
Bismillah Hirrahmaa Nirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Aalihi Sayyidina Muhammad
Mereka berjalan melewati ruang belajar para santri,kebun sayur kecil dan kolam ikan gurame. Juga Mushalla At- Tauhid yang ramai suara santri mengaji.
Asha tidak salah menerima tawaran ini. Tempat yang penuh kedamaian untuk mengusir segala prasangka buruk yang sedang ia alami.
Rumah kiyai Lathif berdampingan dengan bangunan lain yang lebih panjang dan terkesan kuno. Berlantai kayu plitur yang mengkilap, rumah itu tampak indah sekali dengan di gantungi lampion yang mirip kurung merpati. Asha baru yakin, jika keluarga Kiyai Lathif memang berasal dari Jawa, tepatnya Magelang. Dilihat dari berbagai ornamen dan kaligrafi yang di bingkai dengan ukiran merak memberikan unsur akan kentalnya budaya tanah Jawa.
Alifah mengatakan ada enam guru pengajar di sana, namun Asha tak perlu khawatir karena tempat tidurnya sudah di persiapkan jauh - jauh hari.
"Sepertinya ada tamu Al, apa kedatangan kita tidak mengganggu mereka...?"
Alifah melirik beberapa pasang sandal dan sepasang sepatu yang berada di teras rumah Kiyai Lathif, sepertinya kerabat dekat sedang berkumpul disana.
"Loh tentu saja tidak mbak, Kiyai Lathif sendiri yang meminta saya untuk mengantar mbak Asha menghadap beliau sebelum mengantar mbak Asha beristirahat..."
Asha mengangguk paham dan mengikuti Alifah melepas sepatu selopnya di undakan keramik.
"Assalamualaikum..."
Suara cempreng Alifah pasti terdengar sampai penjuru rumah, Asha yang berada di belakangnya hanya geleng - geleng kepala.
Tak lama seorang perempuan paruh baya muncul di balik tikungan dalam rumah. Asha mengenalnya dengan sebutan Bu 'deh Fatimah. Dia adalah adik kandung dari Kiyai Lathif sekaligus orang yang menawarkan Asha untuk mengajar disini. Mereka berkenalan saat sama - sama mengikuti kajian islam di study centre hampir setahun lalu.
"Wa'alaikum salam Warahmatullahi Wabarakatuh..."
Jawabnya lembut. Wajahnya berbinar saat menemukan sosok Asha yang berdiri malu - malu di belakang Alifah.
"Allah...kamu sudah sampai rupanya? Kami sangat khawatir, sejak sore ponselmu sulit sekali di hubungi...!"
Asha tersenyum sambil mengangkat ponselnya yang sudah mati total, melangkah maju untuk menyalami Bu 'deh Fatimah.
"Maaf ya Bu 'deh, Aa' Arkha kakak yang paling menyebalkan yang waktu itu menjemputku di seminar sedikit membuat ulah, menabrak pedagang di trotoar. Jadilah Papa mengurusnya terlebih dahulu..."
__ADS_1
"Innalillah...Apa mereka tidak apa - apa? Apa kamu terluka? Mengapa kamu tidak mengabari Bu 'deh saja biar Alifah menjemputmu di terminal..."
"Tidak apa - apa kok Bu 'deh...bahkan mungkin sekarang Aa' dan Papa sudah tertidur pulas. Mereka itu seperti IronMan, mana mungkin terluka kalau hanya mendapat sedikit benturan saja...?!"
Asha terkikik sendiri karena ucapannya, Fatimah mencubit gemas hidung Asha. Kenapa sih dengan hidungnya? Kenapa semua orang senang sekali mencubit hidungnya?
"Hmmm...dasar gadis nakal. Mari masuk tamu - tamu mulia ini, mumpung semua keluarga sedang berkumpul..."
Dengan penuh semangat Fatimah menggiring Asha menuju ruang tamu. Disana sudah duduk Kiyai Lathif dan istrinya Nyai Halimah di kursi kayu antik yang berlapiskan busa tersenyum hangat ke arahnya.
"Kak ini dia putri Hanifah dari kota yang sudah kita tunggu - tunggu sejak sore tadi. Heran, gadis ini selalu saja bikin khawatir...!"
Kedua orang tua itu mengangguk ramah dan memberi salam kedatangannya dengan penuh kehangatan. Asha segera datang lalu bersimpuh mengucapkan terimakasih karena sudah menerimanya.
"Tidak perlu sungkan nak, anggap saja seperti rumahmu sendiri. Kami berterima kasih atas kesediaanmu mengajar di tempat ini"
Kata istri Kiyai Lathif, Nyai Halimah dengan mengusap pelan kepala Asha.
"Justru Asha yang harus berterima kasih karena sudah di terima disini. Kesempatan ini tidak datang dua kali. Asha senang jika ilmu yang sudah saya peroleh bisa di bagi dengan sesama..."
Nyai Halimah terpesonah oleh kelembutan Asha melalui tutur katanya.
Asha melirik Bu 'deh Fatimah dengan bingung sekaligus penasaran, bagaimana ruangan itu penuh suka cita yang begitu kental. Bu 'deh Fatimah tersenyum padanya.
" Karena Gus sudah pulang kembali ke rumah ini. Ruang tamu Kiyai yang biasanya sepi mendadak akan menjadi taman baca di surga nanti, Asha...!"
Perkataan Bu 'deh Fatimah diiyakan serempak oleh Kiyai Lathif dan istrinya, namun Asha masih bingung.
"Baiklah, lebih baik kamu berkenalan saja langsung dengannya supaya tidak canggung. Sebab insha Allah dia ikut mengajar di kelas tiga. Tentu saja kamu akan sering bertemu dengannya nanti..."
"Dia anak bungsu kami yang baru pulang dari kota..."
Kata Kiyai Lathif dengan wajah berseri. Asha mengangguk sambil mengulum bibir, kebiasaan yang tak di sadarinya saat gugup mulai melanda dirinya.
Tiba - tiba Bu 'deh Fatimah memanggil keponaknnya dari jauh dengan melambaikan tangannya.
"Gus...sini! Tamu yang dari Jakarta yang mau ngajar disini sudah datang...!"
__ADS_1
Dia putra bungsu Kiyai Abdurrahman Lathif.
Asha hampir pingsan tak percaya. Khoirul Azam seperti hantu yang muncul dari lorong kamar mandi dengan rambut spike agak cepak yang sedikit basah. Sama terkejutnya, pemuda itu sampai menjatuhkan handuk dari tangannya. Matanya memandang lurus ke arah Asha dengan kekosongan yang mengibakan, kerinduan yang mendalam dan rasa yang begitu menyakitkan.
Ya Allah, betapa rindunya Asha akan wajah itu yang selama enam bulan tanpa kepastian akan arah perasaannya. Tetapi mengapa kedua mata sehitam jelaga itu berubah kembali sedingin musim salju di swiss sana?
Setelah beberapa lama dalam keterdiaman, Bu 'deh Fatimah membuka suara.
"Apa kalian sudah saling mengenal?"
Azam melirik kearah Bu 'dehnya sebelum melengos pergi ke dalam kamarnya.
"Tidak sama sekali..."
Hati Asha bagai tertusuk - tusuk jarum infus.
...****************...
"Aku tidak ingin mengajar, tidakkah kalian mengerti? Aku kemari hanya ingin menemui Abi dan Umi saja, tidak untuk berlama - lama...!"
Teriakan Azam terdengar sampai luar rumah Kiyai Lathif. Pasti akan mengagetkan siapa pun yang tak sengaja melewatinya.
Suara Nyai Halimah mengikutinya kemudian.
"Umi mohon, tetaplah disini nak...Jangan pernah tinggalkan kami lagi. Kamu tidak tahu betapa kami sangat menyayangimu. Kamu adalah bagian dari keluarga kami...!"
"Aku ingin keluar cari angin...!"
"Azam...?"
"Gus...?"
Asha mencengkeram dadanya, kenapa Azam bisa semarah itu pada keluarganya? Kenapa Azam tega membuat orang tuanya menangis? Ternyata pemuda itu tidak berubah, masih kasar dan mudah marah.
Sibuk dengam pemikirannya sendiri tahu - tahu sosok Azam sudah berada di hadapannya dengan langkah tergesah - gesah. Spontan Asha hanya mematung di undakan keramik sambil memegang buku laporannya erat - erat.
Bu 'deh fatimah, dua kakak perempuannya dan Nyai Halimah memanggil nama pemuda itu dari arah belakang. Namun Azam seolah tak menggubrisnya. Azam bahkan hanya melewatinya seolah tak ada siapa - siapa yang berdiri disana. Persis seperti angin yang melewati pohon layu yang membuatnya jatuh dan tersungkur disana.
__ADS_1
Alhamhamdulillah....semangat Ramadhan.
Like...like...beri krisan biar author makin semangat...