MENGEJAR MUTIARA SURGA

MENGEJAR MUTIARA SURGA
#68


__ADS_3

Bismillahirrahmaanirrahiim


Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammad


Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad.


Mata Hanifah berkaca - kaca, menghapus air mata yang turun dari kelopak matanya sendiri.


"Arsen prematur, Azam. Sangat lemah, dia meninggal dalam inkubator setelah satu minggu di lahirkan".


Guyuran es itu menyiram kepala Azam, menembus otak Azam hingga beku. Pikirannya mendadak lumpuh, hanya suara Hanifah yang berdengung memberi informasi kematian putranya. Dalam sekali waktu Azam di buat mati oleh 2 pernyataan, kelahiran serta kematian putranya.


"Bohong"


Suara Azam melemah.


Apa - apaan semua ini? Ada apa dengan hidupnya? Mengapa segalanya di buat rumit?Hanifah terisak pelan.


"Mama harap kamu ikhlas melepaskannya. Mama tahu ini semua berat, Asha pun sama terpukulnya sepertimu"


Azam tiba - tiba menegakkan tubuhnya, Asha. Yah, wanita itu. Yang begitu tega bertindak kejam. Yang dengan jahat menyembunyikan segalanya, di antara sakit juga marah. Azam berdiri meninggalkan ruang tamu itu meski Hanifah berulang kali memanggil mencoba menahan dan meredam amarahnya. Namun Azam tak acuh, ia terlalu marah.


...****************...


Azam menunggu Asha di depan lobi kantor percetakan buku miliknya, memeriksa beberapa kali jam tangannya agar jarum jamnya cepat mencapai angka 5. Azam sudah mencoba menghubungi wanita itu lewat sekretaris pribadinya, tapi Asha menitipkan pesan jika ia tidak menerima kunjungan tamu. Siapa pun itu, dengan alasan apa pun. Maka Azam memutuskan menunggunya sampai jam pulang kantor tiba. Mati - matian menahan sabar, ia bisa saja memaksa masuk dan membuat keributan besar di sana. Tapi Azam tidak ingin menjadi dirinya yang dulu, meski di kelilingi oleh kenyataan perih.


Dari kejahuan terlihat Asha berjalan sambil menenteng berlembar - lembar perkamen, nempak mengehentikan langkah saat menatap Azam sedang berdiri. Wanita itu jelas menyiapkan ancang - ancang untuk kabur lagi. Tapi kali ini Azam tak akan membiarkan, urusan mereka belum selesai. Azam mengejar langkah Asha.


"Mengapa kamu menghindar? Mengapa kamu membuat situasi menjadi sulit?"


Azam berjalan di sisi Asha, napasnya putus - putus. Antara marah dan antusias berada sedekat itu dengan Asha. Namun lagi - lagi Asha tak menggubris.


"Asha! Setidaknya kamu berhenti dan berbicara padaku!"


Kali ini Azam berteriak, mencekal lengan Asha agar berhenti melangkah. Otomatis perkamen kulit yang di pegang Asha jatuh berantakan.


"Apa lagi yang kamu inginkan?"


Wanita itu akhirnya bersuara.


"Aku ingin bicara di tempat yang lebih tenang"


Asha mencoba melepaskan tangan Azam, tapi pegangan Azam terlalu kuat.


"Apa lagi yang mau kamu bicarakan? Aku rasa__!"


"Sialan! Kamu pikir kamu tidak meninggalkan apa pun dariku?!"

__ADS_1


Azam meledak, percakapannya dengan Hanifah membuat pikirannya menjadi kacau. Dan berbicara dengan Asha membuat emosinya makin tak terkendali.


Asha terdiam, tangannya tak lagi meronta minta lepas, wanita itu memandang Azam dengan sinar ketakutan sekaligus dengan rasa bersalah yang kentara.


"Kamu menyembunyikan kelahirannya! Bagaimana mungkin kamu begitu tega menyembunyikannya, sampai dia kamu kubur pun aku tak tahu!"


Teriak Azam, menyalurkan rasa frustasi itu lewat intimidasinya.


"Kamu pikir dosamu akan aku ampuni?!"


Gelagarnya.


Asha tertegun, merasa tikaman tajam pada hatinya. Luruh, pertahanannya runtuh sudah. Rupanya kenyataan mengenai putranya sampai ke telinga Azam juga. Fakta sekaligus kenyataan yang paling Asha takuti untuk di ungkit kembali.


Wanita itu menitikan air mata, jatuh satu - satu. Tapi Azam sekali itu tak akan tersentuh melihat kemerahan di manik madu Asha.


"Kamu wanita yang jahat, Asha. Sangat jahat, sampai aku tidak bisa mengenali lagi wanita yang telah berdiri di hadapanku ini!"


Bisik Azam rendah.


Hati Asha mencelos, belum pernah ia melihat Azam bersikap sedingin itu. Seolah napasnya sore itu hanya menghujani Asha dengan kemarahan.


Asha menyeka air matanya, namun di beranikan untuk berbicara dengan balas menatap mata Azam yang berkilat - kilat.


"Maka kamu harus mengurus kembali dokumen perceraian kita. Bukankah lebih baik kamu tak memiliki ikatan apa pun dengan wanita jahat sepertiku?"


Azam diam, mengetatkan gerahamnya sebelum menjawab.


...****************...


Belanda 3 tahun lalu.


Rasa mual itu menjungkir balikkannya, bahkan 2 hari ini Asha hanya mampu berbaring di atas sofa. Dengan wajah sepucat mayat dan keringat dingin bercucuran. Yang kena imbas adalah tugas dalam menjaga Hanifah jadi terlaksana setengah - setengah.


Fahmi yang prihatin membuatkan sup roti panas khas Belanda. Tapi lagi - lagi muntah karena bau kaldu yang kuat.


"Coba kamu periksa ke dokter kalau nanti ngantar Mama. Sepertinya asam lambungmu naik parah. Masak sampai tidak masuk makanan apa pun dalam perutmu?"


"Ugh...bawah ke dapur mangkuknya Mimi! Aku tidak tahan!"


Asha mengibas - ngibaskan tangannya.


"Well,well...Terserah padamu deh Cousin. Aku sudah mencoba membantu, jangan lupa periksakan"


...****************...


Asha mengusap permukaan perutnya dengan lembut, setelah mengetahui bahwa di sana hidup segumpal darah yang tak lama bakal di tiupkan ruh oleh Allah. Dokter memberi penjelasan kalau kandungannya masih sangat lemah, sebab berulang kali Asha mengalami pendarahan.

__ADS_1


Subhanallah, rasanya luar biasa sekali mengetahui bahwa ada kehidupan lain di dalam perutnya. Hingga dadanya terasa kembung karena kebahagiaan.


Asha akan melindunginya, menjaganya, supaya tetap tumbuh dan berbagi kehidupan dengannya. Bersama mereka akan melewati ujian demi ujian yang di hadapkan oleh Yang Maha Kuasa.


"Nah, bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik kan? Kamu tak akan memintaku membuang apa yang aku bawa ini kan?"


Fahmi mencoba bercanda, Asha hanya bisa tersenyum mendengar sindiran halus sepupunya itu.


"Aku mau makan jeruk, kalau kamu bisa kupaskan untukku?"


"Wah...wah...selama masa ngidammu, pasti kamu akan merepotkanku ya?"


Sam mengurut dahinya, pura - pura serius.


"Aku bakal menjadi paman, paman Mimi. Bagaimana menurutmu?"


"Paman Mimi atau paman Fahmi bagiku sama saja, yang terpenting dia tahu jika ia memiliki paman terbaik sedunia"


Asha menerima jeruk yang sudah bersih, dan memasukkan satu per satu ke dalam mulutnya.


Fahmi memperhatikan, ada senyum ironi di sudut bibirnya.


"Kalau kamu berniat mengenalkannya pada Pamannya, maka kamu harus memperkenalkannya pada Ayahnya terlebih dahulu"


Sambar Fahmi, membuat Asha menghentikan kunyahannya.


Kalimat Fahmi seolah memberi kejut syaraf yang melumpuhkan inderanya.


"Sebelum waktu beranjak menjauhimu, katakan padanya Asha. Aku yakin bayi itu pesan dari Allah supaya kamu kembali pada imam mu. Bayimu adalah penyambung kembali tali silaturrahmi, antara kedua orang tuanya yang masih saling mencintai".


Sulit bagi Asha untuk menghapus dosa Khairul Azam.Lelaki itu membunuh Iqbal Dirgantara, kenyataan terkeji yang ia terima. Bagaimana bisa Asha mengingat wajahnya setelah semua ini?


Tetapi hatinya memberontak, setiap hari di lewatinya bersama keragu - raguan akan dosa Azam.


"Mimi aku tidak bisa, sungguh aku tidak bisa. Luka yang dia berikan terlalu dalam!"


"Asha dengar, begitu berhaknya Azam atas kabar ini hingga kamu tak punya secuil pun alasan untuk bersembunyi darinya. Papa pasti mengatakan hal yang sama jika beliau masih hidup"


Mata wanita itu menyala.


"Tapi Papa sudah meninggal, dan dia yang membunuhnya!!!"


Asha meraung marah.


Fahmi hanya memejamkan mata, belum perna Asha berteriak semenyakitkan itu di hadapannya.


Tampaknya Asha memang terluka parah.

__ADS_1


Sesuai janji aku up 2x


untuk menyempurnakan cerita, tunggu episode selanjutnya😙


__ADS_2