
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'ala'aalihi Sayyidina Muhammad
"Dan segala sesuatu kami jadikan pasang - pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah". (QS. Adz dzariyaat (51):49)
Di dalam palung hatinya paling dalam ada melodi yang tak terlagukan. Melodi yang hidup dalam hati, namun tak jua mengalir seperti tinta di atas tumpukan kertas. Membalut jasadnya dengan kabut temaram, di sebarkan oleh kesunyian, di cerahkan oleh keramaian, di bungkus oleh kebenaran, di ulangi oleh halusinasi, di hayati oleh cinta, serta di tembangkan oleh jiwa.
Maka seperti itulah perasaan Husain Fahmi saat ini, seperti melodi yang tak pernah sampai namun tetap berkalkulasi dalam kalbu. Membuat hati Fahmi penuh iring - iringan duka cita. Menyayangkan hidupnya yang sudah tak berharga lagi, menyesali pertemuannya dengan Syamsudin bahar yang telah memberikan rasa kecewa yang mendalam. Pertemuan yang sudah berhasil mengerdilkan angan - angan keriduannya.
Sudah cukup, penantiannya sudah terjawab. Bahar tak menganggapnya anak, maka tak akan berdosa jika menganggap ayahnya sudah tiada. Biarlah menjadi cacatan rahasia yang begitu mengecewakan dalam sanubarinya, bertekad tak akan berbagi pada siapa saja yang ingin bertanya. Fahmi menyimpan semuanya.
Dan dia, Asha. Andai ia tau jika jatuh cinta sungguh menyakitkan, maka ia lebih memilih tak berhati.
"Mana mungkin aku bisa tahu Mi, kamu tak pernah cerita padaku sampai saat kecelakaan itu!"
Asha duduk di pinggiran sofa sambil menautkan jemarinya sendiri, sementara Fahmi duduk setengah berbaring dengan tenang di atas bangsal rumah sakit. Tangan kirinya habis di operasi dan di pasang puluhan pen, kepalanya di bebat dan hampir seluruh wajahnya di perban. Namun Fahmi tak harus menjalani bedah oprasi plastik, senyumnya masih semanis gula - gula saat menatap sepupunya.
"Aku mempertimbangkan resikonya Asha, mungkin kalau kamu tahu kamu pasti akan menjauhiku. Segalanya berubah dan tak akan sama. Tak akan ada lagi seruan sepupuh Mimi adalah yang terbaik sedunia darimu, hal yang paling aku takutkan jika aku memilih kejujuran!"
Fahmi merenung sambil memandang Asha.
"Aku lebih takut kehilanganmu sebagai teman, sahabat dan saudara dari pada mendapatkanmu tidak dengan perasaan yang sama. Kamu tahu kan, dalam hidupku hanya ada kalian saja. Kalau kamu pergi maka akan jadi apa aku ini?!"
"Mimi, tolong jangan bicara seperti itu!"
Suara Asha bergetar, pemuda itu terlalu banyak bicara. Asha tak mau mendengar lagi, namun Fahmi angkat bahu dan melanjutkan ucapannya.
"Kecuali kalau kamu memiliki perasaan itu padaku meski sedikit saja, Sha! Aku selalu berharap, setidaknya ada rasa sedikit saja untukku. Seperti kandungan nitrogen dalam bumi, tidak penuh namun selalu ada unsurnya!"
Asha meremas sofa, ia tak pernah ingin Fahmi menaruh hati padanya. Sebab Asha tak ingin memiliki hubungan rumit dengan Fahmi, karena pada dasarnya Asha tak akan sanggup membalas bentuk perasaan Fahmi sekecil apa pun. Fahmi sepupunya, dan selamanya akan seperti itu.
"Mimi, kamu harus membuat semuanya tampak normal. Lihatlah aku sebagai adikmu!"
Fahmi menaruh telunjuk di bibirnya.
__ADS_1
"Stttt...diam, aku tahu!"
Sembari memejamkan mata, Fahmi mencoba terus berbicara.
"Demi Allah, Asha Azzaliyah Zahra. Berkali - kali aku mencoba melupakan perasaan ini
pada mu, bahkan jutaan kali. Tetapi setiap aku mencoba, setiap itulah perasaan ini bertambah kuat. Aku tak tahu obatnya atau penangkalnya, kamu seperti racun yang paling indah!"
"Bagaimana mungkin kamu mempunyai perasaan padaku?!"
"Kamu sedang bertanya sesuatu yang tak ada muaranya Asha, sesuatu hal gaib dan tak kasat mata. Benar, perasaan pun bisa menjadi sesuatu yang gaib bukan? Terang saja, kalau setan mudah mempermainkan. Sampai kapan pun aku tak akan bisa menjawab pertanyaanmu. Sebab hatiku di ciptakan Allah untuk mengikuti, bukan untuk memilih kepada siapa ia berlabuh! Kalau kamu mendengar ungkapan rasa seperti waktu kejadian kecelakaan tempo hari, kira - kira jawaban apa yang akan aku dengar?!"
"Mimi, aku rasa suara kehidupan diriku tak akan pernah terdengar sampai kehidupan dirimu!"
"Karena kurasa hatimu sudah kamu berikan pada seseorang!"
Fahmi memotong dengan senyum palsu.
"Jangan mencoba bermain kata dengan ku Asha, akui saja tuduhanku!"
Asha menatap Fahmi dalam - dalam dan tak perlu menjadi munafik jika merasa hal itu memang terbukti.
Fahmi menimpali dengan tegas.
"Kalau begitu, pindalah ke kamar sebelah dan temui dia. Katakan apa yang ingin kamu ungkap kan!"
"Lalu bagaimana dengan dirimu?"
Pandangan Asha penuh kesenduan.
Fahmi menunjuk dirinya sendiri.
"Aku? Aku tak apa - apa Asha. Kamu telah mengembalikan arti hidupku, apa yang harus aku lakukan dan jalani agar selaras di jalan-NYA. Bagiku itu sudah cukup.!"
Yah, dan keikhalasn adalah bagian dari manusia yang harus selalu di asah sedemikian rupa.
Asha mengusap air matanya yang hampir menetes. Ia meletakkan sebuket mawar dan buah - buahan segar dalam keranjang di pangkuan Fahmi.
__ADS_1
" Aku menyayangimu Mimi, sangat! Kamu adalah sepupu terbaik yang pernah aku miliki di dunia ini!"
Fahmi membantu mengusap air mata Asha, walaupun sebenarnya ia sendiri ingin menangis keras.
"Begitu pun aku, terima kasih untuk semuanya Asha. Terutama untuk semua perhatian yang kamu berikan saat aku kehilangan arah. Tanpa mu aku tak akan menjadi aku yang sekarang..."
Asha tersenyum sambil mengusap kedua alis Fahmi yang tertutup perban. Gadis itu berjalan menuju pintu sebelum Fahmi kembali menghentikannya.
"My Cousin, realita seseorang bukanlah yang nampak di hadapanmu, tapi apa yang bisa di perlihatkan padamu. Kamu pasti mampu memahaminya dengan baik. Aku selalu khawatir pada si keras kepala itu, dia harus di dampingi seseorang yang bisa menuntunnya untuk kembali ke jalan yang benar...!"
Asha tersenyum mendengar penuturan Fahmi yang terus mendorongnya untuk cepat keluar.
"Aku akan merawatnya, dan aku harap pembicaraan kita tidak ada yang tahu!"
Fahmi mengangkat alisnya.
"Oh, itu tidak mungkin. Kamu tahu kan Papa kita mampu menembus pikiran orang lain!"
...****************...
Asha membuka pintu kamar perawan Azam dengan hati - hati tak ingin membuat kegaduhan sedikit pun. Dalam sekejap ia dapat menangkap keberadaan Azam yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Asha mendesah khawatir, efek samping obat perangsang memang telah benar - benar hilang dari tubuh Azam. Tapi situasi lebih rumit malah terjadi. Dokter bilang, kemungkinan Azam akan sering mengalaminya._
"Halusinasi mungkin lebih berbahaya dari pada luka,sebab penyembuhannya akan berlangsung lama. Kasus yang menimpanya sedikit unik, jarang sekali manusia mengalami traumatik semacam ini kecuali guncangan hebat yang pernah di alaminya. Maka membuat kondisi selalu tenang adalah tindakan paling bijaksana"
Terngiang kembali pesan dokter spesialis seniornya itu, Asha menatap wajah Azam penuh kelembutan. Azam kelihatan lebih pucat dari terakhir kali menjenguk sebelumnya. Kantung matanya timbul akibat semalaman tak mengistirahatkan diri.
"Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu memiliki banyak rahasia?"
Asha berbisik di samping telinga Azam, menelisik setiap inci wajahnya.
"Kamu dengar aku Khairul Azam? apa yang sesungguhnya terjadi padamu? Apa yang membuatmu kesakitan sepanjang waktu?"
Asha mengamati paras itu lebih seksama, lebih leluasa, lebih dekat, satu per satu meneliti bagian wajahnya yang tertidur, lantas mengernyit_.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Asha?"
Asha duduk dengan canggung saat dua mata dingin itu membuka sempurna. Memaksanya untuk tak sejengkal pun beralih dari kuncian Azam.
__ADS_1
Well...tunggu Up berikutnya ya...Like & Coment😙