
*B**ismillahirrahmaanirrahiim*
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Kediaman Iqbal Dirgantara masih sama, hanya saja kini terlihat lebih asri karena rindangnya pepohonan. Banyak tanaman mawar tumbuh terawat di pekarangan rumahnya, begitu rapi dan sempurna. Azam membayangkan tangan Asha di balik keindahan itu.
Lelaki itu tersenyum tipis atas pemikirannya yang kolokannya, lalu ia memarkirkan mobilnya di perkarangan rumah setelah seorang satpam mengizinkannya melewati gerbang. Dulu tak pernah ada penjaga. Sejak 3 tahun lalu nampaknya Azam tak tahu apa - apa tentang rumah ini, selain rumah kosong. Tapi sekarang mungkin sudah ada Asha di dalam bangunan sana.
Azam turun dari mobil, berjalan pelan - pelan saja ke depan pintu. Lalu memencet bel beberapa kali. Tak lama muncul seseorang membuka pintu. Langsung berhadapan dengan sosok ibu mertuanya. Setidaknya, dulu begitu. Wanita itu terkejut untuk beberapa saat tetapi kemudian tersenyum lembut, menganggguk.
"Assalamualaikum"
Hanifah mengelus rambut ketika Azam mengambil tangannya untuk memberi salam hormat.
"Wa'alaikum salam warahmatullah, sendiri saja nak?"
Azam heran dengan sikap Hanifah yang menyambutnya dengan baik.
"Mari masuk"
Azam mengikuti langkah wanita itu menuju ruang tamu, masih sama saat terakhir kali jenazah Iqbal Dirgantara berbaring di sana. Kemudian Hanifah menawarkan beberapa minuman, namun Azam menolaknya.
"Kenapa kamu sungkan Azam? Sebentar, Mama buatkan teh hangat dulu"
Azam termenung, mengira Hanifah akan memarahinya dan meledakkan emosinya. Tetapi nyatanya tidak begitu, Hanifah tetap santun. Namun Azam tahu ada sesuatu yang di sembunyikan wanita itu.
Mama, bahkan Hanifah masih sudi menggunakan panggilan itu untuknya.
Hanifah muncul dengan membawa baki berisi dua cangkir minum, tersenyum ketika mendapati Azam menatapnya penuh tanya.
"Jika kakaknya tidak bisa memberi apa pun sebagai jawaban, maka sebaiknya kamu bisa bertanya apa pun pada ibunya. Yang tentu akan jauh lebih jujur dari siapa pun, jauh lebih terbuka bagaimana hidup dan perasan putrinya"
Azam heran, apakah tujuannya datang kesini tergambar jelas? Dan bagaimana Hanifah tahu pertemuannya dengan Arkha Dirgantara?
"Oh_ya itu, aku memang menemuinya"
Hanifah mengamati wajah Azam dengan seksama, lelaki itu nampak sangat lelah.
"Kamu pasti capek nyetir semalaman suntuk, Jakarta - Madiun jarak yang cukup jauh"
Lantas ia menghela napas prihatin.
"Katakan, apa yang membuatmu menyiksa diri seperti ini?"
__ADS_1
Azam suka pilihan diksi Hanifah, menyiksa diri sendiri. Sangat pas, Hanifah ternyata tahu kalau putrinya suka menyiksanya.
"Aku ingin tahu apa yang terjadi sejak dia menghilang?"
Setelah terdiam beberapa lama, Hanifah mulai bercerita tentang kisahnya.
"Karena Mama sakit keras waktu itu, kami sekeluarga tanpa Arkah memutuskan pergi ke Belanda untuk menjalani pengobatan. Kebetulan Fahmi mempunyai kenalan Dokter bedah dan spikiater yang bagus"
"Kematiannya pastilah memberi dampak yang besar bagi anggota keluarga, aku paham jika kalian ingin melupakan peristiwa itu. Aku pun demikian"
"Ya, kematiannya mengganggu ku, menganggu anak - anakku. Dan fakta kamu lah yang menjadi tertuduh atas pembunuhan itu, membuat kami tak bisa berpikir jernih"
Azam membenarkan dalam diamnya, bukti yang kuat tak bisa di sangkal dan di bantah oleh siapa pun.
"Sampai akhirnya kami mengetahui kamu tidak bersalah, bahwa kamu bersih. Tak ada yang salah jika Dirga menaruh kepercayaan padamu, harusnya Mama pun juga begitu"
Kata Hanifah penuh sesal.
"Asha tahu kamu pergi setelah menyandang status tahanan lepas. Menghilang, dan hal itu membuatnya kian terpukul. Dia merasa bahwa dialah yang menyebabkan kamu pergi menghilang, dia merasa dirinyalah yang menyebabkan kamu mendapat hujatan dari banyak orang. Rasa bersalahnya itu lebih besar di banding keberaniannya memaafkan diri sendiri"
Gadis nakal, bagaimana dia bisa berpikir seperti itu? Ya Allah.
"Hingga kemudian Arkha memintanya pulang 2 bulan yang lalu untuk mengurus makam Dirga, Mama memutuskan ikut karena Mama belum mendapat maaf darimu juga".
Azam menggeleng tegas.
Hanifah merunduk dengan senyuman, sadar akan keluasan Azam.
"Asha mecari keberadaanmu, dia menemukan salah satu temanmu yang memberikan informasi kalau kalian berada di kota yang sama. Dan temanmu mengatakan kalau kamu sering berdiskusi dengan prof. Yasin di salah satu forum Ormas terkemuka"
Hamzah, nama yang langsung terlintas di pikirannya. Lantas kenapa kamu bersikap seperti itu Asha? Menghindarinya, mengapa?
"Dan sejak saat itu Asha memutuskan untuk tak lagi berhubungan dengamu"
Tercengang, Azam frustasi.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan__?"
"Sebab dia tahu kamu akan mengkhitbah perempuan lain"
Hanifah menyambar ucapan Azam.
Ya rabb! Azam memejamkan matanya, jadi soal Khitbah itu? Demi Allah ia tak pernah menerima ta'aruf yang di tawarkan prof. Yasin, tak pernah setuju, tak pernah tertarik! Lagi pula dari mana Asha mengetahui tentang Khitbah itu? Bagaimana ia menarik kesimpulan dengan cepat?
Azam mengurut pelipisnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berniat melamar siapa pun. Dan dia sepenuhnya masihlah istriku, meski pernikahan ini tak sempurna lagi"
"Mama tahu dan mengerti, tetapi kamu juga harus memahami mengapa Asha berpikir demikian. Kalian telah berpisah selama beberapa tahun, Asha mengira kamu sudah menemukan pendamping baru"
Omong kosong! Tak ada satupun wanita yang bisa menggantikan dirinya. Azam hanya milik Asha Azzaliyah Az-zahra seorang.
"Aku ingin bertemu dengannya, Ma?"
"Asha tidak tinggal bersama Mama, dia tinggal bersama aktivis dakwah di sebuah asrama putri. Setahun yang lalu ia merintis usaha percetakan buku, dan sekarang ia menanganinya sendiri. Mama akan memberikan alamatnya, tempat tinggal serta kantornya"
Azam mengangguk, meski kecewa karena wanita idamannya tak tinggal bersama dengan Hanifa. Di kepalanya banyak tersusun rencana bagaimana bisa bertemu Asha tanpa harus melihat Asha berlari pergi lagi.
"Minumlah Azam, kamu butuh rileks"
Azam meraih cangkir tehnya yang hampir dingin. Selagi Azam menikmati teh, Hanifah menatap lekat wajah lelaki itu. Kedua mata senjanya spontan berpendar redup, terkadang kenyataan sepahit empedu.
"Apa kamu tahu tentang Arsenio?"
Shit! Siapa lagi dia? Azam menggeleng dengan kaku.
Hanifah memejamkan mata.
"Dia putramu, Azam"
Cangkir keramik itu jatuh ke lantai berantakan. Kalimat Hanifah seperti mengantarkan beribu - ribu volt listrik siap mengantarnya menuju kematian. Sepenggal nama itu putranya, apakah saat ini semesta sedang mempermainkannya? Mengapa dunia tak henti - hentinya memberikan kejutan untuknya?
"Apa__bagaimana__?"
Azam tergagap.
Hanifah berdiri dan mengambil sesuatu dalam laci ruang tamunya.
"Bukalah, biar kamu paham"
Bergetar Azam menerima amplop itu, membuka ikatan tali kecil lalu di suguhi lembaran - lembaran foto USG. Meneliti satu - satu gumpalan kecil di tengah lingkaran.
Mula - mula titik badan dan kepalanya lantas kedua tangan dan kaki di lengkapi jari mungil. Kemudian melihat sosok itu dalam inkubator, begitu kecil dan merah. Di tubuhnya terdapat selang - selang dan di dadanya terdapat alat pendeteksi jantung. Azam lupa caranya bernapas, bagaimana bayi yang tak pernah di ketahuinya itu, tak pernah di sentuhnya meski seujung kuku adalah putranya. Darah dagingnya.
Tangannya masih bergetar, sudah sebesar apa dia dan hal pertama apa yang dia lakukan? Apakah Arsen nya sudah merangkak?
Mata Hanifah berkaca - kaca, mengapus air mata yang turun dari kelopak matanya sendiri.
"Arsen prematur, Azam. Sangat lemah, dia meninggal dalam inkubator setelah satu minggu di lahirkan".
Guyuran es itu menyiram kepala Azam, menembus otak Azam hingga beku.
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya...
Beri hadiah Vote agar author bisa Up 2x hari ini😙