
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Azam memakai setelan jas abu - abu dengan dasi melengkapinya, memegang 2 buah iPhone dan duduk di singgahsananya. Tak bermaksud jumawa, namun gesture nya berkuasa. Kehadirannya menjadi pusat perhatian, banyak mahasiswi menunjuk sosok yang berada di samping pak Dekan lll itu.
Sementara ruangan yang di gunakan seminar itu telah di penuhi mahasiswi, hampir tak di temukannya kursi kosong. Alif dari balik ruangan panitia mengacungkan jempol pada Azam, pemuda iti memakai earphone untuk mengontrol jalannya acara itu. Azam juga memakai earcret di telinga kananya mendengarkan Alif menyeru.
"15 menit lagi naik panggung mas, kasih sambutan. Siap - siap jangan sampai dasinya miring, nanti ndak ada mahasiswi yang melirik".
Azam tersenyum saat Alif mengakhirinya dengan tawa. Satu - satunya kesamaan Alif dan Hamzah "Abangnya" adalah keseringan meledek Azam.
Azam naik ke panggung, di sambut antusias oleh para peserta seminar. Dia berdiri di balik podium menggunakan kaca mata modern hingga membuatnya tak nampak seperti Dosen. Azam bak pengusaha kaya dengan lekukan jas di pinggangnya yang ramping, begitu muda dengan Fashion berkelas. Tepukan riuh sesekali menyela Azam ketika ia berbicara. Ia menyampaikan pandangannya dengan lugas soal cara berpakaian wanita muslim masa kini dan membandingkannya dengan zaman Rasulallah dulu.
"Tetapi jika memang demikian, saya rasa ada yang lebih berhak menyampaikannya secara lebih detail lewat motivator yang telah di undang oleh pihak panitia. Saya dan pak Dekan dari fakultas Ushuluddin hanya sebagian kecil dari acara ini, penanggung jawab tak resmi__ Seperti yang Alif katakan pada saya. Maka tak ada kata yang lebih pantas saya ucapkan selain terima kasih atas segala perhatian anda sekalian. Enjoy the time and__ Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh..."
Ruangan bergemuruh ketika peserta menjawab salamnya. Azam menuruni undakan tangga dengan elegan.
"Perfecto mas, sampai tidak ada mahasiswi yang berkedip. Sumpah deh!"
Alif mulai mengoceh.
Azam menekan earcret nya, berbisik pada pemuda itu sembari duduk di tempatnya kembali.
__ADS_1
"Sudah, lebih baik kamu urus ruangan di belakangmu itu dari pada terus merecokiku. Berisik sekali ketika aku menyampaikan pidato!"
Alif tertawa mendengar keluhan Azam.
"Sayang sekali sih lakbannya habis buat menempelkan pot di atas panggung, jadi tidak ada yang buat nutup ocehan Shita. Terlalu bersemangat dan kagum melihat Dosen kesayangannya berorasi"
Seminar itu baru di mulai saat tamu undangan telah selesai menyampaikan pidato sambutan mereka, juga setelah pembacaan tilawah. Shita naik panggung selaku pembawa acara, dan mengedipkan matanya pada Azam yang tak berekspresi itu. Bilang kalau gayanya bagus dan sangat tidak perlu di katakan. Azam dengan sengaja melewatkan bagian itu, ngobrol bersama pak Dekan lll terkait akreditasi setiap prodi di fakultas Ushuluddin. Sesekali mengecek ulang akun Gmailnya barangkali balasan dari Prof. Yasin sudah masuk soal jadwal ulang diskusi mereka.
Pak Dekan lll menepuk lengan Azam.
"Kami tak salah merekrut, meski kamu datang dengan menenteng gelar dari barat sana. Tapi keyakinanmu tetap kukuh, kamu nyatanya memiliki kualitas mempelajari agama kita dengan baik"
Azam mengucapkan hamdalah dan sukur kepada pak Dekan atas sanjungan yang belum pantas di terimanya itu.
Pak Dekan mengangguk.
Pak Dekan menyikut Azam, kembali menfokuskan perhatian ke panggung.
Azam sebaliknya, menatap wajah itu dari samping. Tersenyum atas maksud terselubungnya, tawaran menarik. Azam akan mempertimbangkan lain waktu.
Seminar baru di mulai ketika Shita mempersilahkan motivator mereka naik ke atas panggung. Sementara Azam sibuk membalas massanger dari Prof. Yasin, beliau memintanya untuk bertemu di forum diskusi Hizbut Tahrir Indonesia pada sore nanti pukul 16.20 WIB. Notifikasi lain masuk dari akun Alif Hasbullah.
Mas lihat ke panggung dong... Masa secantik itu di anggurin?
Azam mendecak, di hapusnya pesan itu dalam sekali pandang. Alif bisa jauh lebih nyentil dari kakaknya yang memang sudah slenge'an.
__ADS_1
Lalu dengan malas - malasam ia mengangkat wajah dari layar ponsel, dan dalam sekejap hampir menjatuhkan benda itu. Hampir menjatuhkannya karena jari - jarinya mendadak licin. Ponsel itu akhirnya tergelincir dan berujung mengenaskan di lantai.
Asha.
Wanita itu bergerak luwes. Gamis hitam panjangnya menyapu lantai yang di lapisi karpet, berdesir ketika kakinya melangkah ke kiri dan kanan. Tersenyum manis ke seluruh wajah peserta, suaranya yang riang dan lembut menyapa mengisi udara. Berdengung - dengung di telinga karena michrophonenya di ganti Alif.
Azam hampir merasa beberapa detik detak jantungnya benar - benar berhenti kala pandangan mereka beradu. Sesaat di lihatnya sosok itu terdiam, ke emasan sendu di kedua maniknya menguar. Sepasang liquor paling mahal. Seperti batu ratna cempaka berkilau.
Nyatanya dopamin, adrenalin, serotonim, esteogen, dan testosteron itu meledak dalam jantung. Memacu lebih cepat, membuatnya frustasi ingin menarik dan memeluknya. Serta memarahinya, tentang teganya Asha membiarkannya membusuk dalam rindu.
Tetapi wanita itu menghindar, menghindari kontak mata, menghindari berbicara di depannya, selalu condong ke kanan. Gesture Asha mudah di tebak, dan sikap tak acuhnya membuat Azam marah. Kemarahan yang terpendam karena sia - sia sebab Azam takkan pernah tahu kemana emosi itu akan berujung.
"Banyak sekali subhat yang di lontarkan kita sesama muslimah, diantara subhat yang ngetrend yang sering kita dengar adalah:
Buat apa sih berhijab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih kotor, masih suka berbuat ghibah, maksiat, masih suka sama gebetan dan yang lainnya. Percuma dong pakai jilbab? yang penting kan hati?
Mereka berpendapat jika yang wajib di utamakan adalah hati, menghijabi hati. Kalau hati kita baik maka baik pula keislamannya walau kita tidak berkerudung. Hmmm... benarkah seperti itu ukhti?"
Asha melontarkan pertanyaanya pada semua peserta seminar, Asha tersenyum.
"Saudara saudariku yang di rahmati Allah, siapa pun yang berpendapat demikian maka wajib baginya untuk memohon ampun pada Allah. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan, maka rusaklah agama. Jika sejengkal saja kita keluar tanpa penutup kepala, maka siksaan bagi sang ayah atas dosanya. Tidakkah kita sayang mereka?Maka bantulah ia, orang - orang mulia yang membesarkan kita. Dengan mematuhi apa yang telah di tetapkan oleh Allah"
Khimarnya yang menjuntai panjang seperti gelombang ombak di lautan sepi, bersatu dengan angin dan menimbulkan keselarasan. Asha indah, selalu mempesona.
Azam ingin membuktikan bahwa sosok itu bukanlah layar hologram yang di proyeksi oleh panitia acara. Azam ingin membuktikan bahwa Asha benar - benar kembali.
__ADS_1
Beneran Asha ga sih?
Aku up 2x untuk menyempurnakan cerita ini...😙