapa-siapa."


Dewandra tiba-tiba memeluk Stevany dengan sangat erat. Ia tak malu menangis di bahu wanita itu.

__ADS_1


Seorang cowok yang terkenal dingin dan tanpa takut membunuh, kini terlihat rapuh dan tak berdaya. Dewandra sebenarnya sudah lelah menghadapi kehidupannya bersama Treisya. Ia butuh suasana yang baru. Dan suasana yang berbeda itu ia dapatkan saat bersama Stevany.


"Aku akan mencari cara untuk berbicara dengan aunty Treisya. Aku juga tak ingin membuatnya sakit hati karena sesungguhnya dia punya peran penting di masa laluku. Aunty Treisya yang menyembuhkan aku sehingga aku bisa bangkit seperti sekarang ini. Aku sebenarnya ingin menghabiskan seluruh hidupku untuk bersamanya karena aku mencintainya. Namun, aku tak bisa mengabaikanmu begitu saja." Tangan Dewa terukur dan menyentuh perut Stevany. "Stev, jaga anak kita, ya? Aku menginginkannya hadir dalam hidupku."


Stevany mengangguk sambil menganggukkan kepalanya. Biarlah saat ini hati Dewa masih untuk Treisya namun Stevany kini yakin, ia bisa mengalihkan perhatian Dewandra pada dirinya dan anak mereka nanti.


***********


Setelah dibicarakan bertiga dengan Seneo. Akhirnya mereka memutuskan Stevany tak akan kembali ke mansion. Ia akan tinggal di apartemen dan Dewandra akan mengunjunginya di sini. Terlalu beresiko jika Stevany harus tinggal di hotel. Triesya bisa kapan saja datang.


Malam ini, Stevany tidur dalam dekapan Dewandra setelah mereka bercinta. Cukup satu ronde saja karena Dewandra tak ingin percintaan mereka menganggu janin yang sedang tumbuh di rahim Stevany.


***********


Treisya menatap kedatangan Seneo dan Dewandra dengan mata yang sembab.


"Kemana kamu kemarin? Aku menunggu kamu sampai larut malam namun kamu tak ada."


Dewandra menarik napas panjang melihat penampilan Triesya yang kacau. "Aunty, jangan kayak gini. Aunty kan baru saja sembuh dari sakit."


"Kamu tahu kalau aku baru sembuh dari sakit dan kamu mengabaikan aku?"


Dewandra langsung memegang tangan Treisya dan mengajak wanita itu duduk di sofa. Sasi langsung meninggalkan mereka.


"Kenapa? Aku suka dengannya. Dia anak yang rajin dan sangat pintar membuat laporan keuangan." Treisya nampak tak suka.


"Aunty, biarkan saja Seneo bersama Stevany. Kalau Stevany bekerja di sini, privasi mereka nggak ada." Dewandra membela Seneo.


"Tapi....."


"Aunty.....!"


Treisya nampak kesal namun ia tahu kalau Seneo sangat berarti juga buat Dewa. "Terserah kamu saja."


Seneo pun permisi untuk membereskan barang-barang milik Stevany ditemani oleh Ling.


"Tuan, apakah Stevany baik-baik saja?"


"Dia hanya sakit demam saja. Besok lusa pasti sembuh."


"Aku sedih jika Stevany tak bekerja lagi."


Seneo menatap Ling yang matanya nampak berkaca-kaca. "Terima kasih karena sudah baik dan menjaga Stevany selama di sini."

__ADS_1


Ling menatap Seneo. "Apakah tuan Dewandra sungguh-sungguh pada Stevany?"


Seneo terkejut. "Kamu tahu?"


"Aku melihat tuan Dewandra memeluk Stev di rumah sakit. Tuan, aku mohon jangan biarkan nyonya Treisya mengetahui hubungan mereka. Pergilah dari negara ini." kata Ling memohon.


"Terima kasih menjaga rahasia ini, Ling." Seneo pun mendorong koper yang berisi barang-barang Stevany. "Jika ada off, kunjungilah Stevany. Dia sedang hamil." bisik Seneo sebelum keluar dari kamar.


Ling mengangguk senang.


************


Sudah 3 hari Stevany tidur di apartemen Seneo. Dan yang membuat ia senang, Dewandra setiap malam tidur bersamanya. Walaupun cowok itu kadang datang sudah larut malam, namun Stevany senang karena ia tak menghabiskan malam bersama Treisya.


Pagi ini Stevany kembali muntah lagi.


"Stev, are you ok?"


Stevany menoleh ke arah pintu kamar mandi. Dewandra berdiri di depan pintu kamar mandi hanya menggunakan boxer. Sedangkan Stevany justru hanya menggunakan kaos Dewandra yang kebesaran ditubuhnya.


"Ya " Jawab Stevany lalu perlahan berdiri. Ia mengambil tissue untuk membersihkan mulutnya. Dewandra segera mendekat dan mengangkat tubuh Stevany lalu membawanya kembali ke atas ranjang.


"Tidurlah, ini masih jam 6 pagi. Aku akan latihan pagi ini. Siangnya ada di hotel, sore mengunjungi aunty Treisya baru malam ke sini lagi."


Stevany mengangguk. Dewandra mengecup perut Stevany yang masih rata. Kebiasaan cowok itu setiap kali mereka bangun pagi. "Aku siap-siap dulu."


"Ya." Stevany menatap punggung Dewa sampai cowok itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tuhan, ijinkan aku mendapatkan hatinya.


**********


"Tuan Dewandra tidak tidur di hotel, Nyonya. Setiap malam ia berada di apartemen tuan Seneo." lapor salah satu mata-mata Treisya.


"Ngapain dia di apartemen Seneo? Di sana kan ada Stevany?"


"Aku juga tak tahu, nyonya. Apartemen itu punya sistem keamanan yang sangat ketat."


"Cari tahu bagaimana masuknya. Aku sendiri yang akan mengunjungi mereka di sana." Treisya mengepalkan tangannya. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Dewandra padanya.


**********


Nenek sihir beraksi guys.....

__ADS_1


__ADS_2