MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#58


__ADS_3

Bismillahirrahmaa Nirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Ruang persidangan itu panas, bukan karena cuaca namun karena cacian dan makian dari kanan kiri di pendengaran Azam.


Azam tak mempermasalahkan jika saja istrinya yang berkerudung itu tidak ikut menyaksikan. Menontonnya sebagai pesakitan, tertuduh penembak Iqbal Dirgantara hingga tewas. Hati lembut wanita itu pasti terluka, Azam telah melukainya begitu dalam. Azam tak sanggup menatap Asha walau sedetik ketika sidang itu akhirnya di mulai.


"Senjata api SS1-M1 dengan berat 4,01 kg dan panjang 997 mm di sertai jangkauan tembak efektif 450. Berjenis automatic carbines telah di temukan di dalam gudang Syamsudin Bahar pada buku 04.21 dini hari. Teridentifikasi sebagai senjata api yang di gunakan untuk menembak Letnak Kolonel Iqbal Dirgantara. Apakah anda membenarkan keberadaan senjata tersebut?"


Azam melirik senjata api laknat yang di tunjukkan petugas itu, tanpa sadar ia mencengkeram kedua telapak tangannya sendiri.


"Ya,"


Sahutnya mantap.


Lalu kedua hakim itu menunjukkan sebuah amplop coklat kepada seluruh hadirin persidangan siang itu dan mengeluarkan isinya. Sesuatu yang sangat merisaukan Azam, laki - laki itu memejamkan mata. Tahu betul bahwa manusia di muka bumi ini memiliki sidik jari yang sama. Akhir dari hidup, hasil itu akan membimbingnya ke neraka.


Selembar kertas di acungkan.


"Team Forensik telah merumuskan pola sidik jari pada tapak tangan yang sama, kanan maupun kiri pada senjata. Memakai ilmu daktiloskopi, sidik jari di nyatakan identik apabila memiliki 12 titik yang sama dalam ruas jari"


Azam mengangguk, hakim melanjutkan.


"Seperti yang anda lihat sendiri saudara Khairul Azam, sidik jari anda identik dengan sidik jari pada senjata SS1-M1. Apakah anda mengakui tuduhan penembakan terhadap Letnal Kolonel Iqbal Dirgantara?"


Bayangan Asha hilir mudik di benaknya, Azam menguatkan diri. Tanpa berkedip dari mata sang hakim, Azam menjawab semantap ia mengucapkan ijab kabul.


"Iya"

__ADS_1


Orang - orang di dalam persidangan berdiri, menunjuk - nunjuk wajah Azam dengan cacian, makian dan menghujatnya. Kira - kira apa ang di lakukan Asha di belakang sana? Apakah ia melakukan hal yang sama? Hakim terpaksa berteriak untuk meredam keributan yang terjadi.


"Harap tenang"


Gelegarnya, membaca berlembar - lembar kertas.


"Tertuduh Khairul Azam telah mengakui kejahatan yang di lakukannya, upaya pembunuhan menggunakan senjata laras panjang. Motif penembakan di ketahui sebagai perencanaan balas dendam. Maka sesuai UU Republik Indonesia tahun__ dijerat pasal berlapis perencanaan dan eksekusi langsung, dengan hukuman maksimum___!"


Ketukam palu hakim bergaung 3 kali, sidang itu akhirnya berakhir. Menetapkan Azam sebagai tersangka utamanya, sekaligus di jatuhi hukuman mendekam dalam penjara.


...****************...


Hujan telah luruh, dan ia terjaga dari tidur. Mengembara serta melintasi bebukitan dan sawah. Tergenang di padang rumput yang jauh. seumpama di sana, Asha ingin mendaki lereng yang terjal sembari melihat kehijauan yang berombak dihamparannya yang menghijau. Sebab Asha ingin menanggalakn duka citanya, menghabiskan tetes air matanya di atas lempeng rerumputan. Halaman rumah berpohon palem itu sudah tidak hangat lagi, hanya menyisihkan kabut membumbung tinggi.


Asha merenungkan diri, bahwa inilah dunia yang tak akan mungkin ada yang sempurna di dalamnya. Tanaman mawar saja memiliki duri, apalagi manusia. Asha terlalu menyandsrkan diri pada makhluk, padahal dengan begitu harusnya ada hal lain yang di jadikan tameng untuk mempersiapkan diri, yaitu pahitnya arti kekecewaan.


Betapa tidak? Ibarat menyandarkan diri pada bayangan tembok, yang ada hanya jatuh dan terjungkalnya kita. Satu pertanyaannya yang kini muncul, ia posisikan Allah dimana? Mungkin hari ini Asha telah menyebut asma-Nya ratusan kali, namun ia lupa akan kekuasaa-Nya?


Kecewa kadang memberikan kekosongan pada manusia, tetapi bukankah tanpa pengosongan tak akan ada pengisian? Semoga Asha termasuk pemilik hati yang selalu bersangka baik pada Allah, maha penata takdirnya dengan sedemikian cantik.


Meski kini terombang - ambing di tengah lautan cuka. Tak apa, Asha akan menghadapinya dengan mata terbuka. Harapan satu - satunya ialah tak akan ada lagi air mata yang menitik darinya.


Suara langkah kaki laki - laki medekat, Asha mendongak memandang Arkha Dirgantara menggiring kopernya. Lantas Asha berdiri dan memeluk saudara yang nampak lebih tegar, merasakan kenyamanan perlindungan dari saudara kandung.


"Aku tidak mengerti mengapa ia tega menyakitiku? Mengapa dia ingin mengakhiri cintaku padanya? Mengapa ia ingin aku meninggalkan rumah ini tanpa di katakannya?"


Asha terisak.


Arkha mengusap punggung adiknya dengan lembut, tahu jika ujian ini sangat mempengaruhi Asha. Kematian Iqbal Dirgantara terlalu mendadak dan kenyataan pahit bahwa menantunya sendiri yang menghabisinya membuat semua orang terguncang.


"Setiap orang membuat pilihan sendiri, Asha. Pilihan benar atau salah".

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan A'? Aku tidak sanggup menunggunya, bukan soal waktu namun ketangguhan hatikulah yang berbicara. Allah menciptakan hatiku lunak dan rentan, apakah aku sanggup memaafkannya?"


"Percayalah Asha, bahwa aku sudah merenungkan semalam suntuk. Apakah aku bisa memaafkannya? Apakah kamu bisa memaafkannya? Apakah Mama bisa memaafkannya? Setidaknya jawaban itu belum muncul, kita tunggu saja"


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"


"Apa jawaban dari Istikharah mu?"


Arkha bertanya balik.


"Meninggalkannya"


Bisik Asha pelan.


Arkha tersenyum di atas kepala adiknya.


"Bisa jadi itu bukanlah keinginan mu yang sesunguhnya, Asha. Aku tidak bisa mengendalika emosiku di pemakaman Papa, tapi aku yakin kamu bisa melakukan. Maka putuskan apa yang menurutmu benar, untuk kebaikan hidupmu. Setidaknya kamu mampu menyembunyikan kemarahanmu, seseorang yang mampu melakukannya biasa juga mampu memberikan satu kesempatan terakhir pada orang lain"


Arkha melepaskan pelukan dan mengusap wajah Asha.


"Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil sisa barang - barangmu di rumah. Hanya tinggal beberapa angkut".


Asha menangguk memutuskan untuk menikmati dalam waktu yang terbatas menelisik setiap inci bangunan rumah. Yang kini bukan tempatnya lagi, bukan tempatnya untuk pulang. Tindakan Azam secara harfiah telah memaksanya meninggalkan setiap apa pun hal yang menyangkut laki - laki itu.


Asha duduk di bangku taman, tempat di mana Azam pernah tidur di pangkuannya. Tempat di mana Azam pernah mengatakan dua hal yang palig di sukainya dalam dunia ini adalah awan dan Asha. Tempat dimana sosok Azam terpatri kuat, pernah berjanji bahwa ia akan selalu melindunginya. Dan dia ternyata memang menepati janjinya, sekaligus menorehkan luka.


Asha menggeleng, tersenyum, hingga air matanya menetes. Saudara angkat ayahnya, Syamsudin Bahar dan putra bungsunya berkomplot untuk menghancurkan keluarganya. Demi membalas dendam, ternyata pernikahan tak lebih dari sebuah jalan masuk neraka.


Hiks...Tetap dukung Bang Azam. Mau dibawa kemana cerita selanjutnya ya?


Like dan Coment...😙

__ADS_1


__ADS_2