
BISMILLAH HIRROKHMAA NIRRAHIIM...
ALLOH HUMMA SHALLI 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA'ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD...
"Hati - hati geulis...jaga kesehatan,cepat kirim kabar kalau sudah sampai di sana..."
Entah sudah berapa kali pesan itu berulang - ulang di lontarkan Hanifa untuk Asha.Putri bungsunya itu memang akan segera berangkat ke Kalimantan untuk misi Bakti Sosial bersama rekan - rekannya.Selain mahasiswa berprestasi,keuletan dan kedisiplinan juga di butuhkan dalam kegiatan itu dan Asha di dapuk sebagai ketua dalam rombongan itu.
"Iya...Mama teh sudah enam kali loh ngomong kayak gitu...!"
Hanifa hanya tersenyum saat tubuh mungil putrinya itu memeluk erat dari samping.
"Sudah di chek lagi...gak ada yang tertinggal kan...?"
"Beres Mama cerewet...."
Spontan jari Hanifa mencubit halus hidung mancung Asha.Bukan hanya Hanifa yang mempunyai hoby mencubit hidungnya,bahkan Arka dan Fahmi selalu menjadikan hidung Asha sebagai sasaran empuk atas kegemasan yang sudah Asha ciptakan.
Kepergian Asha sore ini hanya di temani Hanifa, sedang yang lainnya mesih sibuk melaksanakan kewajiban tugas - tugas mereka. Namun Asha tak pergi tanpa berpamitan, ia sudah berpamitan dengan dua laki - laki kebanggannya itu saat pagi tadi. Tak perlu ada yang di khawatirkan.
...****************...
Bontang bukanlah sebuah kota besar. Hanya terdapat 3 kecamatan dan 15 kelurahan serta jumlah penduduk yang tidak terlalu padat membuat kota ini dengan mudah di jamah oleh tangan - tangan kotor para mafia. Di dukung dengan kekayaan alam yang melimpah membuat wilayah ini sering menjadi incaran para Tikus berdasi itu.
Tepat di wilayah Bontang Barat, beberapa kawanan pemuda perkasa itu sedang berdiri di atas tebing, memastikan dan menela'ah medan yang akan mereka arungi. Menjadi anggota agen rahasia terbaik bukan tidak mungkin mengalami kesialan,komunikasi hal paling utama dalam sebuah Team work.
Sementara ini, pemuda dengan jumlah 8 orang sedang menumpang di rumah salah satu warga yang tinggal di gubuknya seorang diri.
Pak Sodikin suka rela memberi tumpangan tempat tinggalnya untuk ke delapan pemuda itu yang sudah terang - terangan mengatakan alasan kenapa mereka bisa nyasar di tempat pedalam seperti ini. Pak Sodiki tak keberatan, mengingat beliau juga merasakan jika buminya sudah di jajah orang dalam.
Rumah Lamin yang luas dan besar sangat sepi jika di tempati pak Sodikin saja, beliau merasa senang jika gubuknya itu bisa bermanfaat untuk orang lain. Terdapat 4 bilik rumah Lamin yang bisa menampung sekitar 40 orang. Cukup besar memang jika hanya di tempati oleh pak Sodikin seorang diri.
"Aku sudah memeriksa laporan tentang kasus pembalakan liar itu untuk prof. Sam, beliau menyuruh kita untuk menyelidiki orang - orang dalam gubuk itu..."
Hamzah dengan segala kejeniusannya mulai memasang alat pelacak kecil berupa CCTV pada pohon jati yang terdapat tepat di samping kiri gubuk besar itu. Di kelilingi kawat berduri, membuat gubuk itu sulit di jamah orang dari luar. Alat itu nantinya akan merekam segala aktivitas walau hanya dari luar gubuk, setidaknya itu sedikit bisa membantu pengintaian Azam dan kawan - kawan.
"Harusnya kamu perlu membawa G-Shok96 yang sudah aku pinjamkan itu..."
"Oh Man...baru mulai melacak lokasi, bukan siap bertempur..."
__ADS_1
"Aku menyerahkan senjata kesayanganku bukan untuk kamu simpan dalam tas mu bodoh...di saat seperti ini segala kemungkinan bisa saja terjadi..."
"Well...punten, aku sudah ceroboh...!"
Hamzah sudah selesai memasang alatnya dengan rapi. Selanjutnya mereka berdua mulai menjauh dari kawasan itu dengan sedikit mengendap - endap. Gubuk yang berada tepat di tengah hutan itu disinyalir menjadi gudang penyimpanan senjata api Ilegal. Berbekal dari pernyataan para warga Telihan sudah cukup menguatkan dugaan Azam akan komplotan berbahaya itu.
Beberapa orang bule sering mengunjungi gubuk itu, bahkan tak sedikit para petinggi negara menyambanginya. Harusnya itu sudah bisa membuat para warga disana menanyakan perihal yang sebenarnya terjadi, namun dengan iming - iming pekerjaan berkebun kelapa sawit menjadikan warga disana di sulap menjadi tak bisa berbicara walau hanya sekedar menanyakan keberadaan gubuk di tengah hutan itu.
...****************...
"Apa Fahmi masih marah padamu Sya...?"
"Entahlah Put,ia belum menghubungi ku lagi. Dia juga tak mengantar ku ke bandara. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirnya, mengapa dia semarah itu padaku? Harusnya dia senang melihat kegiatanku ini. Bukankah dia yang selalu berkobar saat melihat kegiatan sosial...?"
Raut wajah Asha semakin di tekuk, sedang lawan bicaranya hanya bisa menggelengka kepalanya.
"Akan lebih baik kalau kamu menceritakan kegiatan ini sejak awal, bukankah sejak kecil kalian selalu bercerita. Mungkin dia merasa terlupakan...!"
Asha menghela nafas panjangnya.
"Kali ini aku ingin bekerja sendiri Put...aku tidak ingin ia membantuku.Fahmi sudah terlalu banyak membantuku...."
"Tapi aku merasa ada yang salah dengan Fahmi,kemarahannya sangat berbeda. Ia seolah - olah melarangku datang ke sini tapi ia tak mau menyebutkan apa alasannya melarangku...!"
"Lebih baik kamu hilangkan dulu pikiran tentang Fahmi, aku yakin sepupu mu tidak bisa betah lama - lama marah kepadamu. Kamu terlalu manis untuk di abaikan...!"
Putri menggedipkan mata kirinya, seketika senyuman tipis menguar pada bibir Asha.
"Sha...apa kamu merasa kalau desa ini terlalu suram...?"
"Desa ini indah, tanahnya juga subur.Aku yakin aku akan makmur jika hidup di sini,bertani menanam berbagai sayur dan buah...."
Putri memutar matanya, jengah.
"Aku pikir tempatnya secerah Bunaken Sya...!"
Giliran Asha yang memutar bola matanya.
"Itu kalau kamu memilih destinity untuk traveling kamu..."
__ADS_1
Putri tersenyum konyol pada sahabatnya itu.
"Ladies....apa kalian bersedia membantu ku dan pak.Sodikin mengambil beberapa perlengkapan medis yang baru saja terkirim di Landasan utara sana....?"
Arya mengintruksikan kepada dua gadis manis yang ada di hadapannya.
"Apa jauh..."
Putri bertanya.
"Tidak jauh, tapi mungkin melewati sedikit hutan..."
Asha tentu saja kegirangan, dan langsung menyambar Ponsel yang berada di atas mejanya.
"Aku harus ikut...siapa tahu ini keberuntunganku bertemu burung Kasuari yang selalu aku impikan..."
Responnya terlalu ceria, tak sabar ia langsung menarik sweater Arya agar segera beranjak di ikuti gerakan Putri yang tak bersemangat.
"Kenapa harus membawa ponsel, disini signal tidak tersedia.Harusnya kamu memakai sepatu boot, Lotion anti nyamuk bahkan sebilah golok untuk melindungi mu...!"
"Kameranya aku butuhkan...mengambil gambar - gambar cantik yang mungkin kita temui..."
Putri mengangah.
"Di dalam hutan seseram ini...? Neng geulis ini hutan belantara,mana ada bintang indah di sore hari. Dan kamu Arya,jangan sampai lengah.Kamu harus terus mengawasi nona bandel ini...!"
Arya mengacungkan jempolnya dengan senyuman.
"Kalau begitu aku panggil pak. Sodikin dulu,beliau akan menjadi Tour Guide selama kita berada di desa Telihan..."
"Yang lainnya kemana...?"
"Anak - anak yang lain sedang mengambil izi ke kepala desa ini dan sebagian masih ngobrol dengan ibu pemilik kontrakan ini..."
"Ayo Ar...aku ikut dengan mu saja...!"
"Aku senang kalau kamu ikut, biar orang - orang disini tau kalau desanya ada bidadari cantik..."
Asha tertawa renyah mendengar pujian dari Arya.
__ADS_1
Dukung terus,jangan lupa Like...