
Bismimllahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii sayyidina Muhammad
Azam memarkirkan mobilnya di halaman rumah Prof. Yasin. Di depan pintu, berdiri sosok bijaksana yang menyambut kedatangan Azam. Bersama seorang laki - laki memakai busana batik khas Pekalongan. Azam melempar salam sambil menaiki undakan dengan gaya yang elegan. Setelah berasa - basi soal kendala Azam di jalan raya, profesor yang di hormati itu mengenalkan Azam pada ayah Yasmi, Mansyur Aswajdi yang bekerja sebagai mekanikal pesawat di Abu Dhabi.
Lelaki paruh baya itu menjabat tangannya dengan mantap, bahkan tak canggung lagi merangkul pundak Azam sepanjang mereka melangkah ke ruang makan. Banyak bertanya soal ketertarikan Azam pada pesawat terbang.
"Aku tidak pandai mengoprasikan, hanya iseng mengoleksi miniaturnya saja"
Entah Azam sedang merendah atau berbohong, keduanya tak jadi penghambat sebab jawaban Mansyur lain lagi.
"Tidak masalah Azam, yang penting kamu tetap jadi menantu yang ideal"
Sambil tertawa, laki - laki itu menjawab. Tak memerhatikan wajah Azam yang tiba - tiba menjadi stress.
Alamak, belum apa - apa sudah under pressure. Azam mencoba tersenyum sebagai tanda kesopanan, namun yang timbul malah senyum getir.
Istri Prof. Yasin nampak di ruang makan tengah menata buah ke dalam piring dan wadah besar.
"Wah, tamu spesial kita sudah datang rupanya? Mari masuk nak Azam, makan malamnya sudah siap"
Koar Khadijah, melambai pada para lelaki agar menempati tempatnya masing - masing.
Azam mengangguk dan tersenyum singkat, pun kepada Yasmin yang meletakkan mangkuk sup terakhir.
Gadis itu memakai gamis warna merah muda, Phasminanya berwarna nude di tata sedemikian cantik rupa di atas kepala. Manis juga, simpul Azam. Tapi tak ada ketertarikan yang tersita.
Prof. Yasin duduk di kursi tuan rumah, menepuk punggung Azam.
"Yasmin yang memasak semua ini, masakan spesial untuk mas Azam yang seharian sudah sibuk mengajar. Katanya"
Semua tertawa, padahal kalimat itu jelas - jelas salah. Yang benar adalah seharian mengejar - ngejar seorang wanita.
Prof. Yasin kembali bersuara.
"Nah, bagaimana menurutmu? Apakah keahlian keponakanku ini bisa membuatnya lolos dari kualifikasi?"
Azam mengerang dalam hati, tanpa banyak kata ikut menyodorkan nasi ke atas piringnya. Memilih menu sedikit mungkin agar dia bisa cepat pulang. Tak ada yang banyak bicara kecuali Prof. Yasin yang terus memuji bahwa masakan Yasmin sangat lezat.
Mansyur menyentuh kebisuan Azam.
"Kamu tahu nak, bahwa sejak ia berkuliah di tempatmu mengajar ia sudah menunjukkan ketertarikannya padamu"
sepenggal kalimat itu tak mengejutkan Azam, sebab ia melihat jelas bagaimana perasaan gadis itu padanya.
"Sejujurnya aku tak pernah mendengar apa pun dari Yasmin, tapi kak Yasin bicara banyak soal kamu, soal kedekatan Yasmin denganmu, soal hubungan kalian"
__ADS_1
Azam menunjukkan betapa tidak sukanya pilihan diksi tersebut. Hubungan dalam lingkaran apa? Hubungan sesama muslim atau hubungan sesama makhluk sosial?
Azam berdehem, meletakkan garpunya.
"Maaf, tapi aku melihat ada kesalah pahaman disini"
Tidak hanya Azam, prof. Yasin beserta istrinya dan juga Mansyur turut meletakkan peralatan makannya. Yasmin? Gadis itu sibuk dengan pemikiranya. Azam yakin Yasmin mengerti maksudnya, penolakan. Yasmin tahu sejak awal Azam menolak penawaran pamannya.
Mansyur menaikkan alis.
"Kesalah pahaman? Apa yang kiranya aku salah pahami dari cerita kakakku?"
"Tentang hubunganku dan Yasmin. Bahwa tidak ada yang lebih dalam hubungan kami, kami hanya sekedar teman"
Kekecewaan tergambar jelas di mata Prof. Yasin.
"Bukankah kamu bilang Yasmin gadis yang baik? Kurang apa ia bagimu, Khairul Azam? Dia berasal dari keluarga terhormat, pendidikan tinggi, cantik, bagus agamanya!"
"Sebab aku memiliki seorang istri, anda tahu itu Profesor"
Sahut Azam.
"Tunggu dulu kak, apa maksud semua ini? Kamu bilang ia akan melamar putriku malam ini? Kamu memintaku pulang hanya untuk mendengar omong kosong ini!"
Prof. Yasin tak menggubrik protes adiknya, masih sibuk bersitatap dengan manik Azam.
Tak ada emosi, Azam tetap tenang.
"Aku bersyukur keponakanmu menyimpan perasaan padaku, sebab itu artinya aku tak seburuk seperti yang aku pikirkan. Tapi sayang kalau aku mengecewakanmu, Profesor. Karena seseorang yang telah ku ikat dengan ijab qobul tak akan aku lepas lagi. Selamanya menjadi tanggung jawabku"
Prof. Yasin mencak - mencak.
"Kamu begitu naif Azam, kamu tak mau mengakui bahwa kamu telah di campakkan olehnya!"
Senyum kaku muncul di bibir Azam, ironi atas diksi Prof. Yasin. Dicampakkan.
"Maka aku lebih tak mau membohongi diri dengan melanjutkan apa yang anda mulai. Maaf, tetapi sejak awal aku yakin Profesor tahu apa yang aku lakukan"
Azam berdiri menghadap Mansyur.
"Terima kasih paman atas jamuan makan malam yang lezat ini. Assalamualaikum"
"Mas...Mas Azam...!"
Demi menghentikan suara mengibah itu, Azam berhenti.
"Mas, tidak bisakah kesempatan itu untukku?"
"Aku Lelaki beristri!"
__ADS_1
"Kamu bisa menikahi satu, dua, tiga atau empat wanita___"
Azam mengerang.
"Kamu salah orang, jangan sodori aku dengan ayat poligami. Satu saja kelak aku di minta pertanggung jawabannya. Apa lagi selebihnya?"
Aneh, mendengar pernyataan cinta dari lisan wanita lain, sementara wanita yang merindukannya malah sibuk menyangkal mati - matian kehadirannya.
Azam menyapu alroji, lalu memandang manik Yasmin yang kini mengeluarkan buliran air mata. Oh, memang tidak enak melihat wanita menangis, apalagi kamulah penyebabnya.
"Kamu gadis yang baik, namun aku bukanlah jodohmu. Aku tidak di takdirkan melampaui apa yang mampu aku lakukan. Sebab Allah maha tahu bahwasanya aku tak akan bisa berbuat adil. Maka Dia menggariskan padaku cuma satu, begitu pun dirimu. Carilah Yasmin, suatu saat kamu pasti menemukan".
"Assalamualaikum..."
...****************...
Ruangan Akbar Simanjuntak adalah salah satu ruangan istimewa dalam rumah mewah mereka. Ketika Azam menarik pintu, otomatis wajah ayah tirinya terangkat dari kesibukannya membaca surat kabar. Malam - malam begini? yang benar saja.
"Hai son"
Sapanya, namun Azam sedang tak ingin berbasa - basi.
Lelaki itu langsung duduk di kursi seberang Sam, melipat kedua tangannya di dada. Gayanya angkuh bukan main, sudah lama Sam tak melihat ciri khas itu.
"Pasti kamu punya urusan yang mendesak jika menyempatkan diri mengunjungiku"
Azam diam mendengar analisis Sam terlebih dahulu.
"Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk menghilangkan kerutan di keningmu itu?"
Azam mendengus, mencoba rileks dengan menempatkan kepala pada sandarkan kursi yang berputar ke segala arah.
"Tidak banyak, aku hanya ingin Ayah bersamaku dan ibuku ke sebuah rumah"
Sam meletakkan cangkir dan surat kabar. Lihat setelah menikah dengan ibunya, gaya hidup Sam berubah. Tak ada wine yang menemani kesendirian lelaki itu. Dan kebersihan itu akan jadi bahan olok - olokan Azam kalau sedang Mood dengan ayah tirinya. Yeah, ayah tirinya. Di luar ekspektasi Azam.
Sam men sleep laptopnya dan menatap serius Azam begitu dalam. Kiranya menebak - nebak arah pembicaraannya.
"And then?"
"Aku ingin melamar seorang wanita"
Ayah tirinya ikut menyenderkan kepalanya ke kursi, persis gaya Azam. Sembari menarik napas.
"Baiklah son, kamu memang penuh kejutan"
Terima kasih banyak yang sudah mengirim hadiah Vote untuk cerita ini
Terus tebarkan like dan coment😙
__ADS_1