MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#62


__ADS_3

Bismillahirrahmaa nirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad Wa'alaa Alihii Sayyidina Muhammad


Kisah khairul Azam dan Asha Azzaliyah Zahrah tak akan pernah berujung pada perpisahan.


Sebab hati keduanya sudah di perintahkan oleh Allah untuk saling melengkapi.


Untuk menciptakan kebahagiaannya masing - masing.


Pelangi setelah hujan badai, mungkin benar adanya.


...****************...


Hari itu adalah hari kebebasannya. Hari di mana Azam berjalan di bawah sinar matahari setelah setengah tahun terkurung di dalam jeruji besi.


Azam di dampingi kuasa hukumnya menandatangani dokumen penghapusan tuntutan dan pembersihan nama baik. Di saksikan oleh Sam dan anggota G30RM lainnya, yang tak pernah lelah mencari kebenaran bagi Azam.


Sekarang Azam mengerti apa itu fungsi kolega, partner, teman, dan keluarga. Azam paham satu hal; Mereka adalah orang - orang yang mempercayainya, sesulit apa pun keadaan.


Azam mencakol tas ranselnya, berjalan beriringan dengan Elhakim. Di belakang mereka beberapa anggota G30RM berceloteh.


Azam melirik sekilas ketika yang lain sibuk bercanda.


"Bagaimana kamu bisa menemukan benda itu, Hakim?"


Hakim tersenyum.


"Akan ada jalan bagi kebenaran untuk nampak, Bang. Sesuatu yang hilang sebab kejahatan tak akan bisa di sembunyikan. Kami menemukan sebab kamu benar, Bang Azam. Karena Allah menginginkan kami menemukannya".


Tanpa sadar, Azam bangga dengan salah satu anggota kesatuannya itu.


"Kamu banyak berubah Hakim!"


"Yah, seperti kamu Bang. Setiap orang selalu menyimpan sisi lain dalam hidup mereka, Bukan?"


Berbicara dengan Hakim memang menyenangkan, sebab pemuda itu mampu menyeimbanginya ngobrol berbagai topik. Lantas secata tiba - tiba Hakim bertanya tentang resonansinya di tahun depan, namun Azam hanya bisa mengangkat bahu.


"Untuk langkah pertama aku ingin mengunjungi kediaman mendiang kakakku"


"Sahrir Tanjung...Aku masih tak percaya dia keluargamu, Bang!"


"Ya, aku pun sama dengan mu. Tapi sayang, satu per satu orang yang memiliki hubungan kerabat denganku meningglkan kenangan pahit. Tak ada kesempatan bagiku untuk berbicara lebih lama dengan mereka.Kesempatan cepat, secepat kematian merenggut"


"Allah selalu bersama dengan orang - orang yang kesabarannya seluas lautan, Bang"


"Aku tak punya, meski seperempatnya Hakim"

__ADS_1


...****************...


Azam membuka pintu rumah minimalis itu, ruangan tamu di lengkapi prabot - prabot sederhana. Satu set sofa warna hijau dan meja bundar, tak luput juga lemari antik yang terbuat dari kayu ek hitam ikut menghiasi. Azam tersenyum kecil, ternyata selera mereka pun serupa.


Langkah kakinya menuntun mendekat lemari berhias kaca itu, terdapat beberapa piaga penghargaan salah satunya tertulis komandan terbaik. Medali emas cabang olah raga menggantung di sudut lemari. Dan yang paling membuatnya heran adalah sebuah potret keluarga yang di cetak besar terlihat sedikit tua. Pinggirannya bahkan menguning, anehnya tak ada wajah Syamsudin Bahar di sana. Sahrir rupanya membolongi bagian itu dengan putung rokok.


"Cih, ternyata kamu juga sangat membenci dia?"


Azam bergumam.


Setelah puas, Azam berjalan menuju kamar utamanya. Membukanya dan tak begitu heran jika ruangan itu di penuhi pernak pernik militer. Satu ranjang sedang, meja kerja dan lemari jati. Azam duduk di kursi kebesaran kakaknya, membongkar lacinya yang tak terkunci. Menemukan surat tanah dan deposito bank, semua tercatat atas nama Khairul Azam. Di pindah tangankan sejak 1 tahun yang lalu.


"Kamu pikir aku semiskin itu ya? Hartaku bahkan jauh lebih banyak dari ini"


Canda Azam mendengus geli sendiri.


Azam membuka laci paling bawah, ada sebuah kotak. Di letakkannya di atas meja, lantas membukanya. Ada beberapa keping CD, buku jurnal yang sampulnya bopeng.


"Ckck...luar biasa kamu juga menyempatkan menulis diary, heh komandan?"


Azam mengejek, tak habis pikir dengan tingkah anggota TNI itu.


Di bukanya halaman pertama tentang curahan hatinya betapa sulit pencariannya pada sang adik, yang Sahrir yakini masih hidup.


Namun ada topik yang lebih menarik menurut Azam ialah topik mengenai Seruni. Seruni, dengan potongan sebuah artikel yang berjudul Ibu seorang Marsekal mati karena kecelakaan tragis menempel di buku.


Azam menyentuhkan jemarinya yang bergetar ke wajah itu, mengamati parasnya yang cantik dan bergeser sedikit untuk membaca keterangan di bawahnya. Tulisannya buru - buru, tidak rapi.


...****************...


Wanita bersepatu putih itu menggiring langkah Azam menyusuri lorong, melewati orang - orang yang berkerumun dengan aktifitan aneh.


"Nyonya seruni berada di Rumah sakit jiwa ini 12 tahun lebih, kasihan saya kira dia tidak memiliki sanak atau saudara. Tapi perawat lain mengatakan ada seorang laki - laki yang menjenguknya"


Terang si perawat sopan, berbaju putih lusuh. Maklum, Sebab SRJ ini tidak berada di kota besar. Bangunannya malah lebih pantas di sebut gubuk reot untuk merawat pasien dengan gangguan mental.


Tanpa diberi tahu pun Azam sangat mengerti siapa laki - laki yang tega menjebloskan ibunya itu.


"Bagaimana keadaannya akhir - akhir ini?"


"Tidak ada perkembangan signifikan selama ini, nyonya Seruni lebih banyak diam. Nah, nyonya Seruni ada di kamar paling ujung"


Azam tanpa sadar mengepalkan tangannya, geram dengan tindakan Syamsudin Bahar yang tidak berkeprimanusiaan.


"Saya rasa cukup, anda bisa meninggalkan kami sekarang"


"Baiklah, jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa menghubungi bagian___!"

__ADS_1


Azam melanggang pergi, kebiasaan buruk yang masih menempel. Tak sopan.


Kamar itu berdinding putih, berlantai keramik dengan satu ranjang lapuk di sana. Selain itu ada lemari kayu yang sudah di makan rayap.


Azam melangkah perlahan, menemukan sosok perempuan yang berdiri di samping jendela. Rambutnya terlihat panjang namun tak terurus. Wanita itu menyadari kehadiran Azam, sebab dia tidak gila kan?


Sejak menemukan kebenaran di kamar Sahrir, butuh waktu berbulan - bulan untuk menemukan keberadaan wanita ini. Jejak yang sulit di lacak membuat Azam memeriksa setiap Rumah Sakit Jiwa, dari kota ke kota hingga akhirnya ia ada di sini. Seruni di lempar jauh di pelosok bumi untuk di siksa batinnya.


Azam mensejajari, mengambil posisi.


"Selamat pagi"


Sapanya, Azam benci mendengar suaranya sendiri sangat lembut. Wanita itu membalikkan wajah pada akhirnya dan terlihat wajahnya sepucat lilin. Wajahnya ayu dan masih berlesung pipi.


Oh ya Allah, Azam ingat wajah itu, wajah yang di sayanginya sepanjang remaja hingga peristiwa di Cianjur membuatnya kehilangan memori.


Seruni menatap tepat di mata Azam, untuk ukuran orang gila bukankah itu hal terlalu pintar?


Azam tidak menepis saat tangan Seruni mengelus kesisi wajah Azam. Mati - matian Azam mencegah gejolak emosinya. Wanita itu tiba - tiba menangis dan mengusap wajah Azam. Azam balas merapikan rambit Seruni.


"Apa kabar?"


Azam hampir menangis, memerhatikan pupil Seruni yang melebar membuatnya semakin pilu. Wajahnya kini di penuhi keriput, garis matanya hitam, hanya ada beban yang menggelayuti mata wanita itu, meski irisnya tetap sehitam jelaga. Hatinya sakit dan bagai di remas. Kenapa takdir memisahkan mereka begitu lama? Mengapa pertemuan ini terasa buruk? Setidaknya Azam menemukan Seruni dalam kondisi yang memilukan.


"Kamu kembali? kamu benar - benar nyata?"


Seruni menangkup jawah Azam dengan hangat meski jemarinya terasa dingin.


"Aku yakin kamu masih hidup, aku tahu kamu akan kembali"


Air mata seruni semakin lancar membasi kedua pipinya.


"Aku tidak gila, jangan takut padaku. Ayo kita pergi dari sini nak,ayo!"


"Apa yang di lakukan pria breksek ini Bun?"


Azam frustasi, di antara triliunan keluarga di bumi ini mengapa hidupnya berbeda.


"Tidak, ayahmu hanya salah memahami keadaan. Dia tak sadar apa yang dia lakukan"


"Setelah semua kejahatan yang di lakukan untuk Bunda, Bunda masih menyebutnya laki - laki baik? Bunda pikir dia pantas jadi ayahku? Dia bahkan hampir menghabisiku!"


"Kamu putranya, anak kandungnya. Ayo lebih baik kita cepat pergi dari sini!"


Namun Seruni malah terguguh dan menyandarkan kepalanya di dada Azam.


Ribuan sengatan lebah terasa menyengat tubuhnya Azam, takut kalau kata - katanya menyakiti ibunya.

__ADS_1


"Aku bersyukur menemukan Bunda, tetapi aku bukan Gilang. Namaku sekarang Khairul Azam"


setelah lama ga up...mohon maaf karena sedikit terlambat. Like dan krisan tetap aku butuhkan. beri juga hadiah berupa vote ya


__ADS_2