
Bismillah Hirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidin Muhammad
Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad
Cuaca pucat di luar sana menyebarkan hawa dingin, gemuruh guntur membuat suasana menjadi semakin mencekam. Seperti hal lumrah, rumah itu gaduh oleh teriakan marah. Tak bisa di pungkiri, bahwa semua itu seolah menjadi makanan bagi penghuni rumah itu. Setiap hari.
Seorang bocah laki - laki menyaksikan itu dan takut - takut bersembunyi di pojok ruangan. Menangis dan meratap karena tak kuasa menolong ibunya. Rasanya tidak pernah ada kebahagian sejak ia di lahirkan di dunia, atau jauh - jauh hari pun tak ada sinar matahari yang masuk melalui celah - celah rumah megah itu. Hanya bangunan megah tanpa nyawa.
"Dasar pelacur tak tahu diri! Berani - beraninya kamu main api di belakangku selama ini???"
Seruni mendongakkan kepalanya menghadap langit - langit rumah sebab belakang kepalanya di cekal oleh Bahar.
"Aku tidak pernah menghianatimu. Ya Allah Mas...!"
Serunin terduduk di lantai mecoba meraih kaki suaminya.
"Apa kamu bilang? Tidak pernah? Kamu pikir aku mudah di kendalikan, Huh? Katakan padaku perempuan sundel!!!"
Bahar melempar beberapa foto ke arah keramik, membuat gambar Seruni bersama laki - laki berseragam anggota TNI berserakan di sana.
Seruni menggeleng dengan air mata berderai.
"Aku tidak punya hubungan apa pun dengan dia! Dia hanya membantuku mengurus adminstrasi di rumah sakit untuk pengobatan punggung Gilang!"
Wajah Bahar berkilat, mengangguk - angguk janggal.
"Oh...anak itu? Aku tahu benar tanpa harus kamu katankan. Gilang...Gilang...Kemari kamu Gilang sialan!"
Seruni mengibah dengan sangat menyedihkan.
"Aku mohon, jangan sakiti dia lagi mas. Apa salahnya sampai kamu tega memukulinya terus? Dia itu putramu..."
Bahar mengeram marah.
"Kamu tidak usah berdusta di hadapanku, aku tahu semuanya!"
Bahar menyembur - nyembur setelah menampar kedua pipi istrinya.
"Ayah cukup, jangan sakiti bunda lagi. Kasihan bunda!"
Gilang nekat berlari menerobos ketakutannya, tertatih kakinya pincang bekas hantaman dari Bahar kemarin. Kukuh menjadikan dirinya tameng bagi Seruni. Tak ayal dampratan keras nyasar ke tubuhnya. Gilang terlempar ke dekat tubuh Seruni yang menjerit menggapainya.
__ADS_1
"Ya Allah, Gilang!"
"Bang...Bang Tanjung tolong bunda Bang...!"
Gilang berteriak - teriak sambil menangis memandang Sahrir yang berdiri diam di sudut rumah. Memandang semuanya dengan mata kosong tanpa ada niat untuk membantu ibu dan adiknya.
Bahar menjumput kaos bagian depan Gilang.
"Anak sialan! Harusnya aku bunuh saja kamu sejak dalam kandungan. Dasar anak sampah!"
"Ya Allah mas, sudah cukup!!!"
Seruni menggapai kaos Gilang yang diangkat kasar oleh Bahar.
Bahar mengempaskan tubuh Gilang.
"Akan aku lepaskan anakmu, namun kamu memang harus di pasung supaya menyadarkanmu akan kedudukanmu"
Detik itu juga lengan Seruni di seret oleh Bahar dan di kunci di dalam kamar mandi. Seruni terus menggedor - gedor pintu dan memanggil nama Gilang terus meneru, namun Gilang tidak punya tenaga untuk menyauti panggilan ibunya atau sekedar berdiri. Tubuhnya lemah, hidungnya mimisan hingga darahnya mengotori lantai.
Bahar dengan mata yang membara meninggalkan rumah itu, memandang nista pada tubuh anak yang tak beradaya itu untuk terakhir kalinya. Anak itu sesenggukan dengan air mata yang mulai mengering. Gilang Panji Wiratama terlihat sangat menyedihkan sehabis di siksa ayahnya sendiri.
Tanjung mendekat, membuat Gilang medongak dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
"Kenapa kamu repot - repot membantunya? Kamu tahu kan dia tidak benar - benar menganggap kita sebagai keluarganya? Dia ayah tiriku, namun sepertinya aku lebih memahaminya di banding kamu anak kandungnya. Kamu juga tahu, dia tidak pernah mencintai ibu kan? Dasar anak tolol, mencoba mendamaikan mereka pasti berakhir di rumah sakit! Baiknya kamu pergi jauh dan jangan pernah menampakkan diri lagi!"
Tanya Gilang getir, suaranya selemah tubuhnya.
Tanjung tertawa sinis.
"Oh, aku sudah mengubur apa pun perasaan melankolis sejak tahu kepasrahan ibu pada pernikahannya. Aku tidak lemah dan setolol seperti dirimu. Ibu terlalu bodoh untuk mencintai laki - laki macam Bahar, dia juga harus mengerti perasan anaknya bukan? Aku sudah bosan dengan siksaan Bahar, dan kini giliranmu Gilang. Sabar saja jika kamu masih ingin menikmatinya!"
Lalu Tanjung melenggang meninggalkan adiknya yang masih berbaring seperti mayat.
Sahrir Tanjung tak ingin menunjukkan wajah sedihnya di depan Gilang, air mata Sahrir menetes di detik pertama ketika ia berbalik. Ia tak ingin Gilang tahu bahwa setelah itu air matanya terus berderai. Sahrir melampiaskan dengan menyakiti dirinya sendiri dan bersumpah akan melindungi keluarganya dengan caranya sendiri.
...****************...
"Kamu harus bekerja untukku seumur hidupmu, Sahrir!"
Bahar duduk angkuh di balik meja kebesarannya.
"Kenapa aku harus menjadi budakmu?"
__ADS_1
Sahrir menatapnya tanpa rasa.
"Karena aku sudah memungutmu di jalanan. Kamu tak akan mendapatkan kehidupan jika hanya bergantung hidup pada ibumu yang sialan itu. Sepantasnya kamu membalas jasa - jasaku!"
Tanpa sepengetahuannya, Sahrir mengepalkan telapak tangannya di balik punggung. Bahar memang berjasa dalam keluarganya, namun ia tak menyukai kearogan dan congkak laki - laki sinting itu. Tapi biarlah, hanya sementara. Pikirnya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Bahar mengulas senyum puas yang menyebalkan.
"Tidak banyak, hanya mengelola bisnisku di Kalimantan"
Detik itu juga Sahrir tahu dia akan menjadi kaki tangan pada bisnis dunia hitamnya.
"Bisnisku yang ada di Kalimantan sepenuhnya akan kamu tangani sebelum pewarisku yang lain benar - benar siap menerimanya"
Sahrir mengangguk basa - basi pada Bahar.
"Tapi sebelum itu, ada tugas lebih penting yang harus kamu lakukan. Singkirkan dia!"
Sahrir melihat adik kecilnya sedang bermain pesawat - pesawatan di samping pintu utama rumahnya. Sahrir tersenyum miris, Bahar secara tak sadar memberikan kesempatan padanya untuk menyelamatkan keluarganya.
"Tunggu dia sedikit dewasa, dan kamu siap mengeksekusi. Tapi sebelum itu aku sudah mendaftarkanmu sebagai Anggota TNI AD. Semata untuk memberi jalan dalam mengerjakan bisnisku!"
Bahar tidak pernah tahu, selama berpuluh - puluh tahun Sahrir memendam bara yang membara di dalam lubuk hatinya. Pelenyapan keluarganya harus di bayar mahal oleh Bahar suatu saat nanti.
...****************...
Seruni, ya Seruni adalah wanita yang tak pernah ia cintainya itu akhirnya membiarkan kemana arus pernikahannya akan bermuara. Dia sudah di ambang batas, sudah tak sanggup untuk meluluhkan hati seorang Syamsudin Bahar yang sekeras batu. Perpisahan mungkin jalan yang terbaik, membawa kedua putranya untuk pergi jauh dari kehidupan Bahar. Namun tak semudah yang di bayangkan, Sahrir memilih ingin tetap tinggal bersama ayah tirinya. Iming - iming akan menjadi budak, Bahar akhirnya menyetujui itu.
Sahrir tak lupa, Bahar seseorang yang terkejam menurutnya, bisa di pastikan Bahar tak akan membiarkan siapa pun yang pernah berurusan dengannya bisa hidup tenang. Kali ini Seruni, ia bersumpah akan memberikan maut untuk seruni yang paling keji yang mungkin tak akan pernah di bayangkan.
Bersebrangan dengan Hanifa Asmaya yang di dambakannya setengah mati. Wanita yang akan di jodohkannya, wanita yang akan di nikahinya seminggu kemudian malah terlibat skandal dengan Iqbal Dirgantara. Berkata terus terang pada Bahar, kalau Hanifa lebih menyukai Dirga di bandingkan dirinya. Hanifa tak pernah ragu untuk melakukan suatu hal yang menurutnya tidak buruk. Untuk apa sebuah pernikah jika tidak di landasi cinta? Tentu keridloan sang kuasa sulit di gapai.
Namun Bahar tak akan melupakan begitu saja kejadian memalukan itu, ia bersumpah tidak akan membiarkan Igbal Dirgantara merasakn kebahagiaan.
Anjing!!! Lelaki itu memang setan! Berani - beraninya dia merebut Hanifah dengan intrik kotor. Berani - beraninya dengan sadar ia merebut Hanifa. Dan bahkan kini mereka hidup bahagia. Apa -apaan dengan hidupnya?
Bahar meradang karena sakit hati parah. Dendamnya pada Iqbal Dirgantara dan keluarganya terus memanas seperti api neraka. Lelaki itu selalu merebut apa pun yang berharga bagi dirinya. Dan Bahar bersumpah bakal melakukan apa pun untuk bisa berada di level tertinggi di atas Iqbal Dirgantara.
Syamsudin bersumpah!
Huh...akhirnya terkuak juga.
__ADS_1
Like....Like...Like...
Coment...Coment...Coment...😙