MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#52


__ADS_3

*B**ismillahirrahmaanirrahiim*


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


W?a'alaa Alihi Sayyidina Muhammad


Azam mendengar dengung keras yang lebih menarik perhatiannya, terburu Azam lewat gang samping kanan gudang. Pesawat EMB-349 milik Iqbal Dirgantara sudah terparkir disana. Dicobanya menyambung lewat earcret berulang kali namun nomer yang di tuju tak kunjung menerima panggilannya. Di mana keberadaan Letkol itu? Hanya Lettu panjaitan yang dapat di hubungi dan mengatakan kalau pertahanan gudang itu sedikit sulit di tumbangkan. Sang Lettu juga berpesan untuk waspada, kemana perginya Iqbal Dirgantara? Azam menyelinap di balik pintu, siapa tahu di situ menemukan Iqbal Dirgantara?Suara hantaman dan bogem mentah menjadi musik pengiringnya, suara teriakan semakin menggema.


Azam masuk lebih dalam, menemukan Iqbal Dirgantara tidur terlentang, di hajar Bahar habis - habisan. Tanpa senjata hanya tangan - tangan kosong saling bergulat.


Azam mempersiapkan pistolnya, membidik kaki Bahar. Satu peluru meleset di antara kedua betis Bahar. Tubuh Bahar merongsot ke lantai di iringi lolongan mengerikan.


"Begitu mudah kamu menggertak seseorang dengan senjata api anak busuk! Lihat Bapakmu ini yang pandai melesatkan peluru dengan keji!!"


Azam tertegun, Dirga kebingungan seperti orang tersesat. Tak ada kesempatan berfikir jernih, ucapapan Bahar seperti membawanya ke sebuah dimensi lain, tak jauh beda dengan Dirga.


"Apa maksudmu Bang? Fahmi menunggumu dirumah!12 tahun mencari keberadaanmu seperti orang gila, tapi kamu muncul dalam keadan sudah melupakannya!!"


Dirga mencoba mendekat pada Abangnya, berharap perseteruan ini bisa mereda.


"Aku tidak peduli dengan cecunguk itu, anak goblok yang tidak berguna. Menyesal aku pulung dia dari sampah. Aku bahkan tidak mengingatnya kalau aku memiliki anak. Hanya satu yang melekat di ingatanku, menghabisi keluarga sekaligus keturunanmu!! Dah yah, kamu bukan saudara atau sedarah denganku. karena aku pernah menganggapnya!"


"Bang??"


"Saudara tak akan tega mengambil milik saudara lainya!"


"Bang??"


Satu peluru menembus pundak kana Azam, lelaki itu bergeming. Persetan dengan satu peluru, nyatanya Azam pernah di tembus sampai tiga peluru.


"Kamu mau mati Khairul Azam?"


Detik itu Dirga bangkit dan mendorong tubuh Bahar yang lengah dengan telapak kakinya. Senjatanya terlempar di dekat kaki Azam, secapt kilat lelaki itu meraihnya.


"Serahkan dirimu!"

__ADS_1


Usul Azam dengan tenang namun dingin.


Bahar tersenyum sinis melupakan penderitaan kakinya.


"Kamu kira aku akan melakukan perintahmu, anak ingusan? Berdiri dalam persidangan dan mendekam dalam bui adalah hal terakhir yang akan aku lakukan di dunia ini!"


Napasnya saling memburu, sementara ia tak bisa memungkiri satu hal. Bagaimana bisa gesture mereka begitu sama?


"Baiklah kalau kamu memilih jalan lain__"


Bahar tidak bereaksi, senjata laras panjang itu tidak mengeluarkan pelurunya meski terisi penuh.


Azam mundur selangkah menyadari kejanggalan itu, tepat ketika Bahar meraih belakang kepala Iqbal Dirgantara dalam sekali sambar. Menikam lehernya dengan pisau dari celananya.


Sontak Azam terkejut, spontan meraih Hackler di tangan kirinya.


Namun peristiwa di luar kendali itu begitu mengejutkan. Peluru demi peluru menembus tubuh Dirga dengan cara membabi buta. Menebus setiap jengkal pada tubuh Iqbal Dirgantara.


Lantas setelah berpuluh - puluh peluruh itu mengamuk, semua menjadi senyap.


"Letkol!!!"


Tubuh Dirga ambruk seketika kala Bahar melepas pegangan pada tubuh sang Letkol. Iqbal Dirgantara tumbang dengan banyak luka tembak di dada dan perut akibat amukan senjata laras panjang yang di gunakan__olehnya.


Benda itu mendadak licin dan jatuh dati genggaman Azam.


Innalillahi, apa yang sudah di perbuatnya?


...****************...


Azam memencet bel rumah di jam 5 subuh, dengan penampilan yang acak - acakan seperti baru saja terjebur dalam kolam darah. Azam nampak kacau, hancur dan tampak tak ingin hidup lagi. Dia tak pantas hidup, kepalanya pantas di ledakkan.


Asha membuka pintunya, wanita itu terkejut. Azam implusif merosot dalam pelukannya Asha, tempat paling nyaman untuknya kembali. Lengannya menelingkup pinggang Asha dengan erat. Tak ingin melepaskannya walau sedetik saja.


"Aku merindukanmu"

__ADS_1


Bisiknya serak, gentar dan takut. Azam tak yakin akan sanggup menghadapi esok hari. Terlebih, Azam tak sanggup menatap manik madu wanita itu.


"Allah, aku merindukan Abang setiap hari"


Balas Asha dengan bisikan, menangis tanpa suara di pundak Azam. Tahu betul jika suaminya sedang terluka, tubuh serta jiwanya. Sebab bahasa tubuh Azam tak pernah sesendu ini, Azam selalu merengkuhnya dengan kekuatan bukan kerapuhan.


Satu minggu lamanya, suaminya pergi untuk mengemban tugas bersama kesatuannya. Asha begitu bersukur suaminya bisa pulang dengan selamat. Hidup dan bernapas, untuk bisa di peluk dan membalas pelukannya.


"Aku mendoakan Abang setiap detik, di setiap langkahku hanya ada doa untuk keselamatan Abang"


"Aku tahu, karena doamu sudah di kabulkan"


Azam menjawab pendek, meski merasa lebih tenang setelah berada di dekat Asha. Tapi tetap tak mampu meredam kejolak yang berkemelut.


"Maaf membuatmu khawatir, maaf atas segala kesalahanku. Maafkan aku Sha"


Setelah ini, Asha mungkin akan memandangnya dengan cara yang berbeda. Ketika itu terjadi, Azam yakin hidupnya akan berantakan.


Tak sengaja, matanya bersibobrok dengan gelang kayu coklat yang melingkar di pergelangan tangannya. Gelang itu sama merahnya dengan kaosnya yang banjir darah. Apakah Azam harus marah atau bersukur?


Setelah menghabiskan waktu sendirian di jam - jam terakhir pendaratan dengan kesakitan yang teramat, ingatan itu akhirnya kembali. Azam mengingat setiap detik kehidupannya duhulu, tak lagi samar.


Sejenak Azam berharap pembulu darah dalam otaknya tak mampu lagi menampung kerja yang di paksa putar balik, persis seperti yang di ucapkan para medis itu.


Tetapi ingatannya secara ugal - ugalan mengulang kejadian demi kejadian pahitnya.


Azam ingat betul, bahwa ia yang memberikan gelang itu pada sang putri Letkol. Menitipkan pada sang kakek, dan berjanji akan segera memenuhi keinginan mendiang sang kakek. Menikah dengan gadis kecil pilihan kakeknya.


Namun naas, pertengkaran hebat tidak bisa di ajak kompromi. Kedua orang tua bertengkar hebat, menginginkan hal yang berbeda. Rasid sebagai ayah tiri Gilang mengharap kalau Sharir anak kandungnyalah yang kelak melaksanakan keinginan sang kakek walau masih terhalang tugas di kesatuan militernya. Pertengkaran itu berakhir pada kecelakaan dahsyat yang menghabisi seluruh keluarganya.


Jurang itu begitu curam, hingga siapa pun yang jatuh di sana di pastikan tak akan selamat.


Kecelakaan itu tak sepenuhnya murni kesalahan sang pengendali, Bahar di balik semuanya. Ayah kandung Azam yang bersumpah ingin menghabisi siapa saja yang mencoba mengahalangi keinginannya.


Tepatnya seorang monster yang tega melenyapkan anggota keluarga dan anaknya untuk menggapai segala keinginnya. Seruni, ibu Azam menyadari ancaman itu. Bahar akan selalu mengintai setiap anggota keluarganya dan tak rela melihat mereka bahagia.

__ADS_1


Azam ingat, Asha jodoh kecilnya. Sebab dia adalah Gilang Panji Wiratama.


Yang masih penasaran dengan alasan paling dasar dendam Bahar, tunggu terus episode berikutnya ya...Tetap tinggalkan Like dan Coment ya...😙


__ADS_2