
Bismillahirrohmaanirrohiim....
Allahummaa Shallii 'Alaa Sayyidina Muhammad
Wa'alaa 'Aalihii Sayyidinaa Muhammad
"Ar-Rahman..."
Asha memejamkan matanya.
" 'Allamal Qur'aan..."
" Khalaqal insaan..."
" 'Allamahul Bayaan..."
Al - Khaliq yang menciptakannya dengan suara yang indah.
" Assyamsu Walqomaru Bishusbaan..."
" Wannajmu Wassyajaru Yasjudaan..."
Hatinya dingin seperti fajar, namun dingin ini menyejukkan.
" Wassamaa-a Rafa'ahaa Wawado'almiizaan..."
" 'Allatatghaufilmiizaan..."
Asha yakin suaranya mampu menembus tingginya awan, menyeimbangkan langit bersama dzikir para malaikat - malaikat.
" Wa - 'aqiimul Wazna Bilqisti Walaa Tukhsirul Miizaan..."
" Wal - ardho Wadho'ahaa Lil - anaam..."
" Fiihaa Faakihatuwwannakhlu Dzaatul Akmaam..."
" Wahabbu Dzulwashfi Warroihaan..."
"Fabiayyi Aa - laaaaa Irabbikumaa Tukadzibaan..."
Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Betapa Asha sangat bersyukur atas nikmat pendengaran yang ia terima. Gadis itu membuka kedua matanya yang sudah basah oleh linangan air mata.
Oh ya Alloh, ya Rabbi...Khoirul Azam mengimami dengan cara yang paling indah.
Siapa sebenarnya pemuda ini?
...****************...
"Asha, bangun lah!"
Asha mengusap wajah, mengucek - ucek matanya sambil menatap Azam dengan raut bingung.
"Ada apa?"
"Bangun, aku mendengar teriakan. Kita harus segera pergi dari sini..."
Asha, wajahnya sudah diliputi kepanikan.
"Aku akan menjagamu, ayo cepat Asha...!"
Sedikit keraguan menyapa gadis itu atas janji Azam, lihat saja bagaimana menampilan pemuda itu. Sudah sangat tidak layak lagi jika harus kembali ke pertarungan. Kacau, Azam memiliki luka dimana - mana. Gadis itu sering memergoki Azam sedang menahan sakit.
Azam menarik tangan Asha dengan tergesah, genap dua hari tangan gadis itu menjadi bahan tarik - tarikan.
"Mereka di sana...! Di sana! Kejar, jangan biarkan lolos lagi!"
__ADS_1
Azam sangat mengenal teriakan itu, si perut buncit Guntur sedang berada paling dekat degannya diatara penjahat lainnya.
Suara baku tembak mulai terdengar tidak jauh di belakang. Azam menggeram dan menarik Asha agar berjalan di depannya, memacu gadis itu agar lebih konsentrasi dan cepat.
"Bangsat...sialan mereka semua...?!"
Asha kesal, pemuda itu sepertinya menyimpan semua kata - kata kasar yang memekakkan telinganya. Ia juga takut kalau kalimat - kalimat kasar itu memancing kemarahan musuhnya.
"Apa kamu mendengar Asha, mereka semua adalah sampah - sampah busuk...!"
Ya Alloh, Azam sulit sekali untuk di mengerti. Asha hanya seperti palu kecil yang ingin menghancurkan bongkahan es dalam kulkas
itu.
"Berhenti...atau kalian akan menyesal saat kami menangkapmu...! Kami tak akan berbaik hati dan akan menunjukkan siksaan ku yang paling kejam...!!"
Azam meliuk - meliuk di balik pepohonan, berlari membawa Asha dan melindungi punggung gadis itu dari bidikan timah panas.
"Bidik kakinya, lumpuhkan mereka...!"
Perintah itu serentak terlaksana, tanah di sekitar menjadi bergetar, rumputnya saling tercongkel dari tanah. Azam dengan berbagai cara menghindari mereka.
"Azam...!"
Asha memanggil namanya dengan suara terputus - putus sambil mencengkeram kerudung bagian penutup dadanya. Jantungnya terasa berdegup dengan kencang. Asha hampir kehabisan nafas, suaranya hampir tercekik.
"Ya Asha, aku tahu. Teruslah berlari...!"
Azam menyahut, sisi perutnya terasa melilit perih. Sempat menormalkan dengan berhenti sedetik, berharap itu bisa mempengaruhi kecepatan larinya.
"Sedikit ke atas, cepat bidik.-Kena kao binatang jalang...Ohoiii...?!"
Sebuah peluru sudah bersarang di bahu kanan Azam, pemuda itu terdorong kedepan karena sentakan yang di terima tubuhnya. Rasanya panas, tersumbat di antara tulang - tulangnya. Tapi tak memperlambat sedikit pun larinya, Azam tetap merapat pada Asha dan melindungi gadis itu dengan punggungnya.
"Azam...suara apa itu tadi...?"
Asha histeris tapi tetap berlari. Bagian belakang tubuhnya di tekan Azam supaya terus bergerak.
Lelaki itu terengah, darah sudah membanjiri jaket hingga celananya. Azam menyadari berapa banyak cairan yang sudah ia keluarkan dari lukanya.
"Dasar kadal busuk, dia mati sialan. Tembakkk...!!"
Tubuh Asha bergetar.
"Tapi seperti sesuatu masuk ke dalam tubuh. Apa kamu tertembak? Kamu terluka...?"
Azam tahu Asha menangis. Air mata gadis itu jatuh di atas jari - jarinya ketika dia menarik bahu Asha untuk berbelok.
"Boruk sialan..!!! Berhenti kalian hei...!!!"
Kaki - kaki itu saling berkejaran, mereka tentu mudah melakukannya karena hutan adalah salah satu kediaman mereka.
Sebuah peluru kembali melesak di bahu Azam, di bawah peluruh yang pertama bersarang.Tekanan itu membuatnya kembali terhuyun. Azam menyamping kekiri untuk melindungi kepala Asha.
Guntur berteriak - teriak terus pada Topan.
"Goblok kalian, cepat lari ke samping. Belakang bagianku...!!"
Azam menoleh sedikit melihat bahu kirinya yang tidak terluka, dia melihat Guntur membawa gendongan hitam dimana di perkirakan itu tempat persediaan pelurunya. Seeorang melayangkan tombak ke arah Azam, pemuda itu berkelit lalu tombak itu menancap pada tanah.
"Azam...kamu tertembakkah...?"
Azam mengeratkan pegangannya, tubuhnya semakin melemah. Namun bukan karena menahan rasa sakit, tetapi kepada hilangnya konsentrasinya untuk bergerak dan berpikir. Berulang kali Azam mengerjapkan matanya untuk menghilangkan pandangan yang semakin berkunang - kunang.
"Tidak,-tidak ada apa - apa...!"
"Stop Azam...!!! Kita harus berhenti, aku tahu kamu terluka...!?"
__ADS_1
Azam tidak akan membiarkan gadis itu menjadi bulan - bulanan mereka saat ia mereka memutuskan untuk berhenti, tidak! Azam tidak akan menyerah. Azam menahan bahu Asha saat gadis itu hendak berbalik.
Asha tenggelam dalam pelukannya.
"Tidak, kuatkan dirimu...!"
Azam tak pernah memohon apa pun, kalimat itu membuat Asha terpaksa menuruti.
Azam terus menuntun Asha. Ia yakin itu anak buah Guntur yang tersisa. Azam pasti akan segera menemukan jalan keluar. Kalau pun belum menemukan, ia yakin anggota G02RM akan segera menyusul. Mereka adalah orang - orang terlatih.
Azam meraba habunya yang kini memiliki dua lubang kecil, basah namun panas sekali. Efeknya memang belum terasa, namun setelah ini selesai, Azam akan menerima penderitaannya.
"Ikuti jalan kemarin, jangan takut...!"
Azam berbisik di samping gadis itu. Asha akan menjadi petunjuknya sementara itu ia ingin memejamkan matanya sebentar.
"Lurus saja...jalan keluarnya di sana..."
Asha cukup handal, gadis itu mempertahankan irama langkah kakinya. Azam memang di belakangnya, namun itu seperti memberi kekuatan energi padanya.
"Awas kao orang, kalau sampai kalian tertangkap wanita itu akan kami telanjangi sampai gila...!!!!"
"Bangsaatttt....!!!"
Seruan Guntur membuat Azam semakin kesetanan. Azam menarik Glock-17 dan mengarahkan pistolnya itu arah kepala Guntur. satu peluru meluncur, kepala pria bandit itu berhasil menghindar. Namun naas kawannya yang berada di belakangnya harus menerima timah panas itu dengan suka rela, tengkoraknya hancur. Darah mengucur dan bercampur dengan cairan putih otaknya.
"Bajingan..., kamu melawan kami. Tembak...tembak dia sampai mati...."
Asha memohon kepada Azam untuk berhenti dari segala apa pun yang membuat lawannya semakin brutal. Namun Azam sudah di butakan oleh amarahnya. Mulut kotor Guntur membuatnya murka.
"Makan peluruku Anjing....!!!"
Teriak Azam dengan bibir yang semakin pucat. Pelurunya berhasil meluncur tepat bagian dada kiri Guntur. Kadal gurun itu ambruk dengan beberapa lubang pada tubuhnya. Satu umpan peluru dan di ikuti empat peluru secara bertubi.
Suara tembakan semakin liar bersahutan. Azam melindungi Asha menjadikan dirinya sebagai tembok pelindung. Siapa saja yang membuat goresan pada Asha, maka di pastikan nyawanya akan senasib dengan Guntur.
Giliran Topan, Azam menunggu waktu yang tepat untuk membunuh pria berkulit loreng itu yang hendak memukuli Azam dengan parang. Namun senjata makan tuan, parang itu justrus terarah padanya akibat tindakan implusif Azam yang membengkokkan lengannya dan menusukkan parang itu ke arah perutnya dengan sempurna.
"Apa yang kamu lakukan...?"
Asha tidak di izinkan menengok, gadis itu hanya menebak - nebak atas pikiran buruknya.
"Mampus....!"
Asha merasakan punggungnya basah, dan Azam terkulai pada bahunya. Nafasnya tersedat - sedat dan seketika tubuhnya merosot dan berakhir pada pangkuan Asha.
" Ya Alloh Azam...!!"
Asha berteriak panik, kaosnya basah karena darah Azam. Air matanya menetesi wajah Azam yang hanya memandang Asha tanpa ekspresi, hanya nafasnya saja yang terdengar lelah. Saat seperti itu, wajah Asha menjadi blur pada pandangannya.
"Dasar cengeng...jangan menangis lagi..."
Asha tak memperdulikan ocehan Azam.
"Azam...!!!"
"Berisik, aku mau tidur..."
"Turunkan senjata kalian, kalian sudah di kepung...."
Suara itu terkesan tegas, bukan jenis suara orang jahat. Asha mendongak, orang - orang dengan seragam hitam sudah membuat barisan pelindung di antara Azam dan Asha.
"Turunkan senjata kalian...."
Rombongan orang berseragam tentara menyusul kemudian.
Asha merasakan tangannya basah karena darah dari bahu Azam.
__ADS_1
"Alloh....Azam...buka matamu...tolong jangan tutup matamu....!?"
"Azaaammmm.....!!!!"