
Bismillahirrokhmaanirrokhim
Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidinaa Muhammad
Wa'alaa 'Aalihi Sayyidinaa Muhammad
Bekas - bekas pertempuran di desa Talihan terlihat sangat mengerikan. Sederet rumah - rumah hancur, warung - warung di tutup. Kaca rumah warga pecah berserakan dimana - mana. Satuan TNI angkatan darat bersatu membuat situasi agar lebih nyaman. Tenda - tenda di dirikan untuk pengungungsian warga.
Suara tangis orang tua kehilangan anaknya, suara istri yang kehilangan suaminya, dan tangis tetangga yang ikut berduka cita. Talihan mendadak di selimuti awan kelam, menggulung dan menghantam siapa pun yang ingin di terjang. Kasus yang penuh selubung misterius kini terbuka lebar - lebar dan menjadi sebuah tragedi.
Fahmi tiba di Talihan beberapa jam yang lalu. Dia datang dengan dua puluh regu anggota tembak G02RM dan komandan besar Simanjuntak atau Sam. Kejadian ini sudah di prediksi oleh Sam sebelumnya. Pria itu yakin, saat ini kesatuannya di hadapkan dengan musuh kelas atas. Sam sudah memperingatkan kepada semua anggotanya untuk salalu bersiap diri jika sewaktu - waktu di turunkan ke Talihan. Tapi Sam memutuskan mengirim setengah anak buahnya bertempur mengamankan perkampungan.
Bukti kejahatan mereka akan di bawa ke meja hijau semuanya. Penebangan hutan besar - besaran dan penjualan kayu secara ilegal, penyelundupan senjata api ilegal dan pil ekstasi, judi, pembunuhan massal akan menjadi jari - jari penodong wajah mereka di pengadilan.
Harapan kita, setelah ini warga penduduk Talihan bisa hidup damai memanfaatkan kebaikan alam namun tetap menjaga kelestariannya.
Di dalam tenda PMI itu Asha terbaring lemah, luka - luka di wajahnya sudah di obati. Fahmi memandang sepupunya itu dengan sendu. Seandainya mereka terlambat sedetik saja, maka ia tak mungkin bisa menemukan Asha dalam keadaan masih bernafas.
Kurang dari dua jam Asha tertidur pulas dengan bekas air mata kering di sepanjang pipunya. Gadis itu akhirnya membuka kelopak matanya. Wajah khawatir Fahmi adalah objek pertama yang ia pandang. Setelah merasa lebih baik, Asha mencoba untuk duduk menatap Fahmi dengan penuh kecewa.
"Mimi...kamu juga terlibat dari bagian mereka?"
Fahmi, tentu saja terdiam beribu bahasa tanpa bisa menyangkal lagi.
"Ya Allah, Fahmi....Kenapa kamu tak pernah bercerita kepada kami. Bagaimana bisa kamu bergabung dengan mereka, Allah...!"
Fahmi terlalu sering melihat sepupunya itu mengeluarkan air matanya. Apalagi sejak remaja mereka tinggal satu atap. Fahmi ingin mengusap air mata itu, namun keinginan tinggal keinginan. Ia tak punya keberanian untuk menyekanya.
"Semua orang mempunyai rahasia Sha. Gelap atau terang itu tergantung sudut pandang masing - masing yang menilai..."
"Tapi aku tidak mempunyai rahasia Mi...!?"
"Iya, tapi kamu senang menyembunyikan. Secara harfiyah itu sama saja...!"
Fahmi terdiam sejenak lalu melanjutkan ucapannya.
" Kadang ada bagian dari dirimu yang sulit ku jangkau, dan kamu lebih senang menyimpan tanpa menunjukkan rupamu agar rahasiamu tetap aman..."
__ADS_1
Fahmi mengulas senyum, dan Asha menjawab untuk menenangkan.
"Aku bisa mencoba mengerti, aku tahu setiap orang punya alasan tertentu untuk sesuatu yang di kerjakannya..."
Fahmi bersyukur, Asha tidak memaksanya untuk menunjukkan garis mana yang sedang ia pilih. Asha bangkit, membuka kelambu tenda. Pemandangan desa yang hancur membuatnya tercekat.
" Apa yang terjadi di sini...? Sekarang aku ingin tahu semuanya Mi...!"
"Asha...!"
Arkha berlari dari kejauhan sambil menggendong tas ranselnya di punggungnya. Masih lengkap memakai seragam militer, laki - laki itu memacu langkahnya menuju Asha.
"Aa'....!"
Asha menghambur dalam pelukan Arkha, menangis menumpahkan segala ketakutannya. Keberadaan Fahmi agak terlupakan.
" Kamu baik - baik saja...? Apa kamu terluka...?"
Arkha menciumi puncak kepala adiknya, mengurai pelukannya untuk meneliti keadaan Asha. Tapi gadis itu malah enggan, ia melilitkan tangan pada pinggang kakaknya dan menggeleng.
Walau sikap yang di tunjukkan oleh Arkha pada Asha terkesan selalu cuek. Bahkan sedari mereka masih anak - anak Arkha akan tetap dan selalu menyanyangi adik perempuannya dengan cara yang bebeda.
"Sudah...sudah...,semua sudah selesai...!"
Arkha menepuk - nepuk punggung adiknya.
"Asha...."
Suata berat itu menarik perhatian semuanya. Wajah Asha mendongak. Wajah Iqbal Dirgantara muram sehabis perjalanan jauh. Asha spontan melepas pelukannya dan berganti menghambur ke pelukan Dirga.
" Papa...mereka biadab sekali..."
Asha berurai air mata. Dirga tidak berkata apa - apa. Lelaki itu hanya mendekap tubuh Asha sambil mengusap kepala dan bahunya berulang kali, lembut dan menenangkan. Tidak sesuai raut ekspresi wajahnya yang kaku dan keras. Dirga tidak seperti Hanifa yang selalu membisiki putrinya dengan berbagai kalimat manis.
"Aku takut sekali Pa...Aku melihat kematian sangat dekat denganku...!
Dirga mengecup kening Asha.
__ADS_1
"Tak ada yang berani melukai mu, tenanglah. Semua baik - baik saja..."
Asha mengangguk yakin, setiap janji yang di ikrarkan Dirga maka tak ada satu pun yang bisa menghalangi seluruh kepercayaannya. Dirga menggenggam jari - jari Asha dengan kuat, mencegah Asha melarikan diri untuk tujuan apa pun.
"Ayo kita pulang...! Helikotper akan membawamu dan teman - temanmu kembali ke Jakarta..."
Asha tersentak, Kesadarannya mulai menguasai otaknya..
"Azam....Azam...."
Gadis itu berbisik lirih, cepat - cepat menyeka air matanya.
"Aku ingin melihat keadaannya sebentar Pa...!?"
Asha memohon ketika ia merasa cekalan tangan Dirga semakin kuat.
"Tidak, kamu tidak boleh melihat siapa pun...!"
Asha tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, gadis itu mendapat peringatan dari perlawanan apa pun.
"Pa, dia yang menyelamatkanku. Dia melidungiku. Aku ingin tahu keadaannya...!"
Asha membenci keadaan ini, dimana orang tua selalu saja menggunakan kekuasaanya semena - mena. Walau itu di gunakan untuk kebaikan putra - putrinya.
" Setelah ini kamu tak akan mengingat apa pun yang pernah kamu alami di sini. Tidak tentang pria itu, atau pun Talihan ini..."
Ini keputusan bulatnya. Jika Dirga sudah memutuskan maka tak ada yang bernyali menentang, tidak Arkha tak juga Fahmi.
Kedua pemuda itu tampak prihatin dengan saudara perempuannya. Namun apalah daya, sumua tak ada yang bersuara. Hanya lewat bahasa mata, Arka mencoba memberi kode pada Asha agar adiknya itu menghentikan perdebatannya dan mengikuti kemauan Dirga. Hanya sementara..., seperti itu perkiraan Arka.
Walau pun pada dasarnya juga ia tak mengenal pemuda bernama Azam itu, tapi nalurinya berkata Asha membutuhkan pembelaannya.
Semakin kuat cengkraman tangan Dirga pada pergelangan Asha, semakin deras pula aliran air mata Asha.
Setelah drama penjemputan paksa, Asha akhirnya di bawa Dirga kembali ke ibuk kota. Dengan segenggam luka dalam hatinya, bagaimana keadaan pemuda itu yang telah rela menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk melindunginya? Selamat dari maut ataukah malah ia...
Asha tak kuasa untuk berpikir buruk lebih jauh, tak ada nyali untuk membayangkan kemungkinan terburuk saat seseorang menerima bebera peluru dalam tubuhnya. Hanya sebuah do'a yang tak pernah luput dia panjatkan untuk seorang Khoirul Azam.
__ADS_1