
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad
Suara ribut anak - anak berlarian sama sekali tak mengganggu, malahan membuat Azam rileks kala menyadari orang - orang yang ia sayangi selalu ada di dekatnya dan tak menjauh.
Ujung bibirnya naik mengamati perkembangan Arash, ada banyak hal yang berubah. Karier dan juga kehidupan pernikahannya, juga ikatannya yang terasa semakin dekat antara keluarga Wiratama dan Dirgantara.
Arkha sudah menikah dengan seorang Psikiater anak, pada akhirnya menghempas dugaan Azam kalau iparnya itu tidak normal secara seksual. Well, semua itu cuma masalah waktu. Tentu saja. Mereka kini memiliki seorang anak laki - laki yang di beri nama Khattam Maesa Dirgantara, berusia 4 tahun. Cukup ganteng dan suka bawa ketapel kemana - mana, mungkin anak itu ingin segera menjadi kapten seperti ayahnya.
Kedua, Husain Fahmi belum bisa pulang dan masih betah menjomblo di Belanda. Ya salam, mungkinkah laki - laki itu bakal pacaran dengan gelas beaker sepanjang sisa hidupnya? Atau teleskop bintang dan semalaman suntuk merayakan kesendiriannya? Kalau kata Arkha, Fahmi tidak elit. Dengan sulit mendapat jodoh, dia sudah mencoreng wajah rupawan keturunan Dirgantara. Ganteng, dengan duit banyak, cerdas, tapi masih sendirian? Apa kata dunia?
Ketiga, Asha berhasil menuntaskan pendidikannya yang dulu sempat gantung. Dan kini aktif menjadi konsultan kesehatan di Laboratorium Prof. Bilal. Mengerjakan beberapa proyek penting, sesekali Azam datang untuk membantu. Atau secara diam - diam ikut mendanai proyek solidaritas istrinya itu.
Oh, satu yang paling istimewa dalam kehidupan Azam yang sengaja di sisipkan bagian akhir pemikiran seorang Khairul Azam. Sebab 2 tahun yang lalu menjadi hari yang paling istimewa dalam hidupnya, ialah lahirnya putri keduanya.
Nobelia Tanzil Wiratama.
Si cantik duplikasi Asha Azzaliyah Zahrah dari ujung rambut hingga kaki. Seorang putri yang membawa kebahagiaan berkali - kali lipat ke rumah mereka. Dengan tawanya yang nyaring, kulit seputih susu dan matanya yang berkilau - kilau.
Deretan giginya membawa nilai plus, Nobel sapaannya. Begitu menggemaskan dengan rambut hitam legam. Anak perempuan itu menjadi bahan rebutan kalau di bawa ketemu paman - pamannya di kesatuan. Selalu jadi sasaran cubitan di pipi dan kecupan di dahi. Meski Azam sering mengamuk tapi tak ada satu pun anggota yang mau repot mendengarkannya.
...****************...
__ADS_1
Meja kerjanya pagi itu mendadak rapi, tak ada tumpukan buku dan dokumen. Hanya meja coklat yang di lengkapi sebuah kue ulang tahun. Azam berjalan mendekat melepas kacamatanya. Kue ulang tahun itu tak berlilin, hanya ada angka 35 tahun yang di lukis dengan cream putih dan miniatur dirinya memakai pakaian serupa pada saat itu. Kemeja abu - abu dan dasi hitam.
Lelaki itu berdehem.
"Aku tahu kalian bersembunyi di balik lemari, Keluarlah. Aku tahu keberadaan kalian sejak pertama aku masuk"
"Yah...curang. Papa kalian selalu tahu"
Asha muncul, menggendong Nobel dan di belakangnya Arash ikut menyembunyikan diri. Anak itu memakai topi khas ulang tahun, hidungnya di beri warna merah.
Azam terkekeh, yang benar saja! Asha mau keberadaannya tidak di ketahui dengan membawa Nobel? Balita itu jelas bukan tipe yang bisa di suruh diam dan mungki tak mengerti apa yang bakal di lakukan Mama dan kakak lelakinya. Nobel memberi cengiran lebar, berceloteh pa - pa -pa , bertepuk tangan sendirian.
Azam mengambil alih Nobel, mencium pipi dan seluruh wajah putrinya yang kesenengan di perlakukan demikian.
Asha cemberut dengar Azam bilang begitu, spontan meraih tangan Arash dan menimbang untuk menjalin aliansi dengan anak lelakinya. Tapi Arash dengan cueknya berpindah kubu, menerima ulurang tangan Azam yang satu lagi. Asha bertolak pinggang, pura - pura marah sembari menggelembungkan pipinya.
Azam semakin terpingkal, tahu jika istrinya itu tidak betul - betul marah.
"I love you"
"Bicaralah yang keras Sha, jika tidak bisa mendekatlah padaku"
Suaranya penuh bujuk rayu, Asha tak punya kekuatan untuk menolaknya. Wanita itu menggeser tubuhnya, kebetulan Arash dan Nobel telah larut mencongkel kepingan cokelat dan saling mengoleskan ke wajah masing - masing.
"Aku mencintaimu"
__ADS_1
Asha berbisik, memulai pembicaraan rahasia mereka. Yang tak pernah luntur, tetap utuh dan sempurna.
"Selamat ulang tahun, my Hubby. Aku tidak bisa memberikan apa - apa, tapi ku pastikan akan selalu bersamamu ketika angka - angka di atas kue itu berubah"
Wanita itu tersenyum tipis, namun mempesona. Azam tersihir oleh kesederhanaan parasnya namun tetap megah. Asha selalu manis, selalu indah, selalu memikirkannya, sudah cukup menjadi kado istimewa di hari jadinya.
"Hanya itu yang aku butuhkan, Sha!"
Balasan itu hanya berupa kecupan kecil pada pipi istrinya.
Asha meraih pisau plastik sembari mencuri satu ciuman di pipi Azam. Wanita itu memotong kue yang sebetulnya sudah setengah jalan di rusak oleh kedua anaknya. Tapi Azam tetap mau menerima suapan besar dari Asha. Kemejanya bahkan sudah kotor di pakai lap oleh tangan Nobel yang penuh cream.
Suara tawa kontan memenuhi ruang kerjanya, tawa Asha, Arash, dan Nobel yang kesemuanya bercampur baur menjadi sebuah harmoni.
Hati Azam merasa terberkati ketika memikirkan segala sesuatu tentang Asha, dan ia meminta kepada Allah untuk memberkati semua yang mereka lakukan. Sebab Asha adalah istrinya, temannya dan kekuatannya.
Maaf kalau akhir - akhir ini author telat up nya, di karenakan satu per satu keluarga author terpapar covid-19. Tapi alhamdulilallah, kini semua berangsur membaik.
Tetap jaga kesehatan, patuhi prokes agar kita tetap selamat.
Jumpa lagi di karyaku yang lainnya ya..
Insha Allah segera Launching yang berjudul Love is blind.
Sampai jumpa...😙
__ADS_1