
Bismillahirrahmaanirrahim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa'alihi Sayyidina Muhammad
Lelaki yang mengunakan topi koboy bersimpuh di dekat Asha.
"Nah satu tetes saja, ulurkan telapak tangamu cantik...!"
Lengannya ditarik paksa lalu merasakan tetesan lilin itu di atasnya, terasa panas dan membakar.
"Enyahkan tanganmu darinya bajingan...!!!"
Suara pelatuk khas menghentikan tangisan Asha. Begitu juga algojonya terkejut dan menoleh kaku pada suara mengancam itu.
Khoirul Azam berdiri tegak menekan ujung pistolnya di belakang kepala Steven, lebih dingin dari pada puncak gunung es Fujiyama.
Ya, Azam mampu meretas sistemnya untuk menerobos pertahanan musuhnya berkat otak encernya. Hanya bermodal satu panggilan dari musuh semua kesulitan bisa terpecahkan.
"Bilang padanya, jangan berani menyentuh gadis itu atau kepalamu akan aku ledakkan sekarang juga...!"
Bisikan Azam pada lelaki itu membuatnya mengangkat kedua tangannya ke udara dan menyampaikan pesan Azam tanpa pikir panjang.
"Lepaskan dia Bos...!"
Korek dan lilin itu jatuh dengan terpaksa, lelehan panasnya menempel erat di lantai keramik putih.
"Berjalanlah kemari pelan - pelan"
Azam menatap Asha yang duduk dengan lutut di tekuk, memberikan kekuatan agar gadis itu bisa berdiri.
Sekali itu perasaannya meledak karena khawatir sekaligus rindu dengan kondisi Asha yang berantakan. Azam terdorong satu langkah akibat lengah dan kurang awas.
"Sedikit saja kamu mencoba bergerak Steven, maka aku tidak jamin peluruku masih berada di dalam slotnya...!"
Gertak Azam sembari mengunci leher musuhnya.
Seiring berjalannya Asha dengan tertatih - tatih, suara tembakan dan teriakan terdengar bersahut - sahutan tanpa henti di luar sana. Iqbal Dirgantara dan kawan - kawan sedang bertempur di garda terdepan bangunan tua peninggalan belanda itu, jelas untuk mengalihkan perhatian serta memecah mereka agar Azam dengan mudah masuk untuk menyelamatkan kedua putra dan putri Iqbal Dirgantara.
"Merapatlah padaku, ayo!"
Azam berbisik meyakinkan.
"Dan kamu, entah siapa dirimu. Cepat bangun dan berjalan di hadapanku!"
Alih - alih bersitegang, laki - laki bertopi koboy itu berdiri dengan tenang lalu dengan cepat tanpa di duga mendorong tubuh gemuk Steven yang masih di sandra dan meloloskan diri secepat kilat. Azam terhuyung kebelakang dan belum sempat mengetahui identitas lelaki itu. Ada hal yang lebih penting dari pada mengejar satu bajingan yang lolos di banding menyelamatkan gadisnya, yang utama.
__ADS_1
"Dengarkan, aku tidak akan segan - segan melesatkan peluru ku ke dalam otak pengecut seperti kalian. Ikuti semua perintahku!"
"Kamu akan menyesal karena sudah memperlakukan ku seperti ini..."
Serunya dengan peringatan terselubung.
"Kamu hanya seperti babi yang sedang berendam dalam lumpur untuk mencari cacing dan kotoran, aku tak pernah takut hanya pada seekor babi. Setelah kericuan yang kamu ciptakan di Talihan, kamu pikir bisa lolos dari mata hukum, huh!?"
"Selalu ada jalan bagi Steven Yan dari segala kesulitan...!"
Lihat, bagaimana dengan bangganya dia mengejek Azam diantara ancaman -ancaman. Senyum tipis mengurai, menunjukkan wajah yang sesungguhnya. Wajah blasteran itu amat mengejutkan, banyak cakaran kuku menghiasi, senyumnya berubah menjadi seringai saat memandang Asha senonoh.
"Gadis itu melawan habis - habisan saat kuajak bercinta. Sialan, mulut dan kukunya sama - sama tajam!"
Sepenggal kalimat itu bukan hanya melukai Asha namun juga membangunkan singa tidur dalam diri Azam. Dia menembak lantai di dekat kaki Steven sebagai peringatan.
"Kamu memang binatang! Kamu lebih dari sekedar anjing!"
"Azam! Cepat bawa keluar Asha, kamu di jebak!!!"
Asha terkesiap mendengar teriakan Iqbal Dirgantara, muasal suara itu dari tangga lantai dua. Asha tau betul sebab beberapa kali ia mencoba melarikan diri dari kamar sekapnya. Gadis itu hendak berlari ke arah posisi Dirga, namun tangannya di cekal oleh Azam.
"Tidak, jangan turun. Itu hanya propaganda untuk memancing kita agar turun ke bawah!"
"Tapi itu suara Papaku, Azam!"
Kegaduhan di bawah sana semakin menjadi - jadi.
"Diam kamu Dirgantara atau akan aku lubangi perutmu sampai mati!"
"Ya Allah, Papa!"
"Asha...!"
Terlambat, gadis itu telah melaju dan keluar dari kamar. Azam mengerang frustasi sembari menggiring tubuh kaku Steven Yan dengan iming - iming pistol di belakang tempurung kepalanya. Tangga spiral itu di penuhi mayat penjaga yang bersimbah darah sebab bidikan peluru Azam bersarang di perut mereka.
"Asha! Kembali!"
Teriaknya panik.
Steven tertawa tanpa bergerak sedikit pun.
"Dasar gadis bodoh! Kamu lihat dia? Mudah sekali tertipu dan dikelabuhi!"
Azam mencekik lehernya.
"Tutup mulutmu bajingan, suaramu membuatku ingin muntah!!"
__ADS_1
Ya, perut Azam semakin terasa mual saat mendapatkan sosok Asha di telikung oleh pria berkemeja hitam di bawah tangga. Sebilah pisau tajam menggantung pada lehernya. Gadis itu merintih kesakitan, tulang - tulang Azam terasa si lolosi. Bangunan tua itu semakin sesak di penuhi aksi saling todong.
"Turunkan senjatamu anak muda!"
Seseorang menyeret tubuh layu Husain Fahmi yang hampir sekarat tak sadarkan diri dari arah lantai paling atas di belakang Azam. Lewat ujung matanya, Azam bisa melihat wajah yang paling menyembalkan untuk menjatuhkan mental lawannya. Azam menatap antara Asha dan Fahmi, sial tidak ada jalan sama sekali untuk meloloskan. Terpaksa Azam menjatuhkan pistol semi otomatisnya ke atas lantai dengan kasar.
Sesorang yang sedang memegang Fahmi tersenyum dengan culas.
"Sekali dayung, dua tiga lalat kena perekat. Lihatlah Steve, semua incaran bos besar telah berkumpul jadi satu dalam ruangan untuk menyetorkan nyawa masing - masing. Bahkan kita punya beberapa lalat untuk di sembelih di bawah sana...!"
Asha menjerit dan menggeleng sakit.
"Papa ku tidak berasalah!"
"Apa kamu sedang membicarakan Iqbal Dirgantara? Kamu tak akan tahu betapa besar kesalahan yang barus dia bayar!"
Lelaki berkemeja hitam bernama Malinggi berjalan menuju Asha mencoba menyentuh dagunya yang menggeleng - geleng karena panik.
Azam marah bukan kepalang, hendak maju dan menendang Malinggi.
"Berani - beraninya kamu!"
"Stop it,stop!"
Steven Yan mendongakkan ujung pistolnya kearah wajah Azam, dan pemuda itu berhenti total. Bukan karena takut dengan gertakan Steven, tetapi lebih ketakutan karena pisau itu semakin di tekan erat pada leher Asha.
"Tetap di situ dan ikuti saja permainan kami, intel sialan. Kamu masih ingin melihat gadis itu hidup bukan? Mengingat betapa kerasnya kamu menyelamatkannya di dalam hutan Kalimantan tempo hari..."
Wajah Steven Yan menyeringai di seberang pemuda itu.
"Halo, Khairul Azam!"
Leher Azam kaku otomatis, terlebih saat merasakan sebuah tangan menggerayahi punggungnya dengan lembut. Nafas penuh aroma itu memenuhi setiap sisinya. Azam menjadi serba salah pada Asha yang sedang di tawan musuh, gadis itu kentara menebarkan kekecewaan lewat maniknya.
"Kamu masih ingat dengan ku bukan?"
Suaranya manis berbisik menggoda, mengusap bergantian bahu Azam yang siap menghacurkan tengkorak wanita itu. Tapi Azam harus tetap tenang karena tercium hawa logam di belakang punggungnya. Wanita itu jelas sedang membawa pistol.
"Aku begitu sakit hati ketika kamu meninggalkanku begitu saja di dalam kamar itu. Aku memang perempuan murahan Azam, tapi kamu membuatku jauh lebih terhina...!"
Azam membisu, sungguh tidak bijaksan jika harus menanggapi ocehan pelacur seperti Rosalin itu. Wanita itu tiba - tiba mendekap leher Azam dari belakang.
"So, Sweetheart bagaimana rasanya jatuh pada perangkap yang dibuat orang lain. Hum?"
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku!"
Bisikan Azam mengancam, pemuda itu tidak suka jika Asha sampai berpikir macam - macam tentang mereka. Rosalin benar - benar menyulut amarahnya.
__ADS_1
Yeee...aku datang lagi. Masih mau lagi?
Like & Krisan sangat aku butuhkan.