MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#71


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Sejak 3 hari lalu, sepulang mengajar pekerjaan Azam hanya mengikuti kemana Asha pergi. Termasuk dalam kegiatan memantau atau menyelidiki, dan mencuri foto - foto yang di zoom seenaknya. Buat apa ia melakukan itu? Tidak ada alasan khusus, Azam hanya suka berada di dekat Asha namun benci mengetahui kalau wanita itu tidak menyadarinya.


Beberapa menit kemudian Azam habiskan untuk memandangi wajah wanitanya, dulu. Dengan rindu yang membumbung di sertai kekecewaan yang menyayat kejernihan mata. Setelah puas, Azam turun dan menyeberangi jalan raya langsung mencegat Asha yang baru keluar dari warung soto dekat kantornya.


Azam merentangkan tangannya, mencegah Asha bebelok. Hampir membuat tas plastik di tangannya terjatuh.


"Masaa'ul Khoir"


Sapanya, membuat Asha berjengit.


Kalimat itu manis sekali, manun tak ada senyum ramah menghiasi wajah Azam.


"Aku tidak tahu kamu suka makanan bersantan sekarang. Kalau dulu sukanya makanan manis. Rupanya sudah berubah? Pantas aku tidak menemukan lagi di wajahmu"


Asha melihat ke kanan dan kiri waspada, takut kena pergok entah siapa. Setelah pertengkarannya di dekat lobi kantor, tidakkah Azam canggung berbicara selugas itu?


"Bisakah menyingkir? Waktu istirahatku hampir habis, aku mau kembali bekerja!"


Perkataan Asha membuat Azam otomatis mendecak.


Lelaki itu melepas kaca matanya, melesakkan ke dalam saku celanya.


"Tidak bisakah aku meminta waktumu sebentar saja?"


"Baiklah, lagi pula menandatangani surat cerai tidak butuh waktu lebih dari 5 menit bukan? Mana?"


Asha mengulurkan telapak tangannya di hadapan wajah Azam, namun tak ada respon.


Astaga, wanita ini benar - benar. Selain pendiriannya yang sulit di robohkan, dia juga pandai membuat orang patah hati. Tidak di sangka, Azam justru menyuguhkan seulas senyum.


"Aku tahu seberapa besar keinginanmu mendapat surat itu dariku. Tapi catat baik - baik, aku tak akan pernah mempermudah prosesnya untukmu"


Sejujurnya Azam tak suka melihat wanita ini berkeras hati.


"Tolonglah, jangan berbelit - belit. Selesaikan semua ini agar aku bisa kembali pada kehidupanku, begitu pula dengan Abang!"


Wanita egois, sisi yang berbeda itu menyentil sudut hati Azam yang di buat tak bisa berpaling. Azam melipat kedua tangannya dengan angkuh.


"Sangat tidak adil, Asha. Kamu mungkin bisa kembali ke kehidupanmu, tapi bagaimana denganku? Kamu merampas segalanya"


"Tidak masuk akal sekali omongan Abang, Khairul Azam!"

__ADS_1


APA KATANYA? Oh, berani sekali wanita ini.


"Aku tidak merampas apa pun dari Abang, hati maupun hidup Abang bukan urusanku. Dan kalau Abang merasa seperti itu, maaf. Aku tidak bisa berbuat banyak"


Tutup Asha, melangkah ke kiri dan ada Azam yang sigap coba menghalangi kembali.


Bohong, sekarang Asha pandai berbohong. Azam membiarkan, mengusik sejauh mana kekuatan jiwa Asha saat bersitatap dengan matanya. Tentu saja Asha selalu kalah. Wanita itu mundur satu langkah, tahu kalau Azam menang. Tahu jika isi hatinya sudah di korek terlalu dalam.


"Kamu mengatakan sesuatu yang palsu, Asha"


Bisik Azam, mencondongkan tubuhnya dekat telinga itu.


Asha, bukan Sha lagi Azam memanggilnya. Asha sedikit kecewa karena diam - diam ia amat merindukan panggilan sayang untuknya itu. Yang kini sudah di ganti Azam oleh nama wanita lain yang sudah mengisi hatinya.


Azam kembali tegak.


"Lupakan yang kukatakan padamu, lupakan apa pun yang sudah mengganggumu. Aku hanya bercanda. Soal apa yang paling kamu inginkan itu, akan segera aku kirim ke rumahmu langsung".


Azam menerima pandangan dari Asha seolah berkata lebih cepat lebih baik.


"Sejujurnya, tujuanku menemuimu adalah untuk menyampaikan sebuah undangan"


Asha yang bingung mengerutkan dahi.


"Aku___"


Tatapan madu itu mendadak berbeda. Luka, kecewa juga marah, cemburu berkilat di sana seperti guntur di siang hari. Azam menikmati momen itu, biar Asha tahu bagaimana rasanya sakit karena patah hati.


Azam mendekat seinci, lalu berbisik.


"Bukankah hari ini hari ulang tahun Arsen? Kamu tidak melupakannya kan Sha?"


Cukup sampai di sana batas kemampuan Asha, wanita itu menjatuhkan kantung plastik yang di genggam. Otomatis kue kecil di dalamnya rusak, lilin - lilin kecilnya bejatuhan di jalan berkerikil itu.


Azam puas, meninggalkan Asha yang masih mematung.


...****************...


"Kebanyakan perempuan tidak suka pria yang kaku. Gantilah kemeja dan jas mu itu dengan pakaian semi formal, Azam. Toh kencanmu ini tak di lakukan di gedung perkuliahan, kan?"


Azam menoleh melihat kehadiran Seruni yang memakai abaya biru tua dan membiarkan kerudung panjangnya menjuntai ke bawah.


"Aku yakin dia suka aku memakai apa saja".


Oh, percaya diri sekali.


Seruni membuka lemari pakaian Azam dan geleng - geleng, memilih batik berlengan pendek yang berkerah dan bermotif bagus.

__ADS_1


"Akan lebih bagus kamu kenakan apa yang dulu ia berikannya padamu"


Azam memandang baju itu lewat seberkas senyum di matanya. Ia hampir lupa dengan keberadaan kain batik itu, untung Seruni mengingatkan. Tanpa pikir panjang di raihnya batik itu dari tangan Seruni.


Seruni mengancing batik itu hingga leher dengan memandang wajah putranya dengan seberkas keteduhan.


"Azam, ada 3 hal yang membuat seorang ibu merasa sangat bahagia. Lebih dari apa pun?"


"Hm?"


"Satu, melihat kamu lahir. Dua, ketika melihatmu tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Dan ketiga, ketika kamu menemukan bagian darimu__kebahagianmu. Tersenyum seperti ini!"


"Belum, aku nekat melakukan ini. Bagaimana bisa bunda menyimpulkan ini sebuah kebahagiaan?"


Seruni memberi senyuman sangsi paling lucu sedunia. Lesung pipinya sungguh mempesona. Azam kagum, kecantikan ibunya ternyata tak pernah luntur.


"Kamu menempuh jalan menuju bahagia, itulah yang benar. Catat baik - baik di dalam kepalamu yang bebal, ya Khairul Azam? Diskusi selesai"


Keduanya sama - sama melempar senyum.


...****************...


"Seruni???"


Tanya itu di sertai tidak percaya karena mustahil. Berita yang tersebar luas bahwa dia mati mengenaskan karena sebuah kecelakaan, kini malah terlihat sehat bugar mengunjungi kediamannya.


"Hanifah, bagaimana kabarmu?"


Hanifah masih shock, terdiam lama. Tatapan matanya berganti - ganti. Mula - mula pada Seruni, meneliti seluruh tubuh hingga mata kakai. Lalu pada pria berkumis di sampingnya, dan terakhir pada Azam yang berdiri menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.


"Ba__baik. Tapi__tapi bagaimana bisa kamu__?"


Hanifah tergagap, namun tanpa di duga Seruni malah memeluknya erat.


"Tak terbayang lagi jika aku di posisi itu Hanifah, kesalahan mas Bahar besar sekali, padamu, pada anak - anakmu. Tapi kumohon ampunilah segala kesalahannya, jangan menimpahkan lukanya pada putranya?"


Hanifah merasakan air hangat menepel pada pundaknya, tubuhnya yang tadi menegang, kini bisa rileks.


"Aku bukan orang yang berhak memberi ampunan, sungguh aku telah mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu. Bagiku, semua adalah bagian dari rencana Allah untuk menguji kami."


Selagi bicara, Hanifah memandang Azam lewat matanya.


"Aku yang berdosa jika melimpahkan kesalahan pada putramu, Seruni. Lagi pula, pria baik ini adalah menantuku. Dulu maupun sekarang".


Seruni tersenyum ketika pelukan mereka terlepas.


Like...like...like... dan coment

__ADS_1


Kalau masih mau lanjut😙


__ADS_2