
Bismillahirrahmaanirrahim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad
Arya berjalan bersisihan dengan Asha, menenteng map berisi program kerjanya di rumah sakit Shaloam. Tak pantang arah membujuk Asha agar mau bergabung dalam kepengurusan tetap dalam organisasinya.
"Aku harap kamu mau bergabung dengan kita Sha, Universitas Indonesia ikut berkontribusi di dalamnya. Kamu tahu, kami membutuhkan orang sepertimu. Kredibilitasmu tidak di ragukan lagi!"
Asha tertawa kecil, pujian itu terlalu berat di sandangnya.
"Kita akui semua orang mempunyai kapasitas masing - masing. Dr. Hanum, jangan pernah kamu lupakan. Ia bahkan jauh lebih unggul di bandingkan aku. Jabatan yang kamu tawarkan terlalu mulia untuk ku Ar!"
Arya mendengus kesal, sejak presentasi di dalam tadi Asha selalu punya alasan untuk menolaknya.
"Ok, aku tidak menyangkalnya.Tapi organisasi kita membutuhkan karakter seperti mu Sha...kamu dokter handal dan berwawasan luas!"
Asha akhirnya menyerah.
"Baiklah akan aku pertimbangkan, tapi kamu juga tahu kan kalau aku sudah menikah. Aku harus melapor 24 jam pada pimpinan baruku, keputusan ada padanya".
Sebuah kedipan khas di lemparkan padanya hingga ia menghilang dari balik ruang administrasi. Asha melanjutkan langkahnya.
Kehadiran Azam di Rumah sakit itu ternyata cukup menyedot perhatian, bagaimana tidak? Lelaki itu duduk sendirian, begitu angkuh hingga mencolok dari pengunjung yang duduk di belakangnya. Kegesitannya dalam mengoprasikan dua ponsel sekaligus tak ayal menjadi pusat perhatian khusus. Asha yang memandang dari kejauhan menahan tawa, mengingat begitu mengerikan wajah itu baginya dulu.
"Masa'ul Khoir, My Hubby...!"
Sapa Asha ceria.
Azam mengangkat wajahnya muram, Asha menilik lamat - lamat sambil duduk di sampingnya. Tidak terlalu khawatir, karena selama ini sudah terlanjur terbiasa dengan sedikit senyum irit namun tulus dari Khairul Azam.
"Kenapa wajah itu, hum? Apa ada masalah di kesatuan abang?"
Azam menaruh ke dalam saku salah satu ponselnya.
"Aku tidak suka kamu berjalan berdua dengan dia!"
Lelaki itu benar - benar tak bisa berbasa - basi.
"Arya kan temanku satu kuliah dulu"
"Yang juga menyukaimu!"
"Apa?"
Asha sudah mengenal lama Arya, tidak mungkin seperti yang di sangka Azam.
Azam mendecak kesal.
"Kamu tak akan pernah menyadarinya! Dalam sekali pandang semua orang pasti tahu, ia memandangmu seperti aku memandangmu waktu dulu!"
Azam tidak pernah ingin berbagi tawah renyah Asha dengan pria lain.
Asha menyipit.
__ADS_1
"Memang kamu dulu melihatku seperti apa?"
Azam berdiri, membenarkan letak jaketnya.
"Sudahlah, lupakan. Abaikan apa pun yang di tawarkan lelaki itu padamu!"
Asha memandang punggung suaminya dengan aneh bercampur geli. Azam seperti memiliki alat detektor kejujuran, alat pelacak, radar penyadap komunikasi otomatis. Toh kalau pun benar Arya menyukainya, Asha tak akan tertarik untuk berpaling hati. Hanya Azam dan cukup dia seorang.
Azam menunggu di depan pintu darurat, sikapnya sedikit melunak saat melihat Asha mengalami kesulitan saat membawa beberapa buku dan tas ranselnya. Tanpa kata, di rebutnya tas istrinya. Azam mencangkol tasnya yang beratnya minta ampun, pundak Asha yang kecil mungkin bisa patah. Heran, apa semua peralatan laboratoriumnya di angkut semua di dalamnya?
Tidak tahan sok cuek, Azam pun meraih jari jemari istrinya dan menyelipkan jari - jarinya diantaranya. Tangannya yang berkulit kasar mendadak menjadi hangat dan nyaman. Segala bagian dari diri Asha adalah tempat pulang paling menakjubkan.
Tak ayal kontak fisik mereka menjadi pusat perhatian orang - orang. Sebagian mengamati curiga dan sebagian lagi menatap penuh iri pada Asha. Siapa yang tak mau di kawal oleh pangeran ganteng berwajah Cool?
"Singkarkan segala fikiran negatif dalam kepalamu, sebab aku tak akan pernah menoleh ke belakang untuk membalas sautan siapapun. Sebab aku hidup di masa depan dan bahagia di dalamnya, hanya bersamamu!"
Siluet wanita berkerudung coklat bercermin di lensanya yang hitam dan cemerlang, Asha luluh dengan ucapan yang semanis
parasnya. Namun tak jua berkomentar. Barulah saat Asha masuk dan duduk di samping kemudinya Azam mencuri kilat satu kecupan di bibir ranum istrinya.
"Kalau ada yang melihat bagaiman?"
Asha melotot, ekspresinya lucu. Membuat Azam tak puas kalau hanya mencuri satu kecupan di bibir merah muda itu.
"Kamu takut di tuduh berbuat mesum dengan suamimu sendiri? Atau kamu tidak puas hanya dengan kecupan?"
Asha memukul bahu Azam, tak benar - benar berniat menyakiti.
"Kamu menyebalkan sekali! Bicaramu itu tidak bisa di kontrol!"
Suasa di Jeeb itu berubah mendadak ramai, Asha meraih ponsel Azam dan ingin segera mengunduh aplikasi Line untuk memudahkannya berkomunikasi.
"Ckk...aku tidak perlu aplikasi itu untuk mendapatkan informasi tentangmu. Mengetahui keberadaanmu adalah hal yang paling mudah aku lakukan!"
Azam pura - pura malas melirik istrinya.
"Ayolah...sekali - kali menjadi manusia normal kan tidak masalah? Kita bisa saling kirim Emoticon yang lucu - lucu. Aku juga ingin melakukan hal kecil romantis dengan mu my hubby?"
Asha merajuk, terpaksa Azam menyerahkan ponselnya.
Asha susah payah mencari aplikasi Playstore, karena ponsel itu penuh dengan aplikasi yang sama sekali tak ada yang di mengerti. Dan yang hebatnya, unduhan aplikasi Line itu hanya berlangsung beberapa detik. Bagaimana bisa sih Azam meciptakannya?
"Kamu lapar? kita bisa berhenti di tempat makan!"
Asha menggeleng, menyimpan ponsel Azam di atas dashboard. Tak menemukan hal yang menarik lagi, kotak pesan saja tidak ada.
"Tidak, langsung pulang saja. Aku ingin masak di rumah".
Azam melirik lewat ekor matanya, senyumnya ganjil di rautnya yang datar.
"Yah...kita lihat saja nanti!"
Asha mengerutkan kening saat Azam berbelok ke arah perempatan jalan. Tidak mengarah ke Apartement atau tempat kesatuannya.
"Kenapa Abang mengambil arah ini?"
__ADS_1
"Aku mau menculikmu!"
"Apa menculik?"
Seketika Asha di bekam ketegangan, tak mengerti maksud Azam dengan muka penuh keseriusan. Tak berani mengajukan pertanyaan, Asha memilih bungkam seribu bahasa selama mereka melewati jalan demi jalan yang kian sepi. Apa sih maksud suaminya ini? Azam pasti sedang bercanda kan?
Sampai mobil Jeep itu berhenti di sebuah kawasan perumahan Elite, di depan terdapat bagar besi yang bermotifkan bunga mawar. Ada pohon palem yang menghiasi halaman rumahnya. Asha melirik dua objek secara bergantian, rumah dan Azam.
Ketenangan mengalir ketika Azam mengulas senyum tipis.
"Our Home"
Bisik lelaki itu sambil menggenggam tangan istrinya, erat serta di bawanya punggung tangan Asha untuk di kecup. Gerbang otomatis terbuka ketika Azam membunyikan klakson mobilnya, Asha tak tahu bagaiman itu bisa terjadi.
Azam menuntunnya menuruni mobil.
"Aku harapa kamu menyukainya?"
Rumah itu indah sekali.
"Abang...in, ini rumah kita?
Suaminya mengangguk dan dia terpana, dadanya masih berdebar karena tipuan kecil yang sayangnya berhasil mengenai dirinya. Asha berdiri di samping Azam dengan limbung.
"Aku pikir Abang sudah mempunyai Apartement dan....?"
Azam mencium kepala Asha.
"Aku tidak memerlukan Apartement Sha, yang aku butuhkan adalah rumah. Sebuah tempat berlindung saat aku pulang dikala lelah. Dimana sebuah rumah yang kamu ada di dalamnya menyambutku dengan hangat".
Asha memeluk suaminya.
"Abang membuatku hampir terkena serangan jantung tau! Lelucon tentang penculikan itu sama sekali tidak lucu!"
Azam tertawa, entah mengapa itu terdengar sangat maskulin bagi Asha.
"Kamu selalu panik, dan aku senang melihat wajahmu yang berubah - ubah!"
"Tidak lucu, tapi Abang berhasil membuatku menangis bahagia. Bagaimana ini?"
"Mudah saja, kamu hanya perlu menjadikan aku orang pertama yang menyekanya"
"Hanya itu?"
"Hummm"
"Kalau begitu aku akan menangis setiap hari"
"Asal kamu bahagia"
"Berarti Abang harus selalu memberiku kejutan"
"Anything"
Asha mencium rahang Azam sebelum mematung sempurna di ruang tengah yang luas yang di beri cat warna putih itu.
__ADS_1
Terima kasih sudah menunggu setiap episode ku...Like dan Krisan sangat aku butuhkan😙