
Malam sudah menjelang subuh. Namun Stevany tak bisa memejamkan matanya. Membayangkan Dewandra yang akan pergi dalam misi balas dendam atas apa yang terjadi di mansion LA membuat Stevany gelisah. Entah mengapa ia merasa kalau ada sesuatu yang akan menimpah suami rahasianya itu.
Akhirnya Stevany memilih untuk keluar kamar saat jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Ia mengambil segelas air dingin dan meneguknya sampai habis, namun tak juga menghilangkan rasa galau di hatinya. Akhirnya, Stevany memilih keluar mansion dan menuju ke halaman samping tempat lapangan basket berada.
Hanya dengan memakai piyama, Stevany pun mencoba bermain basket untuk mengusir rasa galau di hatinya. Ia dengan akhirnya bisa menghilangkan rasa gundahnya saat tangannya semakin lincah mendribel bola ke lantai.
"Boleh gabung?"
Stevany tanpa sadar melemparkan bola di tangannya saat mendengar suara itu namun Dewa dengan cepat menangkapnya dan melemparkan langsung ke ring yang ada di belakang Stevany.
"Tuan? Apa yang anda lakukan di sini? Apakah tuan tak sebaiknya istrihat saja? Saya dengan dari Sasi kalau tuan dan nyonya akan berangkat pagi-pagi sekali."
Dewa hanya mengangguk. Tanpa bicara ia kembali mengambil bola basket itu dan memulai untuk memukulnya.
"Ayo main sampai kita lelah dan bisa tidur." ujar Dewandra dan mulai memukul bolanya. Stevany pun akhirnya ikut bermain bersama Dewandra. Ia sesekali tertawa ketika berhasil merebut bola dari tangan cowok itu.
Sampai pada akhirnya, saat Stevany akan merebut bola, Dewandra tanpa sengaja mendorong tubuh Stevany membuat gadis itu hampir jatuh namun dengan cepat Dewa membuang bola di tangannya dan memeluk pinggang Stevany agar gadis itu tak jatuh. Wajah mereka menjadi begitu dekat dan entah siapa yang memulianya, bibir keduanya bertemu dalam ciuman yang panjang.
"Tuan.....!" ujar Stevany saat ciuman mereka terlepas. "Nanti ada yang melihat."
Dewa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Stevany. "Aku masuk." Katanya masih dengan napas yang terengah-engah.
Stevany pun melangkah di belakang Dewandra dengan jantung yang masih berdetak. Adrinalinnya terpacu karena ciuman di tempat terbuka yang bisa saja dilihat orang.
Dewandra menaiki tangga sedangkan Stevany menatapnya sampai cowok itu menghilang di balik tangga. Ia kemudian berlari ke kamarnya sambil menahan air matanya. Stevany enggan untuk melepaskan Dewandra. Entah mengapa ia ingin bersama dengan Dewandra namun ia takut jika harus berhadapan dengan Treisya.
************
Jam 5 subuh Stevany sudah mandi dan menggunakan seragam pelayannya lagi. Ia kemudian ke ruang makan untuk membersihkan ruangan itu lalu mengatur peralatan makan di atas meja.
Di dapur Ham sudah siap dengan masakannya karena nyonya Treisya memang sudah berpesan untuk menyiapkan sarapan lebih awal.
Setelah bagian ruang makan siap, Stevany bergegas menaiki tangga dan menuju ke kamar Dewa. Saat ia membuka pintu, nampak tempat tidur Dewa masih rapi. Gadis itu merasakan hatinya sakit saat membayangkan malam tadi Dewa tidur bersama Treisya.
Hanya ada baju Dewa yang dipakainya kemarin saat bersama Stevany yang ada di atas kursi. Stevany mengambil kemeja itu dan menciumnya dengan lembut. Ia bagaikan memeluk Dewandra saat mencium harum cowok itu di kemejanya.
Ceklek!
Stevany menoleh dengan kaget saat melihat kalau Dewa keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. Rupanya ia baru selesai mandi. Keduanya bertatapan dan Dewa dapat melihat pakaiannya yang sedang di peluk oleh Stevany.
"Tuan.....!"Stevany jadi gugup saat Dewa memergoki nya sedang memeluk baju cowok itu.
Dewa hanya tersenyum. Ia kemudian mendekati pintu dan memutar anak kuncinya.
Jantung Stevany berdetak sangat kencang. Apakah Dewa akan.....
__ADS_1
Belum sempat Stevany meneruskan apa yang ada di pikirannya, Dewandra dengan cepat langsung melangkah ke arah Stevany dan tanpa bicara ia langsung mencium bibir gadis itu. Menyesapnya dengan sangat rakus seolah ia tak akan pernah mencium cewek itu lagi. Dewandra kemudian membuka pengait rok yang Stevany pakai, lalu tangannya membuka kemeja yang Stevany kenakan.
"Tuan, aku takut nyonya tahu." kata Stevany saat ciuman Dewa sudah turun ke lehernya.
"Dia tahu kalau aku maksh tidur." ujar Dewa lalu melemparkan kemeja Stevany ke sembarangan tempat dan mengangkat tubuh Stevany ke atas ranjang.
Pagi itu, Dewa kembali menikmati tubuh indah istri rahasianya. Seolah percintaan mereka pagi ini menjadi vitamin bagi Dewa yang akan pergi berperang.
Stevany menatap Dewa yang masih ada di atasnya. Mereka baru selesai dengan ronde kedua dan penyatuan itu masih terjadi.
"Tuan, aku mohon berhati-hatilah saat ada di sana. Aku takut sesuatu yang buruk akan menimpamu, tuan." Stevany memegang pipi Dewa dan membelainya lembut.
"Bantu aku siapkan pakaian." kata Dewa lalu melepaskan penyatuannya dan kembali berjalan ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Stevany pun bangun dan segera membersihkan sisa percintaan mereka di inti tubuhnya dengan tissue. Ia memakai pakaiannya kembali, membereskan ranjang dan lalu kemudian menyiapkan pakaian Dewandra. Pakaian yang akan dipakainya saat ini dan pakaian yang akan di bawahnya juga.
Begitu ia selesai, Dewandra sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke arah ranjang tempat Stevany meletakan pakainnya. Ia membuka handuknya di hadapan Stevany membuat gadis itu segera memalingkan wajahnya.
Pintu kamar Dewandra di ketuk. Stevany menjadi tegang karena memang ia sudah hampir 2 jam ada di kamar ini.
Dewa meminta Stevany bersembunyi di kamar mandi lalu ia membuka pintu kamarnya.
"Tumben pintunya di kunci." Treisya melangkah masuk. "Kamu baru mandi?" tanya Treisya sambil menatap Dewa bingung. Semalam Dewa tidur bersamanya walaupun memang mereka tak melakukan apapun juga.
"Aku tadi tidur kembali, aunty."
"Iya. Aku hampir selesai."
Treisya segera meninggalkan kamar Dewandra. Setelah itu Dewandra menyisir rambutnya dan mengetuk pintu kamar mandi. "Keluarlah!"
Stevany pun keluar. "Turunlah lebih dulu lalu aku akan ikut."
Stevany hanya mengangguk. Ia keluar dari kamar Dewandra dan menyusuri lorong untuk turun dari tangga belakang. Stevany melihat Sasi yang baru saja memasuki ruang makan. Ia menatap tajam ke arah Stevany.
"Dari mana saja kamu. Aku mencari kamu sejak tadi."
"Membersihkan kamar tuan, Dewa."
"Membersihkan kamar tuan Dewa atau asyik bercinta dengan kekasihmu?"
"Kekasih?"
"Aku tahu kalau tuan Seneo sejak jam 6 pagi sudah ada di sini. Kamu juga sudah menghilang sejak jam 6 pagi."
Stevany hanya pura-pura tersenyum lalu melewati Sasi untuk menyiapkan makanan di atas meja.
__ADS_1
Treisya, Dewa, Seneo dan beberapa petinggi di gank mafia milik Treisya sarapan bersama.
Stevany berusaha bersikap tenang walaupun jantungnya selalu berdebar-debar bila berada di dekat Dewandra.
Selesai makan, mereka pun langsung pergi. Stevany hanya bisa menatap keenam mobil yang meninggalkan halaman mansion mewah itu.
Saat Stevany membersihkan ruang makan, ia menemukan sesuatu di dekat piring Dewandra. Ada sebuah kartu kredit berwarna hitam dengan logo salah satu bank terkenal di Seoul. Stevany segera menyimpan kartu itu dengan jantung berdebar-debar. Apakah Dewa meninggalkan itu untuknya?
Tak lama kemudian ponsel Stevany berbunyi. Ternyata Seneo yang menghubunginya.
"Ada apa Seneo?"
"Kau sudah menemukan kartu berwarna hitam itu?"
"Iya."
"Kata suami rahasia mu, gunakan uang didalamnya untuk keperluan mu. Termasuk jika kamu mau mengirimnya pada orang tuamu dan jika kamu ingin berbagi pada anak-anak terlantar itu. PIN nya adalah tanggal lahirmu." Lalu Seneo langsung mengahiri percakapan sebelum Stevany sempat bicara apa-apa.
Stevany memegang dadanya. Ada rasa haru karena sekalipun cuek namun Dewa memperhatikan kebutuhannya. Namun mengapa Stevany merasakan kalau ia sepertinya tak akan melihat Dewandra lagi?
************
2 Minggu telah berlalu dan Stevany merasakan kalau hari-hari nya terasa berat. Ia sangat merindukan Dewandra dan belaian sayang suami rahasianya itu.
Nyonya Treisya sudah kembali 3 hari yang lalu. Dari apa yang Stevany dengar, mereka bisa membalas gank mafia yang telah menghancurkan rumah Treisya di LA. Treisya juga mengalami luka tembak di lengannya. Namun tak ada kabar tentang Dewandra maupun Seneo. Ponsel mereka pun tak bisa dihubungi.
Stevany tak tahu harus bertanya pada siapa. Namun Treisya juga kelihatannya tenang-tenang saja.
"Nyonya, maaf menganggu!" Stevany memberanikan diri menemui Treisya di ruangannya.
"Ada apa Stevany? Laporannya sudah saya baca dan tak ada kesalahan."
'Saya......saya mau bertanya tentang tuan Seneo." ujar Stevany sambil menunjukan wajahnya.
"Seneo sedang menemani Dewandra di pertandingan basket antar club' di Busan. Apakah kamu tak dikabari olehnya?"
Stevany menggeleng.
"Stevany, jangan menaruh hati pada Seneo karena dia seorang play boy."
"Aku ....." Kalimat Stevany terhenti saat seorang bodyguard masuk dengan wajah pucat. "Nyonya, helikopter yang membawa tuan Seneo dan tuan Dewandra jatuh."
"Apa?" Treisya terkejut. Ia langsung memegang dadanya sedangkan Stevany merasa bahwa apa yang ditakutkannya selama ini akhirnya terjadi. Dewa......
***********
__ADS_1
Hallo semua
makasi sudah dukung emak selama ini ya guys