MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#54


__ADS_3

Bismillah hirrahmaanirraahim


Allahumma Shalli 'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'al9aa Aalihi Sayyidina Muhammad


Tubuhnya terlempar menembus kaca mobil yang bolong, menggores wajah Gilang yang terpejam penuh darah di seluruh bagian tubuhnya. Desisan mesin mobil itu di sertai ledakan hebat yang menggetarkan tanah. Puing - puing berserakan dan Gilang Panji Wiratama berguling - guling menuruni tanah terjal. Menghantam apa pun yang di laluinya hingga akhirnya menggeletak di atas dataran penuh semak.


Mungkin sudah tak bernyawa lagi...


Hingga sampai lewat petang hari, semak - semak kering itu bergemerisik karena di injak oleh sepasang kaki manusia. Langkah tegap itu bergerak maju tanpa ragu, cekatan mendekati sosok yang berbaring dengan bau amis menusuk udara. Sekilas mirip mayat, lantas sosok itu duduk di samping korban, napasnya memburu dan putus - putus karena habis berlari. Hal pertama yang di lakukan adalah memeriksa denyut nadi anak itu, lehernya dan yang terakhir menempelkan telunjuknya dan jari tengahnya di depan hidung.


Gilang Panji Wiratama masih hidup, entah mukjizat Allah yang mana. Lalu secara fleksibel mengangkut tubuh Gilang yang penuh darah dan berlari menembus pepohonan yang mengitari daerah itu. Membawa tubuh Gilang dengan hati - hati agar tidak ada yang mengetahui.


Yang membuatnya betanya - tanya saat menuju tempat Dr. muda Sulaiman, siapa sebenarnya anak laki - laki ini?


...****************...


Rumah pengobatan Modern itu sibuk dengan aktifitas oprasi darurat Gilang. Di sela huru hara itu, pintu darurat ruang oprasi terbuka, menampilkan Dr. Sulaiman yang masih mengenakan jubah oprasinya. Setelah menunggu 6 jam lamanya, akhirnya laki - laki itu bisa berdiri tegak menyambut kedatangan sang Dokter.


"Bagaimana kondisinya Dokter?"


"Saya tidak tahu mukjizat apa yang menyelamatkan anak itu jika di lihat dari penuturan anda!"


Dr. Sulaiman melepas masker,


terlihat seperti ingin menangis.


"Anak itu selamat, dia menghabiskan banyak stock darah rumah sakit kami"


Gurau Dr. Sulaiman.


"Tapi kondisinya belum stabil, kita tunggu dua hari ke depan untuk mengetahui perkembangannya"


Ucapan Dr. Sulaiman di balas laki - laki jangkung itu dengan senyuman penuh takdim.


"Dia berhutang nyawa pada anda, Mayor!"


Sahrir Tanjung balas tersenyum.


"Ya mungkin saya akan menagihnya suatu hari nanti. Tapi sepertinya tugas saya sampai di sini saja. Dia bukan tanggung jawab saya lagi, sesuai kesepakatan sebelumnya anda bersedia menampung dan serta merawatnya sampai sembuh. Tanpa membocorkan identitasnya pada siapa pun"


Dr. Sulaiman menjabat tangan Sahrir Tanjung.


"Akan saya lakukan dengan senang hati"


...****************...


"Siapa kalian?"


Suaranya serak terbata - bata.

__ADS_1


Tubuhnya semakin meransek ke ujung ranjang, menatap takut pada ke lima orang yang mengepungnya. Setelah tertidur satu minggu lamanya, baru hari itu ia berani buka suara.


Secara perlahan Dr. Sulaiman berjalan mendekat setelah mendapat respon yang cukup baik dari anak itu. Sang dokter duduk di samping ranjang anak itu.


"Halo boy ...aku Dr. Sulaiman yang membantumu merawatmu selama kamu ada disini"


Anak itu kelihatan bingung, kepala yang dibebat tiba - tiba di cengkeram oleh tangannya sendiri. Rintih kesakitan keluar dari bibirnya. Dr. Sulaiman yang sudah memprediksikn itu bakal terjadi, siaga di samping Gilang.


"Tenang...tenanglah. Bernafaslah dengan baik. Kepalamu tidak apa - apa, rasa sakit mu itu hanya illusi. Jangan menanggpi rasa sakitnya. Hilangkan ketakutan dalam pikiranmu itu, kamu akan baik - baik saja"


Setelah mendengarkan rentetan kata dari Dr. Sulaiman akhirnya anak itu mau melepaskan cekalan pada kepalanya. Napasnya mulai teratur walau raut bingung masih menggantung di wajahnya.


"Aku___?"


Dr. Sulaiman mengangguk - angguk penuh simpati.


"Ya...kamu akan baik - baik saja Khairul Azam"


...****************...


"Cedera di kepalanya cukup parah. Anak itu mengalami kerusakan Struktur neuroanatomical yang menyebabkan penghambatan pada ingatan, proses menyimpanan ingatan dan proses mengingat ingatan"


Dr. Sulaiman membacakan catatan medis anak laki - laki itu.


"Tak ku sangka anak semuda itu mengalami hal semengerikan ini, benar - benar akan sulit baginya. Aku takut cederanya akan berlangsung permanen!"


Hening sejenak, setelah penuturan Dr. Sulaiman. Tak ada seorang pun yang angkat bicara selain Kiyai Mahfudz.


"Innalillahi, jadi anak itu mengalami yang namanya amnesia?"


Dr. Sulaiman menunjukkan beberapa contoh kasus yang di alami anak laki - laki itu.


"Anak itu akan merasa kesakitan sepanjang waktu, terlebih jika otaknya di paksa untuk mengingat memorinya yang hilang. Bahkan jika penanganannya tidak tepat bisa menimbulkan gangguan jiwa. Yah, dia kehilangan identitasnya. Manusia mana yang tidak panik menghadapi situasi ini?"


"Bagaimana dengan ingatannya sebelum kecelakaan, apakah ada kemungkinan kalau dia akan mengingatnya kembali suatu saat nanti?"


Dokter muda itu melepas kaca matanya.


"Itu juga yang sekarang aku pikirkan. Ingatannya sebelum kecelakaan di pastikan terhapus. Tapi mungkin dia akan mengingat beberapa benda yang familiar di masa lalunya. Yah, kita lihat saja nanti. Wallahu'alam..."


Kiyai Lathif memberikan suara tak lama kemudian.


"Aku ingin mengangkatnya menjadi anak lelaki ku. Kalau kamu mengizinkan Sulaiman, aku ingin membawanya ke Ashabul Kahfi. Aku ingin mengobatinya dengan metode tradisional, di lain sisi kamu akan menjadi dokter yang menanganinya"


Kiyai Mahfudz memandang saudaranya.


"Apa kamu serius?"


"Aku serius, dan keyakinanku selalu menyertainya"


"Aku setuju, lingkungan yang baik akan membantunya cepat pulih"

__ADS_1


Dr. Sulaiman tersenyum lega.


Siti Halimah pasti pasti akan senang memiliki anak yang di rawatnya. Lebih - lebih anak lelaki yang selalu di dambakannya.


Karena kamar itu terhubung langsung dengan ruang kerjanya. Sekejab Dr. Sulaiman menemukan anak laki - laki itu yang tengah duduk di atas ranjannya sambil makan buah yang sudah di potong kecil - kecil.


"Hallo, bagaimana kabarmu hari ini?"


Anak itu melirik sambil makan buah semangka.


"Hmm, baik"


Senang sekali anak itu bisa merespon, perkembangan luar biasa dalam dua bulan terakhir.


"Kamu sedang sibuk atau tidak?"


"Tidak"


Jawabnya datar.


Dr. Sulaiman mengangkat sebelah bahunya.


"Soalnya aku mau ngomong serius pada kamu nih?"


Anak itu gampang tertarik namun juga gampang menyimpan segalanya di waktu bersamaan.


"Apa?"


"Kalau kamu pingsan, bagaimana?"


"Tidak akan"


Dr. Sulaiman mengangguk.


"Nah, bukankah selama ini kamu ingin pulang ke rumah?"


Anak itu bergumam curiga, Dr. Sulaiman tersenyum lembut.


"Oke...permintaan di kabulkan. Sekarang bilang sama om Ari kamu ingin pulang sekarang ke Wonogiri bersama Abimu"


"Abi?"


Anak itu berhenti mengunyah dan meletakkan garpu di atas kasur.


"Betul sekali, laki - laki yang pakai kopiah putih tempo hari. Ayolah, yang menjengukmu dan membawakan dodol durian sekotak penuh?"


"Yang ada kumis dan jenggotnya itu? Kenapa dia Abiku?"


Dr. Sulaiman menaikkan alis.


"Ya...karena dia ayahmu. Ah, sudahlah. Makanya kalau main layangan jangan di sembarang tempat. Kalau kepalamu seperti ini, siapa juga yang repot?"

__ADS_1


Dan untuk pertama kalinya anak itu tersenyum, tipis dan ceria tanpa beban.


Author butuh imun nih,beri Krisan dan Like ya...😙


__ADS_2