
Bismillahirrah Maanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'ala Alihii Sayyidina Muhammad
Azam terduduk tiba - tiba di ranjangnya, dengan nafas memburu dan keringat bercucuran tiada henti. Angin menerpa wajahnya, tersadar jika jendela kamar terbuka. Hawa malam di pondok pesantren Ashabul Kahfi membawa sisa - sisa air hujan yang mengguyur bumi di luaran sana. Menciprati kusen jendela, kedua kacanya saling bertabrakan akibat angin kencang.
"Astagfirullah..."
Azam mengusap wajahnya yang basah, membuang ludah sebanyak tiga kali sebagai isyarat ke samping tempat tidurnya. Lantas dia bersandar di tempat tidur dan mulai menormalkan detak jantungnya.
"Mimpi itu lagi"
Tidak, itu bukanlah mimpi.
Bukanlah mimpi yang selalu menyajikan visualisasi berupa serangkaian kejadian bagi yang mengalaminya? Tetapi Azam tidak mengalami itu, tak ada kejadian dalam kepalanya. Hanya gelap tak berujung, lalu sesak napas menyerangnya. Azam akan berteriak - terika pada semua orang untuk menolongnya, menolongnya supaya tidak jatuh. Konyol, bukankah dia hanya melihat gelap? Kenapa harus takut? Namun selubung gelap itu memiliki dasar, terbukti seluruh tubuhnya terasa sakit dan amis yang berdarah - darah. Azam di biarkan sendirian menerima detik - detik penyiksaan itu.
Semua itu berawal dari kejadian yang menimpanya ketika berusia sekitar 16 tahun yang di ceritakan oleh kedua orang tuanya, Abi dan Uminya. Mereka mengatakan bahwa Azam mengalami kecelakaan saat mengambil buku keperluan pesantren di kantor kecamatan. Hanya itu, dan ketika Azam bertanya lagi bagaimana selanjutnya mereka hanya diam beribu bahasa. Menyuruhnya untuk istirahat, begitu aneh hidupnya.
Azam tak ingat apa - apa tentang dirinya. Tidak untuk masa kecilnya atau tidak untuk wajah asing Abi dan uminya. Bahkan dia mengetahui namanya dari paman Sulaiman. Dan satu - satu yang di ingat dari paman dokter itu adalah kebaikan dan perawatan di rumah sakit yang sederhana. Mereka semua berkata bahwa Azam tak perlu risau, semuanya akan berjalan baik - baik saja.
Tapi Azam tak pernah baik. Tak pernah baik, selalu sakit dan marah. Kecuali jika ia mengambil air wudlu dan membaca Alqur'an. Ashabul Kahfi mungkin menjadi tempat terbaik baginya. Tak apa, Azam mempercayai mereka. Mereka yang bilang semua akan baik - baik saja.
...****************...
"Berkatalah jujur padanya, Halimah. Betapa pun penyakitnya, sebuah kebenaran tak bisa kamu sembunyikan"
Abdurrahman Lathif berdiri si samping jendela rumahnya, berlatar suara tangisan sendu Halimah yang menyungkurkan diri di kaki suaminya.
"Sudah terlalu lama kita menyimpan ini darinya, semakin aku melihat dia tumbuh dengan banyak pertanyaan dalam benaknya semakin aku ingin mengungkap semuanya"
Kiyai Lathif berterus terang membuat tangis Halimah semakin tak terbendung.
Kiyai Lathif menarik napas dalam - dalam.
"Yang memberikan kesembuhan adalah gusti Allah, kita hanya perantara yang di beri kesempatan merawatnya saja".
Halimah menggeleng kecil, tahu keputusan suaminya seperti mutlak.
"Tidakkah Abi menyayanginya? Umi benar - benar takut jika kehilangan Azam. Bertahun - tahun dia dalam pengawasan Umi, mana ada seorang ibu yang tega melihat putranya hancur?"
__ADS_1
Kiyai Lathir berbalik menatap istrinya, salah kaprah pendapat Halimah.
"Tidak ada yang ingin menghancurkannya Halimah! Tidak aku atau pun kamu. Aku hanya ingin melihatnya damai menjalani hidup ini. Sekarang aku tanya padamu, tidakkah kamu kasihan melihatnya kesakitan sepanjang malam sementara orang lain tidur nyenyak?"
"Lantas apa yang membedakannya? Umi rasa tindakan Abi itulah yang akan memperparah keadaan. Kepalanya bisa terkena serangan berbahaya seperti kata Sulaiman!"
Halimah bersikeras, betapa dia sangat menyayangi putra lelakinya itu.
"Umi jelas prihatin mengamatai kondisinya tiap malam, tidak pernah sebelumnya itu melihat orang kesakitan seperti itu. Jiwanya terluka. Tetapi Bi, sebentar lagi dia akan menghadapi ujian Tahfiznya, janganlah abi menghapus ayat - ayat AlQur'an yang sudah tertanam dalam dirinya"
Kiyai Lathif terlihat menimbang ucapan Halimah.
Halimah mengusap pundak suaminya.
"Sekarang marilah kita lupakan pembahasan kita ini, Abi. Biarlah Azam memulai hidupnya yang baru, biarlah dia mengetahui orang tua kandungnya hanyalah kita. Cukup hanya kita".
"Dan biarkan aku hidup dalam kebohongan"
Khairul Azam muncul tiba - tiba dari lorong rumah, memandang tanpa ekspresi kepada kedua orang tuanya yang terjengkit kaget. Mata kumbangnya yang biasa mencerminkan santun menguap, tergantikan kekecewaan yang mendalam. Azam begitu terluka ketika mendengarnya, terus mengendap di pendengarannya.
"Gus, tidak seperti itu!"
Halimah melangkah namun Azam menghentikan dengan memberikan isyarat pada tangannya. Azam mengusap wajahnya, merasakan sakit kepalanya kambuh bahkan lebih hebat dari biasanya.
Tersenyum getir, namun kilat matanya penuh kemarahan pada Halimah dan Kiyai Lathif.
"Tidak ku duga, ternyata aku di sini hanya kambing bodoh yang di cocoki kebohongan terus menerus"
"Azam!!!"
Suara Kiyai Lathif meninggi, memperingatkan.
"Tak perlu marah Abi, aku yang harusnya berhak marah atas keegoisan kalian berdua!"
Halimah menyeruh putranya, menggeleng berulang kali atas tuduhan Azam.
"Ya Allah, kami bahkan memikirkan dirimu Gus. Demi kebaikanmu".
Azam menaikkan alis, meletakkan kitab kuning yang sebelumnya berada dalam rangkuhannya ke atas rak buku milik Kiyai Lathif.
"Aku memang hidup di tempat yang baik, namun tidak ada hal kebaikan yang datang padaku! Kalian hidup di tempat yang baik, tetapi tidak pernah benar - benar mengajariku kebaikan. Kalian sebut itu kebaikan untuk diriku?"
__ADS_1
"Khairul Azam, jaga bicaramu!"
Suara mengelegar itu tak pernah di sangka akan meluncur dari mulut Kiyai Lathif. Lelaki yang penuh kesabaran itu sama marahnya dengan anak lelakinya, sama kecewanya.
"Bicara yang hormat pada Umi mu, jangan meninggikam suaramu di hadapannya!"
Azam melepas kopiah hitamnya, secara tak sadar melepaskan kebaikannya satu per satu.
"Umi? Bukankah kalian sendiri tadi yang mengatakan biarlah aku menganggap kalian orang tua kandungku? Padahal sebenarnya bukan, itu kebohongan namanya!"
Azam memejamkan mata, membuka lagi dan semakin marah.
"Apa lagi yang perlu aku ketahui? Katakan padaku! Semua! Aku mengalami gangguan jiwa? Dan kalian ikut - ikutan mengalaminya dengan menyembunyikan kebenarannya dari ku?"
"Keterlaluan!!!"
"Ya Allah, Abi!!"
Sengatan sakit akibat tamparan tidak mengurangi rasa sakit kepalanya.
"Seseorang yang mengalami gangguan jiwa butuh bimbingan pak Kiyai, bukan ditutup - tutupi"
Halimah meransek maju, mengelus pipi Azam yang terkena tamparan.
"Tidak Gus, kamu tidak mengalami apa pun yang seperti kamu katakan. Kamu sehat wal afiyah nak, sangat sehat"
Azam mundur satu langkah, mengambil ancang - ancang sebuah keputusan.
"Terima kasih pak Kiyai atas pelajaran yang berharga ini!"
Azam melepas tangan Halimah yang berada di wajahnya, memandang sesaat sebelum melangkah cepat dan berlalu.
Halimah menangis mencekal tangan Azam dan memohon agar ia tak meninggalkan rumah. Betapa pun wanita itu memanggil, Azam tak akan menoleh apalagi kembali.
"Abi, tolong jangan biarkan dia pergi! Azam__Gus Azam!!!"
Dalam sekejap mata semuanya seolah hilang atas nama rasa sakit. Detik itu, Azam bersumpah tak akan bersinanggungan dengan ajaran Tuhan. Tuhan telah meninggalkannya tanpa jejak yang akan ia telusirinya di masa depan. Kini saatnya ia yang akan meninggalkan.
Tak akan lagi meminta atau memohon, sebab ia tahu jika segalanya yang dia lakukanya hanya berujung sakit, marah dan sia - sia.
Bagaimana mungkin mereka tega menyembunyikan hal itu darinya???
__ADS_1
Like dan Coment...