MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#73


__ADS_3

*B**ismillahirrahmaanirrahim*


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'ala Alihii Sayyidina Muhammad.


"Aku mencintaimu, selalu utuh"


Azam memejamkan matanya sebentar, pengakuan Asha serasa telah menjahit luka - lukanya. Melalui campur tangan sang Maha Kuasa. Ternyata Asha adalah garis yang harus Azam jaga agar tetap lurus. Bersama mereka menapaki jalan baru, menyebrang dari kelokan kerikil.


"Maka kamu harus tetap di sampingku"


Azam merangkum wajah yang di rindukannya, hangat dari tangan itu menyebar ke seluruh tubuh Asha. Membuat kebekuan menguap, Asha melapisi jari - jari Azam dengan telapak tangannya sendiri.


"Maaf, karena aku pernah meninggalkan Abang"


Azam membawa Asha ke dalam pelukannya, mengecup lama ujung kepalanya dengan lembut. Berkata, bahwa ia begitu sayang pada Asha. Sampai rasanya tak rela melepaskan pelukan mereka.


Asha menikmati momen bergelung di dada Azam, bergumam dengan suara teredam.


"Apa kita harus seperti ini terus sampai subuh?"


Tawa Azam menyapu rambut Asha yang beraroma bunga lily, lelaki itu akhirnya bersedia melepas pelukannya setelah semenit penuh saling diam. Masih terlalu takjub dengan perdamaian yang baru saja terjadi.


"Naiklah ke kamar, dan gantilah pakaianmu Sha"


Asha berjengit, seolah perintah Azam susah di lakukannya. Azam menaikkan sebelah alisnya atas reaksi tersebut.


"Di ruang tamu ada orang tuaku, kamu mau menemui mereka dengan gaun tidur sependek ini?"


Azam menjalarkan matanya ke kaki telanjang Asha, terus naik hingga ke bagian pahanya yang tertutup sedikit dengan kain bergambar Winnie the pooh. Alih - alih risih dengan tindakan Azam yang menatapnya dengan vulgar, kedua matanya membulat dengan satu tangannya menutup mulut.


"Umm__mi dan Abi ada di sini?"


Asha terlihat panik, Azam menenangkannya dengan mengelus permukaan pipinya dengan halus.


"Kamu akan segera tahu. Ayo, apa harus aku temani? Sebentar lagi Arkha juga datang"


Desak Azam tak sabaran.


Asha masih sempat - sempatnya bertanya, walau punggungnya tengah di dorong oleh Azam. Di paksa menaiki undakan tangga satu per satu.


"Aa' Arkha? Untuk ap___?"


Azam mendecak sebal, di sertai jeritan tertahan Asha.


Lengannya yang tadi sibuk mendorong Asha, kini menarik pinggang Asha. Melingkupi dan memeluk dari belakang. Begitu eratnya sampai Asha merasa terpenjara.


"Banyak tanya, kamu masih cerewet"


Kata Azam pura - pura kejam, membuat wajah Asha merengut sebal.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya, kenapa Aa' Arkha datang jauh - jauh dari Kediri?"


Azam menyentuhkan hidunga ke dekat pipi wanita itu, bisikannya membuat Asha meremang.


"Hm, bukankah menikah itu membutuhkan wali, sayang?"


Sayang?


...****************...


"Ada banyak pendapat ulama' mengenai talaq dan rujuk, Azam. Misalnya, ketika wanita masih dalam masa iddah dan suaminya meminta rujuk kembali. Maka hanya dengan jima' mereka bisa menjadi pasangan kembali. Namun beberapa ulama' menyatakan sarat sahnya adalah dengan mengucap secara lisan bahwa ia ingin rujuk pada istrinya. Di dalam kasusmu yang rumit, ambillah keputusan yang mendekati ma'rufnya. Meski talaq yang kamu jatuhkan dulu terhitung tidak sah, tetapi kalian berpisah terhitung beberapa tahun lamanya. Abi sarankan untuk menyempurnakan pernikahan kalian kembali dengan akad ulang, juga untuk menghindari adanya kesalahpahaman"


Sambungan itu di loadspeaker, sehingga Hanifah dan kedua orang tua ikut mendengarkan. Azam sebetulnya rindu, namun kedua orang tua angkatnya sedang melaksanakan ibadah Umroh di tanah Makkah.


"Aku mengerti Abi, Jazakullah Khairon...Aku akan melaksanakannya sebentar lagi"


Kiyai Lathif membalas dengan do'a yang di panjatkan untuk Azam dan Asha.


"Kamu sudah menyediakan wali, mahar, dan dua orang saksi kan?"


Abinya mengucapkan Hamdalah di seberang sana, sekali lagi memberi restu pada pernikahan mereka.


"Mau bicara dengan Umi mu?"


Tawar Kiyai Lathif yang di iyakan Azam. Tak lama kemudian terdengar suara antusias Halimah karena mendapat kesepatan berbicara dengan Azam.


"Umi ikut bahagia nak, namun sayang Umi dan Abimu tak bisa hadir di sana. Mampirlah ke rumah saat kami selesaikan ibadah Umrah ini"


"Umi titip Asha padamu, Azam. Awas jangan sampai membuatnya menangis lagi"


Ujung bibir Azam naik sesenti.


"Aku baru saja membuatnya menangis"


Terdengar nada protes dari Halimah, tetapi Azam menanggapinya dengan gaya santai yang khas.


"Aku hanya bilang bahwa dialah cinta sejatiku, karena itu dia menangis. Apa aku salah?"


Halimah tertawa, meski suaranya tertangkap tak begitu jelas.


Tepat saat itu terdengar deru motor Harley di luar pagar kediaman Iqbal Dirgantara. Hanifah tahu siapa yang datang, beranjak membuka pintu.


"Umi, sambungannya aku matikan. Sampaikan salamku pada Abi, semoga ibdahnya lancar selalu"


"Ya nak, semoga urusanmu di mudahkan Allah"


"Terima kasih, Umi. Assalamu'alaikum!"


Wajah Arkha muncul di balik pintu, menenteng helm merah. Kusut, perjalanan dari Kediri pasti tidak mudah sampai membuat wajahnya lecet begitu.


Hanifah membantunya melepaskan jaket, tak lupa Arkha mencium kening Mamanya itu.

__ADS_1


"Om__Tante"


Arkha menyalami Sam dan Seruni, hampir menonyor kepala Azam kalau - kalau emosinya sulit di kendalikan.


"Rasanya aku ingin menghajar wajahmu saja, Khairul Azam. Sialan, 3 jam di jalanan. Kalau bukan karena adikku___!"


Arkha geram bukan main, tapi akhirnya mengalah juga dengan menghentikan bisik - bisik kotornya pada Azam.


Terutama ketika Seruni bilang kalau Arkha makin mirip Iqbal Dirgantara, perawakan juga cara bicaranya. Arkha makin melambung, dengan menegakkan tubuhnya di ruang tamu.


Lelaki itu mengurai senyum paling ganteng, angkat jempol pada Seruni lantas menepuk pundak Sam.


"Kapan - kapan ajak aku bergabung kalau ada proyek besar, Kapten"


Arkha mengedip.


Setelah itu Arkha meminta izin pada tamu - tamunya untuk membersihkan diri. Sempat nyeletuk, menimbulkan tawa


"Walinya kan juga harus gaya, aku tidak mau kalah dengan pengantinnya"


Arkha naik ke loteng rumah, mendadak timbul suara gaduh di atas sana. Siapa lagi kalau bukan Arkha dan Asha?


...****************...


Menikah bukan hanya mengumpulkan material untuk membangun sebuah rumah. Pernikahan adalah penentram jiwa, penjaga kehormatan dan kemuliaan.


Azam bersukur, karena mempunyai kesempatan lagi untuk menyempurnakan kembali salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam Alqur'an dan Hadist di sebutkan bahwa kedudukan seorang wanita adalah sebagai pasangan, perhiasan, cahaya mata dan tiang agama.


Bukankah Asha begitu cocok untuk memilik keempatnya? Ya, Asha adalah keempat - empatnya yang ia cari.


Biar saja kenangan pahit kemarin menjadi bukti pengujiannya, yang telah di lewati dengan anggun.


Tepat pukul 20.30 Azam mantap menyambut uluran tangan Arkha Dirgantara, memulai kisahnya kembali.


"Ya Khairul Azam, uzawwijuka 'ala ma amarallahu min imsakin bi-ma'rufin au tasriihim bi ikhsaanin"


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkuur halaan!"


Tak lebih dari semenit proses itu berlangsung, bukan untuk pertama kalinya tapi tetap saja jantung Azam berdebar kencang. Seperti ada palu yang memukul - mukul dari dalam dirinya, terutama saat melihat Asha yang duduk di seberang sofa. Hanya memakai gaun panjang warna cokelat berpadu merah muda, jilbab se nada menjulur sampai pinggangnya. Mengapa Asha begitu cantik? Bagai intan berkemilau.


Wanita itu tersenyum saat Seruni menyematkan cincin di jari manisnya, lalu tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Azam melalui isyarat mata meminta Asha untuk mendekat padanya, dan dengan polos Asha melakukan sesuai perintah. Kedua maniknya menatap Azam penuh tanya.


Azam gemas.


"Tak apa - apa, aku hanya ingin mencium istriku"


Lengannya menarik pinggang Asha lembut, mendaratkan kecupan seringan bulu di kening wanitanya itu. Tak menyadari jika tindakan inplusifnya itu mendatangkan kecanggungan dan deheman - deheman dari keluarga maupun jajaran anggota G30RM.


Terima kasih buat readee's yang masih setia...


Author mau izin beberapa hari ke depan kayaknya ga bisa up (padahal waktunya part - part romantis) karena author ada sedikit problem yg harus segera di urus.

__ADS_1


I lope yuo😙


__ADS_2