MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#75


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'ala Alihi sayyidina Muhammad


Asha menopang dagu di jendela, rambutnya yang terurai menghiasi setiap sisi wajahnya. Begitu feminin, dan indah. Wanita itu memerhatikan Azam yang sibuk mengaduk tanah. Bertangkai - tangkai mawar yang tertanam di polybag tertata rapi di samping laki - laki itu.


"My hubby, kamu benar - benar tidak mempunyai selera keindahan ya? Katanya mau membuat Rose Garden yang indah, masa formasinya seperti itu sih?"


Telunjuk Asha menyentuh kelopak bunga mawar yang akan di tanam Azam ke dalam tanah yang sudah di lubangi.


Azam mendongak hanya pura - pura ingin menggigit jemari lentik itu. Asha bossy sekali kalau mengenai tata menata, sejak pagi Azam di ceramahi karena pemilihan warna bunga yang menurut Asha tidak matching.


"Lubang tanahnya terlalu berdesakan, My Hubby. Nanti bunganya sulit bernafas, ingat, tanaman juga makhluk hidup. Butuh udara!"


Azam berdiri, menyingkirkan tanah di sekitar sarung tangannya.


"Dan aku juga makhluk hidup"


Secara tak terduka, ia mencium bibir Asha yang kebetulan terbuka.


"Aku juga butuh sebuah ciuman!"


Seriangai di wajah Azam membuat Asha menahan malu ketika tautan mereka terlepas.


"Terutama habis subuh tadi, kamu pergi dan kabur dari ranjang tanpa memberiku___?"


"Abang!"


Asha melotot mau memukul Azam. Tapi lelaki itu tak perlu diragukan lagi gerak fleksibelnya, mudah berkelit.


Asha yang semakin sebal malah mendapat hadiah sebuah ciuman panas. Sepanas mentari yang mulai meninggi menggantung di langit sana.

__ADS_1


Asha yang tak sengaja menggigit lidah Azam di beri pandangan nakal ketika ciuman 3 menit mereka selesai. Tanpa jeda, Asha sampai terengah sesudahnya.


"Oh, kamu mulai berani Sha?"


Goda Azam, mata kumbangnya berkilat - kilat saat menyeka permukaan bibirnya sendiri.


Asha yang malu berat di goda demikian menutup jendela kamar mereka dengan muka merah. Serta menurunkan tirainya hingga Azam tak bisa melihat apa - apa.


Azam mengetuk kaca jendelanya.


"Sha, lihatlah! Bunga - bunga ini jadi mengkerut karena kamu menutup jendelanya!"


Tak sampai semenit Asha sudah membuka jendelanya kembali, kali ini dengan memegang sebuah gelas berisi jus jeruk dingin yang berembun sejuk.


"Bukan untuk Abang, tuh"


Asha mengerutkan hidung ketika Azam memandang minumannya.


"Gelas dan isinya ini milikku, sekarang aku adalah mandornya. Kalau Abang mau minum, selesaikan dulu pekerjaanya. Tuan yang suka mencium tanpa permisi!"


Di tariknya pinggang Asha, es batu yang di gigitnya itu di letakkan di belahan bibir istrinya. Ketika esnya hampir jatuh, Azam mendorong lidahnya untuk masuk ke dalam mulut Asha. Bersama es yang makin lama makin meleleh, mencair dalam mulut mereka yang pada akhirnya saling memagut.


Rasanya meledak menjadi beragam rasa, dinginnya es memberikan sensasi sendiri. Aroma jeruk yang di peras menggelitik indra penciumannya, juga aroma strawberry dari lipstick Asha memadukan semua itu dengan sempurna.


"Aku ingin menyentuhmu, Sha. Sekarang dan di sini"


Bisik Azam rendah.


Hanya bisikan serak itulah yang memberi mereka ruang untuk mengambil napas. Sebelum ciuman demi ciuman panjang kembali menghanyutkan, melenakan dalam kenikmatan. Telunjuk Azam bergerak ke leher Asha, mencari resleting gaunnya. Tak mau buru - buru mengahiri moment ini hanya untuk mencari pelepasan semata. Yah, Azam tipe lelaki pemuja istrinya. Tenang, Azam punya banyak waktu untuk menyentuh Asha.


Gaun itu sudah teronggok di lantai saat Azam melepas pelukan mereka. Mendekap Asha kembali sembari mengecup sisi lehernya, menggigit daun telinga, meniupkan udara panas di sana. Lalu gerakan itu terhenti, Azam menatap wajah istrinya yang memerah.


Asha menyampirkan ke dua lengannya ke belakang leher Azam dengan napas terengah, meremas rambut suaminya pelan dan sedikit terlihat acak - acakan. Dengan lembut, Azam menyisipkan setiap helai rambut Asha ke pundak kanannya yang terbuka.

__ADS_1


"Kamu begitu indah, Sha"


Kepalanya pening di hantam gairah, dan Asha semakin memperburuk keadaan dengan mencium kecil ujung bibir suaminya. Membuat Azam terpaksa memulai dengan ritme yang lebih cepat dengan menggigit rahang wanitanya itu.


Azam hampir menyentuh kaitan bra istrinya tepat ketika klakson mobil terdengar nyaring, menghentikan aktifitas keduanya. Azam tak punya waktu untuk terkejut, tapi lain lagi dengan Asha.


Wanita itu menenggelamkan diri ke lekukan lehernya, merapatkan kaki. Sementara Azam menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati kepala Arkha Dirgantara nongol dari balik kaca mobil mewahnya. Laki - laki itu melepas kaca mata sembari berteriak mengacung - ngacungkannya.


"Setidaknya kamu bisa menutup jendela dulu, Azam! Ya ampun Ma, lihat tuh kelakuan mantu dan anak perempuan Mama!"


Samar Azam melihat bayangan Hanifah dari balik kaca depan mobil yang bening. Mertuanya itu malah sibuk menarik Arkha agar kembali duduk. Menyuruhnya cepat parkir alih - alih mengintip apa yang di lakukan oleh adik dan iparnya itu.


"Kalau rumah kalian tidak jauh dari gerbang di depan sana, mungkin tetanggamu bakal berkumpul untuk menonton kalian. Bagus Azam! Kamu membuat tempat isolasi yang cerdas!"


Sindiran pedas, sekali lagi Hanifah menarik Arkha untuk duduk.


Asha makin merosot mendengar teriakan itu. Tubuh Azam memang menghalangi tubuhnya, namun Asha tetap memejamkan mata erat - erat. Satu jam ke depan, pastilah ia menjadi bahan olokan Arkha di rumahnya sendiri. Dan sangat tidak menyenangkan ketika membayangkan hal itu bakal berlangsung lama.


Ya Allah


Asha memukul pundak Azam yang masih sempat - sempatnya mencuri satu ciuman setelah mobil Arkha menghilang untuk parkir di depan teras.


"Kenapa Abang tidak tutup jendelanya?"


Rajuk Asha, leher dan bibirnya merah. Bahkan bagian bawahnya bengkak seperti habis di sengat lebah. Azam miring, mencium ujung hidung Asha.


"Kamu membuatku lupa segalanya Sha?"


Azam terkekeh melihat Asha menyipitkan mata, masih sangat menginginkan istrinya.


Astaga, kalau tidak sekarang mungkin ia akan meledakkannya di ruang tamu. Tapi di luar sana ada mertua dan kakak iparnya, maka Azam dengan keluasan hatinya membantu Asha mengenakan gaunnya kembali. Terpaksa seharian sakit menahan gairah. Yah, well. Setidaknya masih ada malam yang panjang untuk di nikmati bersama Asha.


Sabar, apalah arti menunggu beberapa jam. 3 tahun penuh saja ia pernah lewati.

__ADS_1


A**uthor ga bisa ngomong apa-apa lagi, cuma mau ngucapin terimakasih banyak karena masih mau menunggu urusan Author selesai. Terima kasih atas dukungannya semua, semoga semuanya di berikan segala kebaikan oleh Allah SWT.


Cerita ini lanjut apa selesai ya?


__ADS_2