
Bismillah Hirrahmaa Nirrahiim...
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Aalihi Sayyidina Muhammad
"Yakin mau ngajar disana...?"
Hanifa ikut mengemasi barang - barang Asha ke dalam koper lecilnya. Asha tersenyum kecil sambil merapikan Alqur'an beserta kitab tajwidnya yang ia taruh di bagian paling atas diatara tiga buku bacaan lainnya. Surat undangan sebagai relawan pengajar di pondok pesantren Askhabul Kahfi yang sudah ia tanda tangani juga turut serta ia masukkan ke bagian kantong resleting yang paling kecil. Asha tak perlu berpikir ulang untuk menyetujui kegiatan ini, ia berpikir kegiatan ini pasti sangat membantunya untuk mengembalikan semangat hidupnya. Setelah kurang lebih satu semester ia 'dikurung' oleh Iqbal Dirgantara tentu ia membutuhkan sebuah angin segar.
"Iya Ma...aku ingin hidup sesuai fitrah Habluminallah Wa Hablumminannaas sesuai agama kita. Tidak hanya menjalin hubungan baik dengan Allah namun juga harus menjalin dengan para umat lainnya. Apa lagi kalau kita bisa memberi manfaat yang baik, Fastabikhulkhoirot..."
Asha memilih - milih kerudung motif kesukaannya sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Libur semester kali ini aku ingin mengisinya dengan hal - hal yang berguna kan Ma?"
"Subhanallah...sebaik - baik orang yang berilmu ialah mengamalkan ilmu itu dengan jalan yang benar. Mama tidak boleh menghalangi niat baikmu sayang..."
Hanifa mencium kening putrinya dengan haru.
"Allah, putri ku kini semakin dewasa..."
Asha tersenyum manis mendengar pujian Hanifa.
"Siapa dulu dong Mamanya...?!"
Gadisnya itu terlihat sangat manis dan lucu, hingga Hanifa sudah tidak bisa menahan lagi untuk segera mencubit hidung mancungnya.
Mereka terlibat obrolan ringan khas wanita remaja. Hanifa masih terlihat masih sangat awet muda saat bercanda dengan Asha, meski usianya kini sudah memasuki angka 47 tahun.
"Sudah selesai beres - beresnya?"
Iqbal Dirgantara berdiri diambang pintu dengan menyilangkan kedua tangannya tepat di dadanya. Pakaian dinas lapangannya sangat cocok dipakai tubuhnya yang tinggi hingga mencapai pintu, masih gagah seperti Rambo. Arka muncul dari balik punggung Dirga beberapa saat kemudian.
"Ayo dong, packing baju saja lama sekali. Ah, dasar cewek...!"
Itu lah Arka, jika sedang di rumah ia tak akan mau tau urusan adiknya lagi.Berkali - kali ia melirik jam tangan keren yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Sabar dong Aa'...ini juga sedang di kerjakan...!"
Asha sebal sekali, beralih menatap Dirga yang sedang memperhatikan Hanifa dalam - dalam.
"Lebih baik Papa bantu Aa' packing barang - barangnya saja. Kalu sudah, Papa bisa check kembali kopernya. Siapa tahu ada majalah dewasa yang Aa' sembunyikan...!!"
"Whattt...?"
Arkha Shock bukan main.
...****************...
Azam tidak tau jika keputusannya benar atau salah. Kembali ke pondok pesantren Abi adalah langkah yang benar maka lapangkanlah hatinya.
Hilangkan rasa gelisah dan perasaan tak pantas. Semoga dosa yang di bawa Azam selama bertahun - tahun akan terhapus dalam kedamaian Askhabul Kahfi.
Kalaupun pilihannya salah, maka ia akan tinggal barang sehari atau dua hari saja. Sekerdar memenuhi keinginanya atas kerinduannya yang datang tiba - tiba untuk memohon ampu pada Abi dan Uminya. Entahlah, mungkin gabungan dari dua perasaan itulah Azam di tarik kembali ke tempat ini.
Azam memarkirkan mobilnya di halaman luas pondok pesantren. Gerbang menjulang tinggi dan di lengakapi dua buah lampu bohlam yang menyala terang. Azam turun dari mobilnya dengan memanggul tas ranselnya. Tumben sekali sudah jam 9 gerbang ini belum di tutup. Secara keseluruhan Askhabul Kahfi masih tetap seperti dulu, dihiasi petak - petak kolam ikan gurame dan kebun sayur. Hanya tempat belajar para santri yang kini bangunannya tampak sedikit modern. Ternyata pondok pesantren asuhan Abinya mengalami banyak perubahan.
Allah, sudah berapa lama Azam tidak menginjakkan kakinya ke rumah ini?
Suara yang begitu familiar mengalun indah pada pendengarannya. Tengah melantunkan surat Al-Mulk dari arah tempat para santri bermuroja'ah, suara itu meliuk dengan irama yang begitu luar biasa. Tanpa sadar Azam mengikuti ayat demi ayat.
"Abi..."
Suaranya lirih, memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat dengan daun pintu.
"Assalamu'alaium...!"
Azam mengetuk pintu dari kayu jati setelah memandang puas wajah damai Abinya dalam masa tuanya dari arah samping. Seberapa lama Azam sudah tak pernah mengucapkan salam? Sebuah gerakan nasional kontemporer dalam kesatuannya jelas tak pernah membiasakan hal itu. Azam seperti asing pada agamanya sendiri.
"Wa'alaikum salam..."
Serempak Abi dan para santrinya menengadah untuk menjawab salam Azam.
Abdurrahman Lathif melepas kaca mata bacanya, meninggalkan para santri yang masih mengkaji makna Al-Qur'an untuk memeluk erat Azam. Santri di sana terkejut sekaligus gembira dengan kedatangan Gus Azam. Mereka kembali ke pesantren dan menutup Al-Qur'annya masing - masing untuk memberi sambutan bagi kakak kelasnya terdahulu.
__ADS_1
"Allahu Akbar...Berapa lama aku tidak melihatmu kasep...? Akhirnya kamu pulang ke rumah ini...!"
Kiyai Lathif hampir meneteskan air matanya. Surat, pesan singkat tak pernah sekalipun Azam menggubrisnya. Tau - tau sekarang putranya datang dengan keadaan sehat.
Azam mencium tangan Abi sebagai awal penghormatannya. Berulang kali Kiyai Lathif mengucapkan sukur dan mengusap - usap wajah Azam takut kalau - kalau itu hanya fatamorgana semata.
"Allah...begitu gembiranya aku melihat kedatanganmu kembali Khoirul Azam. Kamu tak akan tau betapa aku dan Umi mu sangat merindukannmu..."
"Kalau begitu, antar aku bertemu Umi..."
...****************...
Asha mengulas senyum kala kakinya sudah mencapai pintu gerbang yang telah terbuka. Tugu besar bertuliskan "Askhabul Kahfi" seolah menyambutnya dengan penuh kedamaian sendu. Gadis itu menyipit, penerangan yang lemah mengarahkan penglihatannya pada sosok gadis berkerudung.
"Assalamualaikum..."
Kata Asha sambil mengurai langkahnya.
"Mbak Asha..."
Pekik gadis itu sambil berlari kecil menuju arah Asha.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah..."
Asha merasakan pelukan hangat gadis itu menenangkan.
"Kiyai sepuh mengutus Alifah untuk menunggu mbak Asha disini. Mbak Asha terlambat 3 jam dari jadwal yang sudah di prediksikan..."
Asha tersenyum memohon maaf.
"Mbak terjebak macet di jalan. Keluarga mbak tidak bisa mengantar sampai sini karena kebetulan ada urusan mendadak. Perjalan ke sini dengan naik ojek, jadi maaf sudah membuat Alifah menunggu mbak...?"
Gadis itu menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak apa - apa mbak, Alifah juga baru 10 menit yang lalu ada disini. Mari mbak, keluarga kiyai pasti sedang menunggu mbak Asha..."
Mereka berjalan melewati ruang belajar para santri,kebun sayur kecil dan kolam ikan gurame. Juga Mushalla At- Tauhid yang ramai suara santri mengaji.
__ADS_1
Asha tidak salah menerima tawaran ini. Tempat yang penuh kedamaian untuk mengusir segala prasangka buruk yang sedang ia alami.
Kira - kira apa yang terjadi pada Pondok pesantren suluh asmara itu...like...like...like...