
*B**ismillahirrahmaanirrahim*
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Alihii Sayyidina Muhammad
Steven membatu, kedua matanya seolah siap menusuk - nusuk siapa saja yang memandangnya. Tangan kirinya terangkat keudara dan siap melayang di pipi Asha. Tamparan itu terlalu keras hingga kepala gadis itu berhasil membentur tembok belakangnya.
"Kamu memang wanita tak tau diuntung!"
"Memangnya mengapa? Apa kamu tersinggung? Maka jangan pernah sekalipun melempar kata kotor kepadaku! Kamu dan keluarga mu yang memang pantas ada di sana sehingga pas untuk mencerminkan kepribadianmu! Apa - kamu ingin menamparku lagi? Silahkan, aku tidak takut! Siksaan sebesar apa pun tak akan pernah bisa menyakitiku sebab Allah 'Azzawajalla adalah tuhan yang akan mengokohkan kekuatannku dari manusia zdalim seperti mu!"
Suara kaki berlarian datang memasuki ruangan itu.
"Ada apa?"
Laki - laki China itu menggeratkan giginya.
"Gadis ini minta di tembak, tembak dia sekarang. Aku muak mendengar konspirasinya dengan Tuhan!"
"Ya, tembak saja aku dan lepaskan sepupuku dan jangan libatkan keluargaku dalam hal ini!"
Laki - laki bertopi koboy lainnya itu tertawa sangat keras.
"Bodoh! Justru Bapak dan Kakekmu lah yang harus membayar semua ini karena mereka terlalu banyak dosa yang mereka timbun. Dan sialnya kamu juga akan terseret kedalamnya. Kamu hanya perlu meregang nyawamu pelan - pelan lalu akan aku kirim mayatmu ke depan pintu rumahmu...!"
Kata laki - laki itu sadis, samar - samar Asha bisa melihat wajah lelaki keturunan arab itu. Tanpa di duga, laki - laki itu mengeluarkan korek api dan sebatang lilin dari saku celananya. Memain - mainkannya seperti orang gila.
"Sekarang mari, marilah kita lihat bagaimana cairan lilin ini menetes di atas wajahmu yang cantik...!"
Asha hampir merosot, ketakutan menguasai dirinya. Lelaki itu melangkah pelan dengan membawa lilin yang sumbunya sudah menyala api, sinarnya menari - nari menyentuh dinding. Asha memejamkam matanya, bayangan Hanifa mulai merasuki benaknya diantara ketegangan itu. Suaranya lembut membelai pendengaran.
'Seorang laki - laki pernah mendatangi Rosulullah SAW, lalu bertanya. " Ya Rasulallah, bagaimana pendapatmu jika sesorang berusaha merampas hartaku dan menzdolimiku?"
Beliau menjawab
"Maka jangan pernah engkau berikan"
Kemudian dia bertanya lagi.
"Bagaimana jika ia memerangiku?"
Rosulallah menjawab dengan tegas.
"Maka perangilah dia!"
Si lelaki ternyata belum puas juga.
"Bagaimana jika dia membunuhku?"
"Maka engkau Syahid"
Terakhir, lelaki itu mengajukan tanya.
"Bagaimana jika aku membunuhnya?"
__ADS_1
Rosulullah menjawab dengan tegas.
"Maka dia masuk neraka!"
Diriwayatkan HR Muslim.
Maka, janganlah kamu takut putriku. Bangkit dan lawan mereka. Sesungguhnya kamu bukan perempuan berhati lemah'
Secepat itu bayangan Hanifah datang, secepat itu pula sosoknya hilang di telan kabut.
"Ayo lakukan, perbuatan Balthajahmu akan memasukkanmu ke dalam dosa Hirabah karena memerangi Allah dan Rasulnya!"
Lelaki China itu memicingkan mata dengkinya kepada Asha.
"Tutup saja mulutnya, aku benci semua yang keluar dari mulutnya...!"
"Tidak perlu Stev...Kamu akan lebih bahagia saat mendengarnya menjerit kesakitan...!"
Lelaki yang mengunakan topi koboy bersimpuh di dekat Asha.
"Nah satu tetes saja, ulurkan telapak tangamu cantik...!"
Lengannya ditarik paksa lalu merasakan tetesan lilin itu di atasnya, terasa panas dan membakar.
...****************...
"Apa yang kalian lakukan padanya?"
Markas besar G03RM di buat gaduh dengan kedatangan seseorang berseragam TNI angkatan udara. Lelaki itu memaksa masuk dengan menggedor - gedor pintu dengan logam yang entah ia dapat dari mana. Penghuni di dalamnya otomatis berhamburan dan mengacungkan pistolnya siap untuk menembak. Tanpa memperdulikan serbuan senjata tersebut, Iqbal terus berjalan menerjang Azam yang masih berdiri dengan kaku.
Devisi 03 G03RM spontan ingin menyerang dan membela ketuanya tapi keburu Azam mengangkat tangannya. Disekanya darah yang keluar di sudut bibirnya akibat tonjokan Iqbal Dirgantara.
"Hei bung, bersikaplah sopan jika bertandang di kandang macan!"
Bentak Elhakim sambil mengarahkan pistolnya ke wajah Iqbal yang marah.
Azam bertindak sebagai pelerai, diturunkan moncong Elhakim supaya tak mengarah ke siapa pun.
"Kamu ini apa - apaan sih? Sinting? Kamu di hajar oleh dia dan kami tak boleh membantumu? Lihat, kamu juga hanya berdiri seperti patung?"
Iqbal melirik tajam.
"Ckkk pantas saja otakmu dangkal karena kamu bergaul dengan begundal macam mereka!"
Elhakim hilang kesabaran karena ucapan Iqbal.
"Kamu pikir aku takut dengan seragam lorengmu itu? Hei tua bangka!!!"
"Cukup!!!"
Azam mendorong bahu Elhakim hingga mundur satu langkah. Kontan saja pemuda itu membelalak.
"WHAT ARE YOU DOIN_?"
"Shit up! Dia calon mertuaku dan kalian harus hormat padanya!"
__ADS_1
Titik. Azam berkata seperti itu sudah final. Ke enam anggota yang mendapat tugas di Mabes menjadi membeku seperti tersiram es dari Columbia. Semua orang berdiri sontak mengamati raut wajah Azam yang tenang, berkarisma dan penuh keseriusan.
Pikir Gading, Azam sudah menghamili anak gadis orang jika dilihat betapa murkanya anggota tentara itu.
"Berani - beraninya kamu?!"
Namun aneh, suara Iqbal seolah tercekat dan tak bisa menyangkal apa pun yang di katakan Azam. Sejujurnya Azam pun tak kalah terkejutnya dengan kedatangan sang Kolonel ke Markasnya.
"Bagaimana kalau bapak masuk ke dalam dan meminum kopi bersamaku?"
Iqbal mendengus, antara jengkel dan menghina.
"Tidak perlu basa - basi. Aku kemari bukan untuk minum apa pun!"
Diliriknya satu persatu wajah dari anggota G30RM dengan pandangan curiga, wajahnya tak ada yang bisa di percaya.
"Aku tidak mengerti dengan ucapanmu pak Kolonel? Sebaiknya anda pulang dan menyetirlah dengan hati - hati"
Cukup sudah, Azam menyimpulkan kalau sang Kolonel hanya ingin membuatnya naik pitam saja.
Pemuda itu memberi kode pada anggotanya agar membubarkan diri dan masuk ke dalam markasnya. Namun Iqbal terus mencecarnya hingga sukses membuat Azam membeku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Jawab aku! Dimana kamu menyembunyikannya? Dimana kamu menyembunyikan putriku selama satu minggu ini...??!!!"
...****************...
"Sialan! Tidak seharusnya aku melonggarkan pengawasan untuknya. Aku kira dia masih di pesantren dan kini Fahmi juga ikut menghilang! Kemana mereka sebenarnya?!"
Iqbal tegang duduk di samping Azam sama keruhnya dengan Azam.
Elhakim, Gading dan Petrus duduk berdesakan di jok belakang. Tak mau diam dan terus saling menyalahkan.
"Lebih baik kalian cek posisinya menggunakan ponselku dari pada terus ribut seperti anak kucing!"
Tegur Azam lewat kaca spion dan disusul lemparan ponselnya yang mendarat di pangkuan Elhakim.
Iqbal ikut berbicara namun dengan bibir yang kaku.
"Apa kamu dapat lacakan akurat dimana posisis mereka?"
"Ya...ponsel Fahmi satu setelan dengan ponselku"
Jawab Azam tanpa rasa.
"Kalau begitu secepat apa kamu mengemudi ke Wonogiri dalam dua jam saja?"
Azam melirik lelaki itu sambil menyeringai karena kesal.
"Bisa sangat cepat. Anda lihat saja!"
Secepat kilat pemuda itu menyalip kendaraan dealer dalam satu tancapan gas. Ke empat roda Jeepnya meliuk lantas meluncur mulus dengan kecepatan spektakuler. Dalam keheningan itu ia membelah jalan menuju provinsi lain menggunakan kecepatan konstan, membuat orang lain yang berkendara harus minggir teratur jika tidak mau tertabrak.
Semangat ....semangat....jangan lupa tinggalkan jejak ya
Beri Krisan biar aku semakin bersemngat...inshaAllah ada 1 episode lagi
__ADS_1