
Bismillahirrahmaanirrahim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Seruni tersenyum saat pelukan mereka terlepas.
"Kamu mungkin sangat kaget melihat keberadaanku?"
Hanifah menggangguk sebelum Seruni melanjutkan.
"Aku ingin bercerita semuanya, namun agaknya ini bukan waktunya kita bertukar cerita kenangan lama. Sebelumnya aku memperkenalkanmu pada pria di sampingku ini, dia suamiku"
Setelah mengucap salam, Hanifah mengangguk sopan pada Sam yang sama ramahnya.
Tanpa menunggu lama lagi, mempersilahkan tamu - tamunya masuk, sempat berbisik pada Azam.
"Apa yang kamu katakan padanya siang tadi? Asha pulang ke rumah uring - uringan, bilang semua lelaki memang menyebalkan"
Azam terkekeh melihat pandangan mertuanya menyelidik.
"Aku bilang akan menikah dengan wanita lain"
Hanifah menyipitkan matanya.
"Kamu menghancurkan mood nya sepenjang hari ini"
Azam mengangguk - angguk.
"Aku suka, putri Mama suka melakukan itu padaku. Giliran merasakan hal sama bukan masalah besar, kan?"
Suara yang terdengar kemudian adalah dari dapur bawah menghentikan obrolan tamu.
"Kenapa sih, dia selalu saja menjatuhkan barang - barangku? Dulu iPad dan buku - buku milikku, sekarang kue ulang tahun. Apa sih maunya? Sengaja biar aku membuatnya lagi? Sengaja bikin repot, sengaja bikin jengkel, sengaja semuanya deh. Menyebalkan! Aku harus bagaimana menghadapi laki - laki itu Ma? Mama?"
Hanifah menemukan kedutan geli di mata Azam atas teriakan Asha. Azam inplusif berdehem, meminta izin pada Hanifah lewat matanya untuk menemui Asha.
Well, jadilah ia menyusul perempuan yang sedang menyemburkan lahar, menghadapi kemarahan sendirian saja. Coba lihat, semarah apa Asha pada dirinya?
Azam menyenderkan tubuhnya di sisi pintu, amat menikmati pemandangan tubuh Asha dari belakang. Dengan rambut hitamnya yang terurai panjang, wanita itu nampak sangat indah memakai celemek beruang yang dulu dibelikan oleh Azam. Sibuk memotong strawberry dan kiwi kecil - kecil untuk di letakkan di atas kue ulang tahun.
Sadar seseorang memerhatikannya, Asha kembali berceloteh. Bergerak kesana - kemari mengambil bungkusan plastik.
"Setelah Mama memberikan semua foto - foto Arsen, terus Mama memberi tahu dia soal ulang tahunnya Arsen, bukan? Nah, sekarang lihat, dia malah mau menikah dengan orang lain!"
Gerutunya itu masih sekitar dirinya. Oh, Asha menggemaskan sekali.
Asha mengambil kue dari oven, aroma cokelat langsung menguar ke seluruh penjuru dapur. Wanita itu dengan hati - hati mengiris cokelat menggunakan cutter lalu menaburkannya di white cream. Sesekali memasukkannya ke dalam mulut, membuat Azam tergoda setengah mati.
"Aku tak akan memberi tahunya kalau sebenarnya ulang tahun Arsen itu besok!"
__ADS_1
Imajinasi Azam langsung berantakan mendengar kalimat itu, sebelah alisnya terangkat. Tidak suka.
"Kenapa tidak boleh tahu?"
"Ya karena__!"
Asha tercekat, suara dan tubuhnya. Seolah ada yang memutus geraknya, Asha tak bisa melakukan apa pun. Asha berbalik, wajah yang sedikit tertutup karena rambut acak - acakan itu memerah. Dugaannya salah besar, ternyata yang berdiri di sana bukan Hanifah.
"Abang? Kenapa di sini?"
Suara itu terdengar gentar.
Azam melipat kedua tangannya di dada, masih betah bertelekan tembok.
"Sebelum kamu mengajukan pertanyaan, nona. Jawab dulu pertanyaan yang pertama, itulah etika yang baik dalam menjalin komunikasi"
Merasa terjebak, Asha mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru mencari celah untuk melarikan diri. Tapi bodohnya, jelas - jelas pintu dapur cuma satu. Yang kini di pakai Azam untuk memantau keterpojokanya.
"Mamaku pasti bakal mengatakannya, jadi kenapa harus aku yang memberi tahu?"
Dasar wanita ini, dia benar - benar ingin menyembunyikan semua fakta tentang putranya.
"Karena kamu ibunya, dan aku berhak tahu hal sekecil apa pun. Sebagai Ayahnya"
Asha tak sekuat yang terlihat, ia ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka. Hati wanita tak akan sanggup untuk kembali pada masa lalu yang berusaha ia tinggalkan.
"Apa yang membuat Abang kemari? Dimana Mama?"
"Kamu takut jika kejadian Iqbal Dirgantara terjadi juga pada Mama Hanifah?"
Itu kesimpulan, bukan pertanyaan. Azam menghapus ekspresi ketika Asha memandang matanya.
"Apa yang Abang lakukan di sini?"
Wanita itu gusar dan panik.
"Melamarmu, memangnya mau apa lagi?"
Dapur menjadi hening, tak ada yang berbicara selama lebih dari semenit. Azam senang merasai ekspresi Asha yang berubah - ubah.
"Mengapa terkejut? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku mau melamar seorang wanita?"
Sedetik lalu Asha terpaku, kini berubah marah ketika menganggap Azam tengah bermain - main.
"Oh ya memang, aku tak pernah melupakan ucapan Abang yang satu itu kok, karena___"
"Karena kamu cemburu, Asha!"
Lelaki itu memotong tenang.
"Kamu cemburu, kamu marah. Itu sebabnya kamu tidak menyimak kalimatku dengan baik. Bahwa wanita yang aku maksud dalam ucapanku itu adalah kamu"
__ADS_1
Asha terdiam karena bisikan Azam yang mengejutkan.
Wanita itu melepas celemek cokelat yang begitu lucu. Sarung tangannya di buang ke tempat sampah, lantas mencuci tangannya di wastafel. Sengaja memunggungi Azam.
"Sudah lewat jam 8, aku mau istirahat. Sebaiknya Abang juga harus pulang"
Setelah mengeringkan tangan, Asha melangkah cepat menuju kaki tangga. Namun Azam tak tinggal diam, lelaki itu menahan kepergiannya.
"Asha Azzaliyah Zahrah, secara hukum kamu masih istriku. Juga dalam agama kita. Talaq yang aku jatuhkan kemarin tidak berlaku, kamu tahu alasannya?"
Satu, talaq jatuh saat Asha tengah hamil. Dua, talaq dalam keadaan terpakasa. Ulama' madzhab Syafi' i menyatakan tidak terjadi dan tidak sah talaq suami dalam menceraikan istrinya, terpaksa atau di paksa. Sama sekali bukan ingin Azam waktu itu.
Asha diam, menggenggam besi dalam jemari dengan getar. Segala yang di katakan Azam membuatnya patah arang. Wanita itu turun selangkah, pertahanannya runtuh detik itu juga.
Volum suaranya mengecil, kedoknya hari - hari lalu terbuang oleh rasa bersalah.
"Abang, aku melalaikan kepercayaanku padamu, aku telah dzalim terhadapmu, aku meninggalkan Abang selama bertahun - tahun tanpa kabar. Sementara Abang terpuruk dalam kebenaran, dimana aku? Aku perpikir buruk tentang Abang, aku menghakimimu, aku membuat Abang merasa terbuang, aku membuat Abang terasing, dan aku juga membuat Abang di hujat. Aku istri yang nusyuz"
Suaranya melemah, Asha akhirnya menemukan kebenaran setiap katanya untuk dirinya sendiri.
Ra Rabbi, betapa kejam ia. Dan kembali pada Azam membuatnya merasa tak berharga.
"Aku bukan wanita yang pantas untuk mendampingi Abang lagi, aku bukan istri dan ibu yang baik"
Air matanya menetes, merasa ia amat jahat.
Azam merasa sakit bukan main mendengar Asha mengatakan isi hatinya sedemikian rupa. Azam sadar jika ia mengambil peran keegoisan, tak tahu jika Asha juga sama terluka seperti dirinya.
"Aku tidak peduli, Asha. Masa - masa itu sudah lewat. Aku ingin kamu kembali, menjadi satu - satunya wanita yang mendampingiku. Kamu istri dan ibu yang baik, kamu sudah memperjuangkannya untuk hidup. Kamu mengantarkannya pada kesyahidan, mengantarkan pada salah satu pintu surga. Kamu seorang ibu yang terpilih"
"Aku___aku takut, aku ___ragu jika perasaan Abang tak sama seperti dulu. Aku takut___Abang...!"
Terisak Asha berbicara.
Diam - diam Azam mengulum senyum, jadi salah satu dari sekian kerumitan karena Asha takut kehilangannya? Manis sekali cara wanita ini menangis.
"Asha, cinta bukanlah bagaimana perasaan itu tumbuh, tapi tentang bagaimana perasaan itu utuh. Yang tak akan berkurang meski ujian banyak menerpanya. Yang kamu dan aku rasakan sekarang adalah utuh"
Asha mendongak, merasa Azam sangat tinggi.
"Dan apa menurut Abang ini cinta sejati?"
Azam merunduk sedikit, menyampirkan rambut Asha ke balik telinga. Lembut.
"Ketika kamu berdiri di hadapanku, memandangmu, dan lewat matamu berkata kamulah satu - satunya wanita yang akan aku jadikan seorang istri. Itulah cinta sejati, Asha. Begitu sederhana"
Asha mengerjap, bulu matanya yang lentik serasa hendak membelai kulit pipi Azam karena sebegitu dekat mereka.
"Aku mencintaimu"
Tunggu part - part romantis selanjutnya ya...
__ADS_1
Tetap dukung dengan tinggalkan Like dan Coment😙