
Bismillahirrahmaanirrahiim
Allahumma Shalli'alaa Sayyidina Muhammqd
Wa'alaa Alihi Sayyidina Muhammad
Di tikungan Raihan memberi isyarat bahwa ada orang sedang berjaga - jaga. Azam dan Gading merangsek maju.
"Hei, apa kamu melihat sesuatu disana__?"
"OUGH"
Pria berbaju hitam itu ambruk ke lantai setelah tengkuknya di hantam Raihan. Teman lainnya di bereskan Gading dengan mudah
"Dimana kamar yang di tempati Sahrir?"
Azam berjalan cepat menyiapkan jarum suntik di tangan kanannya.
Reihan memasang earcrernya.
"233, masing - masing melakukan transaksi yang berbeda nomer"
Azam melirik jam analoknya.
"Seberapa ketat penjagaan di sana? Dan berapa jika kamu perhitung!"
"Kamu harus menjadi itu bagian dari mereka jika ingin di izinkan masuk, 150 oramg aku rasa"
"Ok, kita punya waktu 15 menit"
Azam menempelkan telunjuk di bibir, mengangkat tangan dan melangkah. Reihan dan Gading membuntuti dengan tegang.
"Turunkan pistolmu!"
Bisiknya kasar pada penjaga itu. Azam tidak akan membiarkan tawanannya menggerakkan lehernya untus sesaat ia menyuntikka obat bius. Beberapa detik kemudian penjaga itu ambruk di lantai.
Mereka bergerak ke kamar 223, Azam membidik dengan lensanya yang cukup besar. Bunyi kecepatan benda kecil itu melesat - lesat membantai habis 10 orang di sepanjang lorong. Azam memberendel masuk, tiga pistolnya teracung. Bodyguard - bodyguard mereka yang berbadan besar hendak menyerang, namun Azam lebih sigap mengoprasikan pistol barunya.
"Diam di tempat, kalau tidak ingin kepala kalian di ledakkan!"
Azam mendekat ke belakang tubuh orang - orang yang mematung.
"Ringkus dan bawa mereka, tapi ingat jangan menimbulkan keributan. Cepatlah kembali"
Raihan mengangguk singkat, menjalankan perintah Azam dengan cermat.
Lalu Raihan dan Gading meninggalkan Azam seorang diri untuk membereskan berbagai macam bukti. Lelaki itu menetralkan pikirannya, berpikir tajam untuk mencari cari agar tidak berhadapan dengan banyak orang yang akan menghabiskan energinya. Ia pun akhirnya mencongkel jendela menggunakan pisau lipat, memasang peralatan panjat tebing dengan cekatan. Azam kini menapak lantai 23, bersiap naik beberapa lantai lalu bergeser hingga menemukan keberadaan Sahrir Tanjung.
Azam menyantolkan ujung kail pada permukaan balkon lantai 25, bahaya mengiringi aksi nekadnya. Azam merangkak cepat. Untungnya Azam mendarat di area yang bagus, ia langsung mendorong pelatuk kearah cendela . Dua letasan peluru membuat kaca jendela hamcur berkeping - keping. Hancur sudah benteng pertahan Sahrir Tanjung malam itu.
__ADS_1
Menemukan laki - laki itu sedang duduk tenang, sungguh menjengkelkan. Azam tanpa pikir panjang menerjang maju.
"Aku akan membunuhmu"
Desis Azam, menekan moncong pistol ke pilipis Sahrir Tanjung.
"Manusia seperti mu harus di pastikan segera mati, neraka akan menyambut dengan suka cita atas kehadiranmu!"
Sahrir mengamati suatu keindahan dalam perlawanan lelaki yang menggertaknya itu. Ancaman yang santun namun mematikan.
"Kamu pasti menantu Iqbal Dirgantara, benar?"
Azam tak menjawab, napasnya memburu.
"Berdiri!"
Sahrir berdiri sesuai perintah Azam. Meleakkan gelas ginnya di atas meja sembari menunjuk ke arah Laptop di hadapannya. Dimana terdapat gambar - gambar pergerakan anggota G30RM dalam CCTV.
"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Khairul Azam. Anggota intelejen yang cerdik dan kaku. Sama persis seperti ayah mertuamu yang menjijikan"
Kepala Sahrir terhuyun karena tekanan pistol Azam.
"Tutup mulutmu, jangan bersuara lagi"
"Berani - beraninya kamu cecunguk kecil!!!"
"Kamu merasa hebat bukan karena sudah berhasil membongkar semua rahasianku? Kamu puas melihat Sahrir Tanjung yang sebenarnya? Yang bersembunyi di balik topeng kehormatan! Yang hidupnya di isi hanya dengan kebaikan dan kebijaksanaan? Dan sekarang kamu puas melihatnya dengan wujud sebagai iblis?"
Azam tertawa kering.
"Sayangnya kamu harus mendengar jawabanku tidak! Aku sama sekali tidak puas jika hanya memandangmu sebagai perwujudan iblis, aku lebih puas kalau kamu mampus di tanganku dan di saksikan semua orang kebusukanmu, bajingan tengik!"
Menerutu gigi Azam terdengar keras.
"Berani - beraninya kamu menyusun rencana untuk mencelakai istriku dan keluarganya!"
"Oh...aku paham. Si Dirgantara itu sudah menemukan anjing peliharaan untuk menjaga keluarganya"
Azam menghantam wajah Sahrir menggunakan sikunya, lelaki itu jatu terjengkang.
"Kamu pikir kamu siapa, Huh? Hanya anak pungut dari kiyai itu! Tanpa asal - usul yang jelas. Barang kali kamu di pungut dari tempat sampah, siapa tahu?"
Hardiknya tajam, tanpa niat menyembunyikan kebenciannya.
Azam tertegun, lehernya menggeliat keras. Sengatan yang intens tiba - tiba mengaliri sarafnya. Sial, kenapa kebiasaanya muncul dalam keadaan seperti ini!?Azam tanpa sadar mengendurkan pistolnya, rasa sakit itu terasa berbeda dari sebelumnya. Sebab datangnya di barengi dengan suara gema asing yang entah berasal dari mana.
Seharusnya aku bunuh saja kamu sejak dulu, dasar bocah tolol...
Apa yang sudah kamu perbuat, Huh?
__ADS_1
Kamu menerima perjodohan itu yang harusnya menjadi hak ku....
Sialan, kamu bukan adikku
Menyingkir dan pergilah selama - lamanya...
Telinga Azam berdengung - dengung, kepalanya terasa di belah dua. Hentikan! Suara - suara itu mengganggunya. Azam mem anting pistol ke lantai, Glock-17 itu hancur dengan peluru berhamburan.
Sahrir tertawa sinis saat suara deru helikopter menjemput pendengarannya. Lelaki itu cepat - cepat berdiri dekat jendela saat gemuruh helikopter kian mendekat.
Azam mematung, napasnya terengah. Keringatnya membasahi leher dan kaosnya. Tangannya mengepal pada setiap sisi tubuhnya menyaksikan lolosnya Sahrir. Azam mengutuk dirinya karen tubuhnya seakan terkunci.
"Kamu benar - benar lemah!"
Kalimat terakhir Sahrir sebelum helikopter itu bergerak pergi.
Azam menengadah ke langit - langit, lampu di atasnya terasa menyilaukan. Seperti silau yang menggelapkan lalu membanting. Seluruh tubuhnya sakit karena suara alam bawah sadarnya. Ia lalu mengaktifkan earcreat panggilan darurat.
"Kirimkan aku Hawk sekarang juga!"
Azam menghubungi asisten Lettu Pandjaitan. Suaranya terdengar kurang fokus, namun ia harus tetap mengejar Sahrir. Agaknya konflik itu tidak akan berakhir begitu saja.
"Ini jauh penting dari apa pun, cepat kirimkan Hawk sekarang juga di lantai paling atas. ayolah, dalam 10 menit"
Hampir 15 menit, akhirnya Hawk tiba.Tanpak Cristian sebagai pilot utamanya. Karena badan badan pesawat terlalu besar, Cris terpaksa menjulurkan tangga. Azam mengambil ancang - ancang untuk melompat. Tepat sekali hentakan ia dapat meraih tangga dan menyusurinya dengan tangkas. Kemudian bergabung dengan Cris di kokpit.
Azam menggantikan Cris yang kini menkadi co-pilot, terbang menemukan pesawat EMB-322 meluncur diangkasa bersamanya. Terlihat Iqbal Dirgantara menggunakan kaca mata airway-ESG dan menembus awan - awan gelap.
falcon
"Aku melihat P2-ANW desault dan swearlngen SX-300 meluncur dikejauhan"
Azam mencoba menjalin komunikasi dengan Dirga.
"Aku mengejar swearlngen dan kamu ikut falcon dan tetap jaga komunikasi denganku"
Perintah Dirga, melihat badan Hawk melintasinya tanpa permisi. Oh, si Azam itu memang cari mati.
"Sampai kapan kita akan membuntuti mereka?"
Cris bertanya untuk ke 4 kalinya sejak mengudara 1 jam yang lalu
"Sampai mereka memutuskan bertarung di darat"
Sahut Azam tak bisa di goyahkan.
Semaki jelas aja teka tekinya tersingkap....
masih setia kan...? Beri dukungan author ya....😙
__ADS_1