Mengejar Cinta Mafia

Mengejar Cinta Mafia
Pesonanya Belum Hilang


__ADS_3

Stevany duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Ada telepon dari sang mama Giani, telepon dari Jeon dan telepon dari Felicia. Semuanya diabaikan oleh Stevany.


Gadis itu memejamkan matanya, mencoba membuang semua rasa yang kini bermain di hatinya. Rasa yang sudah coba dibuangnya namun ternyata tak bisa di tolak saat sentuhan itu datang.


Stevany masih bisa merasakan kulit tubuhnya yang terasa panas saat Dewa mulai melepaskan pakaian yang ia kenakan. Dan saat tangan Dewa mulai menyentuh bagian-bagian sensitif dari tubuhnya, Stevany sungguh menikmatinya.


Sore yang panas walaupun udara di luar begitu dingin karena hujan yang sangat deras. Beberapa tempat bahkan sudah banjir. Stevany mengingat setiap detik yang mereka lalui dengan sangat jelas.


"Stev, aku sangat menginginkanmu saat ini." bisik Dewandra saat tangannya mulai bermain di inti tubuh Stevany membuat gadis itu menggeliat diantara rasa geli dan nikmat.


"Ja.......!" Stevany sebenarnya ingin mengatakan jangan namun dia tak mampu meneruskan kalimatnya karena ciuman Dewa sudah turun ke dadanya membuat teriakan itu keluar dari bibir Stevany.


"Dewa....aku......!" Stevany memejamkan matanya. Merasakan dirinya melayang ke tempat yang paling tinggi. Mencapai puncak kenikmatannya hanya dengan sentuhan tangan Dewandra.


"Dewa...., kita nggak boleh....."


"Maafkan aku, Stev!" Entah bagaimana caranya, Dewa sudah melepaskan celananya dan sebelum Stevany turun dari puncak kenikmatannya, Dewandra sudah menyatukan dirinya dengan gadis itu.


Stevany akhirnya mengakui kehebatan Dewa dalam menguasai tubuhnya. Ia menikmati penyatuan itu tanpa bisa menolaknya.


Berkali-kali Stevany mendapatkan pelepasannya. Sampai akhirnya, Dewa pun sampai pada puncaknya.


Untuk sesaat, keduanya saling diam. Hanya napas mereka yang terdengar. Mulai stabil dan membuat Stevany membelalakkan matanya saat sadar kalau ia sekarang berada di masa yang subur.


"Dewa lepaskan!" Stevany mendorong Dewa dan langsung turun dari sofa. Ia dengan cepat mengambil pakaiannya yang berserakan di atas lantai dan setengah berlari ia masuk ke kamarnya. Stevany langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Membersihkan sisa percintaan mereka sambil meremas perutnya sendiri. Stevany berharap benih Dewa tak akan tumbuh di sana.


"Bodoh.....! Bodoh......! Bodoh.....!"


Stevany memukul kepalanya sendiri saat ia mandi. Dari kaca yang ada di kamar mandi, ia dapat melihat beberapa bagian yang ada di dadanya merah. Bahkan di leher pun ada tanda merah yang dibuat oleh Stevany.


Selesai mandi, ia segera mengenakan pakaian dan keluar dari kamar. Nampak Dewandra sudah duduk di atas sofa dan mengenakan pakaiannya kembali. Teh hangat yang tadi sempat dibuat oleh Stevany sebelum mereka bercinta.


"Dewa, sebaiknya kamu kembali kerja." kata Stevany berusaha bersikap dingin.


Dewandra mengangguk. Ia berdiri dan menatap Stevany. "Stev, bagaimana dengan hubungan kita?"


"Kita tak mungkin ada hubungan lagi, Dewa. Anggaplah tadi kita berdua sama-sama khilaf. Karena itu aku memohon kepadamu agar jangan pernah menyentuh aku lagi."


"Tapi Stev, aku dapat merasakan bahwa kamu itu masih mencintai aku."

__ADS_1


"Aku hanya tertarik secara fisik kepadamu, Dewa. Aku akui, kamu punya pesona yang memang tak dapat ditolak oleh perempuan manapun. Namun, jika kamu tanya bagaimana perasaanku sesudah ini, aku justru merasa jijik dengan diriku sendiri."


"Stev, sejak aku bercinta denganmu untuk yang pertama kali, aku tak pernah menyentuh aunt Treisya lagi. Bahkan sejak kamu pergi dari Seoul pun, kami tak pernah tidur bersama lagi. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di hotel atau di lapangan basket."


"Itu tak ada pengaruhnya bagiku." Stevany memilih tetap cuek walaupun ia agak kaget mengetahui bahwa Dewandra sudah lama tak tidur dengan Treisya. Tapi, bisa saja kan lelaki itu berbohong karena tak ingin berpisah dengannya? Bukankah Dewandra termasuk pria yang memiliki gairah yang tinggi? Stevany saja hampir kewalahan setiap kali bercinta dengan Dewa. Tak mungkin kalau sampai setahun lebih ia tak menyentuh perempuan lain.


Dewandra menarik napas panjang. Ia tahu tak mudah membuat Stevany percaya dengan semua yang sudah mereka lalui. Namun bagaimana pun caranya, Dewandra akan terus meyakinkan Stevany.


"Aku mencintaimu, Stev. Aku memang bodoh karena tak menyadarinya selama ini. Jadi aku mohon, berikan aku kesempatan kedua."


Stevany menatap Dewandra. Ia tak mau lagi jatuh pada rasa yang sama. Dengan cepat ia melangkah dan membuka pintu apartemennya. "Silahkan keluar!"


Hati Dewandra memberontak. Ia ingin memaksa Stevany untuk terus bersamanya. Namun ia juga tahu kalau ia tak boleh bersikap gegabah. Stevany akan semakin menjauh darinya.


"Baiklah. Aku akan pergi. Namun aku pasti akan terus berusaha mendapatkan hatimu lagi, Stev." ujar Dewandra sebelum meninggalkan tempat itu.


Stevany mendorong pintu dengan keras sampai menutup dengan bunyi dentuman yang kuat. Ia segera menuju ke kamarnya. Menangis di sana atas semua yang telah terjadi.


*************


Giani tersenyum melihat putrinya yang baru saja datang. Ia sempat melirik jam dinding yang menunjukan pukul 9 lewat 10 menit.


"Maaf, ma. Aku ketiduran tadi." Stevany menjawab dengan perasaan bersalah karena membohongi mamanya.


"Kamu sudah makan? Mama siapkan makan malam ya?"


Stevany menggeleng. "Aku mau minum susu saja. Daddy di mana?"


"Daddy ada di belakang. Sedang berbincang dengan Jeon. Ia sudah sejak tadi menunggu kamu."


Stevany bergegas ke taman belakang. Di sebuah gazebo, nampak Jeronimo sedang duduk berdua dengan Jeon.


"Nah, itu dia sudah datang." Jero nampak senang melihat kedatangan putrinya.


Stevany ikut bergabung bersama mereka. "Aku ketiduran di apartemen. Karena tadi hujan deras, aku memutuskan untuk beristirahat."


"Ya sudah. Daddy tinggalkan kalian berdua ya?" Pamit Jeronimo. Ia segera masuk ke dalam rumah dan mencari istrinya.


"Sudah dari tadi?" tanya Stevany mengawali percakapan diantara mereka.

__ADS_1


"Aku ke sini pas jam 7 tadi. Kalau tahu kamu masih ada di hotel, aku sudah ke sana."


"Maaf nggak menjawab panggilanmu."


Jeon tersenyum. Ia menggeser kursinya agar dekat dengan Stevany. "Kamu baik-baik saja?" tanya Jeon. Walaupun pencahayaan di gazebo ini tak begitu terang, namun ia yakin kalau mata Stevany sedikit sembab.


"Iya. Kenapa?" Stevany balik bertanya.


Jeon menggeleng. "Nggak ada apa-apa. Aku hanya merasa ada sesuatu dengan dirimu. Namun entahlah, mungkin aku yang terlalu khawatir padamu."


Stevany merasakan hatinya sakit menerima perhatian Jeon yang seperti ini. Tanpa sadar air matanya mengalir dan Stevany dengan cepat menghapusnya. Entah kenapa, disaat ia tak bisa menceritakan pada siapapun apa yang terjadi, ia justru menjadi cengeng.


"Hei .....!" Jeon meraih kedua tangan Stevany dan menggenggamnya erat. "Ada apa?"


Stevany tertunduk. "Hanya tekanan pekerjaan di hotel."


Usapan lembut Jeon berikan di punggung tangan Stevany. "Jangan merasa tertekan dengan pekerjaan. Enjoy saja. Kamu masih muda."


"Makasih, Je. Kamu selalu bisa membuat ku tenang."


Jeon menghapus air mata Stevany dengan ibu jarinya. "Jangan menangis, Stev. Aku tahu kalau kamu gadis yang kuat. Atau, kamu mau aku kembali bekerja di sana?"


"Jangan. Bisa-bisa kak Iel akan memusuhiku. Ia mengatakan kalau kamu asisten yang luar biasa."


Stevany akhirnya tersenyum membuat Jeon merasa lega. Perlahan pria itu mengambil kotak kecil yang ada di saku celananya lalu meletakkannya di atas meja.


"Stev, kamu tahu kalau aku mencintaimu sejak pertama aku melihatmu di mansion itu. Aku tak peduli walaupun aku tahu kalau kamu ada hubungan dengan tuan Dewandra. Sampai saat ini pun, perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah. Walaupun sebenarnya aku agak minder saat tahu kalau kamu ternyata anak salah satu pengusaha sukses yang ada di sini." Jeon membuka kotak cincin itu. Stevany terbelalak melihat sebuah cincin yang cantik dengan batu permata di atasnya.


"Aku tak tahu bagaimana perasaanmu sekarang ini, Stev. Namun aku memberanikan diri untuk melamarmu. Aku tadi sudah jujur pada papa dan mamamu. Mereka semua menyerahkan keputusannya ada di tanganmu. Aku tak akan memaksa kamu untuk menjawabnya sekarang. Aku akan sabar menunggu sampai kamu siap untuk menerima diriku."


"Jeon.....!" Stevany tak tahu harus bicara apa. Di saat ia tadi baru saja ia membiarkan dirinya jatuh dalam melakukan Dewandra, ia justru kini sedang dilamar oleh pria lain.


Ling, yang berdiri di jendela kamarnya yang memang menghadap ke belakang, melihat adegan lamaran itu. Ia segera menjauhbdari jendela kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Gadis itu menangis dalam diam.


**************


Akankah Stevany menerima lamaran Jeon?


Bagaimanakah Ling menyembuhkan luka hatinya?

__ADS_1


__ADS_2