MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#39


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihii sayyidina Muhammad


"Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu memiliki banyak rahasia?"


Asha berbisik di samping telinga Azam, menelisik setiap inci wajahnya.


"Kamu dengar aku Khairul Azam? apa yang sesungguhnya terjadi padamu? Apa yang membuatmu kesakitan sepanjang waktu?"


Asha mengamati paras itu lebih seksama, lebih leluasa, lebih dekat, satu per satu meneliti bagian wajahnya yang tertidur, lantas mengernyit_.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Asha?"


Asha duduk dengan canggung saat dua mata dingin itu membuka sempurna. Memaksanya untuk tak sejengkal pun beralih dari kuncian Azam.


"Kamu pikir obat tidur akan membuatku tak sadar akan kehadiranmu?"


Terdengar seperti Asha selalu berada dalam alam bawah sadarnya. Harusnya terdengar manis sekali andaikan tatapan Azam tak semengerikan itu.


"Aku_ Aku tentu saja ingin melihat keadaanmu!"


Gadis itu berusaha tetap tenang.


"Kamu sudah membuatku khawatir, kamu selalu gelisah sepanjang tidur. Aku dan tim dokter kebingungan, mungkin sebagian dari perkataanku tidak bermakna. Tapi aku katakan ini mungkin sebagian lainnya dapat menyentuhmu..."


Azam menarik nafas lalu memejamkan mata. Sakit, seluruh tubuhnya kesakitan. Azam seperti berada di dalam selubung gelap, berjalan tanpa tahu arah dan akhirnya ia jatuh kejurang. Terbentur sesuatu, terlempar ribuan meter dari kejauhan. Yang hanya di pikirkan adalah suara Asha dan dia akan segera mati. Namun di kala ia membuka mata, Azam selalu menemukan ia dalam keadaan hidup tanpa adanya luka. Lantas peristiwa apa yang ia alami?


Bertahun - tahun Azam hidup dalam kegelapan, mengapa takdir begitu gemar mempermainkan nasib seseorang? Tetapi Asha bersamanya, kini berada di sampingnya, khawatir sekaligus cemas, bukankah penderitaan itu akan berlangsung seimbang? Azam minum racun sekaligus menerima penawarnya.


"Kamu lebih mencemaskan, apa kamu terluka waktu itu?"


Azam mematut Asha dengan intens dari kepala unjung jilbabnya. Gadis itu spontan menggelengkan kepala salah tingkah.


"Aku baik - baik saja!"

__ADS_1


Asha menjawab, namun Azam memicing tak percaya.


"Ulurkan tanganmu"


Asha sudah mengobatinya sendiri bekas lelehan lilin waktu itu, dan kini bekasnya mulai memudar.


"Bagaimana lenganmu sendiri? Apa masih sakit?"


"Aku tidak apa - apa"


Lalu pemuda itu memandangi Asha tanpa ada bosan.


"Kamu selalu bercahaya dan menentramkan. Sangat membantu jika berdekatan dengan manusia yang tak pernah memiliki cahaya dalam dirinya, seperti aku!"


Asha mendongak, sebenarnya Azam lah rahmat Tuhan yang ada dimana - mana itu. Lebih gagah melampaui usianya. Apakah Azam masih ingat pertama kali mereka berjumpa dulu? Saat lingkaran prama mengitari wajahnya, dan malaikat - malaikat pecinta tanpa sadar melayang - layang sambil berdzikir untuk jiwa yang lelah. Azam tak pernah kehilangannya, cahaya atau penjaga.


"Azam, Allah adalah pemberi cahaya langit dan bumi. Cahayanya ada dalam pelita kaca. Kaca itu menimbulkan bintang - bintang bercahaya seperti mutiara. Minyaknya saja bisa menerangi walau tak tersentuh api. Allah memberi perumpamaan bagi cahaya yang berada dalam hati hamba - NYA"


Allah, wanita macam apa yang sudah di karuniakan untuk menyambangi hidupnya yang kotor dan usang? Asha begitu eksklusif, ucapannya seperti embun penyejuk lagi parasnya mampu menghilangkan kesukaran. Azam benar - benar akan mati muda jika ia kehilangannya.


"Aku tahu dan kamu paham, begitu konsep yang semestinya. Tuhan kita tak akan merampas pelita itu begitu saja, kamu tidak akan kehilangan meski sedetik saja. Cahaya itu akan tetap di dalammu seperti denting alarm untuk memenuhi setiap seruan- Nya..."


Azam menatap lekat - lekat gadis itu, terkesan mengoyak - ngoyak tabirnya.


"Kenapa kaget seperti itu? Yah, aku melihatmu susah payah ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Lalu melaksanakan shalat Tahajjud serta subuh. Kecuali, kalau kamu melakukannya dengan tidak sadar...!"


Koor Asha seratus persen.


"Baiklah nona pembawa cahaya kamu menjadi stalker rupanya, lantas apa yang bisa kamu usulkan untuk hidupku yang tak berharga?"


Gadis itu memberi ekspresi mempesona.


"Hidupkan dirimu dan isilah banyak - banyak dengan cahaya. Hingga akar - akarnya bersemi dalam hatimu tanpa ada apa pun yang dapat menggoyahkannya lagi!"


Azam memang bukan lelaki suci, tetapi bukan berarti dia tidak berhak mendapatkan wanita suci. Asha adalah cahaya yang di kirim untuknya, siapa tahu salah satu bidadari yang di tunjuk Allah untuk mengembalikan iblis ke jalan yang sebenar - benarnya jalan. Barang siapa meyakininya, maka seisi dunia pun akan bersorak keras. Kun Fayaku!


"Maka Asha Azzaliyah Zahra, menikahlah dengan ku dan tunjukkan sebesar apa cahaya itu dan izinkan aku bercermin padamu?"

__ADS_1


Hilang sudah senyum di wajah Asha, gadis itu seolah mengalami transisi antara hidup dan mati. Azam mengakatakan kalimat sakral itu dengan cepat, seperti letasan anak panah yang mengenai jantung manusia.


"Apa_ Apa yang kamu bicarakan?"


Asha tergagap, semengerikan itukah ajakan Khairul Azam?


"Aku melamarmu! Aku ingin menikahimu dan bersumpah di hadapan Tuhan untuk menjagamu seumur hidupku!"


Azam mengulanginya dengan yakin. Serious, apakah lamaran itu harus berlangsung setelah Azam bangun tidur? Bagaimana kalau pemuda itu hanya berhalusinasi?


"Kenapa? Apa aku tak punya akhlak Mahmudah seperti para sahabat nabi? Karena aku tak punya akhlak Siddiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh seperti Rasullulah? Sebab aku bukan sayyidina Ali seperti yang kamu cari? Sebab tak ada cahaya secemerlang miliknya dalam diriku? Tapi kamu datang dalam kehidupanku, menawarkan pemahaman untuk menyempurnakan diriku yang tak sempurna?"


Mata itu setajam elang saat memandang Asha.


"Bukan! Bukan seperti itu!"


Gadis itu berusaha menghentikan ocehan Azam, mempersiapkan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang paling dalam.


"Ketahuilah Azam, sejak kali pertama bertemu denganmu justru aku menemukan sosok pemimpin dalam dirimu. Kamu tidak perlu menjadi sahabat nabi atau Rasulullah, sebab kamu di ciptakan di zaman berbeda. Kamu tidak perlu menjadi beliau untuk melakukan sunnah - sunnahnya. Kamu hanya terlalu cepat mengatakan sampai aku tak sempat untuk berfikir!"


Asha adalah sang pencerah bagi Azam.


"Lihat aku, dan jawablah dengan jujur!"


Suara Azam terasa bergema ke seluruh penjuru kamar rawat. Bahkan ketika mereka bertatapan, gema itu masih terngiang dalam pendengaran Asha.


"Menikahlah dengan ku?"


Asha merunduk tak dapat mempertahankan kontak mata mereka, perutnya melilit hebat seperti di hinggapi ribuan kupu - kupu. Masa depannya mungkin akan berubah mulai detik ini.


"Bismillahirrahmaanirrahiim... maka aku akan menikah dengamu!"


Husain Fahmi memasuki kamar rawat Azam dengan mendorong tiang infusnya, berdiri mengulas senyum tipis di sisi pintu.


"Wah... Mermaid Man...! Lamaranmu di terima ya?


Hei...hei...hei...aku lagi berbaik hati nih, aku Up dua episode. Like dan Coment kalian sangat memotivasiku...😙

__ADS_1


__ADS_2