
"Lebih baik kalian makan dulu,perut yang kosong tidak akan membantu keras dalam menyusun strategi..."
Pak Sodikin menyibak kelambu penutup ruangan para pemuda itu bekerja.
Semua menegakkan pandangannya menuju laki - laki tua itu yang menggunakan sarung kotak - kotak dan kaos dalaman putihnya yang warnanya barubah hampir menjadi kuning dengan mengucapkan selamat malam.
"Kami sudah membawa persediaan makanan pak, jangan khawatir..."
Azam berkilah dengan menunjukkan kardus besar yang ada di pojok ruangan.
"Kami akan segera makan kalau pekerjaan ini selesai..."
Azam mengatakan dengan senyuman hormat pada pak Sodikin.
"Kalian tidak akan mendapatkan tenaga yang bagus untuk pekerjaan kalian jika hanya makan makanan instan..."
Nasehat pak Sodikin masuk akal,membuat semua anggota G02RM menggulung peta yang yang sudah terbentang di atas meja lalu menyiapkan diri untuk mengikuti pak Sodikin
"Terima kasih pak...kami sudah banyak merepotkan..."
"Tak apa...mari ka dalam rumahku.Ada lemang yang dibuat untuk dicicipi perantau seperti kalian..."
Canda pak Sodikin disambut gelegar tawa enam pemuda itu.
Acara makan malam yang syahdu, di penuhi candaan serta obrolan tentang bagaimana bisa makanan dempo' buyan bisa selezat itu sedang buah durian di kampung itu juga begitu nikmat.
Tak ada yang perlu di banggakan oleh pak Sodikin, ber-enam mereka sebenarnya sudah mengetahui seluk beluk Telihan hingga pak Sodikin tidak perlu repot - repot mempromosikan kampungnya.
Tanpa terasa semua hanyut dalam perbincangan yang hanya mengitari Talihan dan makanan - makanan lezat khas daerah itu,kecuali Azam.
Pria itu telah larut dalam pemikirannya tentang pertemuannya dengan gadis merah muda itu.Bertemu dengan Asha di waktu dan tempat yang sama sekali tak pernah ia duga.
Sampai kapan rombongan Asha dan kawan - kawannya melakukan kegiatan bakti sosial? Apa sampai menunggu batang padi tumbuh dan menghasilkan biji padi yang bagus dan banyak?Sewaktu - waktu kecamuk bisa saja terjadi,Azam tidak bisa memprediksi itu dan mengambil segala resikonya.
Azam mulai frustasi,mengapa gadis itu sekarang menjadi hantu yang terus berkeliaran dalam pikirannya?Bayang - bayangnya tak bisa pergi jauh,apa yang sebenarnya terjadi?Marah dan kesal menjadikan bumerang sekaligus pada dirinya.Dan lihat, ia sekarang mulai memerhatikan luka pada pergelangnnya.Bahkan ia mengikuti saran Asha untuk menjahit luka itu yang sejak awal ia tak pernah memperdulikan setiap luka yang ada pada dirinya.
"Balik ke bilik Zam..."
Made menepuk pundaknya seraya berjalan di sampingnya.Azam hanya mengangkat tangan sebagai tanda mempersilahkan.
"Ok...kami masuk duluan..."
Rekan lainnya mulai mengikuti Made.
__ADS_1
"Onde mande...sepertinya kamu sedang stres dan banyak pikiran,hati - hati masuk angin bos..."
Elhakim mengucapkan kalimat yang tidak saling berkesinambungan.Laki - laki itu berdiri di hadapan Azam dengan memasukkan
kedua tangannya pada kantong mantelnya.
"Memang banyak yang sedang aku pikirkan..."
Elhakim melonjak,tidak biasanya pimpinannya itu menanggapi kelakar kawan - kawan kesatuannya.Apalagi candaan yang tak masuk tipe nya,dianggap tidak penting.
"Apa yang mengganggu pikiranmu?apa kamu ragu atau takut...?"
Azam mengalihkan pertanyaan Elhakim.
"Tidak ada yang aku takuti..."
"So,hilangkan ketidakyakinanmu karena kami menggantungkan semua padamu.Terbukti kamu selalu membawa hasil yang cemerlang dalam setiap divisi kami..."
Azam,laki - laki yang tak pernah menampakkan ekspresi lewat ucapan,hanya tindakan dan wajahnya yang begitu tegas.Betapa pun menjengkelkan Azam,semua anggotanya tetap menaruh hormat padanya.
"Aku tersanjung..."
Hambar,Azam mengucapkan tanpa rasa.
Azam memutar lehernya dengan kaku seperti leher yang berkarat.Anggota-anggotanya itu memang kurang ajar.
...****************...
Pak Sodikin datang dengan membawa dua cangkir kopi yang di beri tatakan yang terbuat dari tanah liat.
"Minum dulu Zam..."
Azam berusaha menormalkan wajahnya yang memerah sebab berang dengan ucapan Elhakim.
"Terima kasih pak..."
Pak Sodikin duduk di bale - bale yang banyak terdapat retakan. Menyeruput seteguk dua teguk kopi panas yang ia sajikan.Di iringi suara binatang - binatang buas berirama saling bersautan.Bising tengah malam yang senyap dan damai. Alangkah baiknya jika kesunyian ini digunakan untuk merenung dan menenangkan diri bukan untuk menjemput kerusuhan.
"Saya tahu kao orang dari awal kedatangan kalian kemari. Maksud dan tujuan kao tergambar jelas disini..."
Pak Sodikin menunjuk bola matanya sendiri yang bercahaya walau di usianya yang senja.
"Saya hidup sudah lebih dari 85 tahun,saya sudah hafal dan kenyang dengan segala tipu muslihat,penindasan atau penjajahan sejak zaman nipon dan belanda dulu yang sama persis kejamnya dengan sekarang..."
__ADS_1
"Apa bapak ikut melawan mereka...?"
"Tentu,apalagi ketika saya masih muda.Saat kami masih anak - anak atau beranjak bujang kami tidak pernah mendapat pendidikan yang layak seperti kao orang yang mempunyai otak yang cerdas..."
Azam mengulas senyum miris.
"Sedari dulu tidak pernah berubah,problemnya sama saja. Kejahatan selalu merenggut orang - orang yang kita sayangi. Hingga isteri dan anakku menjadi korbannya.Bedanya dulu penjajah dari orang asing dan kini kita masih saja dipaksa hidup penuh ancaman dan terror dari saudara kita sendiri...!"
Azam setuju,kepalanya sudah merekam banyak dari berbagai pengalaman yang di bagikan oleh pak Sodikin.
"Sekarang,kao orang datang untuk memberi kenyamanan.Betul...?"
Azam mengangguk.
"Tidak ada yang sanggup mengamankan kampung Telihan,Zam.Orang yang sudah masuk ke hutan tidak akan kembali.Mereka,para prajurit mati dibunuh.Hutan itu macam kuburan bagi kami..."
Lilitan tembakau pak Sodikin sudah sempurna,menyalakan api pada ujungnya sebelum ia menghisapnya.
"Tapi kao orang mato sungguh - sungguh,kao menjadi kekuatan dan kepercayaan bagi kawan - kawanmu.Saya yakin,kao bisa mengalahkan.Sebab tu,susunlah rencana matang - matang.Tinggal lah dirumah ini untuk menyusunnya..."
"Tapi,apa bapak tidak merasa terancam.Kami tidak bisa menyepeleka nyawa seseorang,karena taruhannya adalah nyawa...!"
Pak Sodiki menyesap rokok lintingnya dalam - dalam.
"Sikap kao mengingatkan ku saat masih bujang,hanya bedanya kao orang berotak cerdas dan berwawasan sedangkan saya dulu hanya mengandalkan otot saja..."
Kerutan pada keningnya memberikan nilai keseriusan pada setiap ucapannya.Pak Sodikin menepuk bahunya sambil tersenyum.
"Percaya pada saya,rumahku adalah satu - satunya tempat yang paling aman,tinggal lah lebih lama dengan menyusun rencara lebih matang.Kampung akan semakin di awasi dan kalian pasti dicurigai,yo paling bagus kalau kita menghadapi sama - sama..."
Betapa sulitnya meruntuhkan ego Azam serta prinsipnya hingga ia hanya bisa menarik nafas dalam - dalam.
"Semoga keberadaan kami di rumah bapak tidak membawa bencana..."
Pak Sodikin tersenyum menunjukkan kerutan halus sekitar mata dan bibirnya.
"Alloh akan selalu berada di pihak orang - orang yang benar Zam,selalu begitu..."
...****************...
*Semangat....jangan lupa tinggalkan jejak berupa like atau komen ya....
ini scuel dari KAKAK IPARKU,SUAMIKU
__ADS_1
yang udah pernah baca pasti tau*...