
Bismillah Hirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa Aalihi Sayyidina Muhammad
"Terkejut kamu anak Dirga??! Wanita yang kamu anggap sahabat adalah manusia paling menjijikkan sedunia! Coba kamu singkap kedoknya, segala kebaikannya hanya sandiwara. Dia ikut dalam perencanaan pembunuhan kalian! Memangnya kalian pikir siapa yang menggiring kalian untuk masuk hutan itu, Huh?"
Steven meludah kelantai setelah menatap wajah Putri.
"Ayo...bicaralah kamu pelacur!!!Katakan pada mereka semua siapa kamu sesungguhnya!Kamu tidak lebih dari seorang wanita sundel yang mencoba masuk ke sekolah untuk menjalankan tugas_!!!"
"Ayah, cukup!!!"
Putri jatuh terduduk, menangis sambil menutup kedua telinganya. Di bawah tatapan intimidasi dari orang - orang, dia merasa sangat tertekan.
Steven Yan di giring petugas untuk memasuki selnya, namun mulutnya terus meraung - raung.
"Dasar wanita jalang! Harusnya kamu melakukan sesuatu melihat ayahmu mendekam di penjara! Kamu bisa tidur dengan mereka semua kan, HUH? Seperti yang sering kamu lakukan!!!!"
Lantas raungan itu perlahan memudar.
Asha memandang keberadaan Putri, bingung atas perasaan kecewaannya sendiri. Sudut hatinya yang paling dalam tak ingin mempercayai fakta itu, masih ada bagian hatinya yang melunak. Bersedia memaafkan. Namun Asha wanita biasa, yang hatinya tidak di ciptakan dari berlian. Mengapa Putri begitu tega melukukan?
"Asha"
Putri memanggilnya dengan banyak linangan air mata, dia terlihat sangat rapuh.
Asha berbalik, meraih pinggang Azam sembari berbisik.
"Aku tidak ingin berbicara dengannya"
Azam mengusap peluh di kening istrinya
"Aku mengerti, kita pulang sekarang ya?"
...****************...
Laki - laki itu duduk di kursinya dengan marah.
"Tolol!!! Kalian semua memang tolol!!! Termasuk kamu juga Tanjung. Kerja anak buahmu apa saja? Hanya molor dan minta duit saja!!!"
Tanjung sang pemimpin bertambah muram.
"Aku tidak pernah memperhitungkan jika mereka menyerbu masuk, membunuh anak buahku, dan mengobrak - abrik gudang dengan bahan peledak. Semua di luar kendali!"
Gebrakan meja terdengar sangat keras.
" Mana yang kamu bilang cuma 5 ekor tikus yang mudah di singkirkan? Mudah saja kan? Tembak semua sisakan Dirgantara, bereskan?"
Napasnya terengah sebab amarah.
__ADS_1
"Bego! Malah kalian tambah lagi kasus baru dengan di jebloskan Steven dalam bui. Kamu tidak tahu betapa besar kerugian karena terhentinya prosduksi di hutan itu! Belum lagi Polisi masih menyiris wilayah markas, hancur semua!!!"
Lengannya yang kokoh menghamburkan kertas - kertas yang berisi laporan bahwa Club malam atas nama Steven Yan resmi dihentikan oprasi oleh petugas keamanan.
"Kamu mau hidup melarat,HUH??? Hidup seperti gelandangan??!"
Tanjung memejamkan mata, amukan laki - laki itu sudah menjadi makanan sehari - harinya.
"Semua ini gara - gara campur tangan intel sialan itu. Salah satunya menikah dengan putri Dirgantara. Anak Steve yang mengabariku!"
Tanjung mencoba putar kemudi.
"Maka aku jamin pernikahannya tidak akan berlangsung lama. Kamu tahu, bahwa Dirgantara dan seluruh keturunannya tak akan kubiarkan semua hidup tenang. Sesuatu yang di renggut dariku akan ku renggut kembali dengan cara yang lebih kejam!"
Tanjung menatap mata laki - laki itu, mungkin sampai mati, kemarahan itu akan ikut terkubur bersama jasadnya. Tanjung banyak menemukan catatan rapi tentang pembunuhan keluarga itu, serapih skenario pembantaian keluarganya sendiri.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Memulihkan finansialku, tentu saja. Aku mempunyai koneksi dari Prancis. Lucas bukan hanya Klienku tapi dia juga tambang emas besar bagiku. Dia bisa menjamin reputasiku!"
Lelaki itu tak akan merasa puas dengan segala yang ia capai. Sebelum ajal menenggelamkan ke dalam tanah, perdamaian mungkin tak akan pernah terjadi.
...****************...
"Tidak baik menyisakan makanan dalam piring sedangkan di luar sana masih banyak yang kelaparan"
Tegur Azam.
"Makanlah selagi kamu masih bisa menyiapkan untukku dan dirimu sendiri"
Asha menggeser kursinya mendekati istrinya yang masih betah melamun.
"Hei"
Asha mendongak, menatapnya bingung.
"Hm...Abang mengatakan sesuatu?"
Azam mengambil alih sendoknya, menambahkan kuah dan rendang ke dalam piringnya lalu menyuapkan ke mulut istrinya.
"Seorang gadis pernah berkata padaku, dunia tidak hanya terbagi atas orang baik dan orang jahat. Semua hal memiliki sisi gelap dan terang masing - masing. Maka pilihan apa yang kita ambil itulah yang menentukan siapa diri kita? Lantas apa bedanya egois dan kejam? Keduanya masuk dalam sisi gelap. Ada beberapa orang memilih itu sebab rasa sayangnya pada diri sendiri. Tetapi itulah pilihan Sha, maka jangan pernah menyesali sesuatu yang telah kamu pilih sekalipun orang yang tersesat berhak menyesalinya"
Azam tersenyum tipis.
"Aku tahu siapa gadis itu!"
Sahut Asha, membuka mulut untuk menerima suapan dari suaminya. Ternyata menyantap makanan dari tangan orang yang kita sayang terasa sangat nikmat.
" Tentu saja kita berdua tahu. Gadis itu sekarang sedang murung dan bersedih hati. Tidak berselera makan dan mengabaikan suaminya"
Satu tetes air mata jatuh di pelupuk mata Asha.
__ADS_1
"Ssshhh...Aku mengatakannya bukan untuk membuatmu menangis"
Hibur Azam.
Asha meraih jemari suaminya, mencium dengan lembut.
"Aku tahu, aku minta maaf"
Azam membalas mengusap lembut pipi Asah.
"Tidak ada yang perlu aku maafkan"
Asha memejamkan mata, menikmati setiap belain tangan Azam pada pipinya.
"Dia tidak pernah mau terbuka soal keluarganya padaku. Bersikap normal dan amat baik hingga membuatku memberinya kepercayaan. Dia masuk rumah ini sebagai sahabatku, dia orang yang membantuku banyak hal, namun dia juga tega menjual semua itu pada orang - orang yang ingin mencelakai keluargaku dengan imbalan yang tak pernah aku tahu"
Wanita itu memayungi maniknya dengan lentera sendu.
"Aku bukan pendendam, tetapi aku tidak mudah memaafkan"
"Kalau begitu, jangan paksakan dirimu. Wajar jika kamu marah, kamu berhak atas tekanan emosional dalam dirimu. Aku takkan memintamu untuk bersabar, sebab begitu mudahnya bicara tanpa merasakan. Namun gunakanlah kemarahanmu untuk menyadarkanmu, bukan mempengaruhimu"
"Bolehkah jika aku tidak ingin bertemu dengannya?"
Azam merangkum wajah Asha dan mendaratkan kecupan di keningnya.
"Sampai hatimu sanggup untuk mengiklaskannya, tidak masalah. Lakukan apa yang menurutmu baik. Kamu lebih bijak dalam menyikapi masalah dari pada aku. Sebab pikiranmu di ciptakan untuk berpikir, dan hatimu di ciptakan untuk menuntun. Kamu lebih tahu itu"
"Terima kasih sudah bersedia menjadi orang yang mau mengerti aku, my Hubby. Semoga sikap abang juga bisa berubah terhadap teman 9 teman di kesatuan abang".
Azam mengernyitkan dahi, kurang suka dengan kata - kata Asha.
" Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?"
Asha memandang dengan manik madu yang cemerlangm
"Hamzah yang mengatakan padaku kalau Abang suka marah - marah kalau melakukan tugas. Sering bentak - bentak saat pelatihan dasar".
"Sejak kapan kamu berkomunikasi dengan dia? Aku tidak pernah mengizinkanmu bertukar pesan dengan laki - laki manapun apalagi si bajingan tengil Hamzah itu,tsk!"
Giliran Asha yang mengerutkan dahi.
"Loh, kan Abang sendiri yang membuat grup di aplikasi Line minggu lalu? Aku dan teman - teman abang semua bergabung di dalamnya. Aku pikir Abang tidak muncul - muncul karena candan Hamzah yang garing?"
"Apa?"
Kepala Azam seperti habis di hantam batu, ingat kalau ponselnya sempat di pinjam Hamzah untuk mengecek lokasi pembuatan pil ekstasi.
Asha membereskan piring di meja makan, menatap Azam yang stres dan lumrah.
"Coba cek Line punya Abang dan pastikan sendiri deh, nama grupnya lucu tau?"
__ADS_1
Azam mengurut pelipisnya. Jadi gara - gara ini ponselnya terus berdering saat ia sedang bertugas di jogja.