
Selesai ganti pakaian, Dewandra memeriksa ponselnya. Ia tersenyum mendapatkan kiriman foto dari Seneo dan Ling yang sedang berbulan madu. Dewandra senang akhirnya asisten sekaligus sahabatnya itu bisa bahagia. Ling takluk juga padanya.
Minggu depan, Seneo dan Ling akan datang ke Amerika. Seneo akan kembali menjadi asistennya.
Sejak bergabung kembali di klub lamanya, Dewandra memang memutuskan untuk tinggal di mess saja. Beberapa temannya tinggal di luar karena mereka sudah berkeluarga atau memiliki hubungan khusus dengan pasangan mereka. Dewandra dulu tak pernah tinggal di mess karena ia terikat dengan Treisya. Namun sekarang, Dewandra mencoba hidup sederhana. Walaupun uang tabungannya banyak, namun Dewandra belajar untuk tak berfoya-foya. Fasilitas yang disiapkan di sini bagus dan mereka juga makan gratis.
Pintu kamar Dewandra di ketuk. Ia membuka pintunya. Nampak salah satu petugas keamanan yang bernama Bob.
"Ada apa, Bob?"
"Ada tamu di bawah."
"Siapa?"
"Katanya kerabat tuan dari Korea."
Dewandra berpikir kalau pamannya yang datang karena pamannya memang ada di Amerika karena sedang mengunjungi anaknya yang kuliah di sini. Dewandra pun turun ke lantai satu karena kamarnya ada di lantai 3.
Saat ia sampai di tangga terakhir, pandangannya teralihkan ke arah kiri. Terdengar suara tawa Brian. Ada beberapa orang yang berdiri di sayap kanan ruang tamu itu. Seorang perempuan yang berdiri membelakangi Dewandra membuat jantungnya berdetak. Rambut panjang yang tergerai indah berwarna coklat tua, gaun berwarna grey yang rasanya pernah Dewandra kenal. Dewandra mendekat dan parfum itu membuat hidungnya merasa sangat familiar dengan wangi itu. Wangi bunga mawar yang selalu melekat ditubuh gadis yang sangat digilainya.
Jarak mereka begitu dekat. Brian bahkan sudah melihat sahabatnya.
"Dewandra.....!" Panggilan yang cukup keras itu membuat semua yang ada di ruang tamu mess itu menoleh kepalanya ke arah sumber suara itu.
Stevany yang tadinya begitu bergembira mengetahui kalau Dewandra ada di ruangan itu, segera membalikan badannya dengan perasaan senang. Namun senyumnya langsung hilang melihat siapa yang sudah berdiri di samping Dewandra.
"Aunty?" Dewandra terkejut melihat Treisya yang datang menemuinya. Perhatiannya kini tertuju pada Treisya yang sedang pucat.
"Dewa...., aunty merasa pusing." Treisya memegang kepalanya. Dewa langsung memeluk tubuh Treisya yang hampir jatuh.
"Aunty duduk dulu." Dewandra menuntun Treisya untuk duduk.
Brian mendekat. "Dewa, ini siapa mu?"
"Bibiku." Jawab Dewandra. Ia menoleh ke arah Stevany. "Stev.....!"
Stevany langsung melingkarkan tangannya di lengan Brian. "Brian, ayo kita pergi. Aku sudah lapar."
"Stevany...., tunggu....!" Dewandra akan mengejar Stevany namun Treisya menahan tangannya. "Dewa, bibi merasa mual."
Dewandra bingung saat melihat Stevany yang sudah pergi bersama Brian dan Treisya yang nampak lebih dengan wajah pucat nya yang sudah berkeringat dingin.
"Aku bawa aunty ke rumah sakit aja."
"Aunty hanya kelelahan saja, Wa. Antar saja aunty ke hotel. Boleh kan?"
Dewa mendengus dalam hati. Saat seperti ini, ia sangat membutuhkan Seneo. Seharusnya Seneo yang mengantar Treisya ke hotel dan Dewa mengejar Stevany.
__ADS_1
Dengan berat hati, Dewa pun mengantarkan Treisya ke hotelnya. Ia bertekad untuk segera mengejar Stevany di manapun ia berada.
************
"Kamu kenal Dewandra?" tanya Brian saat mereka berada dalam restoran.
"Hanya kenal saja." jawab Stevany berusaha terlihat tenang pada hal hatinya sedang berkecamuk dengan rasa marah, cemburu dan kecewa melihat Treisya yang ada di sana.
"Dia salah satu pemain terbaik di klub kami. Aku senang karena dia mau kembali lagi ke sini. Banyak gadis yang tergila-gila padanya juga." Kata Brian.
Elis memerhatikan sahabatnya. Nampaknya ada sesuatu yang Stevany sembunyikan menyangkut cowok tadi.
"Are you ok?" tanya Elis sambil memegang pundak Stevany.
"Yes." Jawab Stevany mantap. Lerry pun segera mencairkan suasana dengan memperkenalkan menu makanan yang ada.
Sementara itu di hotel tempat Treisya menginap......
Dewandra menyelimuti tubuh Treisya setelah dokter selesai memeriksanya. Treisya hanya kelelahan menurut dokter. Suhu badannya pun sudah tak sepanas tadi.
Kebetulan di sana ada Sasi.
"Sasi, jaga aunty ya? Aku harus pergi. Ada urusan yang penting."
"Tapi tuan, kalau nyonya bangun dan menanyakan tuan bagaimana?" Sasi nampak panik.
Dewandra tiba di hotel yang Brian maksudkan. Sayangnya, demi menjaga privasi para tamu yang menginap, sang resepsionis tak mau mengatakan dimana kamar Stevany berada.
Dengan kesal, Dewandra mengebrak meja resepsionis. "Kalau terjadi sesuatu pada istriku, kalian yang tanggungjawab ya?"
"Kamu Petra Jung sang pemain basket itu kan? Memangnya kamu sudah menikah?" tanya gadis sang penjaga resepsionis itu. Ia nampak senang ketemu dengan idolanya sekaligus juga sedikit kecewa karena Petra Jung ternyata sudah menikah.
"Iya. Istriku sedang ngambek makanya ia datang ke sini." Dewandra membuka galeri ponselnya dan menunjukan foto pernikahannya dengan Stevany. "Anda percayakan kalau saya sudah menikah?"
Gadis itu mengangguk. Ia segera membuka daftar tamu yang ada di komputernya.
"Stevany Dawson ada di lantai 4 kamar nomor 4011."
Dewandra meraih beberapa lembar uang dolar dari dompetnya. "Terima kasih." Ia memberikannya pada gadis itu dan langsung pergi. Gadis itu nampak kebingungan karena baru kali ini ada yang memberikannya tips sebanyak 500 dolar.
Sementara itu, Stevany yang baru saja selesai mandi, dan masih menggunakan jubah handuknya mendengar kalau bel pintu kamarnya berbunyi. Stevany berpikir kalau itu adalah Elis yang kamarnya memang bersebelahan dengannya. Makanya, tanpa melihat siapa yang datang, Stevany langsung membukanya.
"Siapa kamu?" tanya Stevany saat melihat ada dua orang lelaki yang berdiri di depan pintu kamarnya sambil menodongkan senjata padanya.
"Ganti bajumu dan segera ikuti kamu." kata salah satu pria yang berkepala botak. Ia mendorong Stevany masuk ke dalam sedangkan pria yang satu berjaga di depan pintu.
"Jangan macam-macam dengan aku, Stevany Dawson! Karena aku diperintahkan untuk membunuhmu kalau kamu melawan." kata pria berkepala botak itu saat melihat Stevany nampak enggan mengambil pakaiannya dari dalam koper.
__ADS_1
Stevany menyadari bahwa lelaki ini yang dilihatnya tadi mengikuti dia dan Elis saat ada di kampus. Ia pun mengambil sebuah celana jeans dan kaos tangan panjang. "Aku harus ganti pakaian di kamar mandi."
Pria botak itu menekan salivanya. Ia yakin tubuh gadis itu sangat indah. Sayangnya ia diperintahkan untuk membawa Stevany tanpa ada keributan.
"2 menit." katanya sebelum Stevany menghilang di balik pintu kamar mandi.
**********
Dewandra keluar dari lift dan melihat ada seorang lelaki yang berdiri di sana. Untung saja ia menggunakan topi. Dewandra menarik topinya ke bawa agar wajahnya tak kelihatan. Ia kemudian melihat kalau lelaki itu membawa senjata di tangannya. Dewandra pura-pura menjauh namun setelah prianitu nampak membelakanginya, ia segera mencekik leher pria itu sampai akhirnya pingsan. Dewandra mengambil senjatanya dan menarik pria itu perlahan dan menyembunyikannya di lorong dekat lift.
Ia kemudian masuk ke kamar dan melihat ada pria lain lagi di depan pintu kamar mandi.
"Cepatlah nona....!" teriak pria botak itu nampak tak sabar. Dewandra dengan cepat mengarahkan senjatanya dan menembak kaki pria itu lalu ia merampas senjatanya. Dewa tahu kalau semua mafia menggunakan rompi anti peluru jadi cara terbaik melumpuhkan mereka adalah dengan menembaknya di kaki.
Stevany yang mendengar suara keributan di luar kamar segera keluar.
"Dewa.....?"
Dewa memukul kepala pria itu sampai akhirnya ia pingsan.
"Ayo pergi ......!" Dewandra menarik tangan Stevany.
"Tapi aku menginap di sini dengan temanku."
"Kamu dalam bahaya, Stev. Nanti saja kamu jelaskan pada temanmu nanti. Mana Kopermu?"
Stevany menunjukan sebuah koper besar yang ada di sudut ruangan. Dewandra segera memasukan barang-barang Stevany yang masih ada di luar koper lalu segera menutupnya. Ia menarik koper itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menarik Stevany.
"Memangnya kita mau kemana?" tanya Stevany saat keduanya sudah ada dalam mobil Dewandra.
"Menjauhkan dirimu dalam masalah."
"Tapi aku nggak mau pergi bersamamu. Aku mau pergi sama orang tuaku saja."
Dewa menginjak rem mobilnya mendadak. "Jadi maksud kamu ke Amerika untuk apa? Untuk menyusul aku kan?"
"Kamu anggap kalau kamu seistimewa itu sampai aku harus mengejar mu sampai ke sini? Aku sedang liburan dengan orang tuaku. Kamu pergi sana bersama Treisya. Urus dia yang sedang sakit. Dia pasti sangat membutuhkanmu." Stevany mencibirkan bibirnya. "Katanya nggak ada hubungan apa-apa lagi, buktinya dia selalu ada di sekelilingmu."
"Aku juga nggak tahu kalau dia akan datang, Stev. Namun aku sangat senang melihat kedatanganmu." Dewandra menarik tubuh Stevany dan memeluknya. Namun gadis itu tiba-tiba saja muntah.
"Maaf, parfum mu membuat aku mual!" kata Stevany saat melihat kaos yang dikenakan Dewandra sudah penuh dengan muntahnya.
*************
Nah....lho....
Ada apa dengan Stevany ?
__ADS_1