MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#56


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'ala Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


"Kamu tidak apa - apa?"


Suaranya tegas, seorang laki - laki berseragam TNI.


"Siapa kamu?"


Tanyanya curiga. Seseorang yang di tanyai mengangkat alis.


"Apa tidak terbalik pertanyaan itu, anak muda? Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Kamu tergelerak di lapangan tembak pribadiku?"


Alih - alih menjawab, Azam malah terjengkit sambil memijit pelipisnya yang berdenyut.


Tergeletak pingsan di jalan? Masa?


"Siapa namamu dan dari mana asalmu?"


Lelaki itu masih menuntut. Azam menyipitkan mata, kenapa setiap yang berseragam TNI selalu arogan


"Khairul Azam dan aku bukan siapa - siapa seperti pertanyaan yang kamu maksudkan itu, mengerti! Aku bukan penyusup yang mau mencuri pistol - pistol di lapangan tembakmu".


Jawab Azam jengkel.


Laki - laki berseragam TNI itu mengerutkan dahi, tidak pernah berharap bertemu dengan pemuda yang lancang dan tak punya sopan santun seperti itu. Begitu berani.


"Apa yang terjadi padaku?"


Giliran Azam bertanya.


Anggotan TNI itu melipat kedua tangannya di dada, terlihat sangat jengkel pada sikap Azam yang angkuh.


"Kan sudah aku bilang, kamu tergeletak di lapangan tembakku.Tapi kamu tidak pingsan, dokter bilang kamu kolaps"


"Kolaps?"


"Kamu bukan pecandu kan?"


Azam menyibak selimut dan turun dari kasur.


"Sudah ku bilang aku bukan siapa - siapa yang kamu maksud itu. Aku hanya tak sengaja jatuh di situ!"


Azam memperhatikan laki - laki berseragam TNI angkatan darat yang melekat itu.


"Well, pak__apa pun pangkatmu aku berterima kasih atas bantuanmu. Namun sayang aku tak sempat membalas budi".


Sang TNI mengikuti langkah Azam hingga samping pintu jati itu.

__ADS_1


"Namaku Akbar Simanjuntak"


Azam menggantungkan tangannya di ambang pintu.


"Yah, aku tahu. Aku sudah melihat di seragammu!"


Lantas sosoknya sudah menarik pintu dan pergi begitu saja, dua terima kasih yang benar - benar tidak bisa di terima oleh Sam.


But well, akhirnya Sam menemukan replika Bahar bangkit dari kematian yang menggemparkan. Sosok sombong, angkuh, arogan dan tahu segala - galanya.


Sam merogoh ponsel di saku celana PDL, cekatan menekan tombol panggilan.


"Aku menemukannya, kembali ke markas dan putuskan segala bentuk kerja sama dengan Sahrir Tanjung"


"Wait__kamu menemukan Gilang?"


"Benar, jadi hentikan pencarianmu dengan Raden. Pulanglah Raihan, ada tugas yang harus kamu kerjakan!"


"Baiklah, apa yang harus aku kerjakan?"


Sam meneguk cairan berwarna merah itu, meresapi rasa manis dan pahitnya secara berasamaan.


"Bujuk dia agar mau bergabung dengan G30RM, Raihan. Berikan apa pun yang di butuhkannya seperti tempat tinggal, uang, pelatihan, pendidikan apapunlah...kamu mengerti?"


"Of course"


Raihan terkekeh, anggota G40RM akan menemukan anggota emas baru.


Sam mematikan ponselnya, duduk di atas sofa berlapis kulit macan berkesempatan untuk tersenyum.


Kalau saja kamu tahu bahwa akulah yang membawamu pergi ke rumah sakit setiap minggu bersama ibumu. Nyatanya kamu sudah tidak mengenaliku sama sekali, Gilang.


...****************...


"Ayo aku obati luka abang"


Asha menggenggam jari Azam untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


"Luka abang harus di obati, meski sudah di tangani tetap saja harus di balut. Kalau nanti infeksi bagaimana?"


Ucap Asha lembut, tahu kalau suaminya tidak akan mau mengobati luka yang ia dapat dari pekerjaannya.


"Aku datang untuk menjemputmu Sha, ada hal penting yang harus aku tunjukkan padamu selaku perwakilan dari kesatuanku"


Azam berusaha menguatkan diri.


Senyum di wajah Asha menghilang, wanita itu mengerutkan dahi.


"Menjemputku? Perwakilan dari kesatuan? Apa yang Abang bicarakan?"


"Kamu akan tahu nanti"

__ADS_1


Dan Azam akan hancur bersama Asha, lebih hancur lagi saat melihat orang yang di kasihinya hancur.


Azam memasuki mobil Jeepnya dengan kaku, membuat Asha bergerak ragu dengan keanehan itu. Menelitik wajah Azam yang penuh titik - titik noda darah yang ada di kepalanya.


"Mama mungkin sudah sampai di sana"


Azam membuka percakapan di antara mereka sembari menyalakan mesin mobil.


Asha semakin bingung menyikapi situasi itu, dadanya semakin berdetak kencang tak karuan.


"Mama? Kemana sebenarnya tujuan kita? Kenapa Mama juga ikut?"


Azam tak menjawab, ekspresi wajahnya berubah - ubah. Dari kaku ke sedih, dari sedih ke marah lantas kecewa tak luput dari pengamatan Asha. Membuat wanita itu semakin kalut di buatnya.


Azam menatap lurus - lurus setiap jalan yang ia telusuri, seolah tengah melamunkan banyak hal. Mobilnya terparkir di area Rumah Sakit Fatmawati, lantas keluar dengan cepat dan melewati lorong - lorong rumah sakit tanpa memperdulikan pertanyaan Asha sejak di perjalanan tadi. Dan langkahnya terhenti di depan pintu kamar mayat, orang - orang berseragam TNI nampak mondar - mandir berpatroli dekat pintu masuk.


Asha tertegun.


"Bang, ada apa ini? Kenapa Abang membawaku kemari?"


Azam melirik sekilas, tanpa menjawab langkahnya memasuki kamar mayat. Dan Asha lebih terkejut lagi saat melihat Hanifah berdiri mematung di dekat sebuah mayat yang tertutup kain putih. Langkahnya bergetar, mendekati Hanifah.


"Ma,"


Bisiknya pelan, Asha tak sanggup bicara.


"Mama kenapa disini?"


Hanifah tak menjawab, rautnya dingin seperti Azam. Matanya menerawang kosong pada jenazah yang tertutup kain. Air matanya terus meluncur deras walau tanpa berkedip.


Asha marah, mengapa semua orang memperlakukannya seperti ini ketika ia butuh penjelasan. Tangannya meraih wajah Hanifah yang semakin tak bereaksi.


"Ma, katakan ini bukan Papa kan?"


Hanifah tetap diam meski di guncang beberapa kali.


"Bang Azam!"


Asha menoleh, Azam terlihat memejamkan matanya sejenak.


Lantas Azam bergerak mendekati Jenazah dan menyibak kain penutupnya. Sontak air mata Asha jatuh berderai tanpa bisa di bendung, merebak seperti daun teratai di atas air.


Tampak Iqbal Dirgantar berbaring dengan wajah yang sangat pucat, bibirnya yang biasa menyunggginkan senyum beku kini benar - benar membeku. Telah di ambil yang maha kuasa menghadap keharibaanya. Asha menjerit, tanpa menunggu lama hatinya jatuh ke lantai dan berkeping.


"Papa...ya Allah!"


Asha menjerit menghampiri tubuh Iqbal Dirgantara, meraba wajahnya yang sedingin es lantas meraung. Mengusap pipinya yang tirus sekaligus menelusuri bekas jahitan memanjang di lehernya.


Asha terperosok di dalam jurang kenyataan yang gelap, yang tak ingin di percayainya. Secepat itukah Iqbal Dirgantara meninggalkan keluarganya? Tanpa pesan, tanpa kata - kata terakhir. Tetapi bukankah kematian itu di rancang Tuhan secara mendadak?


Azam memandang Asha dengan mata kosong, mendengar bagaimana suara istrinya yang putus asa, juga tangisannya yang berderai menyakitkan. Tepat seperti prediksinya, saat melihat Asha hancur maka dirinya ikut hancur. Azam memejamkan mata, tak ingin memandang mayat Iqbal Dirgantara sedetik pun. Tidak, karena itu sama saja memaksanya untuk mengingat perpisahannya dengan Asha yang mungkin akan terjadi tidak lama lagi.

__ADS_1


Azam ingin melupakan semuanya, membunuh kenangannya yang buruk pada malam itu di gudang Syamsudin Bahar. Tetapi ia tak akan bisa berlari, dan kelak hanya mampu menunjukkan kehancurannya di depan wajah istrinya.


Pleas...like dan coment untuk dukungan Bang Azam...😙


__ADS_2